NovelToon NovelToon
Gacha Sultan: Auto Kaya Sejagat Jakarta

Gacha Sultan: Auto Kaya Sejagat Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Harem
Popularitas:161k
Nilai: 5
Nama Author: DipsJr

Raka Adiyaksa adalah definisi nyata dari "Sobat Misqueen". Mahasiswa biasa yang rela makan mie instan diremas setiap akhir bulan demi menabung untuk gebetannya, Tiara. Namun, pengorbanannya dibalas dengan pengkhianatan. Di malam konser yang seharusnya menjadi momen pernyataan cintanya, Raka justru melihat Tiara turun dari mobil mewah milik Kevin, anak orang kaya yang sombong, sementara Raka ditinggalkan sendirian di trotoar GBK dengan dua tiket yang hangus.

Di titik terendah hidupnya, saat harga dirinya diinjak-injak, sebuah suara mekanis berbunyi di kepalanya.

[DING! Sistem Sultan Gacha Tanpa Batas Telah Diaktifkan!]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Menjadi Badut dan Sistem Sultan

Jakarta, Kawasan Stadion Utama Gelora Bung Karno.

Malam minggu di Jakarta selalu punya cara sendiri untuk mencekik mereka yang kesepian. Udara malam yang lembap bercampur dengan aroma aspal panas, asap knalpot, dan samar-samar wangi parfum mahal dari ribuan manusia yang memadati pelataran stadion.

Di tengah lautan manusia yang antusias menanti gerbang konser dibuka, seorang pemuda berdiri gelisah di dekat trotoar. Keringat dingin membasahi punggung kemejanya yang sudah agak kusut.

Namanya Raka.

Tangan kanannya menggenggam ponsel erat-erat, sementara tangan kirinya meremas saku celana, memastikan dua lembar tiket konser mahal itu masih aman di sana. Tiket yang dibelinya dengan memeras keringat dari kerja paruh waktu selama tiga bulan, makan mie instan setiap akhir bulan, hanya demi malam ini.

"Halo? Tiara?"

Raka berbicara ke arah ponselnya dengan nada mendesak, berusaha mengalahkan kebisingan suara klakson dan teriakan calo tiket di sekitarnya.

"Kamu di mana? Gate-nya bentar lagi dibuka, lho. Kalau telat nanti kita dapet spot jelek..."

Ada nada memohon dalam suaranya. Wajar saja, Raka sudah merencanakan ini sejak lama. Tiara bukan sekadar teman kuliah satu jurusan baginya. Dia adalah gadis yang selama setahun terakhir ini menjadi pusat dunianya. Raka sudah menjadi sopir pribadinya, tempat curhatnya, bahkan penyedia hadiah-hadiah kecil yang Raka sendiri sebenarnya tak mampu beli.

Teman-teman tongkrongannya sudah sering menyindir. "Ka, lo itu cuma badut. Cuma ojol gratisan." Tapi Raka menutup telinga. Dia percaya, malam ini, di bawah lampu sorot konser dan lagu romantis, dia akan menyatakan perasaannya.

Namun, jawaban di ujung telepon menghancurkan skenario itu dalam hitungan detik.

"Aduh, Raka... sorry banget ya," suara manja di seberang sana terdengar serak, dibuat-buat. "Perut aku sakit banget dari tadi sore. Kayaknya asam lambung aku kumat deh. Aku nggak bisa dateng. Sumpah, maaf banget ya..."

Jantung Raka mencelos. "Sakit? Kamu butuh obat? Atau aku ke kostan kamu sekarang "

"Nggak usah!" potong Tiara cepat. "Aku cuma butuh tidur. Udah ya, have fun nontonnya. Bye."

Sambungan terputus.

Raka mematung. Hiruk-pikuk di sekitarnya seolah meredam, menyisakan suara dengung di telinganya. Dia menatap layar ponsel yang gelap, lalu menatap dua tiket di tangannya. Sia-sia.

"Mungkin dia beneran sakit..." gumam Raka, mencoba membohongi logikanya sendiri.

Namun, takdir punya selera humor yang brengsek malam itu.

Mata Raka tanpa sengaja menangkap kilatan lampu depan sebuah mobil mewah yang perlahan merayap di tengah kemacetan drop-off zone VIP, tak jauh dari tempatnya berdiri. Sebuah sedan BMW Seri 3 berwarna hitam mengkilap berhenti dengan anggun.

Pintu penumpang terbuka.

Waktu seolah melambat bagi Raka.

Seorang gadis melangkah turun. Kakinya jenjang, dibalut rok mini yang memamerkan kulit putih mulus. Rambutnya ditata sempurna, wajahnya glowing di bawah lampu jalan. Tidak ada tanda-tanda sakit perut atau asam lambung kumat. Dia terlihat segar, cantik, dan... siap bersenang-senang.

Itu Tiara.

Dan dia tidak sendirian.

Dari pintu pengemudi, seorang pemuda keluar. Gayanya santai tapi loud. Kaos oversized Balenciaga, celana kargo trendi, dan sepatu Air Jordan edisi terbatas yang harganya mungkin setara biaya hidup Raka selama satu semester.

Raka mengenalnya. Kevin.

Anak tajir dari fakultas sebelah. Tipe cowok yang ke kampus bawa mobil beda-beda tiap minggu, yang jam tangannya Rolex atau minimal TAG Heuer, dan yang menjadikan mobil mewahnya sebagai senjata utama untuk menaklukkan mahasiswi-mahasiswi cantik.

Raka melihat dengan mata kepalanya sendiri, Kevin berjalan memutar, lalu dengan santai merangkul pinggang ramping Tiara. Tangan itu mendarat di sana seolah dia memiliki hak penuh. Dan Tiara? Gadis yang katanya "sakit perut" itu tertawa renyah, menyandarkan kepalanya manja di bahu Kevin.

Ponsel di tangan Raka bergetar lagi. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Tiara.

Tiara: Sorry ya Raka, aku beneran nggak kuat bangun. Next time ya.

Raka membaca pesan itu sambil melihat Tiara dan Kevin berjalan menjauh menuju pintu masuk VIP, melewati antrean panjang yang harusnya dilalui Raka.

"Cih..."

Tawa dingin keluar dari mulut Raka. Terdengar kering dan menyedihkan.

Dia bukan pacar Tiara. Dia sadar itu. Dia tidak punya hak untuk marah, tidak punya hak untuk melabrak. Tapi rasa sakit karena dibohongi, rasa perih karena sadar bahwa dia hanya dijadikan cadangan atau lebih parah, badut terasa nyata menghantam ulu hatinya.

"Ternyata bener kata anak-anak," bisik Raka pada aspal jalanan. "Gue cuma badut."

Dia menatap punggung Kevin yang perlahan menghilang di kerumunan. Perbedaan kasta itu begitu mencolok. Kevin dengan segala kemewahannya, dan Raka dengan kemeja diskonan dan keringat bau matahari.

Drrt... Drrt...

Ponselnya bergetar lagi. Kali ini panggilan masuk dari sahabatnya, Doni.

Raka menarik napas panjang, berusaha menormalkan suaranya sebelum mengangkat. "Halo, Don. Kenapa?"

"Ka! Lo di mana sekarang?" suara Doni terdengar heboh.

"Di GBK. Kenapa?"

"Lo buka link yang barusan gue kirim di WA. Buruan! Itu akun Marketplace-nya si Tiara!"

Dahi Raka berkerut. "Marketplace? Ngapain?"

"Udah buka aja dulu! Liat apa yang dia jual!"

Dengan perasaan tidak enak yang semakin menebal, Raka meminimalkan panggilan dan membuka aplikasi pesan. Dia mengklik tautan yang dikirim Doni. Aplikasi marketplace barang bekas terbuka, menampilkan sebuah daftar produk.

Samsung Galaxy A54 5G - Mulus Like New Harga: Rp 3.500.000 (Nego Tipis)

Deskripsi penjualnya membuat darah Raka mendidih: "Jual cepet aja gan/sist. Hape pemberian orang, jarang dipake karena udah ganti iPhone 14 Pro. Kondisi 99% mulus no minus. Siapa cepat dia dapat. Butuh dana buat nambahin beli tas."

Itu ponsel yang Raka belikan bulan lalu. Dia menabung mati-matian, makan nasi telur kecap setiap hari demi membelikan kado ulang tahun untuk Tiara karena gadis itu mengeluh hp lamanya lemot.

Raka mengklik profil penjualnya.

Isinya adalah galeri penghinaan bagi harga diri Raka.

Tas Charles & Keith yang Raka belikan semester lalu? Sold. Sepatu sneakers yang Raka cari keliling mall seharian? Sold. Bahkan powerbank lucu bentuk beruang yang Raka kasih minggu lalu pun sudah terjual.

"Gila..." Raka terkekeh getir. Matanya terasa panas.

"Halo? Ka? Lo liat kan?" suara Doni kembali terdengar. "Gue udah bilang, Ka. Itu cewek cuma jadiin lo ATM berjalan. Lo itu cuma sapi perah buat dia. Sadar, Ka!"

"Iya, Don. Gue liat," suara Raka datar, tanpa emosi. "Thanks infonya. Gue tutup dulu."

Raka menutup aplikasi itu dengan kasar. Dia merasa jijik. Bukan pada Tiara, tapi pada dirinya sendiri yang sebegitu bodohnya. Dia sudah diperlakukan seperti anjing yang setia, yang dikasih sisa-sisa perhatian hanya kalau majikannya butuh sesuatu.

Dia menatap lagi ke arah pintu masuk VIP yang sudah kosong. Bayangan Kevin dan Tiara kembali melintas.

Tiba-tiba, sebuah kalimat yang pernah dia baca di kolom komentar video "galau" di TikTok terngiang di kepalanya, menghantamnya dengan kebenaran yang pahit:

“Orang-orang kaya itu membeli masa muda dan kecantikan para gadis. Sedangkan kita, orang-orang biasa yang berjuang mati-matian, harus menghabiskan seluruh gaji dan tabungan hanya untuk mendapatkan sisa-sisa dari wanita yang pernah mereka nikmati.”

Kata-kata itu terasa seperti pisau yang diputar di dalam dada.

Sangat akurat. Sangat menyakitkan.

Kevin mungkin hanya akan main-main dengan Tiara selama beberapa bulan, lalu membuangnya saat bosan. Tapi bagi Raka? Tiara adalah segalanya. Dan ironisnya, Raka yang berkorban segalanya justru yang dibuang sebelum sempat memiliki.

Raka berbalik arah. Dia tidak jadi masuk ke konser. Tiket di tangannya diremas hingga lecek, lalu dilempar begitu saja ke tong sampah terdekat. Persetan dengan uangnya. Dia tidak sanggup duduk di sana sendirian sambil membayangkan Tiara sedang bersenang-senang dengan Kevin di area VIP.

Dia berjalan melawan arus manusia yang baru berdatangan. Wajah-wajah di sekitarnya penuh tawa dan kebahagiaan, kontras sekali dengan awan mendung di wajah Raka.

"Bangsat..." umpatnya pelan, menendang kerikil di trotoar.

"Coba aja gue punya duit... Coba aja gue kaya..."

Kemarahan, rasa malu, dan keputusasaan bercampur aduk menjadi satu. Raka merasa dunia ini tidak adil. Kenapa orang seperti Kevin bisa mendapatkan segalanya dengan mudah, sementara dia harus berdarah-darah hanya untuk dihargai sebagai manusia?

Tepat saat amarah itu memuncak di ubun-ubun, sesuatu yang aneh terjadi.

Pandangan Raka tiba-tiba kabur. Sebuah cahaya biru transparan muncul entah dari mana, melayang tepat di depan matanya, seolah-olah diproyeksikan langsung ke retina.

Raka berhenti berjalan, mengucek matanya. "Hah? Apaan nih? Gue halusinasi karena stres?"

Tapi cahaya itu semakin jelas. Membentuk sebuah panel holografik futuristik, mirip seperti antarmuka dalam game RPG yang sering dia mainkan. Tulisan-tulisan digital mulai bermunculan satu per satu, disertai suara notifikasi mekanis yang terdengar jelas di dalam otaknya.

[DING!]

[Sistem Sultan Gacha Tanpa Batas sedang dalam proses pengikatan...]

[Proses: 0%] ... [Proses: 25%] ... [Proses: 50%] ... [Proses: 100%]

Raka ternganga. Dia menoleh ke kanan dan kiri, memastikan apakah orang lain melihat layar biru yang melayang di depannya ini. Tapi tidak ada yang peduli. Orang-orang terus berjalan melewatinya, sibuk dengan urusan masing-masing. Hanya dia yang bisa melihat ini.

"Sistem... Sultan?" gumam Raka bingung.

Tulisan di layar itu berubah lagi.

[Pengikatan Berhasil!]

[Selamat datang, Tuan Rumah.]

Sebuah panel status karakter muncul, menampilkan data diri Raka dengan detail yang mengerikan.

[STATUS PENGGUNA]

Nama: Raka Adiyaksa

Tinggi Badan: 183 cm

Saldo Rekening Saat Ini: Rp 750.000,00

Skill: Tidak Ada

Raka menelan ludah. Angka saldo itu... benar-benar akurat sampai ke digit terakhir sisa uang di rekening BCA-nya setelah membeli tiket sialan tadi.

Belum sempat dia mencerna apa yang terjadi, sebuah kotak dialog baru muncul, berkedip-kedip dengan warna emas yang menggoda.

[Misi Pemula Terdeteksi!]

[Silakan lakukan GACHA 10x pertama Anda untuk mengaktifkan fitur!]

[Apakah Anda ingin melakukan Gacha sekarang?] [YA] / [TIDAK]

Jantung Raka berdegup kencang. Apakah ini mimpi? Atau... apakah doa putus asanya barusan benar-benar dijawab oleh semesta dengan cara yang paling gila?

1
Kahfi
haji kok julid
Wega Luna
vino di goblokin papi Raka🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Wega Luna
bagus ka, dihalalkan dulu baru gas ,justru aku salut sama cowok yg bisa tahan diri,cukup sindy,,,, Bella masih v tapi cara dia interaksi itu bikin ilfil yh .dari awal GK like banget sama Bella
DipsJr: kirain sultan harus tebar benih dimana aja. 😅
total 1 replies
Jack Strom
Lumayan menghibur dukalara... 😁😛😛😛
Jack Strom
Hahaha... terjebak sama rencana sendiri... itu loh ibarat lempar batu ketimpuk kaki sendiri... 🤭😁😂🤣😛😛😛
Jack Strom
Huuh... pamer!.. 😁😛😛😛
Jack Strom
Owalah... Sudah jadi sultan kok masih jadi pengecut sih, padahal sudah didampingi system lagi... 🤔
Super sultan mah gak perlu banyak mikir, hajar saja!... 🤭😁😂🤣😛😛😛
Kahfi
🤣🤣🤣🤣🤣
Kahfi
gacor king
Kahfi
kira kira nya anj kalo hoki tuh tailah
Kahfi
sialan lu Raka
Kahfi
🤣🤣🤣
Kahfi
tiba tiba banget dapat event
REY ASMODEUS
rencana apa bencana🤭🤣🤣🤣🤣
REY ASMODEUS
ya Tuhan 🤣🤣🤣, Thor loe itu maha kuasa untuk novel ini. lucu aja skip bab 75 🤣🤣🤣, novel lucu + tegang eh othor lucunya gak ada obeng 🤭🤭🤭🤭
Elok Fauziah
Mangkuk apa yang terjual 55 milyar 💸💸
REY ASMODEUS: mangkuk dinasti yun
total 1 replies
Elok Fauziah
Yeee.... Mana bisa seperti itu 🤨
Jack Strom: Yeee... ya bisa dong... 🤭😁😂🤣😛😛😛
total 1 replies
REY ASMODEUS
Luna dan indra, haaaa untung tongkat itu kayu mahal dan bagian dari koleksi kakek coba kalau itu tongkat besi, beh damage nya pasti mengerikan🤣🤣🤣
REY ASMODEUS
sindy mah yang penting "duit"🤣🤣🤣🤣
REY ASMODEUS
rara bisalah jadi penerus limbad 🤣🤣🤣🤣🤣🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!