raja kegelapan dan ratu cahaya" 2 entitas yang tidak seharusnya bisa bersatu dan kekuatan yang seharusnya saling tolak menolak namun dikalahkan oleh takdir yang berjalan secara mutlak...menjalin sebuah cinta yang membuat kesucian cahaya menjadi dianggap najis dan kekejaman kegelapan dianggap lemah karena hubungan yang mereka jalanii
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fernan Do, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
panen kemakmuran dan darah di jalan setapak
Waktu terus bergulir di Lembah Aethelgard. Musim berganti, dan kerja keras sang mantan Raja Kegelapan mulai membuahkan hasil yang luar biasa. Lembah yang dulunya sunyi kini riuh oleh suara ternak dan aroma tanah subur yang memanjakan hidung.
Beberapa bulan telah berlalu sejak insiden luka di paha Ferdi. Kini, peternakan kecil di belakang rumah mereka telah berubah menjadi area yang sangat produktif. Berkat ketelatenan Ferdi—yang meski tangan kasarnya biasa memegang pedang, ternyata sangat lembut saat mengurus hewan—populasi ternak mereka meledak.
Dua ekor babi yang dulu dibawa Ferdi dari hutan kini telah beranak pinak menjadi enam ekor yang gemuk-gemuk. Sapi-sapi mereka, yang awalnya hanya sepasang, kini berjumlah lima ekor; dua induk, satu jantan besar, dan dua pedet yang lucu. Ayam-ayam hutan itu pun bertelur melimpah, namun Ferdi sengaja membiarkan sebagian besar telur itu menetas di bawah lindungan induknya agar koloni mereka semakin besar.
Pagi itu, Ferdi memisahkan satu ekor domba jantan yang sudah cukup umur. Dengan gerakan cepat dan tanpa menyiksa, ia menyembelihnya untuk dijadikan persediaan daging bagi Vani. Ia tidak ingin istrinya kekurangan gizi lagi.
"Vani, persediaan daging untuk dua minggu ke depan sudah siap di ruang pendingin bawah tanah," ujar Ferdi sambil mengelap tangannya yang basah.
Sementara itu, Vani sedang asyik di kebun buah. Pohon-pohon apel dan stroberi yang ditanam Ferdi beberapa bulan lalu kini sudah berbuah lebat. Warna merah merona menyembul di balik dedaunan hijau. Vani memetik sayuran sawi dan wortel yang segar, memasukkannya ke dalam keranjang rajutannya hingga penuh.
"Ferdi! Lihat stroberi ini! Besar-besar sekali!" seru Vani dengan tawa renyah. "Siang nanti, setelah kita makan siang, kita harus ke pasar pusat. Bumbu dapur kita habis, dan aku ingin membeli baju baru untukmu. Bajumu sudah banyak yang robek karena mengurus babi-babi nakal itu!"
Ferdi mengangguk setuju. "Kita juga butuh lampu kristal untuk penerangan di depan peternakan dan sawah. Kalau malam terlalu gelap, aku khawatir ada predator hutan yang mendekat."
Sebelum berangkat, Ferdi memanggil sepuluh pasukan Elf pilihan yang kini menjadi sahabat dan pelindung setia lembah mereka. Elrond, sang pemimpin pasukan, membungkuk hormat saat tiba di halaman rumah.
"Jaga rumah ini baik-baik. Pastikan tidak ada satu pun hama atau penyusup yang menyentuh kebun Vani," perintah Ferdi dengan wibawa rajanya yang masih melekat.
Vani, dengan sifatnya yang penyayang, tidak membiarkan para Elf itu berjaga dengan perut kosong. Ia membawa sebuah nampan besar berisi kopi hangat dari biji yang ia sangrai sendiri, serta camilan buah-buahan segar yang baru dipetik.
"Minumlah, Elrond. Ini kopi kesukaan Ferdi. Ada camilan buah juga agar kalian tidak mengantuk," ujar Vani manis.
"Terima kasih, Ratu Cahaya. Kami akan menjaga tempat ini dengan nyawa kami," jawab Elrond dengan tulus.
Ferdi dan Vani memulai perjalanan menuju pasar pusat melewati jalur hutan yang rimbun. Ferdi sengaja tidak membawa senjata besar, hanya sebuah pisau kecil di pinggangnya, karena ia ingin menikmati waktu santai berdua dengan istrinya.
Namun, di tengah jalan yang sunyi, suasana tiba-tiba berubah mencekam. Dari balik semak belukar, muncul dua puluh pria bertampang sangar dengan senjata tajam yang berkarat namun mematikan. Mereka adalah kelompok bandit "Guntur Hitam" yang terkenal kejam.
"Wah, wah... lihat apa yang kita temukan di sini,"
ujar sang pemimpin bandit, seorang pria bermata satu dengan bekas luka di wajahnya. "Seorang petani lemah dan seorang wanita yang... astaga, dia terlalu cantik untuk sekadar tinggal di hutan!"
"Serahkan semua hartamu, Petani!" teriak bandit lainnya. "Dan serahkan wanitamu itu. Dia akan menjadi selir utama bos kami. Kau? Kami akan membuang mayatmu ke kawah Naga Gunung Suci di Barat sebagai persembahan!"
Vani tampak ketakutan sejenak, namun ia langsung berdiri di belakang Ferdi. "Ferdi, mereka orang jahat..."
Ferdi melangkah maju. Wajahnya datar, namun matanya menajam. "Vani, menjauhlah sedikit. Aku tidak akan menggunakan sihir. Makhluk-makhluk kotor ini tidak pantas mencicipi energi kegelapanku. Aku akan menggunakan tangan kosong."
"Tapi Ferdi, mereka ada dua puluh orang!" seru Vani cemas.
Pertarungan pecah. Ferdi bergerak cepat. Meskipun hanya menggunakan kekuatan fisik murni, pukulannya mampu meretakkan tulang rusuk lawan. Namun, karena jumlah mereka yang banyak dan senjata mereka yang panjang, Ferdi sempat kewalahan.
Srett!
Sebuah pedang menggores lengan kanan Ferdi saat ia mencoba menahan serangan serempak dari tiga arah. Darah merah mulai merembes di kemeja putihnya.
"FERDIIIII!!" jerit Vani. Tak tahan melihat suaminya terluka, Vani mengeluarkan sedikit cahaya dari tangannya untuk membutakan mata para bandit sejenak. "Jangan sentuh suamiku!"
Cahaya itu memberi celah bagi Ferdi. Ia bangkit dengan kemarahan yang terkendali. Dengan serangkaian tendangan dan pukulan presisi, Ferdi merobohkan sepuluh bandit dalam waktu kurang dari satu menit. Pemimpin bandit yang melihat anak buahnya bertumbangan mulai gemetar.
"K-kau... kau bukan petani biasa!" teriak si
pemimpin bandit sambil lari terbirit-birit. "Tunggu pembalasan kami! Kami akan kembali dengan jumlah yang lebih banyak!"
"Pergi sebelum aku berubah pikiran dan mencabut nyawa kalian," desis Ferdi dingin.
Setelah para bandit itu menghilang, Vani langsung menyambar lengan Ferdi. Wajahnya merah padam, bukan karena takut, tapi karena marah melihat Ferdi terluka lagi.
"SUDAH KU BILANG PAKAI SIHIR SAJA!" omel Vani sambil menyobek sedikit kain selendangnya untuk membalut luka Ferdi sementara. "Kenapa kau harus sok adil pada bandit?! Mereka itu sampah, Ferdi! Kau malah membiarkan lenganmu yang bagus ini tergores pedang karatan mereka! Bagaimana kalau kau kena infeksi?!"
"Hanya luka ringan, Vani. Lihat, aku masih bisa menggendongmu kalau kau mau," goda Ferdi mencoba meredakan emosi istrinya.
"Diam! Jangan bercanda! Aku benar-benar benci melihatmu berdarah!" Vani terus mengomel sepanjang sisa perjalanan menuju pasar.
Sesampainya di pasar, hal pertama yang dicari Vani bukanlah bumbu dapur atau lampu, melainkan apotek. Ia membeli salep terbaik dan ramuan pembersih luka. Di depan toko, ia memaksa Ferdi duduk di bangku kayu.
"Sini! Ulurkan lenganmu!" perintah Vani.
Ferdi: "Vani, semua orang melihat kita. Aku malu kalau dirawat seperti bayi di depan umum."
Vani: "Biar saja mereka melihat! Biar mereka tahu kalau Raja Kegelapan mereka ini ternyata seorang suami yang nakal dan tidak mau dengar kata istri! Aw... diam! Ini akan sedikit perih!"
Vani mengoleskan obat itu dengan sangat teliti. Meskipun mulutnya tidak berhenti memarahi Ferdi tentang "kebodohan menggunakan kekuatan fisik", tangannya bergerak sangat lembut, seolah-olah ia sedang menyentuh permata paling berharga di dunia.
Vani: "Dengar ya, Ferdi. Aku senang kau melindungiku. Tapi aku lebih senang kalau kau tidak terluka. Mengerti?! Besok-besok, kalau ada bandit lagi, bakar saja mereka dengan api hitammu. Jangan sok keren dengan tinjumu itu!"
Ferdi: (Tersenyum tipis) "Iya, Sayang. Aku mengerti."
Vani: (Cemberut tapi wajahnya memerah) "Hmph! Sudah, ayo. Kita harus beli lampu dan baju baru. Aku ingin kau pakai baju warna biru tua, sepertinya itu cocok dengan matamu yang dingin itu."
Mereka pun berkeliling pasar, membeli bumbu-bumbu wangi, kain-kain berkualitas, dan beberapa lampu kristal untuk menerangi peternakan mereka. Meskipun lengan Ferdi terbalut kain, ia merasa hatinya sangat hangat. Luka ringan itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan perhatian dan kasih sayang istrinya yang cerewet namun luar biasa itu.
Di kejauhan, para bandit yang tadi kabur mengintip dari balik bayangan, menyimpan dendam. Namun mereka tidak tahu, bahwa menyentuh Vani sama saja dengan mengundang kiamat ke depan pintu rumah mereka sendiri.