Wei Chen, CEO perusahaan teknologi dan energi terkemuka di Asia Tenggara, mati di usia 40 tahun karena diracun oleh rekan bisnisnya sendiri, Hartono Lim — orang yang selama 15 tahun ia percayai.
Namun takdir berkata lain. Wei Chen terbangun di tubuh seorang pemuda di dunia asing: Shenzhou, dunia Murim yang dihuni para kultivator, pedang terbang, dan klan-klan besar yang menguasai segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saundra Handara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERSIAPAN MENUJU GUNUNG ES
Seminggu setelah Guru Anta mengungkapkan lokasi Embun Giok...
Wei Chen duduk di kantornya, dihadapkan pada peta besar yang membentang di atas meja.
Peta itu bukan peta biasa. Guru Anta yang menggambarnya dari ingatan — peta detail Gunung Es, markas Sekte Gunung Es, dengan semua jalur masuk dan keluar, pos penjagaan, dan lokasi mata air suci.
"Di sini." Guru Anta menunjuk titik di tengah gunung. "Mata air suci. Setiap musim semi, Embun Giok mengkristal di bebatuan sekitar. Mereka mengumpulkannya untuk pil kultivasi."
Wei Chen mengamati. "Berapa banyak penjaga?"
"Biasanya 20 orang. Tapi saat musim semi, bisa 50. Karena itu waktu paling berharga."
"Kita harus masuk tanpa ketahuan?"
"Atau dengan izin." Guru Anta tersenyum tipis. "Tapi izin tidak mungkin. Aku masih buronan."
Wei Chen diam. Memikirkan.
"Kalau kita masuk diam-diam, berapa peluang berhasil?"
Guru Anta berpikir. "Kalau aku sendirian, 30%. Tapi kalau bawa orang... lebih kecil."
"Kenapa?"
"Karena aku tahu medan. Aku bisa gerak cepat, diam, seperti bayangan. Orang lain mungkin buat suara, mungkin terdeteksi."
Wei Chen mengangguk. "Jadi kau harus sendiri?"
"Aku tidak bilang begitu. Tapi..."
"Tapi aku beban."
Guru Anta diam. Tidak menyangkal.
Wei Chen tersenyum tipis. "Aku mengerti." Dia menatap peta. "Kalau begitu, kau pergi sendiri. Aku tunggu di sini."
Guru Anta terkejut. "Kau percaya aku? Dengan Embun Giok?"
"Aku percaya."
"Tapi ini barang berharga. Bisa jadi aku ambil dan kabur."
Wei Chen menggeleng. "Kau tidak akan."
"Kenapa yakin?"
"Karena kau punya hutang pada ibu Mei Ling. Karena kau suka di sini. Karena..." Wei Chen menatapnya. "Kau sudah punya keluarga baru."
Guru Anta diam. Lalu tersenyum.
"Kau benar. Aku tidak akan kabur." Dia berdiri. "Aku siap berangkat besok."
---
Sore harinya, Wei Chen mengumpulkan semua orang.
Di kantor pusat Garuda Trading, berkumpul: Lim Xiu, Toke Wijaya, Kakek Li, Guru Anta, Budi, Joko, dan tentu saja Mei Ling.
Wei Chen menjelaskan rencana.
Guru Anta akan pergi ke Gunung Es sendirian. Mencari Embun Giok. Kembali sebelum musim panas.
Selama dia pergi, Garuda Trading berjalan seperti biasa. Tapi kewaspadaan dinaikkan. Hartono bisa menyerang kapan saja.
"Bagaimana kalau dia datang saat kau tidak di sini?" tanya Lim Xiu.
Wei Chen diam. Itu risiko terbesar.
"Aku akan tinggalkan instruksi," katanya. "Lim Xiu, kau yang pegang komando. Kakek Li dan Guru Anta — sebelum berangkat — akan ajar strategi bertahan."
Kakek Li mengangguk. "Bisa."
Guru Anta juga mengangguk.
Mei Ling diam saja. Tangannya di bawah meja, menggenggam tangan Wei Chen.
---
Setelah pertemuan, mereka berdua duduk di beranda.
Matahari mulai terbenam. Langit jingga keemasan.
"Chen... aku takut."
Wei Chen menoleh. Wajah Mei Ling cemas.
"Takut apa?"
"Takut kalau sesuatu terjadi padamu saat aku tidak di sini." Matanya berkaca-kaca. "Takut kalau... kalau kau pergi dan tidak kembali."
Wei Chen memeluknya.
"Aku tidak ke mana-mana. Aku di sini."
"Tapi kau biarkan Guru Anta pergi sendiri."
"Itu berbeda." Wei Chen mengusap rambutnya. "Dia yang lebih tahu medan. Dia yang lebih bisa. Kalau aku ikut, malah jadi beban."
Mei Ling diam. Lalu, "Kau yakin dia bisa dipercaya?"
Wei Chen mengangguk. "Aku yakin."
"Kenapa?"
Wei Chen memandangi langit senja. "Karena aku tahu rasanya dikhianati orang yang dipercaya. Dan aku tahu rasanya ingin dipercaya lagi."
Mei Ling memeluknya erat.
"Kau baik, Chen."
"Aku tidak baik. Aku hanya... belajar."
---
Esok paginya, Guru Anta berangkat.
Pakaiannya sederhana, tas punggung kecil, sebilah pedang pendek di pinggang. Wajahnya tenang, seolah hanya pergi ke pasar.
"Tiga bulan," katanya pada Wei Chen. "Mungkin empat. Tapi aku akan kembali."
"Bawa Embun Giok."
"Aku bawa."
Mereka berjabat tangan. Guru Anta melirik Mei Ling.
"Jaga dia, Nok. Dia berharga."
Mei Ling tersenyum. "Aku jaga."
Guru Anta pergi. Berjalan ke utara, menuju gunung yang tidak terlihat dari desa.
Wei Chen dan Mei Ling berdiri di gerbang desa, menatap punggungnya hingga hilang di ujung jalan.
---
Dua minggu kemudian...
Garuda Trading berjalan normal. Produksi terus, pengiriman lancar. Klan Naga Hitam dan Klan Bunga Naga puas dengan pelayanan.
Tapi Wei Chen gelisah.
Setiap malam, dia duduk di beranda, menatap ke utara. Berharap melihat Guru Anta kembali.
Mei Ling sering menemani. Kadang mereka bicara, kadang diam.
"Kau khawatir?" tanya Mei Ling suatu malam.
"Iya."
"Tapi kau bilang percaya."
"Aku percaya. Tapi tetap khawatir." Wei Chen menghela napas. "Itu manusiawi."
Mei Ling tersenyum. "Kau mulai terlihat seperti manusia."
"Aku memang manusia."
"Dulu tidak." Dia menyandarkan kepala di bahu Wei Chen. "Dulu kau seperti patung. Tidak punya perasaan."
Wei Chen diam. Dia tahu itu benar.
"Terima kasih sudah berubah," bisik Mei Ling.
Wei Chen mencium rambutnya. "Terima kasih sudah mau menerima aku apa adanya."
---
Sementara itu, di ibu kota...
Hartono Lim duduk di kantornya yang mewah. Di hadapannya, seorang pria berpakaian hitam.
"Jadi, Wei Chen punya guru kultivasi baru?" tanya Hartono.
"Iya, Tuan. Namanya Guru Anta. Mantan tetua Sekte Gunung Es."
Hartono mengangkat alis. "Sekte Gunung Es? Besar juga."
"Dia diusir 10 tahun lalu. Sekarang tinggal di desa itu."
Hartono tersenyum. "Menarik." Dia berpikir. "Apa kabar tentang gadis itu — Mei Ling?"
"Masih hidup. Tapi katanya sakit-sakitan. Mungkin tidak lama lagi."
Hartono mengangguk. "Bagus. Kalau dia mati, Wei Chen akan lemah."
"Tapi dia tidak mati-mati, Tuan."
Hartono mengerutkan kening. "Kenapa?"
"Ada gelang aneh di tangannya. Mungkin alat pemurni."
Hartono diam. Lalu tersenyum lebar.
"Wei Chen... kau benar-benar penuh kejutan." Dia menatap asistennya. "Siapkan pasukan. 100 orang. Level menengah."
"Kapan, Tuan?"
"Saat Guru Anta pergi." Hartono tersenyum dingin. "Aku sudah dengar dia pergi ke utara. Sekarang saatnya."
Asistennya mengangguk. Pergi.
Hartono menatap langit-langit.
Kali ini, Wei Chen. Kau tidak akan selamat.
---
Di Desa Qinghe, Wei Chen tiba-tiba merasa dingin.
Bukan dingin udara. Tapi dingin di tulang.
Dia menengok ke selatan. Ke arah ibu kota.
Ada apa?
Mei Ling keluar. "Chen, makan malam."
Wei Chen mengangguk. Tapi di dalam hatinya, waspada.
Badai akan datang. Dan kali ini, dia mungkin harus hadapi sendiri.
---
Chapter 24 END.
---