Marvel Dewangsa sadar bahwa hatinya sudah lama mati. Mungkin dari pengkhianatan oleh wanita yang ia sayangi, ditambah ia yang berkecimpung di dunia bawah yang tidak memerlukan simpati untuk bertahan hidup. Ia akhirnya percaya bahwa hidupnya akan seallau gelap sampai mati.
Namun, entah keajaiban apa, di hari itu seorang wanita yang bernama Elara , datang dan perlahan selalau ada di kehidupannya. Apakah marvel Dewangsa akan menerima Elara di kehidupannya dan hatinya akan luluh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erinaCalistaAzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
hasil USG
Marvel menyingkirkan semua urusan darah sejenak. Hari ini adalah jadwal pemeriksaan USG pertama Elara. Meskipun Marco telah menempatkan penembak jitu di setiap atap gedung rumah sakit dan menyisir setiap lorong, marvel tetap tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya.
Di dalam ruang periksa yang redup, "The Glacier" berdiri kaku di samping tempat tidur. Wajahnya yang biasanya tanpa ekspresi tampak tegang saat dokter mulai mengoleskan gel dingin ke perut Elara.
Momen ini menjadi titik balik kemanusiaan bagi marvel:
Detak Jantung Pertama: Saat suara dug-dug, dug-dug yang cepat menggema di ruangan, marvel terpaku. Itu adalah suara kehidupan, kontras dengan suara kematian yang biasa ia dengar. Matanya yang abu-abu baja mulai berkaca-kaca—sesuatu yang bahkan Marco pun belum pernah melihatnya..
Sosok di Layar: Dokter menunjuk sebuah titik kecil yang berkedip di monitor. "Ini anak Anda, Tuan Dewangsa. Sehat dan sangat kuat." Marvel menggenggam tangan Elara erat, jemarinya yang kasar bergetar hebat. Di layar itu, ia melihat masa depannya, bukan lagi sebagai bos mafia, tapi sebagai seorang Ayah.
Sumpah dalam Keheningan: Sambil menatap monitor, marvel membatin sebuah janji gelap. Siapa pun yang berani menghentikan detak jantung ini, aku akan menghapus nama mereka dari muka bumi.
Kewaspadaan Marco: Di luar pintu, Marco berdiri membelakangi ruangan, tangannya selalu berada di dekat senjata. Melalui earpiece, ia mendengar suara detak jantung bayi itu. Marco tersenyum tipis; ia tahu sekarang ia memiliki dua nyawa yang harus ia lindungi dengan nyawanya sendiri.
Saat mereka keluar dari rumah sakit, marvel memeluk Elara dengan sangat protektif, melindunginya dari kilatan lampu kamera atau potensi ancaman. Ia memberikan foto USG itu kepada Marco untuk disimpan di brankas paling aman..
"Marco," panggil marvel saat mereka di dalam mobil.
"Ya, Bos?"
"Siapkan serangan ke The Ghost malam ini. Aku tidak ingin anakku lahir di dunia di mana hantu itu masih bernapas."
Pemeriksaan USG tadi mengonfirmasi bahwa usia kehamilan Elara telah memasuki minggu ke-12 atau akhir trimester pertama. Bagi marvel, angka 12 bukan sekadar penanda waktu, melainkan hitungan mundur menuju tanggung jawab terbesar dalam hidupnya.
Di dalam mobil antipeluru yang melaju pelan, marvel menatap foto hitam-putih hasil USG tersebut dengan intensitas yang tidak pernah ia berikan pada peta strategi mana pun.
Gejolak Perlindungan: marvel tahu bahwa di usia 12 minggu, janin sudah mulai terbentuk sempurna. "Dia sudah punya jari-jari kecil, Marco," bisik marvel pada tangan kanannya tanpa mengalihkan pandangan dari foto itu. Marco hanya mengangguk kaku, namun matanya tetap menyisir jalanan melalui spion.
Perubahan Elara: Elara mulai merasakan morning sickness yang cukup berat, namun ia tetap tersenyum saat melihat kekhawatiran di wajah marvel. Baginya, melihat sang mafia kejam itu panik hanya karena ia mual adalah bukti cinta yang paling nyata.
Instruksi marvel: "Marco, pastikan suplai makanan organik terbaik sampai ke dapur setiap pagi. Dan ganti seluruh tim medis dengan orang-orang yang sudah kukenal sejak kecil. Aku tidak ingin ada celah di usia krusial ini."
Sumpah di Balik Senyap: marvel menyadari bahwa perut Elara yang mulai sedikit menonjol adalah sasaran empuk bagi musuh. Semakin besar usia kehamilan Elara, semakin besar pula "tembok api" yang dibangun Elara di sekelilingnya.
Marvel menyimpan foto USG itu di saku jasnya, tepat di atas jantungnya. Ia menoleh ke arah Elara dan mencium keningnya lama.
"Enam bulan lagi, Elara," gumam marvel rendah. "Enam bulan lagi duniaku akan memiliki pewaris, dan aku akan memastikan dia lahir di kota yang sudah bersih dari semua 'hantu' masa lalu."
Mobil SUV lapis baja itu membelah jalanan pesisir yang berkelok tajam. Marvel duduk di kursi belakang, satu tangannya menggenggam jemari Elara yang hangat, sementara tangan lainnya tetap berada di atas pistol kustom yang terselip di pinggangnya.
Di depan, Marco mengemudi dengan kewaspadaan tingkat tinggi. Matanya terus melirik kaca spion, memantau iring-iringan tiga mobil pengawal yang menjaga mereka dalam formasi diamond.
Suasana dalam perjalanan pulang dari rumah sakit itu mendadak berubah mencekam:
Gangguan Sinyal: Radio panggil Marco tiba-tiba mengeluarkan suara statis yang pekat. "Bos, frekuensi kita disadap. Seseorang sedang memblokir sinyal GPS kita," lapor Marco dengan suara rendah namun tajam.
Penghadangan Terencana: Saat mereka memasuki terowongan gelap yang menembus bukit, sebuah truk kontainer besar tiba-tiba melintang di ujung jalan, menutup akses keluar. Dari arah belakang, dua motor sport hitam melaju kencang, pengendara di belakangnya mengeluarkan senapan mesin ringan.
Reaksi marvel: Tanpa panik, marvel menarik tubuh Elara ke bawah, menekannya ke lantai mobil yang dilapisi baja setebal 5 cm. "Tutup matamu, Elara. Jangan dengarkan apa pun," bisik marvel, suaranya sedingin es yang membeku.
Aksi Marco: Marco menginjak rem dalam-dalam, membuat ban mobil berdecit hebat, lalu melakukan manuver J-turn yang gila di dalam terowongan sempit itu. "Pegangan, Bos! Kita akan menembus mereka!"
Taktaktaktak!
Peluru menghantam kaca depan yang antipeluru, menciptakan retakan putih seperti sarang laba-laba namun tidak tembus. Marco membalas dengan menekan tombol di dasbor—dua senapan mesin tersembunyi di bawah lampu depan mobil mulai memuntahkan peluru, membersihkan jalan dari motor-motor pengganggu.
"Marco, cari jalan tikus! Aku tidak ingin Elara terguncang terlalu keras!" perintah marvel sambil mengokang senjatanya, matanya menatap tajam ke arah kegelapan terowongan.
Di usia kehamilan 12 minggu ini, marvel menyadari bahwa perjalanan pulang yang sederhana pun telah menjadi medan perang.
Marco membanting setir ke kanan, menghantam sebuah pintu besi tua yang tersembunyi di balik dinding beton terowongan. Itu bukan dinding biasa, melainkan akses darurat menuju jalur tambang tua yang sudah dihapus dari peta modern kota.
"Pegangan!" seru Marco saat mobil SUV lapis baja mereka terguncang hebat menuruni jalan tanah yang curam dan gelap.
Labirin Kegelapan: Jalur ini sempit, hanya menyisakan beberapa sentimeter antara bodi mobil dan dinding gua yang kasar. Marco mematikan lampu utama dan hanya menggunakan lampu infrared. Di layar dasbor, jalanan terlihat hijau pucat—tak terlihat oleh musuh yang mengejar dari atas.
Perlindungan marvel: Di kursi belakang, Marvel tidak melepaskan pelukannya pada Elara. Ia memposisikan tubuhnya sebagai perisai manusia, menahan guncangan agar perut Elara tidak terbentur. "Bernapaslah, Elara. Hanya beberapa menit lagi," bisik marvel, suaranya tetap stabil meski mobil miring hampir 45 derajat.
Jebakan Marco: Marco menekan tombol di konsol tengah. Di belakang mereka, ranjau paku dan granat asap otomatis terlepas dari bumper belakang, menutup jejak mereka bagi siapa pun yang cukup berani untuk mengikuti ke dalam lubang kelinci ini.
Pintu Keluar Rahasia: Setelah lima menit yang terasa seperti selamanya, cahaya bulan kembali terlihat. Mereka muncul di sebuah gudang anggur tua yang terbengkalai, kilometer jauhnya dari lokasi penyergapan di terowongan.
Marco menghentikan mobil. Hening sejenak. Hanya suara mesin yang mendingin dan napas Elara yang memburu.
"Area bersih, Bos. Unit pendukung sudah menunggu di dermaga bawah," lapor Marco sambil memeriksa senjatanya.
marvel perlahan melepaskan dekapannya, menatap wajah Elara yang pucat. Amarahnya kini meluap melampaui batas. Ia menoleh ke arah Marco melalui spion tengah.
"Marco, cari tahu siapa yang memberikan koordinat jalan pulang kita hari ini. Aku ingin kepalanya di atas meja makan malam ini."
"Sudah diproses, Bos," jawab Marco dingin. "Informannya ada di dalam tim medis tadi."
Marvel kini dihadapkan pada pilihan sulit: mengeksekusi pengkhianat itu di depan Elara untuk memberi pelajaran, atau membawa elara ke tempat yang lebih jauh—sebuah pulau pribadi yang tak terjangkau radar?
Marvel tidak memilih pulau pribadi. Baginya, melarikan diri adalah tanda kelemahan, dan ia tidak akan membiarkan pengkhianat bernapas sedetik pun setelah membahayakan pewarisnya.
Ia membawa elara masuk ke paviliun belakang yang kedap suara, memastikan istrinya aman bersama pelayan kepercayaan, sementara ia dan Marco melangkah menuju ruang interogasi di bawah gudang anggur tersebut.
Di tengah ruangan, seorang pria dengan seragam paramedis—orang yang tadi membantu proses USG Elara—terikat di kursi besi. Wajahnya pucat pasi saat melihat bayangan marvel yang menjulang di ambang pintu.
Eksekusi yang dilakukan marvel adalah keadilan yang dingin:
Interogasi Tanpa Suara: marvel tidak bertanya. Ia mengeluarkan foto USG yang tadi disimpan di saku jasnya, meletakkannya tepat di depan mata si pengkhianat. "Kau melihat detak jantung ini tadi?" suara marvel pelan, namun mengandung daya ledak yang mengerikan. "Kau menjual koordinat nyawa ini seharga berapa?"
Efisiensi Marco: Marco berdiri di sudut, memegang alat pelacak sinyal yang ditemukan di saku si medis. "Dia mengirim pesan ke frekuensi Mikhailov yang tersisa, Bos. Bayarannya hanya janji perlindungan."
Putusan Sang Glacier: marvel melepaskan jam tangan Rolex-nya, menggulung lengan kemeja putihnya yang kini ternoda debu terowongan. Ia mengambil pisau bedah yang dibawa si pengkhianat di tas medisnya. "Kau menggunakan profesi suci untuk membunuh anakku. Maka kau akan mati dengan alatmu sendiri."
Detik Terakhir: marvel tidak membiarkan pria itu berteriak. Dengan satu gerakan presisi yang dipelajarinya bertahun-tahun di dunia hitam, ia memutus jalur komunikasi di leher si pengkhianat. Cepat, sunyi, dan mematikan.
Marvel berdiri, merapikan kembali lengan kemejanya. Ia menatap Marco yang sedang membersihkan noda darah di lantai dengan kain profesional.
"Buang sampahnya ke laut, Marco. Jangan biarkan Elara mencium bau ini," perintah marvel datar.
Marvel kembali ke paviliun. Sebelum menyentuh pintu kamar Elara, ia membasuh wajah dan tangannya hingga benar-benar bersih. Saat ia masuk, Elara sedang duduk di sofa, mengusap perutnya yang sudah mulai tenang.
"Sudah selesai, marvel?" tanya Elara pelan, matanya seolah tahu apa yang baru saja terjadi.
Marvel duduk di sampingnya, menarik kepala Elara ke bahunya. "Sudah, Sayang. Tidak ada lagi duri di dalam rumah kita."
marvel menyadari bahwa untuk menjaga kesucian Elara dan bayinya, tangannya harus tetap kotor. Ia adalah monster yang menjaga malaikat.