Hafiz mengira dunia ada dalam genggamannya. Harta, tahta, dan wanita pemuja dusta menjadi santapan hariannya. Ia terperosok dalam kubangan kesombongan, lupa bahwa ia adalah seorang lelaki yang seharusnya menjadi pelindung.
Namun, badai datang meruntuhkan segalanya. Di titik nadir saat semua orang meninggalkannya, ia menemukan sebuah oase bernama Zahra. Wanita yang kesuciannya terjaga, yang doanya menembus langit, dan yang hatinya menjadi tempat persembunyian terakhir bagi Hafiz dari kejahatan dirinya sendiri.
"Maafkan kebodohanku yang tak bisa membimbingmu, Zahra. Izinkan aku belajar menjadi imam, meski langkahku penuh noda."
Mampukah Hafiz menjaga amanah saat jarak memisahkan dan masa lalu kembali menagih janji? Akankah doa Qurrata A'yun menyatukan mereka dalam cinta yang direstui penduduk langit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENEBUSAN DI BALIK BESI
Bunyi klik dari borgol besi itu terasa dingin dan menyakitkan, lebih pedih dari luka lecet di tangannya akibat menyapu.
Hafiz menatap Kyai Abdullah. "Kyai... maafkan saya. Saya belum sempat selesaikan hafalan Iqra satu."
Kyai Abdullah hanya tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca namun tetap tegar. "Ingat Alif, Hafiz. Tetaplah tegak meski badai mencoba mematahkanmu."
Lampu rotator polisi yang berputar-putar merah-biru menciptakan bayangan aneh di dinding masjid yang putih. Dinginnya borgol yang melingkar di pergelangan tangan Hafiz seolah membekukan aliran darahnya, tapi anehnya, hatinya justru terasa lebih hangat dibandingkan saat ia masih memegang koper berisi uang haram.
Hafiz menarik napas panjang, aroma tanah basah dan sisa-sisa wangi gaharu dari dalam masjid seolah menjadi bekal terakhirnya. Di dalam mobil polisi yang pengap, ia hanya bisa menatap pantulan dirinya di kaca jendela yang gelap.
Mobil polisi itu mulai bergerak perlahan, membelah kerumunan warga yang masih berteriak penuh cemoohan. Hafiz bisa merasakan guncangan mobil saat melewati jalanan desa yang tidak rata, sama seperti hatinya yang terus bergejolak.
"Lu diam aja? Nggak mau protes atau telepon pengacara hebat lu?" tanya petugas polisi di sampingnya dengan nada mengejek.
Hafiz hanya menatap lurus ke depan, bibirnya terkatup rapat. Pengacara hebat yang dulu ia bayar miliaran rupiah pasti sudah lari atau justru bergabung dengan Robi untuk menjatuhkannya.
"Saya kooperatif, Pak. Bawa saya ke mana pun prosedur harus berjalan," jawab Hafiz datar, suaranya terdengar jauh lebih tenang dari yang ia bayangkan.
Petugas itu mendengus, merasa heran melihat pria yang biasanya arogan di berita televisi kini tampak begitu pasrah, seolah-olah penjara adalah tempat peristirahatan yang ia tunggu-tunggu.
Di luar jendela, bayangan pohon-pohon kamboja dan rumah warga desa mulai menghilang, berganti dengan jalan raya yang lebih lebar. Namun, ingatan Hafiz masih tertinggal di pelataran masjid, pada sosok Zahra yang menangis dan Kyai yang memberikan kekuatan.
Ia teringat instruksi Kyai Abdullah tadi sore saat Aris sang polisi muda datang membawa kabar buruk. Kyai berbisik bahwa badai ini adalah cara Tuhan untuk mencuci bersih sisa-sisa kotoran yang tidak bisa hilang hanya dengan air wudhu.
"Penebusan itu butuh pengorbanan, Hafiz. Kalau kamu memang ingin suci, kamu harus berani melewati api," bisikan Kyai itu terus berulang di telinganya seperti mantra.
Hafiz memejamkan mata sejenak, membayangkan wajah Robi yang tersenyum kemenangan di luar sana. Ia tahu, langkahnya menuju sel tahanan adalah bagian dari rencana besar Robi untuk melenyapkannya tanpa jejak.
Mobil polisi akhirnya memasuki gerbang markas kepolisian yang besar. Cahaya lampu neon yang terang benderang menyambut mereka, kontras dengan kegelapan desa yang baru saja ia tinggalkan.
"Turun!" perintah petugas sembari menarik lengan Hafiz dengan kasar.
Hafiz melangkah keluar, kilatan kamera wartawan langsung menyambar wajahnya. Entah bagaimana caranya, berita penjemputan paksanya sudah bocor ke telinga media secepat kilat.
"Hafiz! Benarkah Anda mencuci uang di pesantren?" teriak seorang wartawan wanita sembari menyodorkan mikrofon.
"Hafiz, apa tanggapan Anda soal pengakuan Robi Kusuma?" cecar wartawan lainnya yang saling sikut demi mendapatkan posisi terbaik.
Hafiz terus berjalan dengan kepala tegak, tidak menunduk seperti koruptor pada umumnya yang malu tertangkap kamera. Ia tidak merasa malu karena ditangkap, ia merasa malu karena dosa-dosanya yang dulu, dan sekarang ia sedang membayarnya.
Langkah kaki mereka menggema di koridor kantor polisi yang dingin. Bau asap rokok, kopi instan, dan aroma pengap ruang interogasi mulai menusuk indra penciumannya.
Ia dibawa ke sebuah ruangan sempit dengan satu meja besi dan dua kursi yang sudah mengelupas catnya. Di atas meja, terdapat tumpukan berkas tebal dengan nama "HAFIZ ALAMSYAH" tertulis besar di sana.
"Duduk," perintah seorang penyidik senior yang wajahnya tampak sangat lelah.
Hafiz duduk dengan tenang, meski tangannya yang terborgol terasa pegal karena diletakkan di atas meja besi yang dingin.
"Jadi, Mr. CEO... Anda ingin bicara sekarang atau menunggu pengacara Anda?" tanya penyidik itu sembari menyalakan sebatang rokok.
Hafiz menatap mata penyidik itu dalam-dalam. "Saya tidak punya pengacara, Pak. Dan saya tidak ingin menunggu."
Penyidik itu mengernyitkan dahi, menghentikan kegiatannya sejenak. "Jangan main-main. Kasus Anda ini besar. Asisten Anda, Robi, sudah membeberkan semuanya."
"Robi hanya bicara apa yang menguntungkan dirinya, Pak," sahut Hafiz tenang. "Saya di sini bukan untuk membela diri. Saya di sini untuk memberikan fakta."
Penyidik itu tertawa sinis. "Fakta? Fakta bahwa Anda bersembunyi di masjid dengan baju koko itu? Sangat dramatis, Hafiz."
Hafiz tidak terpancing emosi sedikit pun. Pelajaran kesabaran dari menyapu lantai masjid setiap subuh ternyata membuahkan hasil.
Interogasi itu berlangsung selama berjam-jam, melewati tengah malam yang sunyi. Hafiz menceritakan bagaimana Robi memanipulasi tanda tangannya dan bagaimana ia dikhianati hingga jatuh miskin.
Ia tidak menutupi kesalahannya sendiri yang lalai dan terlalu serakah di masa lalu. Ia mengakui setiap transaksi yang ia setujui tanpa mengecek kebenarannya.
Penyidik itu tampak tertegun melihat kejujuran Hafiz yang brutal terhadap dirinya sendiri. Jarang sekali ada tersangka yang mengakui kelalaiannya tanpa mencoba mencari kambing hitam.
"Anda tahu kan, pengakuan ini tetap akan membuat Anda masuk penjara minimal lima tahun?" tanya penyidik itu sembari menutup berkasnya.
Hafiz mengangguk pelan. "Lima tahun di penjara lebih baik daripada seumur hidup dalam bayang-bayang dosa, Pak."
Setelah interogasi selesai, Hafiz dibawa menuju sel tahanan sementara. Langkahnya terasa sangat berat saat melewati sel-sel lain yang berisi orang-orang dengan wajah-wajah beringas.
Kring! suara kunci besi yang diputar menggema di koridor panjang itu.
Hafiz didorong masuk ke dalam sebuah sel yang sudah berisi empat orang pria bertubuh besar. Bau pesing dan keringat langsung menyergap hidungnya.
"Wah, lihat siapa yang datang... orang kaya baru," sapa salah satu tahanan yang memiliki tato ular di lehernya.
Hafiz tidak menjawab, ia hanya berjalan menuju sudut ruangan yang paling kosong dan duduk bersila di atas lantai semen yang dingin.
"Hey! Lu punya telinga nggak?" pria bertato itu berdiri, mendekati Hafiz dengan langkah mengancam.
Hafiz mendongak, menatap pria itu dengan pandangan yang tenang, tanpa rasa takut. "Saya di sini untuk menjalani hukuman saya, bukan untuk cari musuh."
Pria itu tertegun melihat ketenangan di mata Hafiz. Biasanya, orang kaya yang masuk sel akan menangis atau mencoba menyuap mereka, tapi pria di depannya ini berbeda.
Hafiz memejamkan mata, mencoba membayangkan wajah Kyai Abdullah yang sedang memimpin doa subuh di masjid. Di dalam sel yang sempit ini, ia justru merasa lebih bebas karena tidak ada lagi rahasia yang ia sembunyikan.
Tapi, ketenangannya terusik saat ia melihat seseorang berdiri di depan teruji besi selnya. Itu adalah Aris, polisi muda sepupu Zahra.
"Mas Hafiz," panggil Aris dengan suara pelan agar tidak terdengar tahanan lain.
Hafiz berdiri, mendekat ke arah jeruji besi. "Ada apa, Pak Aris?"
Aris melihat ke kanan-kiri sebelum membisikkan sesuatu. "Mas harus hati-hati. Robi punya pengaruh di dalam sini. Saya dengar ada pesanan untuk 'membereskan' Mas malam ini juga."
Hafiz mengepalkan tangannya di balik jeruji besi. Ia tahu dunia ini kejam, tapi ia tidak menyangka Robi seberani itu.
"Terima kasih informasinya, Pak Aris. Saya akan waspada," jawab Hafiz, suaranya tetap stabil meski jantungnya berdegup kencang.
"Dan satu lagi..." Aris merogoh saku seragamnya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat kecil. "Zahra menitipkan ini. Dia bilang, jangan dibuka sampai Mas merasa benar-benar ingin menyerah."
Hafiz menerima amplop itu dengan tangan gemetar. Sentuhan kertas itu seolah membawa kehangatan dari tangan Zahra sampai ke hatinya.
Hafiz menggenggam dengan sangat erat, seolah-olah kertas tipis itu adalah satu-satunya pelampung di tengah samudra yang sedang mengamuk.