Kang Yun-seo, seorang pemuda biasa dari dunia modern yang doyan main game, tiba-tiba terbangun di dunia Murim yang penuh intrik dan seni bela diri. Ia dipanggil oleh Hwang Yehwa, ratu iblis yang sekarat akibat pengkhianatan, dan kini kehilangan kekuatannya, berubah wujud menjadi manusia biasa. Untuk bertahan di wilayah manusia yang memusuhi iblis, Yun-seo harus berpura-pura sebagai suaminya. Dengan pengetahuan modernnya, Yun-seo beradaptasi di akademi pedang, menghadapi turnamen, konspirasi gelap, dan bangkitnya kekuatan iblis, sambil menumbuhkan ikatan tak terduga dengan ratu dingin itu. Sebuah kisah isekai penuh aksi, komedi, dan romansa di antara dua dunia yang bertabrakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: MENUJU LEMBAH IBLIS
Pagi hari, mereka berangkat.
Lima penunggang kuda meninggalkan Akademi Pedang Iblis Langit saat matahari baru terbit. Yun-seo, Yehwa, Seo Jung-won, Jo Cheol-soo, dan Hwang Cheol-soo—yang memutuskan ikut meski sebelumnya bilang akan urus "kejutan" dari belakang.
"Aku berubah pikiran," katanya saat ditanya. "Masa aku diem aja? Aku masih kuat!"
Cheol-soo bersorak. "Kakek ikut! Mantap!"
Perjalanan ke barat menuju Lembah Iblis memakan waktu tiga hari. Medan semakin berat—perbukitan terjal, hutan lebat, sungai deras. Tapi dengan kekuatan baru mereka, itu bukan masalah.
Malam pertama, mereka berkemah di tepi hutan. Api unggun menyala, menghangatkan tubuh di malam yang dingin.
Cheol-soo memasak—tugas yang ia ambil dengan senang hati. "Aku jago masak! Nanti kalau sudah besar, aku mau buka restoran."
Seo Jung-won melirik. "Restoran? Bukannya pandai besi?"
"Buka restoran pandai besi! Makan sambil lihat pedang!" Cheol-soo tertawa sendiri.
Yang lain ikut tertawa. Di tengah ketegangan menjelang pertempuran, tawa Cheol-soo terasa menyegarkan.
Hwang Cheol-soo—kakek—duduk di samping api, matanya menerawang. Yehwa mendekat.
"Kakek memikirkan sesuatu?"
Hwang Cheol-soo menghela napas. "Aku memikirkan masa lalu. Saat terakhir kali aku di Lembah Iblis... 500 tahun lalu. Saat pemberontakan."
Yehwa diam. Ia tahu sejarah itu—saat banyak tetua tewas, saat Dinasti Iblis hampir runtuh.
"Kakek selamat. Berarti ada harapan."
Hwang Cheol-soo tersenyum. "Kau benar, Yang Mulia. Selama masih ada harapan, kita tidak boleh menyerah."
---
Malam kedua, mereka melewati wilayah yang mulai terasa asing.
Langit kelabu, meski tidak mendung. Awan hitam menggantung di atas, tidak bergerak. Angin berhenti bertiup. Suasana hening—terlalu hening.
"Ini wilayah iblis," bisik Yehwa. "Aku bisa merasakannya."
Yun-seo juga merasakan—energi dingin, menekan, seperti dipeluk bayangan. Tapi dengan darah Kaisar yang bangkit, ia tidak takut. Malah, ia merasa seperti pulang.
Mereka berhenti di sebuah desa kosong. Rumah-rumah kayu terbengkalai, atap runtuh, perabotan berserakan. Tidak ada tanda kehidupan.
"Serangan iblis," gumam Seo Jung-won. "Beberapa bulan lalu."
Cheol-soo menunduk. "Kasihan..."
Yehwa memejamkan mata. Dalam hati, ia berdoa untuk arwah-arwah ini. Meski manusia, mereka korban perang yang tidak mereka mulai.
Yun-seo meraih tangannya. "Kita hentikan ini. Besok."
Yehwa mengangguk.
---
Malam ketiga, mereka tiba di pinggir Lembah Iblis.
Dari kejauhan, terlihat benteng hitam menjulang di tengah lembah. Api unggun berkelap-kelip di sekelilingnya. Ribuan titik cahaya—pasukan iblis.
Cheol-soo menelan ludah. "Itu... banyak banget."
"Tiga ribu," estimasi Seo Jung-won. "Mungkin lebih."
Yun-seo mengamati benteng itu. Tinggi, kokoh, dikelilingi parit. Satu pintu gerbang utama, dijaga ketat. Tidak mungkin masuk tanpa diketahui.
"Rencananya?" tanya Seo Jung-won.
Yehwa tersenyum tipis. "Kita tidak perlu masuk. Kita buat mereka keluar."
Ia menjelaskan rencana sederhana namun berisiko: mereka akan memancing Lilian keluar dengan menantangnya duel. Dengan enam pusaka, mereka punya kekuatan untuk melawan. Tapi risikonya—kalau Lilian tidak terpancing, atau kalau pasukannya menyerbu, mereka bisa kewalahan.
"Tapi aku kenal Lilian," kata Yehwa. "Dia arogan. Dia tidak akan menolak tantangan dariku."
Yun-seo mengangguk. "Kalau begitu, kita lakukan."
---
Malam itu, mereka istirahat di gua dekat lembah.
Tidak ada yang bisa tidur nyenyak. Pikiran masing-masing penuh dengan skenario—menang, kalah, mati.
Yun-seo memeluk Yehwa erat. "Besok, apa pun yang terjadi, aku di sini."
Yehwa membalas pelukannya. "Aku tahu."
Di sudut lain, Cheol-soo berdoa dengan khusyuk—entah pada dewa apa. Seo Jung-won duduk bersila, bermeditasi. Hwang Cheol-soo memeriksa pusaka-pusaka itu sekali lagi.
Fajar tiba. Hari pertempuran.
---