NovelToon NovelToon
Putri Posesif Tuan Gavin & Dokter Bedah Misterius

Putri Posesif Tuan Gavin & Dokter Bedah Misterius

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / CEO / Berbaikan / Cinta pada Pandangan Pertama / Enemy to Lovers
Popularitas:15k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

Novel ini adalah sekuel dari novel yang berjudul: Dinikahi Sang Duda Kaya yang sudah tamat sebelumnya.

Alea Ardiman, "The Smiling Shark" yang jenius namun anti-cinta, harus berurusan dengan dr. Rigel Kalandra setelah jatuh pingsan. Rigel, dokter bedah saraf yang dingin, adalah satu-satunya pria yang berani membanting laptop kerja Alea dan mengabaikan ancaman kekayaannya.
​"Simpan uang Anda, Nona Alea. Di ruangan ini, detak jantung Anda lebih penting daripada Indeks Harga Saham Gabungan."
​Alea merasa tertantang, tanpa menyadari bahwa Rigel sebenarnya adalah pewaris tunggal konglomerat farmasi sekaligus "Investor Paus" yang diam-diam melindungi perusahaannya. Ketika Ratu Saham yang angkuh bertemu Dokter Sultan yang diam-diam bucin, siapakah yang akan jatuh cinta duluan di bawah pengawasan ketat Papa Gavin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Konsultan Kesehatan Pribadi

​​"Kulit Ibu Alea ini halus sekali ya. Persis porselen mahal. Pasti perawatannya jutaan."

​Alea menahan napas, berusaha sekuat tenaga untuk tidak menyiramkan air panas ke wajah pria paruh baya di hadapannya. Pak Burhan, investor potensial dari Kalimantan itu, bukannya membaca proposal investasi, malah sibuk memandangi tangan Alea dengan tatapan lapar.

​"Pak Burhan," panggil Alea dengan senyum kaku yang dipaksakan. Dia menarik tangannya perlahan dari atas meja, menyembunyikannya di pangkuan. "Bisa kita fokus ke halaman lima? Di sana tertera proyeksi keuntungan dua puluh persen per tahun."

​"Ah, angka itu membosankan, Bu Alea," Burhan tertawa renyah, menggeser kursinya agar lebih dekat ke Alea. Bau parfum menyengat bercampur asap rokok membuat perut Alea mual. "Saya lebih tertarik investasi jangka panjang sama Ibu. Kalau saya tanda tangan kontrak lima miliar ini, bonusnya makan malam berdua di Bali, gimana?"

​Tangan Burhan yang gemuk dan memakai cincin akik besar mulai merayap lagi, kali ini hendak menyentuh lengan atas Alea yang terbalut blazer kerja.

​"Ayolah, jangan kaku begitu. Kita kan mau jadi partner..."

​BRAK!

​Pintu ruang meeting VIP itu terbuka lebar tanpa diketuk.

​Burhan terlonjak kaget sampai pulpennya jatuh. Alea menoleh cepat dengan mata membelalak.

​Di ambang pintu, berdiri sosok tinggi tegap yang sangat familiar.

​Rigel Kalandra.

​Tapi kali ini dia tidak memakai kaos polo atau hoodie. Dia mengenakan setelan jas dokter putih kebanggaannya, lengkap dengan stetoskop yang menggantung di leher dan tas medis kulit di tangan kanan. Wajahnya dingin, kacamata bingkai tipisnya memantulkan cahaya lampu ruangan, menciptakan aura intimidasi yang kuat.

​"Maaf mengganggu," suara Rigel datar, tapi tegas dan menusuk. Dia melangkah masuk tanpa permisi, sepatunya berbunyi tuk-tuk berirama di lantai parket.

​"Siapa kamu?! Lancang sekali masuk ruangan orang!" bentak Burhan, merasa diganggu saat sedang melancarkan aksi buaya daratnya.

​Alea bingung setengah mati. "Rigel? Lo ngapain—"

​"Waktunya inspeksi rutin, Bu Alea," potong Rigel cepat, mengabaikan protes Burhan. Dia berdiri tepat di samping kursi Alea, memposisikan tubuhnya sebagai tembok penghalang antara Alea dan si klien genit.

​"Inspeksi? Inspeksi apaan?" tanya Alea berbisik, matanya melotot memberi kode 'pergi atau gue pecat jadi pacar'.

​Rigel tidak peduli. Dia membuka tas medisnya, mengeluarkan termometer tembak dan oksimeter.

​"Perkenalkan, Pak. Saya Dokter Rigel. Konsultan Kesehatan Pribadi Ibu Alea yang baru," ucap Rigel pada Burhan dengan nada formal yang dibuat-buat. "Sesuai SOP perusahaan, karena Ibu Alea baru pulih dari komplikasi lambung dan stres akut, saya wajib memantau tanda-tanda vital beliau setiap lima belas menit. Mohon maklum."

​"Konsultan kesehatan? Sejak kapan ada aturan begitu?" Burhan mengernyit curiga. "Saya nggak pernah denger."

​"Sejak hari ini. Khusus untuk VVIP," jawab Rigel asal. Tanpa menunggu persetujuan, Rigel langsung menempelkan termometer ke kening Alea. Bip.

​"Suhu normal. Tiga puluh enam koma lima," gumam Rigel. Lalu dia meraih tangan kiri Alea—tangan yang tadi diincar Burhan—dan memasangkan oksimeter di jari telunjuknya.

​Genggaman tangan Rigel terasa hangat dan protektif. Jempolnya mengusap punggung tangan Alea sekilas, memberi sinyal 'tenang, gue handle ini'.

​Alea menelan ludah. Dia ingin tertawa sekaligus ingin pingsan melihat akting Rigel yang totalitas. "Dokter... saya rasa saya sehat-sehat aja kok. Nggak perlu sampai segininya."

​"Jangan membantah dokter, Bu," tegur Rigel, menatap Alea dengan sorot mata tajam namun jenaka. "Detak jantung Ibu naik jadi sembilan puluh per menit. Ibu merasa tertekan? Atau ada polusi udara di dekat Ibu yang bikin sesak napas?"

​Rigel melirik sinis ke arah Burhan saat mengatakan "polusi udara".

​Burhan yang merasa tersindir langsung panas. Wajahnya memerah.

​"Heh, Dokter muda! Kamu ini mengada-ada ya! Saya ini tamu penting! Investor kakap! Kamu jangan macem-macem ganggu mood saya!" seru Burhan, berdiri dari kursinya. "Minggir kamu! Saya mau lanjut bicara empat mata sama Alea!"

​Burhan mencoba menggeser tubuh Rigel untuk kembali mendekati Alea. Tangannya terulur hendak memegang bahu Alea.

​"Minggir saya bilang! Alea, suruh dokter ini keluar atau investasi saya batal!" ancam Burhan.

​Alea panik. Investasi lima miliar itu penting buat target kuartal ini. "Pak Burhan, sabar dulu... Dokter Rigel cuma menjalankan tugas..."

​"Saya nggak peduli! Saya mau tanda tangan sekarang, tapi tangan kamu harus saya pegang pas tanda tangan. Biar sah!" Burhan makin ngawur, tangannya makin agresif mau menyentuh Alea.

​Rigel menghela napas panjang. Sabarnya habis.

​Dia dengan tenang merogoh saku jas dokternya. Mengeluarkan sebuah bungkusan steril, merobeknya dengan gigi, dan mengeluarkan isinya.

​Sebuah pisau bedah bistouri yang berkilau tajam di bawah lampu.

​Di meja meeting, ada piring berisi buah-buahan sajian tamu yang belum disentuh. Ada apel merah besar di sana.

​Rigel mengambil apel itu dengan tangan kiri. Tangan kanannya memegang pisau bedah dengan cara memegang yang sangat presisi—khas seorang ahli bedah saraf yang biasa membelah jaringan otak.

​"Pak Burhan suka apel?" tanya Rigel santai.

​Tanpa melihat ke arah apel, mata Rigel terkunci pada wajah Burhan.

​SRET.

​Sekali gerakan halus. Apel itu terbelah dua dengan sangat rapi. Kulitnya terkelupas tipis, nyaris transparan. Ketajaman pisau itu mengerikan.

​Burhan menelan ludah kasar. Matanya terpaku pada pisau bedah yang kini ujungnya sedikit basah oleh sari buah apel.

​"Dokter... itu... itu pisau apa?" suara Burhan bergetar.

​Rigel meletakkan potongan apel itu di piring. Dia memutar-mutar pisau bedah itu di jari-jarinya dengan gerakan lincah yang mematikan.

​"Pisau bedah grade militer. Bisa memotong saraf selebar rambut tanpa meleset satu milimeter pun," jawab Rigel dingin.

​Burhan mundur selangkah, menabrak kursinya sendiri. "K-kamu ngancem saya?!"

​Rigel melangkah maju satu langkah. Hanya satu langkah, tapi auranya berubah gelap dan mencekam. Dia bukan lagi dokter ramah, dia adalah predator yang melindungi wilayahnya.

​Rigel mengarahkan ujung pisau bedah itu ke arah tangan Burhan—tangan yang tadi berusaha menyentuh Alea. Jaraknya cukup aman, tapi cukup dekat untuk membuat nyali ciut.

​"Saya tidak mengancam, Pak. Saya hanya mengingatkan," ucap Rigel dengan suara rendah yang berbahaya.

​"Tangan Bapak tolong dijaga. Jangan sembarangan menyentuh," Rigel menatap mata Burhan lekat-lekat, lalu melirik Alea yang menahan napas di belakangnya.

​"Pasien saya ini sangat berharga. Dan dia punya alergi parah terhadap sentuhan kuman dan bakteri nakal."

1
Mineaa
wkwkwkwk.....kopi ga tuh.......
aya Aya wae nich dokter satu......
Arix Zhufa
nah ini calon suami idaman....pasti klo udh nikah gk bakal pelit sama istri
Savana Liora: iya. mantap yak
total 1 replies
Arix Zhufa
mau baca cerita soal mama kiana & papa gavin ach
Savana Liora: bacalah kak. dijamin seru. dinikahi sang duda kaya judulnya
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
hati hati Alea macan mau ngamuk mending siap siap panggil pawangnya 🤣🤣
Mineaa
duiiihh..... papa gavin lg konslet kaya nya......hati hati pa.... mulutmu harimaumu....
Alea di tantangin......
papa jual......Alea beli....
Tarwiyah Nasa
waht Alea mewarisi sifat kiana
Aidil Kenzie Zie
up lagi donk tor lagi sert
Aidil Kenzie Zie
👍 Dok
Nisa Naluri
hahahahah🤣....ngakak
Bu Dewi
lanjut kak
Savana Liora: siap kk
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
kirain Rigel bakal pamer
Savana Liora: lihat lanjutannya besok. lebih daripada pamer
total 1 replies
Arix Zhufa
makin seru aja
Aidil Kenzie Zie
Papa Gavin nggak dicek dulu siapa sebenarnya dokter Rigel
Savana Liora: nantik2 katanya
total 1 replies
Arix Zhufa
ini adek tiri ya min?
Savana Liora: iya kk
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
panggil Mama Kia pawang papa Gavin
Aidil Kenzie Zie
Alea masuk jebakan Batman Arka 🤣🤣
Arix Zhufa
si arka dpt dobel untung...
Arix Zhufa
keren lo cerita nya
Arix Zhufa
gak mgkn Rigel jatuh cinta tiba2
Arix Zhufa
😄😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!