NovelToon NovelToon
DAO YIN: KEABADIAN YIN–YANG ABSOLUT

DAO YIN: KEABADIAN YIN–YANG ABSOLUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Budidaya dan Peningkatan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mr.Mounyenk

Di Benua Dao Yin, Kekaisaran Yin berdiri di tengah empat kekuatan besar yang menyimpan ambisi pengkhianatan.
Saat perang pecah dan kekaisaran runtuh, Chen Long—pangeran Utara berdarah naga dan keturunan kesatria kuno—kehilangan segalanya.
Diburu manusia, iblis, dan akhirnya langit itu sendiri, Chen Long menapaki jalur kultivasi terlarang Yin–Yang, sebuah kekuatan yang tak diakui surga. Bersama Putri Yin Sunxin, pewaris darah murni Dewi Bulan, ia membangun kembali tatanan dunia dari reruntuhan, menantang iblis, menghancurkan para pengkhianat, dan menghadapi hukuman alam dewa.
Ketika Yin dan Yang bertabrakan dalam satu tubuh, lahirlah seorang anomali—
penguasa baru yang akan menentukan apakah dunia layak diselamatkan,
atau harus dihancurkan demi keseimbangan sejati.

(Update setiap hari)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 HARGA DARI MELANGKAH

Tenda komando berdiri terpisah dari perkemahan utama.

Tidak besar. Tidak mewah. Namun udara di dalamnya lebih berat daripada medan perang mana pun. Meja kayu panjang dipenuhi peta, segel, dan laporan korban—ditumpuk tanpa hiasan, seperti kenyataan yang tidak bisa dipoles.

Chen Long berdiri di tengah tenda.

Tanpa baju zirah. Tanpa senjata.

Hanya dengan seragam lapangan yang masih menyisakan noda debu dan abu dari desa yang gagal diselamatkan.

Di ujung meja duduk utusan kekaisaran, jubahnya rapi, wajahnya tak menunjukkan emosi. Di sisi kanan, dua jenderal kekaisaran. Di sisi kiri berada sedikit terpisah sedang duduk Chen Hao, Raja Utara.

Keheningan berlangsung lama.

“Pangeran Utara,” kata utusan itu akhirnya, suaranya datar.

“Apakah kamu menyadari bahwa tindakanmu kemarin melanggar garis komando kekaisaran?”

Chen Long tidak langsung menjawab.

“Aku melangkah keluar dari formasi,” katanya akhirnya. “Itu benar.”

“Bukan hanya itu,” lanjut sang utusan.

“Kamu memasuki zona serangan tanpa perintah, memicu ketidakstabilan formasi, dan membuka celah yang bisa dimanfaatkan musuh.”

Bisa.

Kata itu menggantung seperti pisau.

“Namun,” lanjutnya, “hasilnya satu warga sipil selamat.”

Tidak ada pujian dalam nada itu. Hanya catatan.

Chen Hao akhirnya angkat bicara.

“Jika dia tidak melangkah, korban mungkin lebih banyak.”

Utusan kekaisaran menoleh perlahan.

“Kita tidak mengadili kemungkinan, Raja Chen Hao. Kita mengadili preseden.”

Udara menegang.

“Preseden bahwa seorang pangeran boleh mengabaikan komando karena dorongan pribadi,” lanjutnya.

“Itu berbahaya.”

Chen Long mengepalkan tangan, lalu memaksakan diri untuk melepaskannya.

“Apa hukumannya?” tanyanya.

Sang utusan membuka segel dokumen.

“Mulai saat ini, Chen Long dicabut dari posisi lapangan aktif.”

“Statusnya diubah menjadi aset strategis terbatas.”

Kata-kata itu menghantam lebih keras daripada hukuman fisik.

“Aset?” ulang Chen Long pelan.

“Kamu akan tetap ikut rombongan,” jelas sang utusan.

“Namun tidak diperkenankan memimpin, bergerak sendiri, atau mengaktifkan teknik di luar izin komando.”

Dengan kata lain dibungkam.

Chen Hao bangkit berdiri.

“Anakku bukan alat.”

“Dalam perang skala kekaisaran,” jawab utusan itu tanpa mengubah nada,

“semua yang kuat adalah alat. Termasuk raja.”

Keheningan kembali turun.

Yin Sunxin berdiri di belakang tirai tenda, menyaksikan tanpa ikut bicara. Wajahnya tenang, namun matanya menyimpan amarah yang tertahan rapi.

“Selain itu,” lanjut sang utusan, “kekaisaran akan mengirim pengawas khusus. Untuk memastikan stabilitas.”

“Pengawas dari mana?” tanya Chen Hao dingin.

Utusan itu tersenyum tipis.

“Dari Dewan Dalam.”

Itu bukan kabar baik.

Chen Long menarik napas panjang.

“Jika aku patuh,” katanya, “berapa banyak lagi yang akan mati?”

Pertanyaan itu tidak dijawab.

Karena sistem tidak dibangun untuk menjawabnya.

Siang hari, perintah resmi diumumkan ke seluruh rombongan. Beberapa prajurit menatap Chen Long dengan campuran kagum dan jarak. Yang lain menunduk, enggan terlibat.

Statusnya berubah.

Bukan tawanan.

Bukan pahlawan.

Melainkan anomali yang diawasi.

Yin Sunxin akhirnya menghampirinya saat senja.

“Mereka takut padamu,” katanya pelan.

“Tidak,” jawab Chen Long. “Mereka takut pada apa yang tidak bisa mereka kendalikan.”

Ia menatap ke arah ibu kota yang semakin dekat.

Langit di atasnya tampak tenang, terlalu tenang.

Jauh di sana, di aula kekaisaran, lonceng peringatan telah dibunyikan.

Bukan untuk iblis.

Melainkan untuk anak muda yang mulai menolak berjalan sesuai jalur yang disediakan.

Dan di balik dinding istana, keputusan-keputusan lain mulai disusun—keputusan yang akan menentukan apakah Chen Long akan digunakan… atau disingkirkan.

Rombongan belum melanjutkan perjalanan ketika pengawas Dewan Dalam tiba.

Tidak dengan iring-iringan. Tidak dengan terompet.

Ia datang sendirian, menunggang kuda hitam tanpa lambang, memasuki perkemahan seolah tidak terikat waktu.

Namanya diumumkan singkat Qin Shenyuan.

Jubahnya abu-abu tua, tanpa hiasan. Tidak membawa senjata terbuka. Namun setiap langkahnya membuat para perwira secara naluriah menegakkan punggung.

Ia bukan jenderal.

Ia bukan kultivator garis depan.

Ia adalah penilai—jenis manusia yang menentukan siapa yang masih berguna bagi kekaisaran.

Qin Shenyuan meminta laporan lengkap sebelum matahari turun. Semua laporan.

Termasuk laporan yang telah dirapikan.

Malam itu, ia memanggil Chen Long.

Bukan ke tenda komando.

Melainkan ke sebuah paviliun darurat yang didirikan di pinggir perkemahan—cukup jauh untuk tidak terdengar, cukup dekat untuk diawasi.

Chen Long masuk tanpa pengawal.

Qin Shenyuan berdiri membelakangi pintu, menatap peta jalur ibu kota yang terbentang di dinding kain.

“Kamu berjalan terlalu cepat,” katanya tanpa berbalik.

“Dan Anda berjalan terlalu lambat,” jawab Chen Long tenang.

Qin Shenyuan tersenyum tipis.

“Keberanian tanpa kendali adalah kebodohan. Kendali tanpa keberanian adalah pembusukan.”

Ia akhirnya berbalik. Tatapannya tajam, bukan bermusuhan—melainkan menimbang.

“Kamu menyelamatkan satu anak,” lanjutnya. “Dan membuat puluhan mati karena pasukan ragu.”

Chen Long menggeleng. “Mereka mati karena musuh lebih cepat dari kita.”

“Dan karena komando terpecah,” balas Qin Shenyuan.

“Wilayah Selatan, Barat, dan Utara saling menunggu. Itu bukan kebetulan.”

Chen Long merasakan hawa dingin di belakang lehernya.

“Anda tahu.”

“Aku tahu cukup untuk khawatir,” kata Qin Shenyuan.

“Kekaisaran ini sudah lama tidak satu suara.”

Ia menunjuk peta. Garis-garis jalur dilapisi tanda warna berbeda.

“Raja Selatan menekan logistik. Raja Barat menahan jalur energi. Raja Hu mengunci tambang batu roh.”

“Semua mengatasnamakan perlindungan kekaisaran.”

Chen Long mengepalkan tangan.

“Dan Dewan Dalam?”

“Kami menahan keseimbangan,” jawab Qin Shenyuan datar.

“Atau setidaknya… mencoba.”

Ia mendekat selangkah.

“Kamu, Chen Long, adalah faktor yang tidak bisa kami hitung. Dan sistem tidak menyukai hal itu.”

“Lalu mengapa Anda datang sendiri?” tanya Chen Long.

Qin Shenyuan menatapnya lama.

“Karena jika aku datang membawa keputusan, itu berarti waktumu sudah habis.”

Keheningan menyelimuti paviliun.

Keesokan harinya, tekanan terasa nyata.

Perintah-perintah kecil saling bertabrakan. Logistik tertahan. Rute dialihkan tanpa alasan jelas. Utusan dari wilayah lain mulai “memberi saran”.

Pasukan kelelahan bukan karena perang yang meledak melainkan ketidakpastian.

Di rapat tertutup, suara mulai terbelah.

“Kita harus mengamankan ibu kota dengan kekuatan penuh!”

“Kita harus menarik pasukan dan melindungi wilayah sendiri!”

“Raja Utara terlalu dominan!”

“Dewan Dalam melampaui wewenang!”

Retakan tidak lagi tersembunyi.

Yin Sunxin menyaksikan semua itu dari pinggir. Ia jarang bicara, namun setiap kali melangkah, mata para bangsawan muda mengikuti—dengan rasa hormat bercampur kewaspadaan.

Malam itu, ia mendekati Chen Long.

“Jika kekaisaran ini runtuh,” katanya pelan, “bukan karena iblis.”

Chen Long mengangguk. “Tapi karena kita sibuk memutuskan siapa yang berhak memegang kendali.”

Di kejauhan, ibu kota akhirnya terlihat dan tembok raksasa menjulang di bawah langit kelabu.

Indah. Kokoh.

Dan retak dari dalam.

Qin Shenyuan berdiri di punggung bukit, menatap kota yang sama.

“Jika Chen Long dikekang,” gumamnya, “kita mungkin aman hari ini.”

“Jika dilepaskan…”

Ia tidak melanjutkan.

Karena jauh di bawah, di bayangan tembok ibu kota, sesuatu telah bergerak lebih dulu—menyelinap di antara faksi manusia yang saling curiga.

Dan kekaisaran Yin kini berdiri di ambang pilihan paling berbahaya:

menekan anomali… atau mengakuinya.

...BERSAMBUNG...

...****************...

1
🍾⃝ͩKᴜᷞᴢͧᴇᷠʏᷧᴇɴᴋ ᴠɪᴠɪᴀɴ🥑⃟ⰼ⃞☪
Ada kumpul-kumpul iblis dan anomali🤭
さくらゆい
keep up the good work
花より
I like kingdom-themed stories
🍾⃝ͩKᴜᷞᴢͧᴇᷠʏᷧᴇɴᴋ ᴠɪᴠɪᴀɴ🥑⃟ⰼ⃞☪
Kayu besi Utara dengan kayu Eboni beda kah? 🤔
ᴠͥɪͣᴘͫ ⛩️ ⃝𝕸𝖗.𝕸ཧཱོ࿐☯️: kayu besi atau di kenal dengan temusi atau temusu

berasal dari Eropa Selatan,asia barat daya dan timur, Amerika Tengah dan Utara
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
jejak
🍾⃝ͩKᴜᷞᴢͧᴇᷠʏᷧᴇɴᴋ ᴠɪᴠɪᴀɴ🥑⃟ⰼ⃞☪
silakan dibaca😄
🍾⃝ͩֆᷞиͧσᷠωͣflower♕🆒
Semangat berkarya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!