NovelToon NovelToon
Pergi Dengan 1 Milyar

Pergi Dengan 1 Milyar

Status: tamat
Genre:CEO / Single Mom / Lari Saat Hamil / Tamat
Popularitas:1.3M
Nilai: 5
Nama Author: Yutantia 10

Kanaka kecewa berat mengetahuinya jika kekasih sekaligus suster pribadinya, meninggalkannya demi uang 1 milyar tawaran dari Ayahnya. Sejak dia buta karena kecelakaan 2 tahun yang lalu, Zea begitu tulus menjaganya hingga ia jatuh cinta. Namun cinta tulusnya, kalah dengan uang 1 milyar.

8 tahun berlalu, saat Naka sudah bisa melihat setelah menjalani operasi kornea mata, ia bertemu dengan seorang wanita bernama Zara. Janda dengan satu anak laki-laki itu, memiliki suara yang mirip sekali dengan Zea. Fakta akhirnya terkuak, ia tahu jika Zara ternyata adalah Zea. Kebencian pada wanita itu, membuat Naka membalas dendam dengan cara memisahkan Zea dengan putranya. Ia ingin Zea merasakan kehilangan seperti apa yang ia rasakan dulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14

Rizal melotot sambil meletakkan telunjuk di depan bibir, mengisyaratkan pada Vira agak memelankan suaranya. Reflek menoleh ke arah pintu, berharap Arka tidak menguping di balik kayu bercat hitam tersebut.

"Kamu nyulik anak, Beb?" dengan wajah pias, Vira menarik lengan Rizal. "Nyulik, Beb!" ulangnya lagi, tak percaya.

"Aku di suruh bos," sahut Rizal frustasi.

"Ya kenapa kamu mau-mau aja!" Vira panik, takut Rizal tersandung masalah hukum, mana mereka sedang mempersiapkan pernikahan. "Gimana kalau kamu ditangkap polisi? Gimana kalau kamu dipenjara?" ia sampai gemetaran membayangkan itu.

"Jangan ngomong gitu, kamu bikin aku takut."

"Nyulik itu tindakan kriminal, konsekuensinya di penjara. Gimana kalau ketahuan polisi?"

Rizal mengusap wajah sambil membuang nafas berat, itu juga yang ia khawatirkan.

"Eh, tapi anak itu kok diam saja kamu culik, dia tak terlihat ketakutan, menangis, atau bahkan teriak-teriak."

"Dia gak tahu kalau sedang diculik, aku bohongin dia."

Vira meraup kasar wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Gimana orang tua anak itu, Beb? Orang tuanya pasti khawatir, pasti sibuk mencari sekarang."

Rizal juga kepikiran itu. Semalam bahkan ia tak bisa tidur, memikirkan Zara, kasihan padanya. Mana sudah janda, tak punya sandaran hidup, eh... ada yang jahatin.

"Beb, untuk apa bos kamu nyulik anak, mau meras, minta tebusan?"

"Dia cuma anak penjual es teh, apanya yang mau diperas?"

"Ya estehnya."

Sambil melotot, Rizal mendorong kening Vira dengan telunjuknya. "Bisa ya, masih becanda di saat seperti ini."

Vira cemberut, mengusap keningnya. "Ya terus, buat apa nyulik anak? Jangan-jangan," matanya membulat sempurna, mulutnya menganga lebar.

"Jangan-jangan apa?" Rizal menatap Vira dengan kedua alis saling bertaut.

"Jangan-jangan, bos kamu mafia sindikat penculikan anak untuk dijual organ-organnya," bergidik ngeri.

"Ampun dah!" desis Rizal sambil melotot dan geleng-geleng. "Kebanyakan nonton dracin nih."

"Tapi memang ada kasus seperti itu. Ok, kalau bukan itu, lalu kenapa nyulik anak?"

"Entahlah," Rizal membuang nafas kasar, berjalan ke arah ranjang, menjatuhkan bobot tubuhnya disana. Dua hari ini, energinya terkuras habis gara-gara ulah bosnya.

"Kapan anak itu diambil bos kamu? Jangan sampai terlalu lama disini, bisa bahaya, nanti kamu yang kena. Anterin ke tempat tempat bos kamu sekarang."

"Masalahnya, bos minta anak itu tetap disini untuk sementara waktu."

"WHAT!" Vira melotot.

"Makanya aku nyuruh kamu kesini, jagain dia saat aku kerja. Kamu cuma tinggal ngerjain skripsi doangkan, jarang-jarang ngampus. Kamu tinggal disini aja untuk sementara waktu."

"Ogah! Yang ada nanti aku ikutan kena masalah. Aku gak mau dikira temasuk bagian sindikat penculik anak."

"Ayolah sayang, bantu aku kali ini. Bos jamin keselamatan kita kok. Tenang aja, uang bisa menyelesaikan segalanya," bujuk Rizal. "Bos janji akan ngasih duit gede. Kamu bisa mewujudkan wedding dream kamu."

"Tapi... " Vira masih ragu.

"Please... Kamu gak kasihan sama anak itu. Seenggak di tangan kita berdua, anak itu baik-baik saja. Anggap sedang simulasi punya anak."

"Tapi bagaimana dengan orang tuanya Beb, mereka pasti gak baik-baik saja. Mereka pasti sedang mengkhawatirkan anaknya."

"Tauklah, kepalaku pusing. Masak sana gih, aku dan Arka belum sarapan," Rizal naik ke atas ranjang, mencoba untuk tidur setelah semalaman kurang tidur.

"Jadi nama anak itu Arka?"

"Hem."

"Ya udah." Vira membuka pintu lalu keluar. Ia mendekati Arka yang duduk di sofa, tatapan anak itu terlihat sedih. "Hai," sapanya. Matanya tiba-tiba berkaca-kaca, gak tega.

"Hai juga, Tante."

"Arka suka ayam gak? Tante masakin ayam mau? Atau mau makan yang lainnya?"

"Aku suka makan apa aja."

"Ya udah, Tante masak dulu ya." Vira mengusap puncak kepala Arka, mengecupnya, lalu meninggalkannya. Ia memang dar der dor kalau ngomong, tapi ia tetap wanita yang mempunyai sisi lembut, yang kalau sedih, kasihan, langsung pengen mewek.

Arka mematikan TV, menghampiri Vira yang ada di pantry.

"Ada apa Arka, mau sesuatu?"

"Aku mau bantuin, Tante."

Vira mengerutkan kening.

"Aku biasa bantuin Ibu memasak."

"MasyaAllah," mata Vira kembali berkaca-kaca, mengusap kepala Arka. Mengutuki Naka dalam hati, kenapa bisa sekejam ini bos dari kekasihnya itu. Ternyata hanya casingnya sisa yang bagus, tapi hatinya busuk.

...----------------...

Tiga hari ada di apartemen Rizal, Arka tak bisa lagi dibohongi, anak itu terus menangis mencari ibunya. "Aku mau pulang, Tante, aku mau ketemu Ibu. Anterin Arka pulang," sampai malam masih menangis, menarik-narik lengan baju Vira, merengek minta pulang.

"Ibu kamu gak ada di rumah Arka, dia sama Om bos ada di luar kota, masih ada kerjaan," Rizal mencoba menenangkan.

"Tapi kenapa Ibu tidak pernah telepon aku? Ibu gak mungkin gak telepon aku. Aku takut ada apa-apa dengan Ibu." Arka makin keras menangis. Biasanya, sehari saja ia menginap di rumah Budhe Nisa, ibunya berkali-kali menelepon. Tapi ini, sudah tiga hari mereka tak bertemu, tapi tak pernah sekali pun ibunya menelepon. "Aku mau pulang Om, pulang. Aku kangen Ibu," sesenggukan hingga suaranya putus-putus. "Kalau Ibu tidak ada di rumah, antar aku ke rumah Budhe Nisa saja."

Vira menyeka air mata, tak kuasa mendengar ratapan Arka. Anak sekecil itu dipisahkan dari ibunya, bagaimana tidak runtuh dunianya. Ia menarik Rizal ke kamar, lalu menguncinya. "Telepon Pak Naka, suruh ambil Arka. Aku gak tega, Beb," ia menyeka air mata. "Bayangin seperti apa kondisi ibunya sekarang."

Rizal meraup wajah dengan kedua telapak tangan, membuang nafas kasar.

"Mau sampai kapan kita bohongin dia terus?"

Rizal mengambil ponsel, menghubungi Naka meski resikonya kena marah karena ini hampir tengah malam.

"Bos, Arka nangis terus. Dia gak mau makan seharian ini. Aku khawatir dia sakit. Sampai kapan Arka akan terus disini?" Rizal memijat kepalanya yang terasa mau pecah.

"Sementara, biarkan tetap disana."

"Tapi sampai kapan?" Rizal pengen sekali teriak, pengen membentak, tapi takut.

"Entahlah. Yang pasti dalam waktu cukup lama."

Rizal membuang nafas kasar. 3 hari saja ia sudah kelimpungan, sudah tak tega melihat Arka, bagaimana mungkin situasi ini masih akan berlangsung lama.

"Aku ingin memberi pelajaran berharga pada ibunya. Aku ingin dia merasakan, seperti apa rasanya kehilangan orang yang dicintai," Naka menyeringai tipis.

Vira yang mendengar obrolan mereka, memaki-maki dalam hati. Tak tahu apa masalah antara Naka dan ibunya Arka, tapi jika seperti ini!sangat tidak adil, karena Arka yang tak bersalah, ikutan di hukum. "Suruh dia kesini lihat Arka," ujarnya tanpa suara.

"Bos datang kesinilah, lihat kondisi Arka," Rizal sampai kehabisan kata-kata. Ia mematikan sambungan setelah itu.

Naka menatap layar ponselnya. Ini sudah 3 hari, tapi Zea belum menghubunginya. Apa jangan-jangan, Zea memang sama sekali tidak menduga jika hilangnya Arka ada sangkut pautnya dengannya. Ia meletakkan ponsel ke atas nakas, lalu kembali rebahan. Namun saat baru memejamkan mata, ponselnya kembali berdering. "Apalagi sih dia," berdecak kesal.

Dengan terpaksa, Naka kembali bangun. Namun kantuknya langsung hilang saat yang telepon ternyata bukan Rizal. "Ze," gumamnya sambil menyeringai.

1
Marsela Aulia
gak adil banget gak sih pas ini viral🥲 aku yg sekolahin tapi di rapot anak nama bapaknya yg jadi wali... padahal di akte udah aku aja sama anak anggota nya so pasti aku walinya.... pertama dapet rapot anak kelas 1 qu nangis seharian kepikiran pengen protes ke guru tapi kaya gak etis aja.... pas ada momen kelas 2 qu baru ngajuin keberatan sama peraturan sekolah di situ wali kelasnya mengajukan rapot gak di tulis nama ayah.... okeh lah dia sampe kapan pun bapaknya anaku.... tapi yg kedebag kedebug setiap hari ya aku sendirian kaya sakit banget pas kita yg mikirin biaya sekolah semuanya dengan mudah nya pihak sekolah memukul rata kebijakan🥲
Gia Nasgia
Naka kamu ya benar"akan nyesal klau tahu Raka anak mu
Gia Nasgia
Next
Gia Nasgia
kasihan Rizal jadi ikut menanggung
Gia Nasgia
Bilang aja msh cinta sampai"Naka nekat ngambil Raka diam"penasaran lihat reaksi Zea klau tahu Raka di culik ayahnya sendiri😂
Gia Nasgia
Ishh ternyata pak Very rubah tua hanya karena tdk merestui Naka dan Zea sehingga membuat cerita palsu,agar Zea terlihat buruk di depan Naka😡
Gia Nasgia
kayaknya fix Zara adalah Zea🤔
Gia Nasgia
seperyinya pak very sengaja memecat semua asisten rumah tangga nya untuk menghilangkan jejak zea ,tapi ada Raka yg menghubungkan kembali kisah orang tuanya😍
Gia Nasgia
Siap"aja zea dgn pertemuan selanjutnya sepertinya uang 1 M jadi berbuntut panjang😂
Gia Nasgia
Aishh makin ketahuan dehh penyamaran kamu Ze
Gia Nasgia
Nah lho
Gia Nasgia
Sudah aku duga sebelumnya klau Zea pergi bukan karena ke inginan nya
Gia Nasgia
Akhirnya pencuri hatinya Naka ketangkap juga😂
Gia Nasgia
Saking bucinnya Naka sehingga siluet nya Zea aja di tahu🤭
Gia Nasgia
pasti akal bulusnya ayah Naka agar Zea terlihat matre di depan Naka😡
Gia Nasgia
Mampir Kak
💗 AR Althafunisa 💗
Zea itu takut sama papa mu, berani nyelakain tau ga papamu. Bisa-bisa di bunuh Zea atau anakmu 😭
💗 AR Althafunisa 💗
sama tahu tempe mah masih enak, lah sama garem doang 😌
💗 AR Althafunisa 💗
Emang kagak jelas juga Naka kaya papanya, ketahuan udah tau punya anak. Kalau emang serius mau Zeansama anakmu ya batalin pertunangan, kalau emang ga niat sama Zea. Biarkan dia pergi, takutnya papa kau nekat malah membunuh Zea lagi 😌
💗 AR Althafunisa 💗
Beneran mencurigakan banget ini aki-aki, dasar penderitaan mu itu ada di bapak kamu Naka 😌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!