"Ya Allah, ini ayah mertuaku... yang memberiku restu... yang kutitipi janji menjaganya."
Pedang di tangannya bergetar. Antara cinta pada Halimah dan cinta pada tanah air, ia harus memilih yang satu.
"Ayah... maafkan menantumu. Bukan karena aku tega, tapi karena tanah ini lebih besar dari cinta kita semua."
Pedang itu melesak. Bersamaan dengan ruh ayah mertuanya, ruh Maringgih pun ikut mati separuh.
---
Suara Nurani Halimah
Ia melihat dari kejauhan. Mulut terbuka, suara mati di tenggorokan.
"Suamiku... kau membunuh ayahku?"
Bukan marah yang pertama hadir. Tapi tanya yang lebih dalam:
"Berapa luka yang kau pendam, Maringgih, sampai kau sanggup melakukan ini?"
Air matanya jatuh untuk dua lelaki sekaligus. Untuk ayah yang rebah. Untuk suami yang kini harus hidup dengan bayangan mayat ayah mertuanya sendiri.
"Aku kehilangan ayah hari ini... tapi aku juga kehilanganmu, Maringgih."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: SURAT DARI BATAVIA
Van der Berg membaca surat itu tiga kali. Tangannya gemetar. Keringat dingin membasahi keningnya. Di tangannya, secarik kertas dari Batavia—pengiriman rempah bulan ini tidak akan dipenuhi jika kuota yang terbakar tidak diganti. Semua.
Matahari sudah condong ke barat. Sore mulai merambat, tapi di kantor VOC ini, panasnya tak tertahankan.
"Tidak..." bisiknya. "Tidak mungkin."
Ia menjatuhkan diri di kursi. Matanya kosong menatap langit-langit. Di luar, langit mulai jingga. Tapi di dalam ruangan ini, terasa dingin. Dingin seperti kuburan.
Pintu terbuka. Seorang juru tulis masuk dengan setumpuk kertas.
"Mijnheer Van der Berg, de rapporten van—"
(Tuan Van der Berg, laporan dari—)
"ERUIT!" bentaknya. "ERUIT, ZEG IK!"
(KELUAR! KELUAR, KUBILANG!)
Juru tulis itu berlari keluar. Pintu tertutup keras. Kertas-kertas berhamburan di lantai.
Van der Berg meremas surat itu. Kertasnya robek. Tapi kata-katanya tetap terbaca jelas. Ia membacanya sekali lagi, perlahan, setiap huruf seperti paku yang ditancapkan di kepalanya.
---
Aan: Mijnheer Van der Berg
Van: Raad van Koophandel, Batavia
"Mijnheer Van der Berg,
Wij hebben vernomen dat drie van uw opslagplaatsen volledig zijn afgebrand. Dit is een ramp voor de handel. Volgens de regels van de VOC kunnen wij geen specerijen naar Europa sturen voordat de verloren quota zijn aangevuld.
U moet de verbrande specerijen vervangen. Uit eigen middelen. Zoek handelaren die kunnen leveren. U heeft dertig dagen.
Als u faalt, wordt u verantwoordelijk gehouden voor alle verliezen. En u weet wat dat betekent.
Namens de Raad,
Jacob van Hemert"
---
(Kepada: Tuan Van der Berg
Dari: Dewan Dagang, Batavia
"Tuan Van der Berg,
Kami mendapat kabar bahwa tiga gudang penyimpanan di wilayah Anda habis terbakar. Ini adalah bencana bagi perdagangan. Sesuai aturan VOC, kami tidak bisa mengirim rempah-rempah ke Eropa sebelum kuota yang hilang diganti.
Anda harus mengganti rempah-rempah yang terbakar. Dari dana Anda sendiri. Cari pedagang yang bisa memasok. Anda punya waktu tiga puluh hari.
Jika gagal, Anda akan dimintai pertanggungjawaban atas seluruh kerugian. Dan Anda tahu artinya.
Atas nama Dewan,
Jacob van Hemert")
---
Tiga puluh hari.
Van der Berg tertawa pahit. Tawanya seperti orang gila.
"Dertig dagen... dertig dagen..." bisiknya. "Hoe moet ik dat doen? Drie pakhuizen!"
(Tiga puluh hari... tiga puluh hari... Bagaimana mungkin? Tiga gudang!)
Ia berdiri. Membanting kursi. Membanting meja. Kertas-kertas beterbangan.
"VERDOMDE!" umpatnya keras. "VERDOMDE!"
(TERKUTUK! TERKUTUK!)
---
Dua jam kemudian, lampu-lampu minyak mulai dinyalakan di kantor VOC.
Van der Berg masih mondar-mandir. Langkahnya berat. Sepatu botnya menghentak lantai kayu. Hitung mundur dalam kepalanya: tiga puluh hari untuk mencari rempah sebanyak tiga gudang.
Tidak mungkin. Hampir tidak mungkin.
"Brons!" teriaknya. "BRONS!"
Seorang asisten berlari masuk. Laki-laki muda berkacamata, selalu siap dengan pena dan kertas.
"Ja, Mijnheer?"
(Ya, Tuan?)
"Schrijf dit op. Perintah."
(Tulis ini. Perintah.)
Brons mengambil pena. Menyiapkan kertas.
"Pertama. Cari semua pedagang di wilayah ini. Tanya stok mereka. Berapa pun harganya, kita beli."
"Ja, Mijnheer."
"Kedua. Kirim surat ke Batavia. Tanya apakah ada stok cadangan di gudang pusat."
"Ja, Mijnheer."
Van der Berg berhenti. Matanya menyipit.
"Ketiga. Siapkan utusan. Suruh dia pergi ke rumah Datuk Sulaiman."
"Ja, Mijnheer. Ada pesan yang harus disampaikan?"
Van der Berg diam sejenak. Tangannya meremas kertas surat dari Batavia yang sudah kusut.
"Tidak. Tidak sekarang. Suruh dia bersiap. Besok pagi, kau akan memberi pesan. Pesan penting. Untuk Sulaiman."
Brons mengerutkan dahi, tapi tidak bertanya.
"Ja, Mijnheer. Saya siapkan utusan."
Brons keluar. Van der Berg kembali ke kursinya. Ia menatap surat itu sekali lagi.
Tiga puluh hari. Tiga gudang. Ribuan karung.
Dan satu nama terlintas di kepalanya: Maringgih.
---
Di luar, malam mulai turun sempurna.
Di halaman belakang kantor VOC, seorang utusan bernama Betang duduk di bangku kayu. Ia laki-laki muda, tubuh kekar, biasa disuruh antar surat ke mana-mana. Obor di sampingnya menyala redup.
Brons keluar. Menghampirinya.
"Betang."
"Ya, Tuan Brons?"
"Besok pagi-pagi benar, kau harus pergi ke rumah Datuk Sulaiman. Kau tahu di mana?"
"Tahu, Tuan. Rumah besar dekat pasar."
"Bagus. Kau akan diberi pesan. Penting. Sampaikan tepat."
Betang mengangguk. "Siap, Tuan."
Brons masuk kembali. Betang duduk sendirian, menatap api obor yang berkedip. Ia tidak tahu pesan apa yang akan disampaikan besok. Tapi dari wajah Brons tadi, pasti penting.
---
Di rumah Mahmud, lampu minyak menyala terang.
Bukan karena mereka punya banyak minyak. Tapi karena hari ini ada yang dirayakan—ayah mereka pulang hidup.
Mahmud sudah bisa duduk. Wajahnya masih bengkak, biru di sana-sini. Bibirnya pecah. Matanya hampir tertutup. Tapi ia duduk. Ia hidup.
Istrinya memasak sayur dengan lauk ikan—mewah untuk ukuran mereka. Tiga anaknya duduk melingkar, menunggu makanan matang. Bayi di ayunan sudah tidur, kenyang setelah menyusu.
"Dari mana ikannya, Bu?" tanya anak sulung.
"Dari uang kiriman," jawab istrinya pelan.
"Kiriman dari siapa?"
Istrinya diam. Menatap Mahmud.
Mahmud menunduk. Tangannya memegang mangkuk. Tapi tidak makan.
"Pak, kenapa?" tanya anak sulungnya lagi.
Mahmud menatap anak itu. Lalu menatap istrinya. Lalu menatap langit-langit rumahnya yang bocor.
"Ayah hanya berpikir," jawabnya pelan. Suaranya serak, masih sakit. "Berhutang apa kita pada Tuan Maringgih, sampai ia sebaik itu?"
Anaknya tidak menjawab. Istrinya tidak menjawab.
Hanya angin malam yang berdesir, seolah ikut bertanya.
---
Di gudang Maringgih, lampu-lampu menyala terang.
Bukan karena takut gelap. Tapi karena ada yang dikerjakan.
Datuk Maringgih duduk di kursinya. Wajahnya tenang. Di depannya, Dullah berdiri dengan tangan di samping. Dua karyawan lain—Jafar dan Kasim—sedang menimbang rempah di sudut, bekerja dalam diam.
"Tuan, apa Tuan yakin?" tanya Dullah.
Maringgih tidak menjawab. Ia mengambil pena. Menyentuh ujungnya, memastikan tintanya cukup.
"Kertas."
Dullah mengambil kertas dari laci. Meletakkannya di atas meja. Kertas itu putih bersih, siap menerima kata-kata yang akan mengubah segalanya.
Maringgih menulis.
Tangannya bergerak pelan. Huruf demi huruf terbentuk rapi. Bahasa Melayu yang halus, seperti biasanya ia gunakan untuk berkirim surat dengan para pembesar di Batavia.
---
Kepada yang terhormat,
Tuan H. Syamsir
Saudagar Batavia
Di tempat
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Semoga surat ini sampai dalam keadaan baik. Saya menulis untuk menyampaikan pesan penting: untuk sementara waktu, tolong jangan jual rempah-rempah saya ke VOC. Tahan semua stok yang ada. Ada urusan penting yang sedang berlangsung di sini.
VOC sedang terdesak. Tiga gudang mereka terbakar. Mereka akan mencari pengganti ke mana-mana, termasuk ke Batavia. Jangan beri mereka satu karung pun. Berapa pun harga yang mereka tawarkan, tolak.
Saya akan menjelaskan lebih lanjut lain waktu. Untuk sekarang, percayalah pada saya. Ini demi kepentingan kita bersama.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Hormat saya,
Datuk Maringgih
---
Maringgih melipat surat itu rapi. Menyegelnya dengan lilin merah. Cap cincinnya ditekankan di atas lilin yang masih hangat—tanda tangan yang tak terbantahkan.
Dullah membaca dari samping. Alisnya mengerut.
"Tuan... Tuan minta H. Syamsir menahan rempah? Itu artinya—"
"Itu artinya VOC tidak akan dapat pengganti." Maringgih menyerahkan surat itu. "Mereka butuh rempah untuk dikirim ke Eropa. Tiga gudang terbakar, stok mereka habis. Satu-satunya yang bisa menutup kekurangan adalah pedagang seperti aku—dan H. Syamsir di Batavia."
Dullah diam. Mencerna.
"Tapi Tuan, kalau Tuan tahan rempah—"
"Aku tidak jual ke mereka, Dullah." Maringgih tersenyum. Senyum tipis yang hanya ia keluarkan saat ada rencana besar. "Biarkan mereka kalang kabut. Biarkan Van der Berg jungkir balik mencari ke mana-mana. Mereka tidak akan dapat."
"Tapi VOC bisa beli dari pedagang lain—"
"Pedagang lain?" Maringgih tertawa kecil. "Di sini, siapa pedagang besar selain aku? Di Batavia, siapa yang punya stok banyak selain H. Syamsir? Pedagang-pedagang kecil hanya punya sedikit—tak akan cukup untuk tiga gudang."
Dullah tersenyum. Untuk pertama kalinya ia melihat gambaran besarnya.
"Jadi Van der Berg akan tertekan?"
"Tertekan? Dia akan kalang kabut, Dullah." Maringgih berdiri. Berjalan ke jendela. Malam di luar gelap, tapi bintang-bintang mulai bermunculan. "Van der Berg sudah terima surat dari Batavia. Mereka tidak akan kirim rempah ke Eropa sebelum kuota yang terbakar diganti. Dan satu-satunya yang bisa mengganti... ya, aku dan kawan-kawanku."
"Tapi Tuan tidak mau jual."
"Tepat." Maringgih menunjuk surat di tangan Dullah. "Kirim ini ke Batavia. Pakai kurir cepat. Jangan sampai terlambat."
Dullah menerima surat itu dengan hati-hati. Seperti membawa benda pusaka.
"Dan Tuan? Apa yang akan Tuan lakukan sekarang?"
Maringgih memandang kampung di kejauhan. Rumah-rumah petani mulai meredup—satu per satu lampu dipadamkan, mereka mulai tidur. Perut kenyang untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu.
"Sekarang? Aku akan duduk dan menonton. Menonton bagaimana Van der Berg jungkir balik. Menonton bagaimana besok, lusa, atau beberapa hari lagi... Sulaiman akan menerima tamu."
"Tamu, Tuan?"
"Utusan dari Van der Berg." Maringgih kembali ke kursinya. Duduk tenang. "Pasti sudah disiapkan. Malam ini atau besok pagi, utusan itu akan sampai di rumah Sulaiman. Membawa pesan."
Dullah mengangguk pelan.
"Dan Tuan tahu isi pesannya?"
Maringgih tersenyum. Senyum yang dingin.
"Tidak perlu tahu. Yang penting, Sulaiman akan datang ke kantor VOC. Dan di sana, ia akan mendengar tekanan dari Batavia. Ia akan tahu bahwa rempah pengganti harus dicari. Dan satu-satunya orang yang bisa membantu... adalah aku."
"Tapi Tuan tidak mau jual."
"Tepat." Maringgih mengambil cangkir kopi yang sudah dingin. Meneguknya. "Maka ia akan semakin terdesak. Dan ketika sudah cukup terdesak, ia akan datang ke sini."
Dullah diam. Tapi di matanya, ada kekaguman.
"Tuan sudah memikirkan semua ini sejak lama?"
Maringgih tersenyum. Tidak menjawab.
"Antarkan surat itu, Dullah. Besok pagi kau harus kembali."
Dullah membungkuk. "Saya pergi, Tuan."
Ia pergi. Menghilang dalam gelap.
---
Maringgih sendirian.
Lampu minyak di depannya masih menyala. Api kecil menari-nari, seperti kehidupan. Ia menatapnya lama.
Di luar sana, Van der Berg sedang marah-marah. Mungkin memaki dalam bahasa Belanda. Mungkin membanting meja lagi. Mungkin menyuruh Brons menulis surat ke sana kemari.
Di halaman belakang kantor VOC, Betang masih duduk. Menunggu instruksi untuk besok.
Di rumah Sulaiman, lampu mungkin masih menyala. Sulaiman mungkin sedang tidur gelisah, tidak tahu apa yang akan terjadi besok.
Dan di sini, di gudang ini, Maringgih hanya diam.
Menunggu.
Karena ia tahu—besok atau lusa, utusan itu akan sampai. Pesan itu akan disampaikan. Dan roda takdir akan terus berputar.
Ia mengambil cangkir kopi yang sudah dingin. Meneguknya. Pahit.
Tapi pahit itu tidak seberapa dibanding pahitnya melihat kawan lama jadi algojo.
Malam semakin larut.
Di kampung, semua sudah tidur.
Tapi di kantor VOC, lampu masih menyala. Van der Berg masih mondar-mandir. Brons masih menulis surat.
Betang masih menunggu.
Dan di gudang ini, Maringgih masih duduk. Menatap lampu. Menunggu.
Besok akan jadi hari yang panjang.
---
[Bersambung ke Bab 9...]
---