Charlotte, gadis yatim piatu ini tiba-tiba ditemukan oleh keluarganya dan dibawa pulang ke kerajaan Matahari, tempat kelahirannya. Alih-alih bahagia setelah ditemukan oleh keluarganya, gadis empat belas tahun justru mengalami kehidupan yang menyedihkan dibandingkan kehidupannya sebelumnya, sebagai tuna wisma di kerajaan cosmos dimana dia tinggal sebelumnya karena tak memiliki kekuatan dalam tubuhnya sehingga dianggap sampah dan aib bagi keluarganya.
Untungnya, ketika tengah berada diambang maut, ia tak sengaja bertemu dengan penyihir Beatrix yang juga mengalami nasib sama sepertinya.
Penyihir Beatrix yang tak ingin meninggal sia-sia dan ingin ada yang membalaskan dendamnya, memilih Charlotte sebagai orang yang dia warisi semua kekuatan hebat didalam tubuhnya.
Setelah diwarisi kekuatan dari penyihir Beatrix, bagaimana kehidupan Charlotte selanjutnya?
Apakah ia mampu mengubah garis takdirnya?
Ikuti semua kisahnya dalam cerita ini
Happy Reading...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julieta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEMARAHAN DUNCHESS ARIANA
Duke Aslan dan Dunches Ariana membuka satu persatu kamar para pelayan dan melihat apa mereka telah mencuri sesuatu.
Di dalam kamar kepala pelayan Ronix dan kamar para pelayan biasa, mereka tak menemukan apapun selain barang barang pribadi mereka sendiri .Dan di dalam kamar pelayan yang melayani kedua putranya yang baru juga hanya ditemukan gaun yang sengaja dibelikan oleh kedua putranya itu sebagai salam perkenalan setelah dua pelayan pribadi mereka terdahulu di hukum akibat memasukkan ular berbisa dan kalajengking beracun kedalam kamar Charlotte de Fleur hingga membuatnya sangat ketakutan dan mengalami trauma ringan.
Tak mendapati hal yang mereka inginkan, kini keduanya tiba di depan kamar salah satu orang yang mereka curigai berbuat curang.
Duke Aslan dan Dunches Ariana segera masuk ke dalam kamar Bilna, putri Samantha yang selama ini bertugas bersama ibunya untuk melayani Charlotte de Fleur sebagai pelayan pribadi gadis itu.
Di dalam kamar tersebut mereka menemukan gaun-gaun yang seharusnya menjadi milik putri mereka, selain itu ada perhiasan hadiah selamat datang dari Duke Aslan dan Dunches Ariana untuk putri mereka ketika baru saja tiba di kediaman ada disana juga kasur busa yang menjadi ranjang Bilna saat ini.
Beberapa barang-barang pribadi serta aneka macam pernak-pernik yang Dunches Ariana belikan berpindah ke kamar pelayan itu.
Melihat semua barang-barang milik putrinya dirampas oleh seorang pelayan membuat sepasang suami istri itupun semakin marah karena mereka tak menyangka jika telah menampung ular berbisa didalam kediaman mereka.
"Apa yang diajarkan oleh Samantha pada putrinya hingga menjadi pencuri seperti ini!" ucap Dunches Ariana dengan suara yang cukup kencang.
Dunches Ariana melangkah keluar dari kamar Bilna dan masuk ke dalam kamar Samantha. Disana ia menemukan banyak gaun baru serta perhiasan miliknya yang telah hilang beberapa tahun yang lalu.
Dalam penggeledahan itu Dunches Ariana juga menemukan satu kotak penuh berisi emas dan uang kertas yang ia duga diambil Samantha dari dalam kamarnya.
Selama ini Dunchess Ariana yang sering kali kehilangan pakaian, perhiasan ataupun uang, tapi ia tak menyangka jika semua barangnya itu dicuri oleh seseorang. Selama ini Ia hanya merasa jika ia lupa menaruhnya sehingga tak menindak lanjutinya dengan tegas.
Ternyata sikap abainya ini dipergunakan oleh orang yang berniat jahat untuk mencuri di rumahnya.
Bahkan mereka juga tak segan merampas semua barang yang seharusnya menjadi milik putri yang baru mereka temukan tanpa rasa bersalah karena menganggap jika keduanya sangat mempercayai mereka. Dan lebih fatalnya, kedua anak mereka, kakak lelaki yang seharusnya melindungi sang adik justru malam menjadi orang yang membuat para pelayan menjadi tinggi hati dan semena-mena, berbuat sesuka hati mereka di Kediaman de Fleur.
Dunches Ariana keluar dari kamar itu dengan kemarahan yang meluap-luap, pekarangan rumah Kediaman de Fleur yang dilewati oleh Dunchess Ariana mulai di tutupi oleh es yang membekukan semuanya dan udara disekitarpun tiba-tiba turun dengan drastis, membuat semua orang yang ada di Kediaman de Fleur menggingil kedinginan.
Para pekerja dan para prajurit yang sudah bekerja puluhan tahun untuk Keluarga de Fleur menatap ke dalam rumah megah itu, mereka tak tau apa yang membuat Nyonya Besar de Fleur itu bisa se marah ini hingga kekuatannya meluap-luap dan membekukan semuanya.
Bruak!
Suara pintu dapur yang ditendang dengan sangat kencang oleh Dunches Ariana. Aura berwarna biru pekat mengelilingi tubuh wanita itu.
Semua pelayan dan koki sangat terkejut dengan kedatangan Nyonya rumah mereka secara tiba-tiba dalam kondisi sangat marah seperti itu, sehingga semua orang saling bertatapan dengan tanda tanya besar dikepala mereka.
Di belakang Dunches Ariana sudah ada Duke Aslan yang sedang menatap tajam ke arah Samantha yang langsung memasang ekspresi ramah dan lembut diwajahnya.
"Selamat pagi Tuan dan Nyonya, ada yang bisa saya bantu?." tanya Samantha dengan tenang seolah-olah ia tak melakukannya kejahatan apapun.
Dunches Ariana berjalan mendekat ke arah pelayan wanita itu kemudian melayangkan beberapa tamparan yang sangat keras ke pipi Samantha.
Tindakan Dunches Ariana membuat Samantha terkejut dan membelalakkan matanya dengan lebar, ia sedang berfikir apa yang telah ia lakukan hingga membuat Nyonya Besar de Fleur ini sangat marah terhadapnya.
"Apa saya membuat kesalahan hingga Anda sangat marah pada saya, Nyonya ?", tanya Samantha dengan kedua mata berkaca-kaca dan menatap ke arah Duke Aslan padahal yang sedang meluapkan amarahnya adalah Dunches Ariana.
Menyaksikan tatapan Samantha yang seakan meminta perlindungan sang suami, sikapnya yang seperti wanita teh hijau membuat Dunches Ariana merasa jijik.
Kenapa ia sebelumnya tak sadar jika pelayan wanita yang sempat ia jadikan pelayan pribadi nya selama beberapa tahun itu ternyata memiliki sikap munafik seperti ini.
"Apa kau ingin kedua matamu kucongkel, Samantha!" , hardik Dunches Ariana dengan kencang dan tatapan mata serius.
Saat ini ia benar-benar muak dengan tingkah laku Samantha yang mirip dengan wanita murahan itu.
"Maafkan saya Nyonya , saya tak mengerti apa yang Anda maksudkan?" ,ucap Samantha terbata.
Wanita itu secara terang-terangan menatap ke arah Duke Aslan menggunakan puppy eyesnya, membuat semua orang yang ada di dapur merasa terkejut dan tak menyangka jika Samantha, wanita berusia empat puluhan itu akan terang-terangan menggoda Duke Aslan didepan Dunches Ariana yang kini tengah memarahinya.
Samantha sangat percaya diri jika Duke Aslan pasti membantunya keluar dari kesulitan jika ia memasang ekspresi seperti ini, mengingat jika sebelum-sebelumnya ekspresi seperti ini membuat majikannya itu luluh dan berakhir dengan membela dan berada di pihaknya
Duke Aslan yang baru tersadar jika Samantha selalu menggunakan ekspresi seperti ini ketika meminta tolong padanya merasa jijik tak menyangka jika ternyata wanita berusia empat puluh tahun itu tampak nya menyimpan maksud lain dalam hatinya.
Dunches Ariana yang melihat jika Samantha tak menyerah untuk terus menggoda suaminya menjadi murka.
Ia tersenyum ke arah Samantha kemudian mendekati wanita itu lagi, dengan ribuan jarum es tajam yang melayang dibelakang tubuhnya, siap menyerang musuhnya kapan saja tanpa bisa menghindar.
Samantha yang menyadari bahwa Dunches Ariana saat ini benar-benar marah dan kemungkinan besar nyawanya akan melayang saat ini juga, segera berlari ke belakang tubuh Duke Aslan untuk meminta perlindungan.
Namun sebelum sampai di belakang tubuh Duke Aslan, pria itu sudah lebih dulu melemparkan sebuah bola api hingga mengenai bahu sebelah kiri Samantha.
Samantha yang melihat Duke Aslan menyerang dirinya, membelalakkan mata tak percaya jika pria yang dia anggap menyukainya itu tega melukainya.
"Mengapa Tuan Duke melakukan hal ini pada saya? bukankah selama ini saya selalu ada untuk Tuan ketika Nyonya tak ada dirumah. Sayalah yang merawat dan menyiapkan semua kebutuhan Duke ketika Nyonya tak ada" ,ucap ambigu Samantha, berharap Dunchess Ariana terprovokasi dan bertengkar dengan suaminya.
Duke Aslan yang menyadari niat Samantha, kembali melayangkan bola api yang kali ini mengenai bahu sebelah kanannya.
"Lancang! Jangan memfitnah! Kamu melayani saya karena itu tugasmu sebagai pelayan. Lagi pula, tak ada tugas yang tak wajar yang kamu lakukan, para prajurit ku lah saksinya”, ucap Duke Aslan menjelaskan karena ia tak ingin istrinya merasa curiga dan terpancing provokasi yang Samantha berikan kepadanya.