Devan kaget saat tiba-tiba seseorang masuk seenaknya ke dalam mobilnya, bahkan dengan berani duduk di pangkuannya. Ia bertekad untuk mengusir gadis itu, tapi... gadis itu tampak tidak normal. Lebih parah lagi, ciuman pertamanya malah di ambil oleh gadis aneh itu.
"Aku akan menikahi Gauri."
~ Devan Valtor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perahu Gajah
Devan terbangun perlahan ketika sinar matahari menembus tirai tipis kamar hotel. Ia mengerjap pelan, kemudian langsung tersentak kecil saat merasakan sesuatu yang hangat menempel di dadanya. Siapa lagi kalau bukan Gauri.
Gadis itu tertidur nyenyak dalam pelukannya, wajahnya rapat menempel di dada Devan, tangan mungilnya masih menggenggam ujung kaus pria itu seolah takut kehilangan lagi. Padahal semalam, mereka tidur dengan jarak yang tidak sedekat ini. Namun entah bagaimana, pagi ini jarak itu menghilang begitu saja.
Untuk sesaat, Devan hanya diam menatap wajah Gauri. Rasanya ada sesuatu yang lembut merayap dari dada ke tenggorokannya. Pipinya merona, rambutnya acak-acakan tapi entah kenapa malah terlihat lucu.
Perlahan, hampir tanpa sadar, Devan mengusap pipinya dengan ibu jari. Sentuhan itu membuat Gauri menggumam pelan, meringkuk lebih dalam ke pelukannya seperti anak kucing.
Devan tersenyum kecil.
"Manja sekali, kamu," bisiknya, meski ia tahu gadis itu tidak mendengar.
Ia berbaring diam beberapa menit lagi, hanya menikmati ketenangan aneh yang jarang ia rasakan. Tapi kemudian Gauri mulai bergerak pelan, mengerang halus sebelum membuka mata.
Ia tersenyum lebar saat melihat Devan berbaring di depannya. Bukannya menjauh, ia malah memeluk pria itu semakin erat.
Devan tertawa pelan, lembut.
"Jangan peluk lagi, nanti kakak gak bisa nafas. Gauri ..."
Gauri melonggarkan pelukannya dan tertawa lebar tanpa suara.
Setelah mandi dan ganti baju, sekitar jam delapan pagi, Gauri sudah duduk di tepi kasur dengan pakaian santainya, kaus putih tipis dan celana pendek denim yang membuatnya terlihat seperti gadis remaja biasa. Rambutnya diikat dua rendah, membuatnya tampak lebih muda lagi.
"Sudah siap?" tanya Devan sambil merapikan jam tangannya yang mahal.
"Siap!" Gauri mengacungkan bonekanya juga, seolah si boneka ikut siap jalan.
Devan menghela napas.
"Gauri … bonekanya mau ikut?"
"Hmm!" Gauri mengangguk mantap.
"Terserah," Devan menyerah saja. Gadis itu memang lagi suka sekali bawa boneka beruang pemberian dia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di restoran hotel, beberapa teman alumni Devan menyapa mereka. Sebagian tersenyum ramah pada Gauri, sebagian memuji boneka yang ia bawa sambil tertawa kecil. Gauri tidak menanggapi mereka, hanya sibuk bersembunyi di belakang Devan kalau ada yang tiba-tiba mendekat. Tapi ada juga di antara mereka yang tidak ia jauhi.
Di antara teman-teman alumni Devan dan Gino itu, ada dua orang yang tampak sinis, termasuk Diana. Tatapannya menilai, memicing, dan seakan merendahkan Gauri yang begitu menempel pada Devan. Ekspresinya berubah dengan cepat saat yang lain berbincang dengannya.
Devan sendiri lebih sibuk memperhatikan Gauri daripada meladeni teman-teman alumninya. Saat Gauri duduk di sebelahnya sambil mencolek roti, pria itu diam-diam memindahkan sepotong salmon ke piring gadis itu.
"Kamu harus makan yang banyak hari ini. Kita bakal banyak jalan."
Gauri mengangguk seperti anak sekolah. Gino menaruh siku di meja sambil menatap mereka penuh godaan.
"Devan, aku masih nggak nyangka kita pulang dari luar negeri, kamu langsung ketempelan Gauri. Seorang Devan akhirnya ketempelan perempuan!"
Devan melemparkan sumpit ke dada Gino. Lelaki itu tertawa, sedang Gauri, terus fokus menghabiskan makanannya.
Setelah sarapan, rombongan alumni itu berjalan-jalan ke berbagai tempat wisata di Bangkok. Gauri tampak sangat bersemangat, setiap melihat sesuatu, ia menunjuk, melompat kecil, atau memanggil nama Devan dengan nada manja.
"Kak Devan, lihat gajahnya!"
"Kak Devan, itu lucu!"
"Kak Devan, ini apa? Boleh pegang?"
Devan sampai harus menahan pundaknya beberapa kali.
"Kamu sabar sedikit, jangan lari-lari."
Gauri mengangguk patuh… lalu hanya dalam lima detik kemudian ia berlari lagi. Gino menyalip Devan sambil menertawakan mereka berdua. Kesibukannya adalah merekam setiap momen manis Devan dan Gauri. Untuk seorang Devan yang dulu benci dekat-dekat perempuan, sekarang ketempelan perempuan dan dia justru menikmatinya, adalah sebuah keajaiban.
"Devan, kamu benar-benar sabar, patut di acungi jempol.
Devan sudah siap melempari Gino lagi, tapi pria itu sudah lari.
Saat mereka tiba di area pantai, angin lembut menerpa wajah Gauri. Ia langsung menyipitkan mata sambil tersenyum lebar. Di kejauhan, kapal-kapal kecil tampak bersandar dan beberapa speedboat lewat dengan suara keras.
Dan tepat saat Gauri melihat satu perahu berbentuk gajah warna cerah, matanya langsung berbinar.
Ia menarik lengan Devan dan Gino sekaligus.
"KAK DEVAN! KAK GINO! GAURI MAU NAIK ITU!!"
Suara gadis itu membelah udara, membuat beberapa wisatawan menoleh. Mungkin merasa aneh dengan tingkahnya yang sedikit berbeda dengan orang normal.
"Gauri… itu buat anak-anak usia lima sampai sepuluh tahun." ucap Devan hati-hati.
"Gauri kan masih kecil juga ..." gumamnya lirih, memonyongkan bibir.
Gino langsung tertawa terbahak.
"Van, kasihan anak kecil minta naik itu. Ayo naik! Kita sewa satu buat dia aja!"
Devan menarik nafas panjang lalu menghembuskannya, ia menatap Gauri. Gadis itu sudah menatapnya dengan tatapan memohon yang sangat berbahaya, mata besar penuh harapan, pipi menggembung sedikit, ujung pakaian Devan ditarik-tarik.
"Kak Devaaan… Gauri mauuuu…"
Devan menghela napas lagi, pasrah.
"Baik. Ayo. Satu putaran saja ya?"
"YEEEAY!"
Gauri langsung melompat kegirangan sampai bonekanya hampir jatuh, membuat Devan refleks menangkapnya.
Gino kembali memotret momen langka itu. Ia menatapi Devan yang membimbing Gauri dengan sabar. Sabar sekali.
Naik perahu kecil berbentuk gajah itu ternyata lebih lucu dari yang Devan bayangkan. Gauri duduk di depan, kakinya mengayuh-kayuh pedal imitasi meski sebenarnya perahunya bermesin. Angin meniup rambutnya, membuatnya tertawa lepas.
"Kak Devan! Lihat! Gauri kemudi sendiri!"
"Jangan berdiri, nanti jatuh!"
"Nggak berdiri! Duduk sambil berdiri!"
"Mana ada,"
Terlambat. Gauri hampir terpeleset, membuat Devan memeluk pinggangnya cepat-cepat.
"Gauri!"
Gadis itu tertawa lalu kembali duduk manis. Tatapan orang-orang di tepi pantai jelas penuh rasa terhibur. Terutama Gino. Hanya Diana dan si perempuan bernama Nini yang tidak suka melihatnya.
Di sana, Gauri menatap Devan, wajahnya penuh senyum polos yang sangat sulit ditolak.
"Kak Devan… seru ya?"
Devan memandangnya lama sebelum akhirnya tersenyum kecil.
"Mm, seru."
Beberapa menit kemudian mereka selesai, Gauri turun sambil menggandeng tangan Devan, tidak mau lepas sama sekali.
"Ih, kok tuh cewek nempel terus ke Devan sih? Bikin sakit mata aja." Nini angkat suara.
"Tapi lucu tahu liat Devan sama tuh cewek, kayak sabar banget. Perlakuan Devan manis banget." Mila angkat suara.
"Tapi gue jijik. Dia udah besar, 18 tahun kan udah besar, tapi kelakuannya malah begitu. Jangan-jangan dia cuma bikin-bikin lagi biar bisa deketin Devan dan Gini.
"Udah Ni, kan dia lagi sakit. Mana ada orang sakit bikin-bikin. Maklumin aja." Sari angkat suara.
Di belakang Nini, Diana mendengus. Ia tidak bicara, tapi justru dialah yang paling tidak suka dengan kedekatan Gauri dan Devan.
Semangat berkarya Mae, semoga makin banyak lagi kisah² bagus & seru yang diciptakan.
🥰🥰🥰💕💕💕
Gauri mau kasih kejutan romatis untuk Devan - sambil memberitahu kalau dirinya hamil.
Tak tahunya Devan menemukan test hasil tes kehamilan Gauri.
Agam, Gino, dan Sari mendekati mereka berdua. Ikut senang dan bahagia.
Gino kapan melepas masa jomblonya, kalau sebentar lagi giliran Agam dan Sari.
Kebahagiaan untuk Devan dan Gauri bertambah dengan kedatangan Papa Devan dan mama tirinya. Keluarga besar Agam datang bersama Ares.
Gino selalu paling heboh berseru Gauri hamil ketika ada yang bertanya ada apa.
Semua bahagia.
Terima kasih Author ceritanya bagus. Sehat selalu dan Berkat melimpah dariNya.
Sari yang sejak tadi menunduk terkejut sampai tersedak ludah sendiri ketika Agam bertanya - kamu suka yang hangus juga.
Gino yang menjawab seperti menggoda Sari. Sari malu dan kesal dengan Gino.
Agam sepertinya juga ikut menggoda Sari.
Jagung sudah mateng, Devan memberikan jangung untuk istri tercinta.
Sari yang baru melihat keromantisan Devan untuk istrinya, kaget ketika Agam menyodorkan jagung bakar yang sudah matang.
Ternyata Agam ada, sedang duduk di dekat bakaran jagung. Bersama Devan membakar jagung.
Gauri menarik Sari duduk di dekat bakaran. Menunggu suaminya dan Agam selesai membakar jagung.
Gino menikmati kekesalan Sari yang merasa dibohongi. Sambil merekam diam-diam.
Gino punya rencana untuk mendekatkan Sari dan Agam. Sari selalu curhat sama Gino kalau suka Agam.
Gauri pasti senang Sari datang.
Sari menolak diajak Gino - malu kalau ada Agam. Padahal Sari ingin sekali bertemu Gauri.
Gino heran Sari malu sama Agam.
Sari menceritakan kejadian yang memalukan semalam.
Gino tertawa keras sampai Sari kesal. Sudah pernah dibilangin Gino, kalau mabuk jangan sampai mabuk di depan laki-laki yang kau sukai.
Sari akhirnya mau dipaksa ikut Gino yang mengatakan Agam gak ada, lagi sibuk operasi.
Jadi berakhir mabuk, ngoceh fakta dirinya yang menyukai Agam. Lalu konser di depan Agam - menyanyi, lalu ngoceh yang bikin Agam tertawa lebih keras.
Sari benar-benar tak sadar sampai tidur di atas batu.
Cinta Sari terhadap Agam - cinta terpendam.
Sari senang ketika melihat Agam bahagia. Ikut sedih ketika melihat Agam sedih.
Sari diantar Agam pulang ke rumahnya.
Agam merasa terhibur - oleh ulah Sari yang mabuk.
Agam ketawa melihat adegan itu walau tak tahu perempuan itu bicara apa pada kucing.
Agam menepikan mobil - pintu di buka, suara perempuan itu makin jelas. Baru tahu perempuan itu Sari.
Sari berteriak melengking suaranya sebut nama Agam. Sampai kucing kabur.
Melihat Sari berjalan sempoyongan ke arahnya, Agam tahu Sari mabuk.
Dalam kondisi mabuk, Sari jujur bicaranya di depan Agam. Ada kata-kata yang bikin Agam tertawa kecil.
Sari mendengar dari Nino tentang penyebab kecelakaan keluarga Gauri, Sari jadi sedih. Sari merasa malu dan merasa bersalah.
Gauri resmi ambil alih perusahaan. Gauri merasa masih muda, menyerahkan pada Devan untuk ambil alih.
Rena tak mau jatuh miskin, dia kini berada di ruangan Gauri dan Devan. Memohon untuk dikasihani.
Enak saja - Rena minta Ibnu tidak di penjara, jangan ambil sahamnya. Widiiiih nglunjak ini Rena, maunya saham diberikan dirinya dan mamanya.
Rena diingatkan Devan - masih punya hutang maaf pada istrinya.
Bagi Gauri maafnya Rena terlambat.
Saham itu milik ayah Gauri, jadi sekarang milik Gauri.
Rena di tarik keluar dua bodyguard keluar ruangan.
Bukti-bukti kejahatan Ibnu sudah berada di tangan kuasa hukum Gauri - Andra Pradipta. Andra sudah membuat laporan resmi.
Ibnu masih saja menyalahkan Gauri. Menghina Gauri pula.
Setelah semua keluar ruangan, kini tinggal Gauri dan Devan.
Gauri tak kuasa membendung air matanya - menangis.
Betapa sedihnya Gauri ketika melihat video - Ibnu sengaja memotong rem mobil yang akan di kendarai papa, mama, kakak, juga dirinya. Kecelakaan terjadi, Gauri sendiri yang masih hidup.