Di kota futuristik Astra City, manusia biasa dan mereka yang memiliki kekuatan super hidup berdampingan setelah munculnya fenomena langit merah misterius. Raka Mahendra, pemuda dengan energi kosmik yang tak terkendali, harus menghadapi takdirnya, menyelamatkan kota, dan mengungkap rahasia di balik kekuatannya. Bersama Kayla, pengendali gravitasi, dan Adrian, bayangan dari masa lalu, Raka akan menghadapi peperangan, pengkhianatan, dan takdir kosmik yang akan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DragonLucifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 – Serangan Tengah Malam
Malam kembali turun tanpa ampun.
Markas Helios yang tersisa kini hanya berupa struktur setengah runtuh dengan generator darurat menyala redup. Angin malam berdesir melewati besi bengkok dan kabel terbuka, menciptakan suara mendesing panjang seperti peringatan akan sesuatu yang buruk.
Raka belum tidur.
Koordinat Kota Kedua masih melayang di layar holografik di depannya.
Kayla datang membawa secangkir minuman hangat. “Kau tidak berhenti sejak tadi.”
Raka tersenyum tipis. “Kalau Adrian tahu tentang lokasi ini… dia pasti tidak akan diam.”
Seolah menjawab ucapannya—
BOOM!
Ledakan besar mengguncang sisi timur markas.
Lampu padam. Sirene darurat menyala merah.
Damar langsung bangkit meski masih terluka. “Serangan?!”
Liora berdiri kaku. Matanya langsung menyala merah pekat. “Mereka datang… dan jumlahnya banyak.”
Infiltrasi Senyap
Tidak seperti serangan sebelumnya yang frontal, kali ini Eclipse bergerak dalam diam.
Bayangan bergerak di antara puing-puing.
Pasukan bertopeng muncul tanpa suara, membawa perangkat aneh berbentuk prisma hitam yang berdenyut ungu.
Raka langsung mengaktifkan Alpha.
Cahaya biru menerangi ruang gelap.
“Mereka bukan cuma menyerang… mereka mencari sesuatu!” serunya.
Kayla menatap layar utama. “Server inti! Mereka ingin koordinat Kota Kedua!”
Salah satu pasukan Eclipse menancapkan prisma hitam ke lantai. Gelombang gangguan menyebar, membuat sistem Helios berkedip liar.
Damar menggeram. “Mereka mencoba mengunduh data jarak jauh!”
Pertempuran Dalam Gelap
Raka melesat ke depan, membentuk bilah energi biru di tangannya. Ia menghantam dua pasukan sekaligus, membuat mereka terpental menghantam dinding.
Namun kali ini musuh berbeda.
Mereka tidak mundur.
Tubuh mereka menyerap sebagian energi Alpha.
“Apa—?” Raka terkejut.
Liora berteriak, “Mereka sudah ditingkatkan! Resonansi Omega ada di dalam tubuh mereka!”
Salah satu pasukan melompat ke arah Liora, menebaskan energi ungu tajam. Liora membalas dengan ledakan merah, membuat udara di sekitar mereka bergetar keras.
Kayla dan Damar bertarung melindungi terminal utama.
“Rak! Mereka hampir menembus firewall!” Kayla berteriak.
Raka mengepalkan tangan. “Tidak akan kubiarkan!”
Ia memusatkan Alpha lebih dalam dari sebelumnya.
Energi birunya berubah lebih pekat—lebih padat.
Ia menghantam prisma hitam itu langsung.
CRASH!
Perangkat itu pecah, tapi—
Gelombang balik menghantam seluruh ruangan.
Lantai retak.
Langit-langit runtuh sebagian.
Kemunculan Pemimpin Bertopeng
Dari asap dan debu, satu sosok berjalan perlahan.
Pemimpin bertopeng.
Aura gelapnya jauh lebih stabil dari sebelumnya.
“Kalian belajar cepat,” katanya tenang.
“Tapi tidak cukup cepat.”
Raka berdiri di depannya. “Kau tidak akan mendapatkan data itu.”
Pemimpin bertopeng tertawa kecil. “Oh, Raka… kami tidak butuh semuanya.”
Ia mengangkat tangannya.
Salah satu pasukan Eclipse yang tadi terlihat kalah… bangkit kembali.
Di matanya menyala kilatan data holografik.
Kayla membeku. “Tidak…”
Damar menatap layar dengan wajah pucat. “Mereka berhasil menyalin sebagian koordinat…”
Raka merasa darahnya membeku.
“Berapa banyak?” tanyanya.
“Cukup untuk memperkirakan lokasi regional.”
Pemimpin bertopeng melanjutkan,
“Kota Kedua bukan lagi rahasia milikmu.”
Ledakan Tengah Malam
Tiba-tiba, seluruh pasukan Eclipse mundur bersamaan.
Prisma terakhir yang tersisa mulai bergetar.
Liora tersentak. “Itu bukan alat transfer data… itu bom resonansi!”
Raka membelalakkan mata. “Semua mundur!”
Ia membentuk kubah Alpha raksasa.
Liora menambahkan energi merahnya.
Kayla dan Damar berlindung di belakang mereka.
BOOOOOOM!!!
Ledakan ungu dan biru bertabrakan.
Markas Helios yang tersisa akhirnya runtuh sepenuhnya.
Debu membumbung tinggi ke langit malam.
Setelah Ledakan
Beberapa menit kemudian, hanya keheningan tersisa.
Raka terengah-engah, lututnya hampir menyentuh tanah.
Kubah Alpha retak… tapi berhasil melindungi timnya.
Markas Helios kini benar-benar hancur.
Kayla menatap reruntuhan dengan mata berkaca-kaca.
“Ini… benar-benar akhir dari markas kita.”
Damar menggenggam bahunya. “Tapi bukan akhir dari kita.”
Liora menatap Raka. “Mereka punya sebagian koordinat. Kita harus bergerak sekarang… sebelum mereka sampai lebih dulu.”
Raka berdiri perlahan.
Cahaya Alpha di tubuhnya kini berbeda.
Lebih tenang.
Lebih matang.
“Tidak,” katanya pelan.
“Kita tidak akan mengejar mereka.”
Yang lain terkejut.
Raka melanjutkan,
“Kita akan sampai lebih dulu.”
Di Markas Eclipse
Adrian tersenyum melihat laporan masuk.
“Koordinat sebagian telah diamankan.”
Pemimpin bertopeng berlutut ringan. “Tapi Helios selamat.”
Adrian tertawa pelan.
“Itu memang rencananya.”
Matanya menatap layar besar yang menampilkan struktur bawah tanah raksasa.
Sebuah kota tersembunyi.
Tertulis di atasnya:
GENESIS CORE – KOTA KEDUA
“Biarkan mereka datang,” bisiknya.
“Di sana… Alpha dan Omega akan menentukan siapa yang pantas memimpin dunia.”
Akhir Bab
Markas Helios telah jatuh.
Data telah bocor.
Perjalanan menuju Kota Kedua tidak bisa ditunda lagi.
Arc 2 memasuki fase terakhir.