NovelToon NovelToon
Luminar

Luminar

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:835
Nilai: 5
Nama Author: Nostalgic

Dunia telah retak, bukan hanya di permukaannya, melainkan di benak dan jiwa segala yang bernyawa. Kegelapan Umbra bukan sekadar musuh yang bisa ditusuk pedang, melainkan kabut tebal yang memisahkan hati dari hati, harapan dari kenyataan, dan cahaya dari tempatnya berpijak. Alam semesta kini hanyalah kepingan-kepingan kaca yang pecah, masing-masing memantulkan bayangan kesendirian yang suram, menunggu tangan yang berani menyatukannya kembali.

Di tengah kehampaan itu, hadirlah Luminar. Bukan sebagai benda, bukan pula sebagai sosok yang bisa dipeluk atau dilihat mata telanjang. Luminar adalah bisikan yang melayang di sela-sela angin, adalah denyut nadi yang tak terlihat namun terasa di setiap detak jantung yang masih berharap. Ia adalah entitas misterius yang wujudnya berubah-ubah bagaikan cahaya yang menembus prisma—kadang berupa aurora yang menari di langit malam, kadang berupa kilatan samar yang hanya muncul di sudut mata saat kita merasa paling sepi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nostalgic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Kerja Sama Mematikan dan Aura Kematian Baru

Serangan dari Pasukan Timur yang bertubi-tubi menjadi titik balik pertempuran itu, namun monster hiu raksasa itu tidak sekadar menyerah. Tubuhnya yang besar dan kuat masih mampu melawan balik dengan ganas. Ia kini terbagi fokusnya—satu sisi ia harus menghadapi hantaman keras dari Luminar yang tak kenal lelah, dan di sisi lain, rasa perih akibat tembakan energi dan roket yang terus-menerus menghujam titik lemahnya membuatnya semakin emosi dan kewalahan. Namun, kemarahan itu justru membuat serangannya menjadi lebih liar dan mematikan.

"Fokuskan tembakan ke insang kanan! Dia kesakitan, tapi jangan lengah! Dia masih kuat!" teriak Komandan Raka dari Pasukan Timur, suaranya penuh semangat namun waspada saat melihat hiu itu menyapu ekornya secara acak.

"Siap, Komandan!" sahut para prajurit serempak. Sinar-sinar energi kembali melesat, kali ini lebih terarah dan akurat, namun beberapa di antaranya terpental saat mengenai kulit hiu yang sangat tebal di bagian tertentu.

Melihat lawannya terganggu namun masih mematikan, Heras yang berada di dalam wujud Luminar langsung menyadari peluang emas itu. "Sekarang! Aku harus menahannya agar kalian bisa menyerang!" batinnya berteriak. Dengan gerakan secepat kilat, Luminar melompat ke belakang tubuh hiu itu, menghindari sapuan ekor yang putus asa namun dahsyat—angin dari ayunan itu bahkan membuat tanah terkikis—lalu mencengkeram erat sirip ekornya dengan kedua tangannya yang kekar. Jari-jarinya menancap sedikit ke dalam daging hiu yang keras.

NGARRRRR! Hiu itu meraung marah yang memekakkan telinga, mencoba melepaskan diri dengan menggoyangkan tubuhnya dengan ganas ke kiri dan ke kanan, bahkan mencoba membenturkan tubuhnya ke dinding bangunan yang masih berdiri. Namun Luminar memegangnya erat-erat, kakinya menancap kuat ke tanah yang retak, menahan beban dan kekuatan yang luar biasa itu hingga tumitnya membuat lubang di beton. Otot-otot tubuhnya menegang sekuat tenaga, urat-urat tampak menonjol di leher dan lengannya.

"Pasukan Barat, Utara, Selatan! Apa kalian masih diam saja? Bantu kami! Ini saatnya mengakhiri ini sebelum dia lepas dan menghancurkan kita semua!" seru Raka lagi lewat saluran komunikasi, memancing pasukan lain yang sejak tadi hanya menonton dengan cemas.

Melihat keberhasilan Pasukan Timur dan keteguhan Luminar yang berjuang demi mereka, keraguan di hati pasukan lain akhirnya luntur sepenuhnya.

"Ayo kita bantu! Aku tidak tahan melihatnya berjuang sendirian sementara kita hanya menonton!" teriak salah satu prajurit Pasukan Selatan, suaranya penuh penyesalan dan semangat.

"Benar! Kita semua satu tujuan! Serang monster itu! Tunjukkan bahwa kita bukan pengecut!" seru Komandan Joko, tak lagi ragu, dan langsung memerintahkan pasukannya untuk maju.

"Pasukan Utara, maju! Dukung Luminar dan Pasukan Timur! Fokuskan serangan pada mata dan perutnya yang lebih tipis!" perintah Komandan Bayu, akhirnya mengambil keputusan tegas.

"Pasukan Barat juga tidak mau kalah! Mari kita tunjukkan kekuatan kita! Serang! Jangan beri dia celah bernapas!" seru Darto, menyusul dengan penuh semangat.

Dalam sekejap, suasana medan pertempuran berubah total menjadi neraka bagi monster hiu itu. Keempat arah pengepungan—Barat, Utara, Timur, dan Selatan—bergerak serentak. Ribuan tembakan energi, peluru tajam, roket peledak, dan serangan sihir elemen meluncur bersamaan, membentuk hujan serangan yang mematikan dan indah sekaligus, semuanya mengarah ke satu target: monster hiu raksasa yang kini terperangkap dan tidak bisa bergerak bebas karena cengkeraman Luminar.

Luminar, yang kini didukung penuh oleh seluruh pasukan, merasakan aliran energi yang luar biasa. Kerja sama ini terasa begitu kompak, seolah mereka telah berlatih bersama selama bertahun-tahun. Luminar menjadi ujung tombak yang menahan dan menyerang dari jarak dekat—ia meninju sisi tubuh hiu berulang kali dengan kekuatan penuh, membuat tulang-tulang di dalamnya terdengar berderak—sementara pasukan menjadi sayap penyerang yang melumpuhkan lawan dari kejauhan. Setiap kali hiu itu mencoba memutar tubuh atau menggigit, tembakan-tembakan akurat dari pasukan membuatnya tersentak dan kehilangan fokus, memberikan kesempatan bagi Luminar untuk mendaratkan serangan lagi.

Hiu itu meraung kesakitan dan keputusasaan yang tak terhingga. Tubuhnya yang besar kini penuh dengan luka bakar, goresan dalam, dan lubang-lubang akibat tembakan dan pukulan. Darah hitam dan kental mengalir deras dari tubuhnya, membasahi tanah di sekitarnya hingga menjadi lumpur merah pekat. Matanya yang tajam kini menyiratkan ketakutan dan keputusasaan. Dengan sisa tenaganya, ia mencoba melakukan serangan terakhir yang gila. Ia menarik tubuhnya sekuat tenaga, mencoba memutar seluruh badannya seperti sebuah gergaji raksasa, berharap bisa melempar Luminar dan menghancurkan pasukan di sekitarnya.

"Jangan biarkan dia lepas! Tembak lebih keras!" teriak Heras dalam hati, mengerahkan seluruh kekuatan mental dan fisiknya untuk tetap memegang ekor hiu itu. Tubuhnya ikut terputar, namun ia tidak melepaskan cengkeramannya sedikit pun.

Pasukan pun mengerti. Mereka menembakkan segala yang mereka miliki—peluru terakhir, energi terakhir, roket terakhir. Serangan itu menghujam hiu itu tanpa henti, membuat pergerakannya melambat dan semakin lemah.

Akhirnya, hiu itu berhenti bergerak sejenak, napasnya tersengal-sengal, tubuhnya gemetar hebat karena kehabisan tenaga dan kehilangan banyak darah.

"Sekarang! Akhiri ini!" batin Heras berapi-api. Ia melepaskan cengkeramannya pada ekor hiu, lalu dengan dorongan energi yang tersisa, ia melompat tinggi ke udara—lebih tinggi dari sebelumnya—melayang di atas kepala monster itu. Seluruh energi yang tersisa di tubuhnya ia kumpulkan, ia pusatkan ke satu titik: kaki kanannya yang kuat. Cahaya biru dan putih yang menyilaukan mulai berputar mengelilingi kakinya, semakin lama semakin terang dan besar, membentuk wujud samar yang menyerupai kepala dan tubuh seekor naga yang sedang menderu dengan ganas. Skala naga itu tampak jelas, matanya merah menyala, dan mulutnya terbuka seolah mengeluarkan api energi.

Energi itu begitu dahsyat hingga membuat udara di sekitarnya bergetar hebat, dan bahkan para pasukan di bawah merasa tertekan hingga sulit bernapas, harus menundukkan kepala karena cahaya dan tekanan yang luar biasa itu.

"Luapan Energi: Tendangan Naga!"

Dengan teriakan batin yang menggelegar, Luminar mengayunkan kakinya ke bawah dengan sekuat tenaga yang ada. Sosok naga energi yang terbentuk itu melesat bersama tendangannya, bagai kilat yang menyambar bumi, membawa kehancuran bagi apa pun yang dilaluinya.

BOOOOOMMMM!!!

Ledakan yang luar biasa dahsyat terjadi saat tendangan itu menghantam tepat di tengah kepala monster hiu. Cahaya yang menyilaukan meledak seketika, gelombang kejut yang kuat menyebar ke segala arah dengan kecepatan tinggi, membuat puing-puing di sekitarnya terlempar jauh hingga ratusan meter dan tanah retak lebar membentuk kawah raksasa. Suara ledakan itu terdengar hingga ke jarak berkilo-kilometer, mengalahkan bahkan suara auman monster itu sendiri dan gemuruh pertempuran sebelumnya.

Perlahan-lahan, cahaya dan debu mulai mereda. Di tengah kawah besar yang mengeluarkan asap panas itu, tubuh monster hiu raksasa itu tergeletak tak bergerak, kepalanya hancur parah, matanya yang tajam kini kosong dan sayu. Nafasnya sudah tiada. Monster itu akhirnya tumbang sepenuhnya, dikalahkan oleh kerja sama yang solid dan tak kenal menyerah antara manusia dan Luminar.

[Monster Hiu Raksasa telah dikalahkan!]

[Exp diperoleh: 95 poin!]

[Level Up! Luminar kini Level 8!]

[Kemampuan Baru Didapatkan: Tendangan Naga (Skill Khusus - Tingkat B)]

Suara sistem terdengar jelas di benak Heras, memberitakan kenaikan level yang signifikan. Tubuh Luminar perlahan turun dan mendarat di tanah, napasnya terengah-engah. Ia merasakan energinya terkuras habis setelah mengeluarkan serangan pamungkas itu, tersisa hanya setengah dari kapasitas maksimalnya. 10015/10015 kini berubah menjadi 5007/10015. Kakinya terasa lemas dan bergetar, namun hatinya penuh dengan rasa bangga dan lega yang luar biasa.

Sorak-sorai kegembiraan meledak dari seluruh pasukan. "Kita menang! Kita menang!" teriak mereka, saling berpelukan, melompat-lompat, dan mengangkat senjata mereka tinggi-tinggi. Beberapa prajurit bahkan menangis haru, merasa lega karena bahaya besar telah berlalu. Mereka berlari mendekati Luminar, kali ini bukan dengan rasa takut atau curiga, melainkan dengan rasa hormat, syukur, dan kekaguman yang mendalam.

"Luminar! Luminar! Luminar!" teriak mereka serempak, menyebut nama itu sebagai pahlawan penyelamat mereka.

Namun, sorak-sorai yang meriah itu tidak berlangsung lama.

Tiba-tiba, tanpa ada tanda-tanda sebelumnya, tanah di bawah kaki mereka mulai bergetar pelan. Getaran itu semakin lama semakin kuat, semakin cepat, hingga akhirnya berubah menjadi guncangan hebat yang membuat semua orang kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk atau terguling.

GUMMMMM... WRRRROOOOOM!

Suara gemuruh yang mengerikan terdengar dari dalam perut bumi, seolah-olah bumi sedang mengaum marah atau hendak terbelah menjadi dua. Bangunan-bangunan yang masih berdiri kokoh runtuh seketika, retakan-retakan besar mulai muncul di tanah, memanjang ke mana-mana seperti jaring laba-laba raksasa yang siap menelan apa pun di sekitarnya. Langit yang tadi cerah seketika menjadi gelap gulita, awan hitam berkumpul dengan kecepatan yang tidak wajar, menciptakan suasana yang mencekam, suram, dan menakutkan.

Heras, yang masih dalam wujud Luminar, terhuyung mencoba berdiri tegak, berpegangan pada satu kaki yang masih kuat menopang tubuhnya yang lelah. Namun, apa yang ia rasakan selanjutnya membuat darahnya seakan membeku dan berhenti mengalir.

Sebuah kehadiran... sebuah kehadiran yang sangat luar biasa besar dan kuat tiba-tiba menyelimuti seluruh area itu. Bukan hanya area perumahan 4A, tapi seakan mencakup seluruh kota, bahkan mungkin lebih jauh lagi hingga ke cakrawala. Itu adalah kehadiran yang dipenuhi dengan kejahatan yang sangat kental, hitam pekat, dan murni—seperti kegelapan abadi yang tidak bisa ditembus cahaya. Bersamaan dengan itu, aura membunuh yang sangat dingin, tajam, dan mematikan menyebar ke segala arah, membuat suhu udara di sekitarnya turun drastis hingga terasa seperti berada di tengah musim dingin abadi yang membekukan tulang.

Heras merasakan kakinya gemetar hebat, bukan karena kelelahan akibat pertarungan tadi, melainkan karena rasa takut yang murni dan mendasar—rasa takut yang muncul dari naluri survival saat menghadapi sesuatu yang jauh lebih kuat dan berbahaya dari apa pun yang pernah ia temui. Rasanya seolah ia adalah seekor semut yang sedang berdiri di hadapan dewa kematian, atau seekor burung kecil di hadapan elang raksasa yang siap menerkam. Aura itu begitu kuat hingga membuat jantungnya berdegup kencang seakan hendak meledak, napasnya tersengal-sengal seolah ada beban berat yang menindih dadanya, dan pikirannya menjadi kacau balau.

Bahkan para pasukan yang tadi bersorak kegirangan kini terdiam kaku seketika. Wajah mereka pucat pasi, tubuh mereka gemetar hebat, mata mereka terbelalak ketakutan, dan tak satu pun dari mereka yang mampu bergerak sedikit pun di bawah tekanan aura yang mengerikan itu. Mereka seolah diparalisasi oleh ketakutan murni.

Apa atau siapa yang hadir? Mengapa kejahatan yang begitu dahsyat ini muncul tepat setelah kemenangan mereka? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar liar di kepala Heras, sementara rasa genting yang luar biasa mulai menyelimuti hatinya, seolah malapetaka yang sesungguhnya—bencana yang jauh lebih besar dari monster hiu raksasa mana pun—baru saja dimulai.

1
Nasipelang
lego euy
Nasipelang
rasa sakit ini, adalah bukti bahwa aku masih hidup
Anonymous
oke
Anonymous
kece
Anonymous
mc nya menderita saya suka
Nasipelang
awalnya ngebosenin, tapi lama-lama seru juga
Anonymous
oke
Anonymous
bujet
Anonymous
baru aja kenalan udah ditinggal ama luminar
Anonymous
uwihh level up coyy
Anonymous
kasihan mc nya jir
Anonymous
mirip nexus yah
Anonymous
kena de javu
Nasipelang: de javu nya apa
total 1 replies
Anonymous
jirr
Arctic General
Sangat bagus... kek ultraman 🗿
Arctic General
up thorr oii🦖
Arctic General
Buset kek ginga🗿
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!