Anindira Cewek yang dikenal “bar-bar”. Ceplas-ceplos, berani ribut kalau diremehin, dan gak pernah mau kalah. Di balik kerasnya, Dira cuma capek terus disalahpahami. Ia takut jadi lemah—padahal yang ia butuhin cuma dimengerti. Meskipun bar-bar dia juga memiliki sisi rasa penakut , terlebih pada hal - hal yang berbau horor
Elvan Bagaskara
CEO muda yang dingin di cap ceo dingin , rapi, dan perfeksionis. Hidupnya dikontrol logika. Emosi dianggap gangguan. Terlihat kuat, padahal ia memikul tanggung jawab terlalu berat di usia muda.
Albian Bagaskara
Adik Elvan Satu sekolah dengan Dira . Pendiam dingin, dan tertutup. Tidak suka konflik, tapi selalu ada di saat orang lain diserang. Cara pedulinya sunyi, itu yang membuat tidak terlihat .
Bagaimana jadinya .Dira cewek bar -bar bertemu Ceo dingin dan terjebak dalam kisah yang rumit antara Elvan dan Albian .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 13
Sejak malam itu, ada yang berubah ?.
Dira tetap Dira.
Ribut. Ceroboh. Bar-bar.
Elvan tetap Elvan.
Dingin. Tenang. Sulit ditebak.
Tapi ada jarak yang makin tipis.
Di sekolah, Dira duduk di bangku sambil menopang dagu.
Sinta meliriknya.
“Heyy dir. kenapa bengong?”
Dira langsung menyangkal.
“Nggak bengong!”
“Terus kenapa senyum-senyum sendiri?”
Dira refleks menutup mulutnya.
Ia teringat bagaimana Elvan mengurangi kecepatan mobil agar ia tidak terbangun.
Teringat bagaimana berdebar jantungnya saat dekat dengan elvan.
“Ah, apaan sih,” gumamnya.
Tanpa ia sadari, kenyamanan itu tumbuh pelan.
Bukan deg-degan heboh.
Tapi rasa aman.
Dan itu justru lebih berbahaya.
***
Bel istirahat berbunyi nyaring di seluruh sekolah.
Seperti biasa, kantin langsung penuh oleh siswa yang lapar setelah pelajaran panjang.
Di salah satu meja dekat jendela, Dira sudah duduk lebih dulu dengan nampan penuh makanan.
Sinta yang baru datang langsung melongo.
“Dira… itu makanan buat satu kelas?”
Dira dengan santai menggigit bakso.
“Ini masih pemanasan.”
Bayu yang ikut duduk hanya geleng-geleng kepala.
“Dir kamu kalau makan kayak orang yang baru keluar dari hutan.”
Dira menunjuk sendoknya ke Bayu.
“Aku tuh menghargai makanan.”
Sinta menyenggolnya.
“Bohong. kamu cuma doyan.”
Dira tertawa lepas.
Suasana di meja mereka selalu ramai. Berisik. Tidak pernah sepi.
Di sisi lain kantin, beberapa siswa mulai berbisik.
“Eh itu Albian murid pindahan kan …”
Albian baru saja masuk ke kantin.
Seperti biasa, langkahnya tenang. Wajahnya datar. Auranya dingin.
Banyak yang memperhatikannya, tapi Albian tidak peduli.
Matanya hanya mencari satu orang.
Dan tentu saja langsung menemukan Dira yang sedang makan seperti lomba.
Sinta ikut menoleh.
“Eh itu si Albian.”
Bayu menyikut Dira.
“Fans kamu datang dir ”Canda Bayu
Dira mengangkat alis.
“Fans apaan.”
Tiba-tiba sebuah bayangan berdiri di depan meja mereka.
Albian.
Dira menatapnya sambil masih mengunyah.
“Kenapa?”
Albian hanya menunjuk kursi kosong.
“Boleh duduk?” Tanya albian
Sinta dan Bayu langsung saling pandang dengan senyum usil.
“Silakan,” kata Bayu cepat.
Albian duduk dengan tenang.
Dira masih sibuk makan mie goreng.
Albian memperhatikan sebentar lalu berkata datar.
“Kamu makan banyak juga ya .”
Dira langsung menelan cepat.
“Hehe. Gak juga kok ”
“Bagus .” puji albian
"Hah.. Apanya yang bagus ?" Dira tak paham .Sedangkan albian hanya terkekeh pelan
Hening beberapa detik.
Lalu Dira menunjuk piringnya.
“Mau?”
Sinta hampir tersedak minumnya.
“DIRA!”
Albian menatap piring itu sebentar.
“Enggak .”
“Rugi,” jawab Dira santai.
Sinta mendekatkan wajahnya ke Bayu dan berbisik pelan.
“Ini pertama kalinya Dira dekat dengan cowok. duduk bersama lagi di kantin.” Bisiknya karna selama ini dira tidak pernah dekat dengan cowok selain Bayu.
Bayu mengangguk.
“Dan orang itu.Keren juga ya bisa deketin dira" Balas Bayu " Aku aja butuh waktu lama " lanjutnya lagi
Dira tidak peduli dengan bisikan mereka.
Tapi menatap tajam kearah mereka .
Dan kembali menatap Albian.
" Kenapa kamu diem terus sih?”
" Bahkan saat di kantor om el ,Jarang ketemu " Timpal dira lagi
Albian sedikit mengangkat bahu.
“Memang begitu. Sibuk sama kerjaaan sekarang ”
" Sama aja tau kamu tuh kaya om elvan " Dira terkekeh
" Kan aku adek nya "
" Eh.. iya juga ya .. sama-sama dingin" Dira semakin mengeraskan tawanya , Sedangkan albian hanya tersenyum .Tawa dira mampu menghipnotisnya untuk tidak berhenti menatap.
“Capek tau ngobrol sama orang yang jawabnya dua kata.” Dira pura-pura merajuk
Bayu langsung menimpali.
“Dira butuh lawan ribut.”
Dira mengangguk serius.
“Betul.”
Untuk pertama kalinya, sudut bibir Albian semakin naik sedikit.
Senyum tipis yang semakin terlihat.
Suasana kantin masih ramai oleh suara siswa yang tertawa dan bercanda.
Di meja dekat jendela, Dira masih ribut seperti biasa bersama Sinta, Bayu, dan Albian.
Dira baru saja menghabiskan satu piring mie goreng lagi.
Bayu memandangnya dengan ekspresi pasrah.
“Aku yakin perut kamu itu punya dimensi lain dir .”
Dira menyenggol bahunya.
“Ishh Iri bilang ”
Sinta tertawa keras
Sementara itu, Albian hanya duduk tenang sambil memperhatikan Dira yang terus bicara tanpa berhenti.
Kadang ia hanya menjawab pendek.
Tapi entah kenapa… ia tidak pergi.
Dira tiba-tiba menunjuk minuman Albian.
“Kamu nggak minum?”
“Minum.”
“Ya diminum dong, bukan dipajang.”
Bayu menepuk meja.
“Dira, Kamu tuh kayak emak-emak.”
" Mau aku lempar sama nih mangkok"
Sinta dan Bayu tertawa lagi.
Albian hanya menatap Dira sebentar.
Sudut bibirnya naik kembali .
Namun tidak semua orang di kantin menikmati pemandangan itu.
Di sisi lain kantin, dekat tembok belakang, Vina berdiri bersama temannya .
Tatapan mereka semua mengarah ke satu meja.
Meja tempat Dira duduk.
Vina menyilangkan tangan dengan wajah kesal.
“Lihat tuh bar-bar .”
Salah satu temannya ikut melirik.
“Iya, makin songong aja.”
“Padahal cuma cewek barbar,” sambung yang lain.
Vina mendengus.
“Yang bikin gue kesel bukan itu.”
Matanya menajam ke arah Albian.
“Kenapa Albian malah duduk sama dia sih?”
Temannya mengangkat bahu.
“Siapa tahu dia suka.”
Kalimat itu membuat wajah Vina langsung berubah.
“Apa?!”
Temannya cepat menggeleng.
“Bukan maksud ak—”
Vina kembali menatap meja itu.
Dira tertawa keras sambil memukul meja.
Albian masih duduk di sampingnya.
Dan itu cukup membuat darah Vina mendidih.
“Dia itu nggak pantas,” gumam Vina dingin.
Salah satu temannya mendekat.
“Terus kamu mau apa?”
Vina tersenyum tipis .Senyum yang tidak menyenangkan.
“Kita kasih pelajaran sedikit.”
“Pelajaran?”
Vina mengangguk.
“Biar dia tahu tempatnya.”
Temannya terlihat tertarik.
“Rencananya?”
Vina melirik ke arah meja minuman kantin.
Lalu kembali menatap Dira.
“Kita lihat nanti dia pulang sama siapa ?”
“Iya.”
“Aku lihat biasanya dia dijemput”
Temannya mulai mengerti.
“Kamu mau…”
Vina mengangguk pelan.
“Kita bikin dia malu di depan semua orang.”
Salah satu temannya tertawa kecil.
Salah satu temannya tertawa kecil.
“Kasih jebakan?”
“Lebih dari itu,” kata Vina.
Tatapannya kembali ke arah Dira.
Yang saat itu masih tertawa tanpa tahu apa pun.
“Kalau dia suka jadi pusat perhatian…”
Vina tersenyum dingin.
“Besok kita pastikan semua mata melihatnya. Menjijikan ”
Di meja lain…
Dira tiba-tiba bersin.
“Hachii!”
Sinta kaget.
“Kenapa?”
Dira menggosok hidungnya.
“Nggak tahu. Tiba-tiba merinding.”
Bayu tertawa.
“Pasti ada yang ngomongin kamu dir .”
Dira langsung mengangkat bahu.
“Biarin.”
Ia kembali makan dengan santai.Tidak tahu bahwa di sudut kantin…
Seseorang sedang merencanakan sesuatu yang tidak baik untuknya.
***
Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi.
Siswa-siswa mulai keluar dari gerbang sekolah dengan wajah lega setelah pelajaran panjang.
Di depan gerbang, Albian berdiri bersandar di motornya.
Matanya langsung mencari satu orang.
Dan seperti biasa… ia menemukannya dengan mudah.
Dira berjalan keluar sambil memasukkan ponselnya ke tas.
“ Kok kamu masih di sini?”
Albian menjawab singkat.
“Pulang.”
Dira mengangkat alis.
“Ya pulang lah, masa camping.”
Albian menatapnya datar.
“Bareng.”
Dira langsung menggeleng cepat.
“Nggak usah.”
Albian sedikit mengernyit.
“Kenapa?”
Dira menunjuk jalan.
“Aku nunggu dijemput abang aku ”
“Lama gak? Nanti gak aman ”
Dira malah tertawa kecil.
“Tenang aja. Aku bukan anak kecil. Aman kok”
" Beneran gak mau bareng ?" tanya albian memastikan sekali lagi
" Iyaa enggak " Balas dira
Tanpa menunggu jawaban lagi, Dira langsung berjalan pergi menuju sisi kiri gerbang.
Albian hanya memandang punggungnya.
Ada rasa tidak enak di dadanya… tapi ia tidak memaksanya. Kemudian pergi meninggalkan sekolahan.
Sementara itu…
Di seberang jalan, Vina berdiri bersama dua temannya.
Ia melihat semuanya.
Dira berdiri sendirian.
Persis seperti yang ia harapkan.
Vina tersenyum tipis.
“Tunggu sampai dia jalan .”
Di dekat warung kecil, dua pria bertubuh besar berdiri.
Preman yang ia sewa.
Vina menunjuk ke arah Dira yang berjalan menjauh.
“Yang pakai jaket hitam itu.”
Salah satu preman menyeringai.
“Tenang aja. Akan kami bereskan dan jangan lupa bayaran kami ”
" Tenang aja " Vina menyeringai
Bersambung.......