NovelToon NovelToon
Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi

Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Bertani / Slice of Life / Komedi
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: DipsJr

Di mata dunia, Banyu hanyalah seorang pemuda desa putus sekolah yang tidak memiliki masa depan. Kehilangan kakeknya dan divonis memiliki penyakit bawaan membuat hidupnya seolah menemui jalan buntu. Namun, roda nasib berputar 180 derajat ketika Banyu secara tak sengaja mewariskan sebuah artefak kuno Kendi Penyuling Jiwa milik sang kakek.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Memulai Memang Paling Berat

Kembali ke rumah kos, Banyu mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan berita perpisahan kepada Pak Rahmat dan Bu Yati.

"Hah? Kamu mau pindah, Nyu? Kenapa?!" seru Bu Yati kaget, matanya membulat. "Apa karena uang sewanya kemahalan? Kalau iya, Ibu diskon deh! Atau nggak usah bayar bulan ini juga nggak apa-apa!"

Banyu tersenyum haru. Dia tahu Bu Yati sudah menganggapnya seperti anak sendiri, apalagi setelah kejadian Banyu menolong keluarganya kemarin.

"Bukan soal uang sewa, Bu. Ibu kan tahu saya sekarang fokus jualan sayur. Nah, alhamdulillah usaha saya maju, jadi saya harus pindah ke lahan yang lebih luas di Bogor supaya bisa fokus ngurus kebun. Kalau bolak-balik dari sini kan kejauhan," jelas Banyu sabar.

Bu Yati masih ingin membujuk, tapi Pak Rahmat menengahi. "Udah, Bu. Jangan egois. Banyu ini anak muda, lagi semangat-semangatnya merintis karir. Masa mau kita halang-halangi? Harusnya kita dukung."

Bu Yati akhirnya luluh, meski matanya berkaca-kaca. "Ya sudah kalau demi masa depan. Tapi kamu harus janji ya, Nyu. Kalau sakit atau butuh apa-apa, telepon Ibu. Dan sering-sering main ke sini!"

"Siap, Bu! Pasti!" janji Banyu mantap. "Lagian Desa Sukamakmur nggak jauh kok. Nanti kalau panen raya, saya jemput Bapak sama Ibu buat piknik di sana. Makan liwet sepuasnya!"

"Nah, gitu dong! Awas kalau bohong!" Bu Yati akhirnya tersenyum.

Pamit ke Bapak-Ibu kos sudah beres. Sekarang giliran yang paling berat: Laras.

Malam itu, Banyu berdiri di depan pintu kamar Laras. Tangannya ragu-ragu mau mengetuk. Jantungnya berdebar bukan karena jatuh cinta, tapi karena rasa bersalah meninggalkan "tetangga" yang baru saja mulai dekat.

Tok tok tok.

Pintu terbuka. Laras muncul dengan wajah sendu. Rupanya dia sudah mendengar gosip kepindahan Banyu dari Bu Yati.

"Mas Banyu... beneran mau pindah besok?" tanya Laras pelan, matanya menatap lantai.

"Iya, Ras. Kontrak lahannya udah mulai jalan, jadi harus standby di sana," jawab Banyu canggung. "Maaf ya, dadakan."

"Sukses ya, Mas," ucap Laras lirih. Jelas sekali dia sedih.

Melihat Laras murung, Banyu jadi nggak tega. Dia memaksakan senyum ceria. "Hei, jangan sedih dong. Bogor kan deket. Nanti kalau weekend, kamu main ke sana ya! Udaranya seger banget lho, cocok buat healing dari kerjaan kantor yang bikin stres. Aku jemput deh!"

Laras mengangkat wajahnya, menatap mata Banyu. "Beneran? Nanti kalau aku keseringan main, Mas Banyu bosen lagi."

"Mana mungkin aku bosen sama kamu?" jawab Banyu spontan dan tegas. "Malah seneng kalau ada bidadari nyasar ke kebun."

Wajah Laras langsung merona merah seperti kepiting rebus. Senyum manis akhirnya terbit di bibirnya.

"Gombal..." cicitnya pelan. "Oke deh. Aku pegang janjinya ya. Awas kalau di sana Mas Banyu malah genit sama kembang desa!"

"Aman! Di sana isinya cuma nenek-nenek kok," canda Banyu.

Mereka mengobrol sebentar tentang pemandangan gunung dan sungai di lokasi baru, sebelum akhirnya Banyu pamit tidur untuk packing.

---

Keesokan harinya, Banyu resmi hijrah.

Dengan menyewa mobil bak terbuka, dia mengangkut barang-barangnya yang tak seberapa ke Desa Sukamakmur.

Begitu sampai di lokasi dan mulai membongkar barang, realita menamparnya keras.

Mengelola kebun di pot depan kamar kos itu gampang. Tapi mengelola lahan seluas Dua Hektar (satu hektar sawah + satu hektar bukit) sendirian? Itu namanya bunuh diri pelan-pelan.

Rumah tua tiga lantai bekas kantor proyek itu kotornya minta ampun. Ilalang di sekitar bangunan setinggi pinggang orang dewasa. Belum lagi lahan sawahnya yang butuh dibajak ulang.

"Gila... kalau gue kerjain sendiri, bisa-bisa gue mati muda sebelum kaya," keluh Banyu sambil menyeka keringat sebesar biji jagung.

Dia sadar dia butuh pasukan.

Besok paginya, Banyu menempelkan kertas karton di papan pengumuman Balai Desa: DIBUTUHKAN PEKERJA KEBUN.

Desa Sukamakmur banyak dihuni orang tua, karena anak mudanya merantau ke kota. Tapi justru itu keberuntungannya. Orang-orang tua di desa ini fisiknya kuat dan jago bertani.

Begitu mendengar ada "Juragan Baru" dari kota yang butuh tenaga, belasan bapak-bapak paruh baya datang melamar.

"Pak Bos, butuh berapa orang? Kalau lahan segini, enam orang juga cukup," saran seorang bapak bernama Kang Asep, sesepuh petani di sana.

Banyu menggeleng. Dia tahu tanaman "ajaib"-nya bakal tumbuh dengan kecepatan gila. Enam orang bakal kewalahan.

"Saya butuh dua belas orang, Pak. Semuanya saya terima," kata Banyu.

Para petani itu kaget tapi senang. "Dua belas? Wah, banyak amat Bos."

"Gajinya gimana?" tanya yang lain ragu-ragu.

Banyu, yang belum punya pengalaman HRD, mencoba menawarkan angka yang menurutnya adil.

"Kita kerja santai tapi serius. Jam kerja kayak orang kantoran, jam 8 sampai jam 4 sore. Gaji pokok Dua Juta Rupiah per bulan. Kalau panen bagus, ada bonus THR. Gimana?"

Mendengar angka "Dua Juta", mata para petani itu berbinar terang. Di desa itu, buruh tani harian biasanya cuma dapat upah tak menentu. Gaji tetap dua juta sebulan itu sudah mewah, apalagi kerjanya di desa sendiri.

"Setuju Bos!" seru mereka kompak.

"Oke, kalau gitu besok langsung kerja ya. Kita bersihin lahan dulu, terus langsung tanam bibit."

---

Minggu pertama berjalan super sibuk.

Para pekerja Banyu ternyata rajinnya luar biasa. Mungkin karena merasa digaji tinggi, mereka bekerja seperti kuda. Datang subuh, pulang maghrib. Bahkan jam istirahat pun cuma sebentar. Lahan tidur yang tadinya penuh semak belukar, dalam tiga hari sudah bersih dan gembur siap tanam.

Banyu sendiri juga sibuk. Dia memesan papan nama kayu yang estetik dan memasangnya di gerbang masuk lahan barunya.

Tulisannya: LAHAN MUSTIKA FARM.

Orang lain mungkin mikir itu nama yang norak atau klenik. Tapi bagi Banyu, itu nama yang jujur. Karena modal utamanya memang dari "Mustika" (Kendi).

Namun, saat lahan sudah siap, Banyu menghadapi masalah besar baru.

Masalah Skala.

Dulu, dia cuma punya beberapa pot dan bedengan kecil. Dia bisa menyiram tanaman satu per satu dengan air campuran Cairan Ajaib.

Tapi sekarang? Lahannya satu hektar lebih!

Kapasitas Kendi Penyuling Jiwa cuma 10 tetes per hari. Kalau dilarutkan ke dalam air siraman untuk satu hektar, konsentrasinya bakal terlalu encer. Efeknya pasti nggak akan se-dahsyat dulu.

"Mati gue... kalau efeknya ilang, sayuran gue jadi sayur biasa dong? Mana laku dijual mahal?" Banyu pusing tujuh keliling.

Dia mondar-mandir di kamarnya sampai tidak bisa tidur. Dia butuh cara agar efek Cairan Ajaib tetap kuat tanpa harus boros stok.

Akhirnya, Banyu mendapat ide eksperimen.

Di dalam Dimensi Kendi, ada Mata Air pusat tempat dia mengambil air. Banyu berpikir, "Gimana kalau bibitnya aja yang gue rendam di air murni dimensi itu semalaman sebelum ditanam? Mungkin energinya bakal meresap ke dalam biji."

Tanpa buang waktu, Banyu mengambil stok bibit sayuran premium yang dia beli (katanya bibit impor Jepang). Dia merendam semuanya di dalam kolam mata air di Dimensi Kendi selama 24 jam.

Besok paginya, dengan hati berdebar-debar, Banyu menyerahkan bibit-bibit yang sudah "di-charge" energi spiritual itu ke Kang Asep dan para pekerjanya.

"Pak, ini bibit spesial 'rekayasa genetika'. Tolong ditanam hari ini juga ya," perintah Banyu.

"Siap, Bos!"

Sambil melihat para pekerjanya menyebar benih, Banyu berdoa dalam hati.

Semoga berhasil... kalau gagal, hancur sudah reputasi 'Sayuran Sultan' gue.

1
Nugroho Sodiq
harusnya dibalik thor..waktu di dlm kendi yg cepet, tapi dunia asli lmbat..biar cepet panen..😄
Yandi Hidayat
sangat bagus
Wega Luna
papi Raka paling keren,,,,🤭🤭🤭🤭GK ada Raka Raka yg lain kalo GK Raka nya Vania Bella🤭🤭🤭
Gege
bener bener apik dan epic bangeed...asal ga kesurupan setan NT yang ngajarin kalimat mbuledd ajaa buat kejar setoran pasti rame terus ini novel...
Jujun Adnin
sampe tamat
Aji L
setengah hektar tu 5.000 m²
DipsJr: wah iya ya... 😅
makasih infonya tandi di revisi. 🙏
total 1 replies
Wega Luna
🤣🤣🤣🤣untung besar ,buat jajan di luar negeri
Gege
apik dan epic
Gege
sangat apik dan epic setiap episodenya... mungkin bisa dibuatkan cerita nelayan tajir... dengan pola yang sama tapi banyak mainan air..😄🤣
isnaini naini
gas lah pak mo..ayo brngkt...
Wega Luna
🤣🤣🤣🤣🤣 siapa yg nolak nyu ,gratis lagi
Jujun Adnin
lanjut
Apriyantho Apri
Perbanyak upgrade nya dong,please...
DipsJr: cuman bisa 3 kak. biar awet. 😔
total 1 replies
D'ken Nicko
kurang banyak babnya thor
Jujun Adnin
lagi
isnaini naini
siska mungkin pnya trauma masa lalu kali ya...kok klo liat orang bawaan nya skeptis melulu awas...nanti jth cinta loh...
isnaini naini
gpp nyu 100jt buat hdiah cuma2 tp scra tdk lngsng km sdh pnya koneksi aman lah...walau agak pait jg sih...100jt gt loh...😇
isnaini naini
smngt ya nyu buat author jg...
isnaini naini
benih lope2nih kyknya....
isnaini naini
gimana pak tomat busuk...kapok lu...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!