Wei Chen, CEO perusahaan teknologi dan energi terkemuka di Asia Tenggara, mati di usia 40 tahun karena diracun oleh rekan bisnisnya sendiri, Hartono Lim — orang yang selama 15 tahun ia percayai.
Namun takdir berkata lain. Wei Chen terbangun di tubuh seorang pemuda di dunia asing: Shenzhou, dunia Murim yang dihuni para kultivator, pedang terbang, dan klan-klan besar yang menguasai segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saundra Handara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERJALANAN KE BARAT — HARI PERTAMA
Matahari baru saja muncul di ufuk timur saat Wei Chen meninggalkan Desa Qinghe.
Cahaya jingga keemasan menyapu hamparan sawah yang membentang luas. Butiran-butiran embun masih menempel di ujung daun padi, berkilauan seperti mutiara kecil di bawah sinar mentari pagi. Udara masih segar, bercampur aroma tanah basah dan jerami.
Wei Chen berjalan kaki, menelusuri jalan setapak yang membelah sawah-sawah hijau itu. Setiap langkahnya meninggalkan jejak di tanah yang masih lembab. Di belakangnya, Desa Qinghe perlahan mengecil, semakin kecil dan kecil, sampai akhirnya benar-benar hilang tertutup oleh bukit kecil yang ditumbuhi pohon-pohon kelapa.
Wei Chen berhenti sejenak. Menoleh ke belakang.
Desa itu sudah tidak terlihat. Yang ada hanya bukit hijau dan langit biru terbentang luas. Tapi di dalam hatinya, bayangan Desa Qinghe masih jelas. Rumah-rumah panggung sederhana. Sawah yang membentang. Anak-anak yang berlarian. Dan yang paling jelas — wajah Mei Ling dengan senyumnya yang hangat, meski matanya basah saat melepas kepergiannya.
"Aku tunggu."
Kata-kata itu masih bergema di telinganya. Wei Chen merasakan sesuatu yang hangat di dadanya — perasaan yang aneh, tapi tidak asing lagi. Cinta. Dia sudah belajar mengenalinya.
Dia mengeluarkan benda kecil dari sakunya. Jepit rambut Mei Ling. Sederhana, dari kayu dengan ukiran bunga kecil. Bukan benda berharga. Tapi baginya, ini adalah pengingat. Pengingat mengapa dia melakukan semua ini.
Dia menyimpannya kembali. Menarik napas dalam. Lalu melanjutkan langkah.
Tidak boleh lemah. Tidak boleh ragu. Dia punya misi. Dia punya janji.
---
Dua jam kemudian, jalanan mulai berubah.
Sawah yang hijau dan terbuka perlahan berganti menjadi semak belukar. Semak belukar kemudian berubah menjadi hutan kecil. Pepohonan semakin rapat, cabang-cabangnya saling bertaut membentuk kanopi alami yang merindangkan jalan setapak.
Wei Chen berjalan dengan waspada. Matanya awas ke kanan dan kiri. Telinganya menangkap setiap suara — kicau burung, gemerisik daun tertiup angin, suara ranting patah di kejauhan. Di bumi, dia terbiasa dengan gedung pencakar langit, hiruk-pikuk kota, suara klakson dan mesin. Di sini, dia harus belajar membaca alam. Setiap suara adalah informasi. Setiap keheningan bisa berarti bahaya.
Dia ingat pesan Guru Anta sebelum berangkat.
"Hati-hati di hutan. Bukan hanya perampok, tapi juga binatang buas. Harimau, serigala, bahkan ular berbisa. Dan yang lebih berbahaya dari semua itu — kultivator jahat yang suka memangsa orang lemah."
Wei Chen tidak lemah. Tapi dia juga tidak kuat. Levelnya baru saja naik ke Pengumpul Qi Tahap Awal — level terendah dalam dunia kultivasi. Dia bisa mengalahkan orang biasa, seperti tiga perampok tadi. Tapi kalau bertemu kultivator level menengah, dia bisa mati.
Karena itu, dia memilih jalur aman yang digambar Guru Anta di peta. Jalur yang memutar, melewati desa-desa kecil, menghindari wilayah klan-klan besar. Memang lebih lama. Tapi lebih aman.
---
Menjelang siang, Wei Chen sampai di tepi sungai kecil.
Airnya jernih kebiruan, mengalir tenang di antara bebatuan. Ikan-ikan kecil berenang ke sana kemari, tidak terusik oleh kehadirannya. Di seberang sungai, hutan tampak lebih lebat. Tapi di sisi ini, ada tanah lapang kecil yang cocok untuk beristirahat.
Wei Chen duduk di atas batu besar. Membasuh muka dengan air sungai. Dingin, menyegarkan. Dia minum sampai puas, merasakan air segar mengalir di tenggorokannya. Lalu mengeluarkan bekal dari tas — nasi bungkus daun pisang, lauk ikan kering, dan beberapa butir telur rebus.
Sederhana. Tapi cukup.
Saat makan, pikirannya melayang ke Desa Qinghe. Apa yang sedang dilakukan Mei Ling sekarang? Mungkin sedang di klinik membantu Guru Anta. Atau di toko membantu Lim Xiu. Atau mungkin — dia berharap — sedang duduk di beranda, memandangi jalan setapak yang mengarah ke barat, berharap melihat bayangnya muncul.
Wei Chen tersenyum tipis. Dia tidak pernah membayangkan akan merasakan ini. Kerinduan. Rasa ingin kembali. Di bumi, dia tidak pernah merindukan siapa pun. Tapi di sini...
Dia menghela napas. Melanjutkan makan.
Tiba-tiba, dia mendengar suara.
Langkah kaki. Banyak. Dari arah hutan.
Wei Chen menegang. Tangannya bergerak cepat, menyimpan sisa bekal ke dalam tas. Tangan lainnya meraih pedang pendek di pinggang. Matanya menajam, mengamati ke arah suara.
Dari balik pohon, muncul tiga pria.
Pakaian mereka lusuh, penuh tambalan. Wajah mereka kotor, dengan jenggot tak terawat. Di pinggang masing-masing, tergantung golok — bukan senjata bagus, tapi cukup untuk melukai, bahkan membunuh.
Mata mereka langsung tertuju pada tas Wei Chen. Dan pada pakaiannya yang masih relatif bersih.
"Hei, Tuan." Yang paling besar di antara mereka tersenyum — senyum yang tidak ramah, senyum predator. "Sendirian?"
Wei Chen diam. Mengamati mereka. Tiga orang. Senjata golok. Gerakan mereka kasar, tidak terlatih. Bukan kultivator. Hanya perampok biasa.
"Kami lapar, Tuan." Yang besar itu melangkah maju selangkah. "Pinjam sedikit bekal, ya. Kasihan kami."
"Tidak punya banyak." Suara Wei Chen datar, tidak menunjukkan rasa takut.
"Ah, Tuan pelit." Pria itu melangkah maju lagi, dua langkah sekarang. "Kalau begitu, kami ambil sendiri saja."
Dua temannya ikut maju. Golok mereka terangkat sedikit — ancaman.
Wei Chen tidak bergerak. Tangannya tetap di pangkuan. Wajahnya tenang.
Pria terbesar itu kini hanya berjarak tiga langkah. Matanya liar, menatap tas Wei Chen dengan nafsu serakah.
"Serahkan saja, Tuan. Nanti kami sakiti."
Wei Chen tidak menjawab.
Pria itu menggeram. "Kau tuli?"
Dia melompat maju, tangan mencoba meraih tas.
Sekarang.
Wei Chen bergerak.
Bukan gerakan cepat seperti Kakek Li. Bukan gerakan anggun seperti Guru Anta. Tapi gerakan efisien. Tepat. Tanpa ampun.
Tombaknya — yang selama ini tersembunyi di balik tas, tersandang di punggung — melesat dalam sekejap. Ujungnya yang runcing menusuk perut pria itu. Tidak dalam, tapi cukup untuk membuatnya berteriak kesakitan dan terhuyung mundur.
Dua temannya terkejut. Mereka tidak menyangka sasaran mereka bisa melawan.
Wei Chen tidak memberi mereka waktu. Tombak berputar di tangannya. Satu tebasan mengenai paha pria kedua. Satu tusukan mengenai bahu pria ketiga.
Jeritan memenuhi hutan kecil itu.
Wei Chen berdiri. Menatap tiga pria yang menggeliat kesakitan di tanah. Wajahnya masih tenang, tanpa ekspresi.
"Aku bilang, tidak punya banyak." Suaranya dingin, seperti es. "Sekarang pergi, sebelum aku ubah pikiran."
Mereka tidak perlu diberi tahu dua kali. Bangkit, terhuyung-huyung, satu sama lain saling membantu. Lari tunggang-langgang ke dalam hutan, meninggalkan jejak darah di dedaunan.
Wei Chen duduk kembali. Menghela napas panjang. Dia memeriksa ujung tombaknya — bersih. Tidak ada darah yang tersisa. Bagus.
Di bumi, dia tidak pernah berkelahi. Tidak pernah melukai orang. Yang dia hadapi adalah perang bisnis, perang angka dan strategi. Tapi di sini, di dunia Murim yang kejam ini, dia harus belajar cepat. Belajar bertahan hidup. Belajar melindungi diri sendiri.
Guru Anta benar. Dunia ini kejam.
---
Sore harinya, setelah berjalan beberapa jam lagi, Wei Chen sampai di sebuah desa kecil.
Desa Sidomulyo. Hanya sekitar 20 rumah. Sawah-sawah kecil di sekeliling. Suasananya mirip dengan Desa Qinghe, tapi lebih sunyi, lebih sederhana. Mungkin karena letaknya yang terpencil.
Wei Chen berjalan memasuki desa. Beberapa orang menoleh, menatapnya dengan rasa ingin tahu. Orang asing jarang lewat di sini.
Seorang pria paruh baya menyapanya. "Mau ke mana, Nak?"
"Ke barat, Pak. Cari tempat menginap semalam."
Pria itu menganggak. "Coba ke rumah Mbah Darmi. Di ujung desa. Dia sering terima tamu."
Wei Chen mengucapkan terima kasih. Melanjutkan langkah.
Rumah Mbah Darmi mudah dikenali — satu-satunya rumah dengan pagar bambu dan pohon mangga besar di halaman. Seorang ibu tua sedang duduk di beranda, menenun kain.
"Weh, ada tamu." Dia tersenyum — senyum ramah yang mengingatkan Wei Chen pada Mei Ling. "Mau nginep, Nak?"
"Iya, Bu. Satu malam."
"Mari, mari." Dia bangun, membuka pintu. "Ada gubuk kosong di belakang. Sederhana, tapi bersih."
Wei Chen mengikutinya. Gubuk itu kecil — hanya satu ruangan dengan tikar pandan di lantai. Tapi bersih, dan ada jendela kecil yang membuka ke arah sawah.
"Bayar seikhlasnya, Nak." Mbah Darmi tersenyum. "Orang dagang?"
"Iya, Bu. Mau ke barat."
"Barat?" Mbah Darmi menggeleng. "Jauh sekali, Nak. Seminggu jalan kaki, belum sampai."
"Aku tahu, Bu."
"Hati-hati. Banyak perampok di jalan. Dan hutan-hutan itu angker." Dia menurunkan suara. "Konon ada siluman."
Wei Chen tersenyum tipis. Siluman? Dia lebih takut pada manusia.
"Tadi sudah ketemu perampok, Bu."
Mbah Darmi terkejut. "Kau selamat?"
Wei Chen mengangguk.
"Syukurlah." Dia menepuk dada. "Kau pasti jagoan. Mungkin dilindungi dewa."
Dewa? Wei Chen tidak percaya dewa. Dia hanya percaya pada dirinya sendiri.
"Makan malam nanti saya antar." Mbah Darmi berbalik. "Istirahat dulu, Nak."
---
Malam harinya, Wei Chen duduk di beranda gubuk.
Mbah Darmi mengantar nasi hangat dengan lauk sayur lodeh dan ikan asin. Sederhana, tapi lezat. Wei Chen makan dengan lahap — perjalanan panjang membuatnya lapar.
Setelah makan, dia duduk diam. Menatap langit.
Bulan belum muncul. Langit gelap gulita. Tapi bintang-bintang mulai bermunculan, satu per satu, seperti permata yang ditebarkan di atas kain hitam.
Wei Chen mengeluarkan benda kecil dari sakunya. Jepit rambut Mei Ling.
Dia memandanginya lama. Ukiran bunganya sederhana, tapi halus. Dia ingat saat Mei Ling memberikannya, sehari sebelum berangkat.
"Bawa ini. Biar kau ingat aku."
"Aku tidak akan lupa."
"Biar lebih yakin." Dia tersenyum, matanya basah. "Biar kau kembali."
Wei Chen menggenggam jepit itu erat. Merasakan hangatnya — mungkin hanya imajinasi, tapi dia merasa ada kehangatan yang menjalar dari benda kecil itu.
"Aku akan kembali," bisiknya pada bintang-bintang. "Janji."
Di kejauhan, serigala melolong. Suara malam. Suara hutan.
Wei Chen memejamkan mata. Beristirahat. Besok, perjalanan lanjut. Masih panjang jalan menuju barat. Masih panjang jalan menuju Darah Naga. Masih panjang jalan menuju kesembuhan Mei Ling.
Tapi dia tidak akan menyerah.
Dia Wei Chen. CEO yang bangkit dari kematian. Pria yang jatuh cinta pada gadis desa sederhana. Dan dia punya janji.
Janji yang harus ditepati.
---
Chapter 30 END.
---