NovelToon NovelToon
Istriku Ratu Iblis Dunia Murim

Istriku Ratu Iblis Dunia Murim

Status: tamat
Genre:Sistem / Mafia / Time Travel / Cintapertama / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Kang Yun-seo, seorang pemuda biasa dari dunia modern yang doyan main game, tiba-tiba terbangun di dunia Murim yang penuh intrik dan seni bela diri. Ia dipanggil oleh Hwang Yehwa, ratu iblis yang sekarat akibat pengkhianatan, dan kini kehilangan kekuatannya, berubah wujud menjadi manusia biasa. Untuk bertahan di wilayah manusia yang memusuhi iblis, Yun-seo harus berpura-pura sebagai suaminya. Dengan pengetahuan modernnya, Yun-seo beradaptasi di akademi pedang, menghadapi turnamen, konspirasi gelap, dan bangkitnya kekuatan iblis, sambil menumbuhkan ikatan tak terduga dengan ratu dingin itu. Sebuah kisah isekai penuh aksi, komedi, dan romansa di antara dua dunia yang bertabrakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: PENYELIDIKAN BERSAMA

Tiga hari setelah konferensi perbatasan, tim investigasi bersama resmi dibentuk.

Matahari pagi menyinari perkemahan sementara yang didirikan di lembah netral. Di satu sisi, tenda-tenda biru Aliansi Murim. Di sisi lain, tenda-tenda hitam Dinasti Iblis. Di tengah, sebuah tenda besar berwarna putih sebagai markas bersama—simbol kerja sama yang rapuh namun penuh harap.

Yun-seo berdiri di pintu tenda putih itu, mengamati pemandangan dengan perasaan campur aduk. Di dunia modern, bekerja sama dengan mantan musuh adalah hal biasa. Tapi di sini, di dunia Murim, ini adalah langkah bersejarah.

"Hyung!" Suara Cheol-soo dari belakang. Pandai besi muda itu berlari kecil, membawa sebuah kotak kayu. "Aku bawa perlengkapan! Senjata cadangan, bom api, dan—" ia membuka kotak, memperlihatkan lima botol kecil berisi cairan biru bercahaya. "—ramuan penyembuh buatanku sendiri!"

Yun-seo mengamati botol-botol itu. "Kau bisa buat ramuan?"

"Belajar dari tabib istana! Katanya aku berbakat." Cheol-soo tersenyum bangga. "Ini bisa menyembuhkan luka ringan sampai sedang dalam hitungan menit."

"Kau hebat, Cheol-soo."

Cheol-soo tersipu. "Ah, hyung jangan puji terus. Nanti sombong."

Dari arah tenda Aliansi, beberapa sosok muncul. Song Ha-na berjalan dengan tegap, diikuti tiga pendekar dari Sekte Gunung Es. Di belakangnya, Pendekar Baek Cheon dari Hwasan dengan senyum ramahnya, dan Pendekar Myung Jin-ho yang sudah dikenal Yun-seo.

"Selamat pagi," sapa Baek Cheon hangat. "Kita siap berangkat?"

Yehwa keluar dari tenda hitam, mengenakan pakaian perjalanan praktis—bukan jubah kebesaran. Rambutnya diikat sederhana. Ia tampak lebih seperti pendekar biasa daripada ratu iblis.

"Pagi," balasnya singkat. "Sudah dapat informasi lokasi pasti?"

Song Ha-na mengangguk. "Desa terakhir yang diserang—Wangchon—berada di selatan, sekitar setengah hari perjalanan dari sini. Kita bisa tiba sore ini."

"Kalau begitu, kita bergerak sekarang."

---

Tim berangkat dengan sepuluh orang—lima dari masing-masing pihak.

Dari Aliansi: Song Ha-na (pemimpin tim Aliansi), Baek Cheon, Myung Jin-ho, dan dua pendekar muda, Lee Soo-jin (teman sekamar Yehwa dulu, kini sudah lulus akademi) dan Yoon Ki-tae (pemanah ulung dari Sekte Gunung Es).

Dari Dinasti Iblis: Yehwa (pemimpin tim iblis), Yun-seo, Cheol-soo, dan dua prajurit iblis veteran, Kragg (bertubuh raksasa dengan kapak perang) dan Vex (cekatan dengan dua belati).

Perjalanan setengah hari ditempuh dengan kuda-kuda terbaik. Medan semakin berat saat mereka mendekati Wangchon—perbukitan gersang, pepohonan kering, dan langit kelabu yang tidak wajar.

"Ini wilayahnya," gumam Baek Cheon. "Aura negatif sangat kuat."

Yehwa mengendus udara. "Aku bisa merasakannya. Ilmu hitam. Sisa-sisa ritual kegelapan."

Mereka tiba di Wangchon menjelang sore.

Desa itu sunyi. Terlalu sunyi.

Rumah-rumah kayu terbakar, tinggal puing-puing hitam. Jalanan berlumuran darah kering. Mayat-mayat—atau sisa-sisa mereka—masih tergeletak di mana-mana. Bau busuk menyengat.

Lee Soo-jin menahan muntah. Ia masih muda, belum pernah melihat pemandangan sebrutal ini.

"Ya Tuhan..." bisiknya.

Song Ha-na menepuk pundaknya. "Kuatkan hati. Ini tugas kita."

Mereka menyebar, menyelidiki. Cheol-soo mengumpulkan sampel—pecahan senjata, jejak kaki, sisa-sisa api. Keahliannya sebagai pandai besi berguna untuk mengidentifikasi jenis senjata.

Yun-seo menemukan sesuatu di tengah desa—sebuah altar darurat, terbuat dari batu dan tulang. Di tengahnya, simbol yang dikenalnya.

"Yehwa, lihat ini."

Yehwa mendekat. Matanya melebar. "Simbol Penguasa Kegelapan... tapi versi yang dimodifikasi."

"Mirip dengan yang dipakai Lilith."

"Tapi Lilith sudah kita tahan. Pengikutnya bubar." Yehwa mengerutkan kening. "Mungkin ada faksi lain yang tidak setuju dengan penghentian serangan."

Song Ha-na bergabung. "Apa maksudnya?"

Yehwa menjelaskan tentang Lilith dan pasukan bayangannya. Song Ha-na mendengar dengan saksama.

"Jadi ada iblis yang tidak setuju dengan perdamaian?"

"Bukan iblis. Manusia. Pengikut Penguasa Kegelapan." Yehwa menatapnya. "Ini bukan perang antar bangsa. Ini perang melawan kegelapan."

Tiba-tiba, Vex—prajurit iblis cekatan—berseru dari kejauhan. "ADA YANG HIDUP!"

Semua berlari. Di balik reruntuhan lumbung padi, Vex menemukan seorang anak laki-laki—usia sekitar delapan tahun—bersembunyi di dalam gentong. Tubuhnya gemetar, matanya kosong ketakutan.

"Kami tidak akan menyakitimu," kata Yun-seo lembut, berlutut agar sejajar dengan anak itu. "Kau selamat. Sekarang aman."

Anak itu menatapnya. Matanya—hitam pekat—tidak biasa untuk manusia.

"A-apa kau iblis?" bisiknya.

Yun-seo tersenyum. "Setengah. Tapi yang baik."

Anak itu diam. Lalu tiba-tiba memeluk Yun-seo erat, menangis.

Ibundanya tewas. Ayahnya tewas. Adiknya tewas. Ia selamat karena bersembunyi di gentong saat serangan terjadi.

Mendengar ceritanya, Lee Soo-jin dan Cheol-soo menangis. Bahkan Song Ha-na yang dingin tampak tergugah.

"Kau akan kami bawa," janji Yun-seo. "Kau akan aman."

---

Malam harinya, mereka berkemah di luar desa, tidak tega tinggal di antara mayat-mayat.

Api unggun menyala. Anak itu—namanya Jae-won—sudah tidur di tenda darurat, dengan Lee Soo-jin menjaganya.

Tim berkumpul di sekitar api, wajah muram.

"Ini biadab," geram Baek Cheon. "Membunuh warga tak berdosa seperti ini."

"Tapi ini memberikan petunjuk." Yun-seo mengeluarkan simbol yang ia foto. "Altar itu—mereka melakukan ritual. Mungkin untuk mengumpulkan kekuatan."

Yehwa mengangguk. "Ilmu hitam butuh korban. Semakin banyak korban, semakin kuat."

"Jadi mereka membunuh untuk... menguatkan diri?" Myung Jin-ho menggenggam pedangnya erat. "Monster macam apa yang melakukan ini?"

"Manusia," jawab Yehwa dingin. "Manusia yang memilih jadi monster."

Tiba-tiba, Kragg yang berjaga di kejauhan memberi isyarat—ada yang mendekat.

Semua siap tempur. Dari kegelapan, muncul lima sosok berjubah hitam—persis seperti pengikut Penguasa Kegelapan.

"Kami tahu kalian di sini," salah satu dari mereka berkata, suaranya serak. "Tinggalkan anak itu. Ia milik kami."

Yehwa menghunus pedang. "Kau tidak akan mendapatkannya."

"Kalian tidak mengerti." Sosok itu tertawa. "Anak itu bukan korban biasa. Ia—"

Belum selesai bicara, Yun-seo menyerang. Tombaknya melesat cepat, mengenai bahu si pembicara. Yang lain bergerak.

Pertempuran singkat tapi sengit. Para pengikut bayangan itu kuat, tapi tidak sebanding dengan gabungan pendekar Aliansi dan iblis. Dalam sepuluh menit, tiga tewas, dua melarikan diri.

Yehwa ingin mengejar, tapi Yun-seo menahannya.

"Jangan. Bisa jebakan."

Mereka kembali ke api unggun, napas tersengal. Jae-won terbangun karena suara ribut, menangis ketakutan. Lee Soo-jin menenangkannya.

"Apa maksud mereka anak itu milik mereka?" tanya Baek Cheon.

Yun-seo mengamati Jae-won lebih saksama. Matanya yang hitam pekat—seperti milik iblis. Tapi telinganya tidak runcing, tidak ada tanda fisik lain.

"Jae-won," panggilnya lembut. "Kau ingat orang tuamu asli?"

Anak itu menggeleng. "Aku... diadopsi. Waktu bayi. Ibuku... ibu angkatku... bilang aku ditemukan di hutan."

Yehwa mendekat. "Boleh aku lihat lehermu?"

Jae-won mengangguk takut. Yehwa membuka kerah bajunya pelan. Di leher belakang, ada tanda lahir—simbol kecil, hampir tidak terlihat.

Tapi Yehwa mengenalinya.

"Ini... tanda darah iblis." Ia menatap Yun-seo. "Anak ini setengah iblis. Mungkin keturunan dari salah satu pengikut Lilian yang selamat."

Semua terkejut. Itu menjelaskan mengapa para pengikut bayangan menginginkannya.

"Mereka ingin merekrutnya. Atau... mengorbankannya untuk ritual yang lebih besar," gumam Song Ha-na.

Jae-won menangis. "A-aku monster?"

Yun-seo menggendongnya. "Kau bukan monster. Kau sama sepertiku. Setengah iblis, setengah manusia. Dan kau bisa memilih jadi baik."

"B-benarkah?"

"Benar. Lihat aku. Aku bahagia. Punya istri, punya anak. Kau juga bisa."

Jae-won terdiam. Lalu, perlahan, ia memeluk Yun-seo.

---

Kembali ke istana dua hari kemudian.

Jae-won disambut oleh Jin-ho dengan mata berbinar. Dua anak itu langsung akrab—Jin-ho senang punya teman baru, Jae-won senang akhirnya punya tempat bernaung.

Yehwa dan Yun-seo mengadakan pertemuan darurat dengan Seo Jung-won dan Lilith.

"Para pengikut bayangan masih aktif," lapor Yun-seo. "Dan mereka mencari anak-anak setengah iblis."

Lilith menunduk. "Aku tahu. Dulu, ayahku punya rencana—mengumpulkan anak-anak iblis yang tersebar, melatih mereka jadi prajurit bayangan. Aku hampir jadi salah satunya, tapi ibuku menyembunyikanku."

Yehwa menghela napas. "Ini lebih besar dari yang kita kira. Mereka tidak hanya ingin perang, tapi juga menciptakan generasi baru pengikut."

"Kita harus cari anak-anak itu sebelum mereka," kata Seo Jung-won. "Tapi bagaimana?"

Lilith angkat bicara. "Aku tahu beberapa tempat persembunyian mereka. Dulu, waktu masih dipercaya, aku diajak ke markas-markas rahasia."

Yehwa menatapnya. "Kau mau bantu?"

Lilith mengangguk mantap. "Aku tidak mau jadi alat kejahatan lagi. Biar kutebus dosa ibuku dan dosaku."

Yun-seo tersenyum. "Selamat datang di tim, Lilith."

---

1
Amiera Syaqilla
hello author😄
Q. Zlatan Ibrahim: halo juga terimalasih sudah mampir
total 1 replies
Manusia Biasa
emang manusia kadang lebih dari iblis
Q. Zlatan Ibrahim: seringkali
total 1 replies
Manusia Biasa
wkwkw ngakak gua baca sandiwaranya, lucu🗿😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!