Suami Ishani telah pergi, meninggalkan satu janji yang tidak pernah sepenuhnya ia pahami.
Kini Ishani berada di bawah satu atap dengan Langit, pria yang memiliki wajah yang sama seperti mendiang suaminya, tetapi tidak dengan hatinya.
Tatapan Langit selalu dingin.
Sikapnya penuh jarak.
Seolah kehadiran Ishani dan bayi di rahimnya adalah pengingat akan sesuatu yang ingin ia lupakan.
Ishani hanya ingin melahirkan dengan tenang.
Namun semakin lama ia tinggal di rumah itu, semakin ia menyadari bahwa yang sedang ia hadapi bukan sekadar hubungan ipar.
Ada luka lama.
Ada pengorbanan yang tak pernah benar-benar diterima.
Dan ada kecemburuan yang tumbuh diam-diam sejak mereka masih kecil.
Di antara bayi yang tak bersalah dan masa lalu yang belum selesai…
Ishani terjebak di tengah dua saudara yang dipisahkan oleh takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 : Keputusan Besar
Tujuh hari berlalu. Bagi Ishani, tujuh hari itu terasa lebih panjang daripada tujuh tahun. Duka kehilangan Biru masih menyesakkan dada, membuatnya sering menitikkan air mata hanya agar bisa bernapas lagi.
Langit terus ada di dekatnya. Tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Cukup untuk membuat kehadirannya terasa, tapi tetap menjaga jarak yang membuat Ishani sakit sekaligus lega.
Melihat Langit bagai buah simalakama. Di satu sisi, kehadirannya menghapus sedikit kerinduan Ishani pada Biru. Di sisi lain, Langit tetap Langit, bukan Biru. Bukan sosok yang bisa ia cintai tanpa rasa bersalah.
Malam itu, keluarga besar berkumpul atas permintaan Langit. Bu Maura, Bi Yani--Adik Bu Maura, Pak Handoko dan Bu Anita--Pakde dan Bude Ishani, serta beberapa kerabat lain hadir. Orang tua Ishani sudah lama meninggal.
Tak ada yang tahu pasti tujuan pertemuan ini. Kerabat yang biasanya ramai kini duduk menunduk, menatap karpet, atau saling mencuri pandang. Asap teh hangat mengepul di udara.
“Terima kasih sudah datang,” suara Langit terdengar rendah. “Aku tidak akan lama.”
Tatapannya berkeliling, berhenti sebentar pada Bu Maura, lalu menatap Ishani. Sekejap saja, matanya memastikan Ishani masih sanggup duduk di sana.
“Malam ini,” lanjutnya, “aku ingin bicara soal Ishani… dan bayi yang akan lahir.”
Hening menyelimuti ruangan.
Bu Maura menarik napas, tangannya meremas kain di pangkuannya. Ishani menelan ludah, telapak tangannya dingin dan berkeringat.
“Biru menitipkan mereka padaku,” ucap Langit, suara datar namun penuh penekanan.
“Apa maksudmu?” Pakde Handoko terdengar ragu, suaranya bergetar.
Langit menegakkan tubuh, bahu lurus, rahang mengeras. “Mulai malam ini, Ishani dan bayinya berada di bawah perlindunganku. Besok aku akan membawanya ke Jakarta. Tinggal bersamaku. Dan setelah masa iddah Ishani selesai, aku akan menikahinya.”
Sejenak, beberapa orang saling menatap tidak percaya. Ada yang terkejut, ada yang diam tapi jelas tidak setuju.
“Langit…” suara Bu Maura bergetar, “Ini bukan keputusan kecil. Apa kamu sadar betapa beratnya ini untuk Ishani?”
“Aku tahu,” jawab Langit tenang. “Makanya aku bicara di sini. Supaya semuanya jelas."
“Ini terlalu cepat! Tidak pantas!” salah satu kerabat berseru.
“Apakah ini memang yang kamu tunggu sejak dulu?” timpal yang lain.
Tatapan Langit tetap tajam, menatap mereka satu per satu. “ Ini bukan soal cepat atau tidak pantas. Ini soal amanah."
Ishani menahan napas. Dada terasa sesak. Ia ingin menolak, tapi suaranya tercekat.
“Lalu kamu?” suara Bi Yani mendesak “Apakah kamu siap menanggung komentar orang?”
Langit terdiam sejenak, menghilangkan rasa lelah yang tidak terlihat. Aku tidak siap… tapi jika ini permintaan Biru, aku tidak bisa menolak. Bagaimana pun caranya, aku akan melindungi mereka, ungkapnya dalam hati.
“Aku lebih siap menanggung omongan orang daripada membiarkan istri adikku dan anaknya tidak aman," jawabnya setelah beberapa saat, jantungnya berdegup kencang. "Aku lebih takut melihat mereka terluka.”
Kalimat itu jatuh berat di dada Ishani.
Pakde Handoko menajamkan tatapan, nadanya pedas. “Kamu bicara seolah semua sudah diputuskan!”
“Aku memang sudah memutuskannya,” balas Langit singkat, tanpa ragu.
“Bu Maura menggeleng pelan. “Langit… orang-orang akan bicara. Ishani masih istri adikmu. Kamu kakaknya. Kalian…” suaranya terpotong, “Kembar.”
Kalimat Bu Maura menggantung.
“Apa kamu nggak berpikir kalau orang akan menganggap Ishani menggantikan Biru dengan dirimu. Kalian terlalu mirip. Omongan miring akan jatuh pada Ishani,” ujar Bude Anita yang sejak tadi terdiam.
Ishani gelisah. Wajahnya pucat. Tangannya berkeringat.
“Aku tidak melakukan apapun yang melanggar,” jawab Langit dengan tenang. “Aku akan berdiri paling depan apabila ada orang yang ingin menjatuhkan Ishani."
Langit memandang foto Biru di dinding. Matanya berkaca, sesekali menelan ludah. Ia tahu keputusan ini bukan soal menggantikan adiknya. Tapi soal janji, amanah yang tak bisa ia abaikan. “Aku akan menikahi Ishani, menjadikan anak Biru menjadi anakku. Aku akan memastikan kebutuhan mereka tercukupi, sesuai dengan keinginan Biru.”
"Langit… apakah kamu sadar ini bisa menyakiti Ishani lebih dari kehilangan Biru?” Bi Yani menambahkan.
Hening.
“Ishani,” suara Bude Anita memanggil, lembut tapi menekan. “Kamu sendiri gimana? Kamu setuju dengan ini?”
Semua mata beralih pada Ishani.
Ishani menatap Langit, dadanya sesak. “Aku bukan benda mati yang bisa diwariskan begitu saja,” ucapnya pelan, menahan gemetar. “Aku masih bisa melindungi diriku dan anakku sendiri.”
Langit berdiri, tatapannya menusuk. “Ingat ucapanmu di depan Biru saat dia sakaratul maut? Kamu janji… Ingat?!”
Aku bukan objek yang bisa diwariskan. Tapi… apakah aku egois jika menolak amanah ini? Ishani menahan gejolak batinnya.
Ishani meremas ujung gamis, lututnya lemah. “Aku janji, tapi–” napasnya tersengal.
“Kamu sendiri yang janji akan nurut sama keputusan Biru apa pun itu, kan?” potong Langit menekan. “Atau janji itu cuma buat bikin dia tenang sebelum mati?”
Mata Ishani terbelalak mendengar ucapan Langit. Ia membalikan badannya. Tanpa pamit, Ishani masuk ke dalam kamar. Bu Anita segera bergerak mengikutinya, mencoba menenangkan.
“Dia baru kehilangan suaminya, lalu kamu…” suara Bu Maura terisak.
Langit menatap foto Biru di dinding, dadanya sesak, tapi rahangnya mengeras. Janji sudah dibuat. Tidak ada ruang untuk mundur.
Langit menatap tajam ke arah ibunya, jemarinya mengepal. “Janji adalah janji, Bu. Bukankah ibu yang mengajarkanku begitu? Apapun halangannya, dan betapapun itu menyakitkan, kita harus selalu menjalankan janji yang sudah dibuat. Janji itu amanah.”
Bu Maura menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya bergetar. Bu Yani segera merangkulnya.
Langit terus memandangi ibunya.
“Kamu pikir ini mudah buat ibu?” Bu Maura mengangkat wajahnya. Balik memandang Langit. Ada sorot rasa bersalah di sana. “Kehilangan satu anak saja seperti separuh nyawa dicabut. Sekarang, ibu harus melihat wajah yang sama setiap hari… tapi takut kehilangan lagi.”
Untuk sesaat ketegasan Langit runtuh. Ia menarik napas dalam. “Keputusanku juga berlaku untuk ibu. Seperti janjiku pada Biru. Aku juga akan menjaga Ibu."
Tangis Bu Maura pecah. Isakannya semakin keras.
Semua orang terdiam, tersentuh dengan suara itu.
Langit terdiam sejenak, rahangnya mengeras. Dengan sorot mata menyala, ia pergi meninggalkan rumah.
Rapat itu tidak menghasilkan apa-apa. Tidak ada persetujuan bulat. Tapi satu hal yang pasti, ada seseorang mengambil keputusan besar yang tidak hanya akan mengubah hidupnya, tapi juga hidup Ishani, juga membuka rahasia yang selama ini dikubur rapat oleh Biru.
**********
Langit melajukan mobilnya. Pandangannya lurus melihat jalanan. Tangannya kuat mengenggam kemudi. Tapi, pikiran Langit terus tertuju pada Ishani.
Masih jelas di kepala Langit saat semua mata tertuju padanya sesaat ia memberitahukan keputusannya. Tatapan mereka tajam, seolah menunggunya untuk mundur. Mengakui kalau bahwa keputusan ini terlalu berat.
Tapi Langit tidak bisa mundur. Bukan karena ia kuat. Tapi, memang tidak ada siapapun yang bisa berdiri untuk Ishani dan bayinya.
Langit teringat wajah ibunya. Lelah. Hancur karena kehilangan anak, dan ketakutan kehilangan satunya.
Dan Ishani… Langit terus melihat dia memeluk perutnya. Seakan itu satu-satunya jangkar yang bisa menyelamatkan hidupnya.
Pada keduanya, Langit melihat wajah Biru. Ia tahu tidak berhak menggantikan adiknya. Ia juga tidak berhak mengatur hidup Ishani. Tapi, ia berhak menepati janji.
Saat Bu Maura menyebut kata kembar, dada Langit menegang. Sejak kecil, kata itu selalu jadi benturan. Langit dan Biru terlihat sama, tapi berbeda dalam hati. Biru selalu dicintai, sementara dirinya harus belajar berdiri sendiri.
Dan, bahkan setelah kematiannya pun, bayangan Biru masih mengatur hidupnya. Langit menginjak gas dalam-dalam. Laju mobil melesat di jalanan.
**********
Flashback on
Dua malam sebelum Biru pergi,
“Lo gila?!” Langit menatap Biru, matanya melebar. “Gue gak mau!”
“Toloooooong… Lang,” suara Biru terengah, selang oksigen masih menempel di hidungnya. “Cuma lo yang bisa ngelakuin ini… yang bisa gue percaya.”
Langit duduk di samping ranjang, Tubuhnya mencondong mendekati adiknya. “Tapi ini terlalu gila, Bi.”
Biru menarik napas berat. “Gue gak bisa nyerahin mereka ke sembarang orang…,”
Mereka saling menatap. Terdiam.
“Lo yakin gue bukan sembarang orang?!” Langit tersenyum getir.
Biru melihat Langit dengan tatapan tajam. “Gue kenal lo, Lang. Gue yakin lo bisa ngebahagiain mereka,”
Langit mengusap rambutnya. “Ngurusin hidup gue sendiri aja nggak bisa.” Tawa getir itu semakin jelas. “Apalagi ngebahagiain orang lain.”
Biru menunduk, merasa bersalah. “Maaf… gue udah banyak ngambil hidup lo.”
Langit menghentikan tawanya.
“Gue pengen ngembaliin semuanya sama lo,” bisik Biru hampir tidak terdengar.
“Dengan ngasih gue, istri dan anak loe?” Langit bersandar di sandaran kursi.
Biru diam.
“Janji sama gue, lo bakalan ngejaga mereka, Lang,” desak Biru setelah beberapa saat.
“Loe udah ngaco, Bi.”
Langit membuka gorden bilik ranjang, meninggalkan Biru sendiri.
Flashback off
Langit duduk di pinggir jalan sepi. Mulutnya mengisap rokok. Waktu itu, ia tidak pernah tahu harus menganggap ucapan adiknya sebagai permintaan… atau hukuman.
"Gue jalanin ini, Bi,” bisiknya pelan. “Entah benar atau salah. Gue ngelakuin ini karena lo yang minta. Lo tahu jelas, kalau gue gak ngejalanin ini, gue bakal benci sama diri gue sendiri.”
Langit menginjak sisa rokok di aspal. Ia masuk kembali ke dalam mobil, melanjutkan perjalanan ke kota Jakarta di mana hidupnya berada.
Ia akan memberi Ishani waktu sebelum kembali menepati janji. Namun ada sesuatu dalam hatinya, perasaan yang bahkan belum ia akui pada diri sendiri. Sesuatu yang muncul jauh sebelum Biru pergi. Dan bahkan setelah semua janji dijalankan, ia tahu hatinya tidak akan pernah sepenuhnya bebas.
walaupun keras, langit orangnya bertanggung jawab, dan kayaknya dia beneran sayang sama kamu dan baby kamu ishanii /Slight/
Semangat!