NovelToon NovelToon
Maaf Pangeran, Bawang Merah Ini Terlalu Savage

Maaf Pangeran, Bawang Merah Ini Terlalu Savage

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Antagonis / Fantasi Wanita
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Riyana Biru

"Kalau kamu mau jadi malaikat, lakukan di tempat lain. Di Kediaman Jati Jajar, akulah ratunya!"

Rosie, seorang manajer sukses di era modern, terbangun di tubuh Kirana Merah Trajuningrat, sosok antagonis yang dibenci seluruh rakyat Kerajaan Indraloka.

Dunia di mana "Citra Diri" adalah segalanya, Merah dikenal sebagai gadis pemarah yang hobi menindas adiknya, Putih Sekar. Namun, Rosie segera menyadari ada yang salah.

Putih yang dianggap "Anak Kesayangan Rakyat" ternyata adalah manipulator ulung yang lihai bermain peran sebagai korban di depan para pelayan dan Pangeran.

Ditambah lagi, Ibu kandung Merah, Nyai Citra, adalah wanita ambisius yang menyiksa Putih demi kekuasaan, tanpa sadar bahwa setiap cambukannya justru memperburuk reputasi Merah di mata Pangeran Ararya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riyana Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aroma Kunyit

Langkah Rosie terseret-seret di atas jalan setapak yang berdebu. Pergelangan kakinya berdenyut nyeri, seakan ada ribuan jarum yang menusuk setiap kali tumitnya menyentuh tanah.

Dia terpaksa menyandarkan berat tubuh pada bahu Laras dan Gendis yang memapahnya dengan sangat hati-hati. Di depan mereka, dua pria tegap yang tadi mengejarnya berjalan dengan waspada, sesekali menoleh untuk memastikan majikan mereka tidak pingsan di tengah jalan.

"Siapa nama kalian berdua?" tanya Rosie dengan suara parau sambil menatap punggung kedua pria itu.

Langkah kedua pria itu terhenti seketika. Mereka berbalik dengan wajah yang memancarkan keterkejutan luar biasa. Karena hanya mengenakan rompi kain kasar tanpa atasan, badan berotot mereka terpampang sangat jelas di bawah terik matahari pagi.

​Waw, badannya, batin Rosie terkesima. Wajahnya mendadak memerah panas, sehingga dia segera mengalihkan pandangan ke arah lain dengan kikuk.

Pria yang lebih tinggi dan memakai kain polos di kepala, membungkuk dalam. "Nona, saya Wira. Dan di sebelah saya ini Jaka. Apakah Nona benar-benar tidak mengingat kami?"

Rosie mengabaikan rasa heran mereka dan mulai menghitung dalam hati. Jadi, total pelayan di rumah ini ada enam orang. Empat perempuan, yaitu Laras, Gendis, Melati, dan Mbok Sum. Lalu ada dua laki-laki, Jaka dan Wira, yang sepertinya dikhususkan untuk pekerjaan berat yang tidak mampu dilakukan oleh para perempuan.

Struktur organisasi yang minimalis banget buat rumah sebesar itu, pikirnya dengan otak korporat yang masih melekat.

Rosie bertanya lagi. "Kalian udah lama kerja di sini?"

"Kami sudah bekerja di Kediaman Jati Jajar sejak Nona Putih masih kecil," jawab Jaka. Meski dia heran dengan pertanyaan Rosie dan bahasa yang digunakan, tapi dia tetap paham dan menjawab.

"Ini kerajaan apa sih? Siapa nama rajanya?" cecar Rosie lagi, berusaha mengalihkan perhatian dari rasa sakit di kakinya.

"Nona, kita berada di bawah naungan Kerajaan Indraloka," jawab Jaka lagi dengan nada rendah. "Mengenai nama Baginda Raja, tidak ada rakyat jelata seperti kami yang boleh menyebutkan nama sucinya sembarangan. Beliau adalah pemimpin tertinggi yang menguasai seluruh aliran sungai dan tanah rempah ini."

Rosie mendengus. Jawaban itu tidak memuaskan rasa ingin tahunya, tapi dia terlalu lemas untuk berdebat.

Suasana di halaman depan Kediaman Jati Jajar mendadak mencekam, bahkan lebih dingin daripada rembesan air sungai yang kini membasahi kain kemben merah milik Rosie. Wira dan Jaka melangkah dengan kepala tertunduk, sementara Laras dan Gendis hampir tidak berani menghela napas saat memapah Rosie melewati gerbang bambu.

Di depan balai utama, Citra sudah berdiri menanti. Sebuah kipas anyaman pandan bergerak pelan di tangannya, mengaduk udara. Wajahnya yang cantik kini tampak sekeras batu candi.

"Bawa dia masuk!" perintah Citra dengan suara yang menggelegar.

Begitu mereka sampai di ruang tengah yang beralaskan tikar pandan halus, Citra tidak lagi bisa menahan diri. Dia melangkah maju dengan cepat, hingga aroma bunga melati dari sanggulnya tercium oleh Rosie.

"Apa yang kalian lakukan?!" bentak Citra sambil menunjuk Laras dan Gendis. "Kalian adalah pelayan untuk menjaga putriku, bukan untuk membiarkannya berlari seperti orang tidak jelas sampai ke tepian sungai!"

Laras dan Gendis seketika melepaskan pegangan mereka pada Rosie dan langsung bersujud di atas lantai tanah. Tubuh mereka berguncang hebat.

"Ampun, Nyonya Besar! Kami sudah berusaha menghalangi Nona Merah, tapi beliau lari dengan sangat cepat," isak Laras sambil merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada. "Kami benar-benar lalai, mohon maafkan kami, Nyonya."

"Maafkan kami, Nyonya! Kami kurang menjaga Nona Merah dengan benar," tambah Gendis dengan suara yang ketakutan.

Citra mendengus kasar, tatapannya menyapu halaman luar di mana beberapa pekerja gudang tampak mengintip dengan ragu. "Kalian tahu apa yang sedang dibicarakan orang-orang di pasar sekarang? Mereka mengatakan putri sulung Trajuningrat sudah gila! Mereka menghina keluarga kita karena ketidakmampuan kalian menjaga satu orang saja!"

Rosie yang sedang menahan rasa ngilu di pergelangan kakinya hanya bisa melongo melihat drama ini. Namun, kata-kata selanjutnya dari Citra membuat bulu kuduknya berdiri.

"Mbok Sum! Ambilkan cambuk kulit di gudang belakang!" perintah Citra tanpa mengalihkan pandangan dari dua pelayan yang bersujud itu. "Dua pelayan tidak berguna ini harus diberi pelajaran agar tidak ada lagi yang berani lalai di rumah ini. Sepuluh cambukan untuk masing-masing dari mereka!"

Mendengar kata cambuk, Rosie merasa jantungnya berhenti berdetak sejenak. Pikirannya yang terbiasa dengan peraturan kantor modern merasa sangat ngeri. Di dunianya, kesalahan paling berat adalah surat peringatan atau pemotongan gaji, bukan penyiksaan fisik seperti ini.

"Ampun, Nyonya! Kami berjanji akan menjaga Nona Merah lebih ketat lagi!" rintih Gendis sambil mencium kaki Citra.

"Tidak ada ampun!" potong Citra dingin. "Aku tidak tahan dengan kelakuan kalian yang tidak berguna! Kelalaian kalian merusak citra diri yang sudah aku bangun dengan susah payah selama Kakang Jati Jajar tidak ada di rumah!"

Rosie melihat Mbok Sum mulai melangkah mendekat dengan wajah datar, membawa sebuah jalinan kulit hitam yang tampak sangat menyakitkan. Insting Rosie berteriak. Dia harus menghentikan ini, bukan hanya karena kasihan, tapi karena dia tidak mau hidup di rumah yang penuh dengan suara cambukan setiap pagi.

"Ibu! Berhenti!" teriak Rosie.

Citra menoleh, alisnya bertaut. "Diam, Merah! Ini adalah urusan kedisiplinan rumah tangga. Kamu harus melihat ini agar kamu tahu betapa berharganya nama keluargamu."

Rosie menarik napas panjang, mencoba berdiri tegak meskipun kakinya masih ngilu. Dia harus menggunakan logika yang dipahami wanita ini, logika tentang reputasi dan citra diri.

"Ibu, enggak usah berlebihan begitu," ucap Rosie, mencoba mengatur nada bicaranya agar terdengar seperti Merah yang sedang sombong, tapi bijak. "Kalau Ibu mencambuk mereka di sini, suaranya bakalan terdengar sampai ke telinga para tetangga dan pekerja gudang. Apa Ibu mau mereka bergosip lagi bahwa di Kediaman Jati Jajar ada keributan besar karena aku beneran sakit parah?"

Gerakan tangan Citra yang hendak mengambil cambuk dari Mbok Sum terhenti.

"Dengar, Ibu," lanjut Rosie sambil menahan dingin yang merambat di bahunya yang terbuka. "Seharusnya, orang-orang tahu bahwa aku enggak sakit. Aku tadi cuma ingin melihat aliran sungai untuk memastikan pengiriman rempah kita lancar. Aku enggak boleh terlihat selemah itu sampai harus dijaga ketat seperti bayi. Kalau mereka dihukum, orang-orang akan semakin yakin kalau aku ini memang bermasalah."

Rosie memaksakan sebuah senyuman tipis, meskipun giginya ingin sekali bergeletuk karena kedinginan. "Aku baik-baik saja, Ibu. Hanya sedikit terpeleset karena bebatuan sungai yang licin. Jangan biarkan orang luar punya bahan gosip baru tentang kekejaman di rumah ini hanya karena masalah sepele."

Citra menatap Rosie cukup lama, matanya menyipit seolah sedang menilai apakah putrinya ini sedang bicara jujur atau sedang meracau lagi. Keheningan itu terasa sangat mencekik. Mbok Sum hanya berdiri mematung di samping mereka dengan wajah tanpa ekspresi.

Akhirnya, Citra mengembuskan napas panjang dan memberikan isyarat pada Mbok Sum untuk menjauhkan cambuk tersebut.

"Berterimakasihlah pada Merah," ucap Nyai Citra kepada Laras dan Gendis dengan nada dingin. "Dia masih berbaik hati melindungi punggung kalian yang malas itu. Tapi jika sekali lagi kalian membiarkannya keluar tanpa izin, tidak akan ada lagi permohonan maaf yang aku terima."

Laras dan Gendis menangis haru, berkali-kali mencium lantai sebagai tanda syukur. Bahkan mereka merangkak mendekat dan mencium punggung kaki Rosie, seperti yang biasa dilakukan pelayan kepada bangsawan

"Terima kasih, Nona," ucap mereka.

Rosie kaget, dia tidak pernah diperlakukan sebegitunya, jadi dia menolak kakinya diciumi. Dia merendahkan tubuh dan meminta mereka kembali berdiri.

1
lin sya
seorg pelayan tp pikirannya licik dan jahat berani adu domba putih dan merah alias rosie, klo putih bsa terpengaruh brrti bodoh, emg gk merasakan perubahan simerah yg mencoba utk mnjdi lbih baik krn karakter nya yg buruk
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: 🤭 biasanya mudah terpengaruh kalo disbisikin mulu
total 1 replies
˚₊· ͟͟͞͞➳❥𝐋𝐢𝐥𝐲 𝐕𝐞𝐲༉‧₊⁴.
kapan sih topeng palsunya putih ketahuan sama rosie?
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: 🤭 nanti
total 1 replies
sang senja
sebagai wanita modern jangan mau di tindas dong Rosi
sang senja
bagus Thor
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: 🤭 boleh
total 3 replies
lin sya
thor koq updatenya lama trus cuma 1 bab sdikit kali, saya tdk puas bacanya /Smile/
lin sya: iya kk author 👍😄
total 2 replies
MayAyunda
keren 👍
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: makasih 😍
total 1 replies
Marine
semangat author
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: 😍 makasih udh mampir
total 1 replies
Indira Mr
masuk ke tubuh bawang merah😭😭
Indira Mr
sama 😭😭😭
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: 🤭 sangat relate
total 1 replies
venezuella
jangan kontrak, ayo ikut aku pf lain yang lebih oke daripada ini, bawa cerita ini disana
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: iya udah
total 13 replies
Senjaa
d dunia iniii man phm sih ros 😭
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: /Chuckle/
total 1 replies
Senjaa
kurang bnyk up nya ni
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: /Hey/
total 1 replies
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕
Aku nitip note di sini yak!

Coba kalian kasih aku bintang 5, like, komen, gift gratisan juga gapapa, biar aku semangat update bab gitu, terimakasih cintakuhhh

Terus subscribe cerita ama follow juga boleh
maaf yak banyak minta hihi /Shy/
Hani Hanita
Rosie walo keras tp ad luucux jg ya
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
bru x ini nemu crita yg bagus bgt, lanjut thorrr
Senjaa
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!