NovelToon NovelToon
Penjaga Hati Di Wisma Lavender

Penjaga Hati Di Wisma Lavender

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Bad Boy / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:486
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Penjaga Hati di Wisma Lavender mengisahkan perjalanan Arka,mahasiswa tingkat akhir Teknik Informatika yang terhimpit masalah finansial setelah kontrakan lamanya digusur. Di tengah keputusasaan, ia menemukan iklan kos misterius dengan harga sangat murah dan fasilitas mewah, termasuk internet super cepat.

Namun, Arka terjebak dalam situasi yang tidak terduga setelah menandatangani kontrak dengan Oma Rosa, sang pemilik wisma yang eksentrik dan gemar bermain TikTok. Ternyata, Wisma Lavender adalah sebuah kos-kosan putri. Arka terpaksa menjadi satu-satunya laki-laki di sana dan harus mematuhi aturan ketat serta tugas tambahan yang diberikan oleh para penghuni wanita yang beragam karakternya, terutama Sari, sang ketua kos yang disiplin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 Kucing Rahasia Maya

Wisma Lavender memiliki satu aturan emas yang tidak tertulis namun bersifat absolut: Dilarang membawa makhluk bernyawa apa pun ke dalam kamar kecuali manusia. Oma Rosa sangat menjaga kebersihan marmer Italia dan sofa beludru premiumnya dari bulu hewan, jejak cakar, atau aroma organik yang tidak diinginkan. Bagi Oma, satu helai bulu kucing adalah polusi estetika yang setara dengan noda tinta di gaun pengantin. Namun, hukum besi itu baru saja dilanggar secara sistematis oleh Maya, penghuni kamar nomor tujuh yang pendiam dan biasanya paling taat hukum, dan kini Arka terjebak di pusaran konspirasinya.

Sore itu, Arka baru saja berniat untuk menikmati kemewahan WiFi satu giga-nya dengan tenang. Ia sudah menyiapkan satu mangkuk kecil keripik dan sedang bersiap melakukan render video tugas kuliahnya. Namun, ketukan pintu yang ritmis, cepat, dan terkesan panik membuyarkan konsentrasinya. Saat pintu dibuka, ia menemukan Maya dengan wajah pucat pasi seolah baru saja melihat hantu di koridor.

Di pelukannya, ada seekor kucing persia berwarna abu-abu asap yang ukurannya cukup besar untuk disebut sebagai "bola bulu raksasa". Kucing itu memiliki mata besar berwarna tembaga yang menatap Arka dengan tatapan menghakimi.

"Arka, tolong aku. Kali ini saja, aku benar-benar buntu," bisik Maya, suaranya gemetar dan napasnya pendek-pendek. "Oma Rosa lagi inspeksi mendadak ke lantai dua. Dia sudah di depan kamar Sari sekarang, lagi memeriksa kelembapan dinding. Kalau dia sampai ke kamarku dan melihat Mochi, aku pasti langsung diusir tanpa pengembalian deposit!"

Arka membelalakkan mata, melirik kucing di pelukan Maya lalu kembali ke wajah gadis itu. "Kenapa lu bawa kucing ke sini, May?! Lu kan tahu sendiri Oma Rosa itu tipe orang yang bisa mencium bau kucing dari jarak satu kilometer!"

"Mochi itu warisan terakhir dari almarhum nenekku di desa, Arka. Aku nggak tega kalau harus menitipkannya di petshop yang sempit terus-menerus. Dia stres di sana," Maya memelas, matanya mulai berkaca-kaca. "Tolong, masukin dia ke dalam jaket kamu. Oma nggak akan curiga kalau kamu yang bawa. Dia pikir kamu cuma mahasiswa yang badannya bongsor."

Belum sempat Arka menyusun argumen penolakan yang logis, Mochi—si kucing yang tampaknya sama sekali tidak merasa bersalah atas kekacauan ini—sudah berpindah tangan ke pelukan Arka. Maya dengan cekatan mendorong bola bulu itu ke dalam jaket almamater Arka yang memang sengaja dibelinya dengan ukuran XL agar terlihat lebih santai. Maya menarik ritsleting jaket itu hingga ke dagu Arka, menutupi seluruh tubuh Mochi kecuali berat bebannya.

"Jangan sampai dia mengeong, Arka. Aku mohon! Kalau dia gerak, bilang saja kamu lagi latihan pernapasan perut!" Maya segera menutup pintu kamarnya tepat saat bunyi suara langkah kaki Oma Rosa yang khas—suara tumit sepatu rendah yang beradu dengan lantai kayu—terdengar mendekat dengan presisi yang menakutkan.

Arka berdiri mematung di tengah koridor, merasa seperti penyelundup barang terlarang di pelabuhan internasional. Perutnya mendadak membuncit secara tidak wajar, memberikan ilusi seolah ia baru saja menelan sebuah semangka utuh. Di dalam jaket, Mochi mulai merasa ruang geraknya terbatas. Kucing itu mulai melakukan ritual "memijat" yang bagi pemiliknya mungkin lucu, tapi bagi Arka, itu terasa seperti puluhan jarum akupunktur yang menusuk-nusuk kaos tipisnya.

"Aduh, aduh... tenang, Cing... kita lagi dalam misi rahasia, jangan bikin malu," bisik Arka sambil menepuk-nepuk perutnya sendiri dengan gerakan kaku, berusaha menenangkan sang "bola bulu" agar tetap diam.

"Lho, Arka? Kamu belum mandi sore? Wangi kamarmu sampai luar kok kayak bau... hmmm, bau musim semi ya?"

Arka tersentak hebat, hampir saja membuat Mochi melompat keluar dari lubang leher jaketnya. Oma Rosa berdiri di ujung lorong, memegang buku catatan kecil bersampul kulit dan ponsel yang lampu kilatnya menyala—tanda bahwa 'Inspeksi Konten' untuk akun media sosialnya sedang berlangsung secara real-time.

"Eh... belum, Oma. Tadi habis... habis latihan fisik intensitas tinggi di kamar," jawab Arka kaku. Ia mencoba berjalan melewati Oma Rosa dengan langkah yang diatur sedemikian rupa agar tidak terlihat goyah, namun berat Mochi yang tidak stabil membuatnya tampak seperti penguin yang sedang mengandung tua.

Oma Rosa menyipitkan mata, menatap ke arah perut Arka yang mencurigakan dengan saksama. Ia berjalan memutari Arka seolah sedang memeriksa kualitas sebuah furnitur antik. "Olahraga apa, Le? Kok perutmu mendadak jadi besar dan... bergoyang begitu? Tadi pagi pas angkat galon perasaan perutmu masih rata, malah sedikit cekung karena kurang makan."

"Ini... anu, Oma. Saya lagi coba metode baru. Saya pakai pemberat tambahan di dalam jaket," Arka mulai berkeringat dingin, tetesan keringat meluncur dari pelipisnya. "Latih otot inti, Oma. Core strength. Biar lebih kuat kalau besok-besok disuruh angkat galon atau mindahin lemari Lulu."

Tepat saat itu, Mochi di dalam jaket tampaknya merasa bosan. Kucing itu mengeluarkan suara purring (mendengkur) yang sangat keras dan dalam, menciptakan getaran yang bisa dirasakan langsung oleh Oma Rosa yang berdiri hanya setengah meter darinya. Arka segera bereaksi dengan mengeluarkan serangkaian batuk yang sangat kencang dan dipaksakan.

"Uhuk! Uhuk! Uhuk! Aduh, kayaknya tenggorokan saya gatal banget kena debu koridor, Oma. Uhuk!"

"Kamu sakit? Jangan sampai menular ke anak-anak lain ya, apalagi ke Sari yang lagi ujian," Oma Rosa mendekat, tangannya sudah terangkat untuk memegang dahi Arka. "Tapi tunggu, Oma lihat jaketmu kok kayak ada yang gerak-gerak? Jangan-jangan kamu menyembunyikan makanan sisa di dalam sana?"

Jantung Arka berdegup kencang, suaranya terdengar seperti genderang perang di telinganya sendiri. Ia yakin rahasianya akan terbongkar dalam hitungan detik. Namun, semesta tampaknya masih ingin memberikan Arka kesempatan hidup. Di lantai kayu yang mengkilap, seekor kecoa berukuran raksasa tiba-tiba muncul dari balik lemari hias dan berlari kencang menuju kaki Oma Rosa.

"ASTAGA! KECOA MUTAN!" teriak Oma Rosa dengan suara melengking, ia melompat mundur hingga hampir menabrak pot bunga hias.

Arka tahu ini adalah jendela pelariannya. "Oma, bahaya! Biar saya urus monster ini!"

Tanpa membuang waktu, Arka segera berlari mengejar kecoa itu dengan gerakan yang sangat dramatis. Ia menggiring serangga itu menjauh dari Oma Rosa sambil terus memegangi perutnya yang berguncang hebat. Mochi di dalam jaket mulai mengeluarkan bunyi mengeong protes karena guncangan tersebut, tapi untungnya suara itu tenggelam oleh teriakan histeris Oma Rosa yang sibuk mengomeli kebersihan lantai yang biasanya selalu steril.

"Bagus, Arka! Kejar! Buang jauh-jauh dari rumah ini!" seru Oma Rosa sambil berlari masuk ke arah dapur untuk mengambil semprotan serangga paling mematikan yang ia miliki.

Arka tidak membuang waktu. Ia melesat masuk ke kamarnya, membanting pintu, dan segera mengunci gerendelnya. Dengan napas terengah-engah, ia membuka ritsleting jaketnya. Mochi melompat keluar dengan anggun tanpa rasa bersalah sedikit pun, mendarat di atas kasur Arka, dan langsung mulai menjilati kakinya seolah ia baru saja menyelesaikan atraksi sirkus yang melelahkan.

"Sumpah..." Arka jatuh terduduk di lantai yang dingin, memijat dadanya yang masih berdebar. "Dua ratus ribu sebulan ini beneran nyabut nyawa pelan-pelan. Harusnya ada tunjangan kesehatan mental di kontrak Sari."

Tak lama kemudian, sebuah ketukan rahasia—tiga kali cepat, dua kali lambat—terdengar di pintunya. Begitu pintu dibuka sedikit, Maya segera masuk dan memeluk Mochi dengan perasaan lega yang luar biasa.

"Makasih banyak, Arka! Kamu beneran pahlawan hari ini! Aku nggak tahu harus gimana kalau nggak ada kamu," ucap Maya dengan nada tulus.

"Pahlawan kepala bapakmu, May," gerutu Arka sambil menyeka keringat di dahinya. "Jaket almamater gue penuh bulu abu-abu, perut gue penuh bekas cakar merah, dan jantung gue hampir copot lewat tenggorokan. Besok-besok, kalau mau pelihara hewan, pilih yang nggak bersuara. Pelihara batu saja, May."

Maya tertawa kecil, rasa bersalahnya sedikit terobati. Ia memberikan sebuah cokelat batangan mahal sebagai uang tutup mulut. Setelah Maya menyelundupkan kembali Mochi ke kamarnya, Arka kembali ke depan laptopnya. Namun, konsentrasinya sudah hancur lebur. Saat ia melirik ke arah cermin besar di pojok kamar, ia melihat pemandangan yang menyedihkan: bulu kucing abu-abu yang menempel keras di seluruh serat kain almamater kebanggaannya.

Ia tersenyum getir, menyadari sebuah pola baru dalam hidupnya. Menjadi satu-satunya laki-laki di Wisma Lavender ternyata bukan hanya soal menjadi tenaga kasar angkat galon atau teknisi WiFi dadakan. Ia telah berevolusi menjadi "tempat pembuangan rahasia" bagi lima belas gadis yang masing-masing memiliki pelanggaran uniknya sendiri. Hari ini kucing, besok entah apa lagi—mungkin penyelundupan pacar rahasia atau barang-barang aneh lainnya.

"Satu giga per detik," gumam Arka lagi, memulai ritual mantra penenang batinnya. "Satu giga per detik, Arka. Ingat tujuannya: lulus cepat, kerja bagus, keluar dari kegilaan merah muda ini."

Malam itu, Arka tidur dengan sisa-sisa aroma sampo kucing yang samar menempel di bajunya. Sambil memejamkan mata, ia bertanya-tanya rahasia siapa lagi yang akan mengetuk pintunya besok pagi, dan bagian mana dari tubuhnya yang harus ia jadikan tempat persembunyian berikutnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!