Kanaka kecewa berat mengetahuinya jika kekasih sekaligus suster pribadinya, meninggalkannya demi uang 1 milyar tawaran dari Ayahnya. Sejak dia buta karena kecelakaan 2 tahun yang lalu, Zea begitu tulus menjaganya hingga ia jatuh cinta. Namun cinta tulusnya, kalah dengan uang 1 milyar.
8 tahun berlalu, saat Naka sudah bisa melihat setelah menjalani operasi kornea mata, ia bertemu dengan seorang wanita bernama Zara. Janda dengan satu anak laki-laki itu, memiliki suara yang mirip sekali dengan Zea. Fakta akhirnya terkuak, ia tahu jika Zara ternyata adalah Zea. Kebencian pada wanita itu, membuat Naka membalas dendam dengan cara memisahkan Zea dengan putranya. Ia ingin Zea merasakan kehilangan seperti apa yang ia rasakan dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Rizal melotot sambil meletakkan telunjuk di depan bibir, mengisyaratkan pada Vira agak memelankan suaranya. Reflek menoleh ke arah pintu, berharap Arka tidak menguping di balik kayu bercat hitam tersebut.
"Kamu nyulik anak, Beb?" dengan wajah pias, Vira menarik lengan Rizal. "Nyulik, Beb!" ulangnya lagi, tak percaya.
"Aku di suruh bos," sahut Rizal frustasi.
"Ya kenapa kamu mau-mau aja!" Vira panik, takut Rizal tersandung masalah hukum, mana mereka sedang mempersiapkan pernikahan. "Gimana kalau kamu ditangkap polisi? Gimana kalau kamu dipenjara?" ia sampai gemetaran membayangkan itu.
"Jangan ngomong gitu, kamu bikin aku takut."
"Nyulik itu tindakan kriminal, konsekuensinya di penjara. Gimana kalau ketahuan polisi?"
Rizal mengusap wajah sambil membuang nafas berat, itu juga yang ia khawatirkan.
"Eh, tapi anak itu kok diam saja kamu culik, dia tak terlihat ketakutan, menangis, atau bahkan teriak-teriak."
"Dia gak tahu kalau sedang diculik, aku bohongin dia."
Vira meraup kasar wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Gimana orang tua anak itu, Beb? Orang tuanya pasti khawatir, pasti sibuk mencari sekarang."
Rizal juga kepikiran itu. Semalam bahkan ia tak bisa tidur, memikirkan Zara, kasihan padanya. Mana sudah janda, tak punya sandaran hidup, eh... ada yang jahatin.
"Beb, untuk apa bos kamu nyulik anak, mau meras, minta tebusan?"
"Dia cuma anak penjual es teh, apanya yang mau diperas?"
"Ya estehnya."
Sambil melotot, Rizal mendorong kening Vira dengan telunjuknya. "Bisa ya, masih becanda di saat seperti ini."
Vira cemberut, mengusap keningnya. "Ya terus, buat apa nyulik anak? Jangan-jangan," matanya membulat sempurna, mulutnya menganga lebar.
"Jangan-jangan apa?" Rizal menatap Vira dengan kedua alis saling bertaut.
"Jangan-jangan, bos kamu mafia sindikat penculikan anak untuk dijual organ-organnya," bergidik ngeri.
"Ampun dah!" desis Rizal sambil melotot dan geleng-geleng. "Kebanyakan nonton dracin nih."
"Tapi memang ada kasus seperti itu. Ok, kalau bukan itu, lalu kenapa nyulik anak?"
"Entahlah," Rizal membuang nafas kasar, berjalan ke arah ranjang, menjatuhkan bobot tubuhnya disana. Dua hari ini, energinya terkuras habis gara-gara ulah bosnya.
"Kapan anak itu diambil bos kamu? Jangan sampai terlalu lama disini, bisa bahaya, nanti kamu yang kena. Anterin ke tempat tempat bos kamu sekarang."
"Masalahnya, bos minta anak itu tetap disini untuk sementara waktu."
"WHAT!" Vira melotot.
"Makanya aku nyuruh kamu kesini, jagain dia saat aku kerja. Kamu cuma tinggal ngerjain skripsi doangkan, jarang-jarang ngampus. Kamu tinggal disini aja untuk sementara waktu."
"Ogah! Yang ada nanti aku ikutan kena masalah. Aku gak mau dikira temasuk bagian sindikat penculik anak."
"Ayolah sayang, bantu aku kali ini. Bos jamin keselamatan kita kok. Tenang aja, uang bisa menyelesaikan segalanya," bujuk Rizal. "Bos janji akan ngasih duit gede. Kamu bisa mewujudkan wedding dream kamu."
"Tapi... " Vira masih ragu.
"Please... Kamu gak kasihan sama anak itu. Seenggak di tangan kita berdua, anak itu baik-baik saja. Anggap sedang simulasi punya anak."
"Tapi bagaimana dengan orang tuanya Beb, mereka pasti gak baik-baik saja. Mereka pasti sedang mengkhawatirkan anaknya."
"Tauklah, kepalaku pusing. Masak sana gih, aku dan Arka belum sarapan," Rizal naik ke atas ranjang, mencoba untuk tidur setelah semalaman kurang tidur.
"Jadi nama anak itu Arka?"
"Hem."
"Ya udah." Vira membuka pintu lalu keluar. Ia mendekati Arka yang duduk di sofa, tatapan anak itu terlihat sedih. "Hai," sapanya. Matanya tiba-tiba berkaca-kaca, gak tega.
"Hai juga, Tante."
"Arka suka ayam gak? Tante masakin ayam mau? Atau mau makan yang lainnya?"
"Aku suka makan apa aja."
"Ya udah, Tante masak dulu ya." Vira mengusap puncak kepala Arka, mengecupnya, lalu meninggalkannya. Ia memang dar der dor kalau ngomong, tapi ia tetap wanita yang mempunyai sisi lembut, yang kalau sedih, kasihan, langsung pengen mewek.
Arka mematikan TV, menghampiri Vira yang ada di pantry.
"Ada apa Arka, mau sesuatu?"
"Aku mau bantuin, Tante."
Vira mengerutkan kening.
"Aku biasa bantuin Ibu memasak."
"MasyaAllah," mata Vira kembali berkaca-kaca, mengusap kepala Arka. Mengutuki Naka dalam hati, kenapa bisa sekejam ini bos dari kekasihnya itu. Ternyata hanya casingnya sisa yang bagus, tapi hatinya busuk.
...----------------...
Tiga hari ada di apartemen Rizal, Arka tak bisa lagi dibohongi, anak itu terus menangis mencari ibunya. "Aku mau pulang, Tante, aku mau ketemu Ibu. Anterin Arka pulang," sampai malam masih menangis, menarik-narik lengan baju Vira, merengek minta pulang.
"Ibu kamu gak ada di rumah Arka, dia sama Om bos ada di luar kota, masih ada kerjaan," Rizal mencoba menenangkan.
"Tapi kenapa Ibu tidak pernah telepon aku? Ibu gak mungkin gak telepon aku. Aku takut ada apa-apa dengan Ibu." Arka makin keras menangis. Biasanya, sehari saja ia menginap di rumah Budhe Nisa, ibunya berkali-kali menelepon. Tapi ini, sudah tiga hari mereka tak bertemu, tapi tak pernah sekali pun ibunya menelepon. "Aku mau pulang Om, pulang. Aku kangen Ibu," sesenggukan hingga suaranya putus-putus. "Kalau Ibu tidak ada di rumah, antar aku ke rumah Budhe Nisa saja."
Vira menyeka air mata, tak kuasa mendengar ratapan Arka. Anak sekecil itu dipisahkan dari ibunya, bagaimana tidak runtuh dunianya. Ia menarik Rizal ke kamar, lalu menguncinya. "Telepon Pak Naka, suruh ambil Arka. Aku gak tega, Beb," ia menyeka air mata. "Bayangin seperti apa kondisi ibunya sekarang."
Rizal meraup wajah dengan kedua telapak tangan, membuang nafas kasar.
"Mau sampai kapan kita bohongin dia terus?"
Rizal mengambil ponsel, menghubungi Naka meski resikonya kena marah karena ini hampir tengah malam.
"Bos, Arka nangis terus. Dia gak mau makan seharian ini. Aku khawatir dia sakit. Sampai kapan Arka akan terus disini?" Rizal memijat kepalanya yang terasa mau pecah.
"Sementara, biarkan tetap disana."
"Tapi sampai kapan?" Rizal pengen sekali teriak, pengen membentak, tapi takut.
"Entahlah. Yang pasti dalam waktu cukup lama."
Rizal membuang nafas kasar. 3 hari saja ia sudah kelimpungan, sudah tak tega melihat Arka, bagaimana mungkin situasi ini masih akan berlangsung lama.
"Aku ingin memberi pelajaran berharga pada ibunya. Aku ingin dia merasakan, seperti apa rasanya kehilangan orang yang dicintai," Naka menyeringai tipis.
Vira yang mendengar obrolan mereka, memaki-maki dalam hati. Tak tahu apa masalah antara Naka dan ibunya Arka, tapi jika seperti ini!sangat tidak adil, karena Arka yang tak bersalah, ikutan di hukum. "Suruh dia kesini lihat Arka," ujarnya tanpa suara.
"Bos datang kesinilah, lihat kondisi Arka," Rizal sampai kehabisan kata-kata. Ia mematikan sambungan setelah itu.
Naka menatap layar ponselnya. Ini sudah 3 hari, tapi Zea belum menghubunginya. Apa jangan-jangan, Zea memang sama sekali tidak menduga jika hilangnya Arka ada sangkut pautnya dengannya. Ia meletakkan ponsel ke atas nakas, lalu kembali rebahan. Namun saat baru memejamkan mata, ponselnya kembali berdering. "Apalagi sih dia," berdecak kesal.
Dengan terpaksa, Naka kembali bangun. Namun kantuknya langsung hilang saat yang telepon ternyata bukan Rizal. "Ze," gumamnya sambil menyeringai.
o...o'o... kycduk kalian....
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
itu sih Aku ya Ze😄🤣