Vera merantau ke kota dan bisa di katakan bawa dia jarang pulang ke rumah karena memiliki hubungan yang tidak baik dengan Pak Darto Ayah kandung dia sendiri, namun kali ini Dia terpaksa harus pulang ketika mendengar kabar bahwa Bu Elma telah meninggal dunia.
semula Vera menganggap bahwa kematian Bu Elma adalah kematian yang biasa, namun beberapa malam saja dia tinggal di rumah itu malah menemukan keanehan yang tidak biasa.
benarkah Bu Elma meninggal karena sesuatu yang tak kasat mata?
mampukah Vera untuk mengungkap masalah tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Perintah Siti
"Awasi dia dengan baik, aku tidak mau bila nanti dia sampai membongkar semua masalah yang telah tersimpan lama." seorang wanita memakai tusuk konde melati berbicara kepada pembantu rumah ini.
"Baik nyonya." Mbok Nah mengangguk paham.
"Dia pasti akan membuat masalah bila berada lama di dalam rumah ini, pokoknya Vera harus segera pergi dari rumah ini." tegas wanita konde melati.
"Tapi kasihan juga bila non Vera harus pergi dari rumah ini, bukankah ini juga rumah dia." batin Mbok Nah.
"Kau dengar apa yang aku katakan saat ini?!" tusuk konde melati membentak kasar karena pembantu tersebut malah diam saja seolah tidak mendengar apa yang dia katakan.
"Iya, Nyonya!" Mbok Nah agak kaget di bentak seperti itu.
Tusuk konde melati segera pergi dari arah dapur karena dia akan mengurus pembukuan tentang rumah ini dan memang dia yang bertanggung jawab penuh tentang rumah tersebut atas perintah dari Darto, rumah yang sangat besar sehingga membutuhkan perhitungan yang cukup matang.
Namun itu semua telah di pegang oleh wanita ini sebelum kedatangan Elma alias dia sudah bertahan lama di dalam rumah ini untuk mengurus keperluan Darto itu sendiri, sudah berusaha untuk mencari tahu Vera sejak dulu namun tetap saja dia gagal dan sekarang baru kembali lagi untuk mengungkap apa yang.
Sebenarnya Vera juga bingung kenapa mendadak saja kematian Elma yang seperti itu dan setelah melihat mayat serta cerita dari arung tadi maka dia semakin yakin bahwa ada yang tidak beres di dalam rumah ini, hanya saja dia masih bingung untuk memulai dari mana untuk mengungkap kematian Elma dan juga Mayang.
Tidak ada yang mau membuka suara tentang masalah yang telah terjadi sehingga membuat Vera hanya menemukan jalan buntu saja, dia membutuhkan bantuan dari seseorang yang paham tentang hal gaib sehingga nanti mengungkap masalah ini jadi lebih mudah dan gampang Karena bila dia berusaha sendiri jelas akan memakan waktu yang sangat lama.
Tadi saja ketika masuk ke dalam kamar dia hanya menemukan kamar yang begitu berantakan seolah tidak pernah tersentuh sama sekali, Vera dan Arum sudah berusaha untuk membereskan dan mengganti sprei yang terkena beberapa cairan dan kata Arum itu adalah ludah dari Elma karena ketika dia kejang mengeluarkan cairan dari mulut.
Semakin ke sini maka Vera semakin yakin bahwa ini semua ada yang tidak beres dan dia harus segera mengungkap apa yang telah terjadi pada kematian Elma, namun Vera masih buntu karena dia harus menemukan orang yang tepat untuk diminta bantuan agar dia bisa menemukan solusi tentang masalah ini.
Soal kejadian tadi malam yang memukul kepala dia saja masih belum dapat dia ungkap karena menurut Vera jelas itu ada hal yang aneh sekali, mendadak saja ada yang memukul bagian kepala ketika dia telah mencapai tempat yang menurut nya sungguh misterius dan harus dicari tahu dengan tepat dan ketika akan mengetahui malah ada seseorang yang memukul kepala dia.
"Ah dari pada aku pusing sendiri lebih baik aku keluar saja dulu mencari udara segar." Vera memutuskan untuk keluar dari rumah.
"Mau kemana kamu, sayang?" Siti bertanya ketika Vera mengambil motor.
"Tidak ada." Vera menjawab singkat karena walau dengan Siti dia tetap saja tidak ingin berbicara baik.
"Hati hati ya, kamu pasti agak lupa dengan jalan desa ini." Siti tetap saja ramah kepada Vera.
"Kau pikir otak ku ini lemah sehingga dengan mudah lupa pada jalan daerah sini?" Vera menatap Siti dengan tatapan yang sangat bengis sekali sehingga membuat wanita itu terdiam.
Siti tidak lagi membuka suara karena menurut dia saat ini Vera sudah terlanjur emosi dan tidak ingin berbicara apa pun lagi, terserah dia mau berbuat apa karena Siti juga sama sekali tidak memiliki kuasa untuk berbicara kepada Vera karena Siti adalah adik dari Bu Elma sehingga bisa di katakan dia sama sekali tidak memiliki hubungan pada gadis ini.
"Awasi dia, aku tidak ingin bila dia sampai terluka." Siti berkata kepada Mang Ujang.
"Baik, Nyonya." Mang Ujang segera pergi dari rumah untuk mengikuti Vera.
"Bila ada masalah maka langsung sampaikan saja pada aku jangan kepada Mas Darto." pesan Siti.
Mang Ujang mengangguk paham dengan perintah yang sudah dia dapat kali ini dan sebisa mungkin dia pasti akan memberikan kinerja yang terbaik, memang di dalam rumah ini banyak pembantu namun bisa dikatakan mereka semua telah memiliki majikan tersendiri sehingga tidak semua bisa di perintah sesuka hati orang yang ada di dalam rumah tersebut.
...****************...
"Sudah kau bereskan kamar Ibu?" Dina menatap Arum yang sedang duduk sendirian.
"Ya, tadi Kak Vera juga ikut membereskan dan dia sempat bertanya tentang kematian ibu." Arum mengangguk kecil.
"Kau boleh bercerita kepada dia tapi tolong jangan menambahi karena nanti justru akan membuat masalah." pesan Dina karena dia juga mengetahui bagaimana tabiat Vera.
Arum yang mendengar ucapan Dina tentu saja jadi menoleh dengan tatapan tidak suka karena dia beranggapan Dina mengatakan hal itu seolah Dia sangat suka menambahi pembicaraan, padahal tadi Arum sama sekali tidak ada menambahi cerita dan hanya fokus apa yang telah terjadi tentang kematian dari Bu Elma.
"Bukan aku ingin mengatakan kau suka mengarang cerita tapi aku hanya tidak mau bila nanti kita semua bertengkar lagi." ralat Dina karena dia telah melihat lirikan maut dari Arum.
"Kak Vera sangat yakin bahwa kematian ibu ada yang salah." Arum berkata serius.
"Nah ini yang aku maksud, bila Kak Vera terus aja yakin seperti itu maka nanti dia pasti akan bertengkar dengan Ayah!" kesal Dina.
"Loh kok kamu malah ngomong begitu, Ya bagus kalau Kak Vera mau mencari tahu apa yang telah terjadi dan tentang kematian ibu!" Arum menjadi tambah kesal kepada Dina.
"Apa kau tidak paham juga? kalau dia bertengkar terus dengan Ayah maka mereka tidak akan pernah memiliki hubungan yang baik, Rum!" Dina jadi kesal sendiri dengan adik bungsu dia ini.
"Ah aku tidak paham dengan arah omongan mu yang semakin tidak karuan saja, padahal aku hanya ingin tahu tentang kematian ibu!" Arum berlalu pergi meninggalkan Dina.
Dina sendiri menarik nafas panjang Karena dia juga bingung dengan masalah yang sedang dia hadapi saat ini, mana hati juga sedang dalam keadaan berduka sehingga sudah pasti rasa sedih itu semakin campur aduk tidak karuan dan bila ini semakin larut maka tentu saja akan bermasalah untuk kesehatan Dina itu sendiri.
Selamat sore besti, jangan lupa like dan komen nya
keangkuhan mu ga seberapa ver di banding rombongan ratu ular👻🥰👍
mngkn Nana kucing yg nyamar jadi Siti palsu