Follow IG @Lala_Syalala13
Adrian Arkadia, seorang CEO jenius dan penguasa bisnis yang dingin, menyamar sebagai pria miskin demi memenuhi wasiat kakeknya untuk mencari cinta sejati.
Ia kemudian menikahi Arumi, gadis sederhana berhati emas yang dijadikan "pelayan" dan pemuas ambisi oleh ibu serta adiknya yang materialistis.
Di tengah hinaan keluarga mertua dan ancaman rentenir, Adrian menjalani kehidupan ganda yaitu menjadi kuli panggul yang direndahkan di malam hari, namun tetap menjadi raja bisnis yang menghancurkan musuh-musuhnya secara rahasia di siang hari.
Perlahan tapi pasti, Adrian menggunakan kekuasaannya untuk membalas setiap tetes air mata Arumi dan mengangkat derajat istrinya hingga para penindasnya berlutut memohon ampun.
Bagaimana kelanjutannya???
Jangan lupa mampir baca yaaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BSB BAB 10_Bakat yang Tersembunyi
Adrian menyesap kopinya perlahan. "Bagus. Biarkan dia menikmati 'surga' itu selama satu atau dua minggu, karena orang seperti dia perlu dijatuhkan dari tempat yang sangat tinggi agar sadar."
Adrian kemudian meletakkan sebuah map cokelat tua di atas meja. "Sekarang fokus pada hal yang lebih penting yaitu Arumi."
Hendra membuka map itu, di dalamnya terdapat sketsa-sketsa tangan yang sangat indah dengan gambar desain interior sebuah rumah mewah dengan sentuhan tradisional namun sangat modern.
Itu adalah sketsa yang dibuat Arumi secara sembunyi-sembunyi di atas kertas-kertas bekas saat ia sedang beristirahat.
Adrian menemukannya di bawah kasur tipis mereka di gudang.
"Dia memiliki bakat yang luar biasa Hendra, garis-garisnya memiliki jiwa dia hanya tidak pernah punya biaya untuk kuliah arsitektur atau desain," ujar Adrian dengan nada suara yang melembut.
"Daftarkan karya ini ke kompetisi Global Interior Visionary Award di Singapura, gunakan nama aslinya, tapi gunakan alamat kantor rahasia kita sebagai korespondensi. Jangan sampai dia tahu sekarang."
Hendra tertegun melihat hasil karya Arumi. "Ini... ini sangat profesional tuan Muda, jika ini menang, dia akan mendapatkan beasiswa penuh dan kontrak proyek senilai jutaan dolar."
"Dia pasti menang," kata Adrian penuh keyakinan.
"Karena dia mengerjakan ini dengan hati, bukan dengan keserakahan seperti adiknya."
Sementara Adrian sibuk dengan rencana besarnya, Arumi di rumah mengalami tekanan baru.
Bu Ratna, yang merasa sebentar lagi akan menjadi kaya karena Siska, mulai bertindak semena-mena.
"Arumi! Karena Siska akan jadi model besar, dia harus punya asisten pribadi. Mulai besok, kau harus ikut dia ke kantor agensinya. Kau yang bawakan tasnya, siapkan minumnya, dan pastikan sepatunya selalu bersih!" perintah Bu Ratna tanpa perasaan.
"Tapi Bu, aku punya pekerjaan di taman *Emerald Estate*..."
"Berhenti dari sana! Gaji kuli tamanmu itu tidak ada apa-apanya dibanding masa depan adikmu! Pokoknya kau harus melayani Siska. Kalau kau menolak, jangan harap aku mau membiarkan suamimu tinggal di sini lagi!"
Arumi merasa sesak, ia sangat mencintai desain dan pekerjaannya di taman memberinya inspirasi namun ia tidak punya pilihan.
Malam itu ia menceritakan hal tersebut kepada Adrian di gudang mereka.
"Mas... sepertinya aku harus berhenti bekerja di taman, ibu memintaku jadi asisten Siska." bisik Arumi sambil menunduk.
Adrian yang sedang berpura-pura mengasah pisau dapur kecil langsung berhenti.
Matanya berkilat marah, menjadikan istrinya sebagai pelayan untuk Siska? Itu sudah kelewatan.
"Kau tidak akan menjadi asistennya Arumi." jawab Adrian tegas.
"Tapi Mas kalau aku menolak maka Ibu akan mengusirmu..."
Adrian menggenggam tangan Arumi. "Dengar, turuti saja kemauan mereka untuk dua hari ini. Anggap saja kau sedang melihat 'pertunjukan komedi'. Setelah itu, keadaan akan berubah. Percayalah padaku."
Keesokan harinya, sebuah mobil mewah yang dikirim oleh Hendra atas nama agensi menjemput Siska di depan rumah.
Siska keluar dengan gaun yang sangat mencolok dan riasan tebal, Arumi mengekor di belakangnya membawa tas besar berisi perlengkapan Siska.
Para tetangga keluar rumah, berdecak kagum melihat kemewahan yang diraih Siska secara instan.
Bu Ratna berdiri di depan pintu dengan angkuh, melambaikan tangan seolah-olah dia adalah ibu seorang putri kerajaan.
Sesampainya di gedung Vogue-Elite, Siska bertingkah layaknya diva.
Ia menghina resepsionis, mengeluh tentang suhu ruangan dan berkali-kali membentak Arumi di depan banyak orang.
"Arumi! Mana air minumku? Lama sekali! Kau ini bodoh atau apa?!" teriak Siska di lobi utama yang ramai.
Arumi menunduk dan langsung memberikan botol air dengan tangan bergetar.
Beberapa staf agensi yang sebenarnya adalah mata-mata Adrian mencatat semua kejadian itu menggunakan kamera tersembunyi.
Di lantai paling atas gedung yang sama yaitu di sebuah kantor rahasia yang terhubung melalui lift pribadi, Adrian sedang duduk di kursi kebesarannya.
Ia memantau layar monitor yang menampilkan rekaman CCTV lobi di bawah.
Rahang Adrian mengeras melihat Arumi dibentak-bentak seperti itu, ia mengambil interkom.
"Hendra, suruh penguji hari ini untuk memberikan tes yang paling sulit dan memalukan bagi Siska. Pastikan dia gagal total di depan umum, tapi jangan pecat dia dulu. Aku ingin dia merasakan tekanan yang lebih besar lagi."
Sore harinya, saat Siska sedang sibuk dengan sesi pemotretan "percobaan" yang penuh cacian dari fotografer (atas perintah Adrian), Arumi duduk menyendiri di kafetaria agensi.
Ia mengeluarkan buku catatan kecilnya dan mulai menggambar lagi, ia menggambar desain lobi gedung tersebut menurut imajinasinya, bagaimana pencahayaannya seharusnya diatur agar terlihat lebih hangat.
Tanpa ia sadari seorang pria tua berpakaian rapi namun santai memperhatikan gambarnya dari belakang.
Pria itu adalah Profesor Wijaya, salah satu kurator seni ternama yang juga rekan bisnis kakek Adrian.
"Garis yang sangat berani untuk seorang pemula," ucap Profesor Wijaya tiba-tiba.
Arumi terkejut dan segera menutup bukunya. "Maaf, Pak. Saya hanya iseng."
"Jangan ditutup. Boleh saya lihat?"
Arumi ragu, namun akhirnya memberikan bukunya, Profesor Wijaya terbelalak.
"Siapa gurumu? Kau menggunakan teknik perspektif yang sangat langka, ini luar biasa."
"Saya belajar sendiri Pak, dari buku-buku bekas yang saya temukan di pasar loak."
Profesor Wijaya mengeluarkan kartu namanya. "Namaku Wijaya, datanglah ke galeri saya minggu depan, saya ingin membicarakan sesuatu tentang masa depanmu."
Arumi menerima kartu itu dengan bingung, masa depan? Baginya, masa depan hanyalah tentang bagaimana melunasi hutang ibunya dan memastikan ia tetap bisa makan bersama suaminya.
Malam itu, saat pulang ke rumah, Siska mengomel sepanjang jalan karena fotografer menganggapnya "kaku seperti papan cucian".
Ia melampiaskan amarahnya pada Arumi dengan membuang tasnya ke tanah saat mereka sampai di depan rumah.
"Ambil itu! Gara-gara kau membawa sial, pemotretanku hari ini kacau!" maki Siska.
Adrian, yang baru saja kembali dari penyamarannya, melihat tas Arumi berserakan di tanah.
Ia segera menghampiri dan memungut tas tersebut, ia menatap Siska dengan tatapan yang begitu mematikan sehingga Siska mendadak terdiam dan merinding.
"Masuk ke dalam, Siska," suara Adrian begitu rendah dan berbahaya.
"Sebelum aku melakukan sesuatu yang akan kau sesali seumur hidupmu."
Siska lari masuk ke rumah tanpa berani menoleh lagi.
Di dalam gudang Adrian membersihkan debu dari tas Arumi, ia melihat kartu nama Profesor Wijaya terjatuh dari sana.
Adrian tersenyum karena rencananya berjalan lebih cepat dari yang ia duga, dunia mulai menyadari berlian yang selama ini tertimbun lumpur.
"Arumi," panggil Adrian lembut saat istrinya sedang menyiapkan tempat tidur.
"Suatu hari nanti orang tidak akan melihatmu sebagai asisten siapa pun, mereka akan melihatmu sebagai bintang yang paling terang dan saat itu tiba maka aku akan menjadi orang pertama yang berdiri di depan untuk bertepuk tangan untukmu."
.
.
Cerita Belum Selesai.....
...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...
...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...
...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...
...VOTE 💌...
...LIKE 👍🏻...
...KOMENTAR 🗣️...
...HADIAHNYA 🎁🌹☕...
kpn kau sadar, heran seneng amat lihat suami tersiksa, jd sebel Ama Rumi jdnya sok yes 😡😡