NovelToon NovelToon
Kami Lahir Tanpa Namamu

Kami Lahir Tanpa Namamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / One Night Stand / Anak Genius / CEO / Hamil di luar nikah / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nurizatul Hasana

Satu malam.
Tanpa rencana.
Tanpa nama.
Tanpa masa depan.
Aluna tidak pernah berniat masuk ke dalam hidup pria itu. Ia hanya menggantikan sahabatnya yang sakit, mengenakan seragam hotel, dan berharap bisa pulang dengan selamat. Namun di balik pintu kamar hotel mewah, ia terjebak dalam situasi berbahaya—tarikan paksa, ketakutan, dan batas yang nyaris hancur.
Malam itu bukan tentang cinta.
Bukan tentang rayuan.
Melainkan tentang dua orang asing yang sama-sama terperangkap dalam keadaan salah.
Aluna melawan. Menolak. Tak pasrah.
Namun ketika segalanya berhenti di titik abu-abu, sebuah keputusan keliru tetap tercipta—dan meninggalkan luka yang tak langsung terlihat.
Ia pergi tanpa menoleh.
Tanpa tahu nama pria itu.
Tanpa ingin mengingat malam yang hampir menghancurkan dirinya.
Lima tahun kemudian, Aluna telah menjadi wanita tangguh—cantik, elegan, dan berdiri di atas kakinya sendiri. Ia membesarkan tiga anak kembar dengan kelebihan luar biasa, tanpa sosok ayah, tanpa cerita masa lalu. Bersa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

* Kalau Berani, Buktiin

Sore itu café nggak terlalu ramai.

Arsha lagi cerita ke Maya soal tugas sekolah.

Arkana bongkar casing laptop kecilnya.

Aruna di dapur.

Arven duduk sendirian di meja pojok.

Nunggu.

Dan seperti biasa—mobil hitam itu datang.

Arka turun. Bawa plastik kecil.

“Roti gagal lagi?” celetuk Arsha.

Arka nyengir tipis.

“Yang ini nggak gagal.”

Arven berdiri sebelum Arka sempat duduk.

“Kita keluar bentar.”

Aruna langsung nengok.

“Ven—”

“Nggak jauh, Ma. Depan aja.”

Arka ngerti. Ini bukan ajakan main.

Ini panggilan sidang.

Mereka berdiri di trotoar depan café.

Langit mulai jingga.

Arven nggak basa-basi.

“Om mau jadi apa di hidup kita?”

Arka jawab tenang,

“Ayah.”

“Telat.”

“Aku tau.”

“Terus?”

“Aku mulai dari sekarang.”

Arven menatap lurus.

“Kenapa?”

“Aku udah jawab.”

“Bukan itu.”

Arven melangkah sedikit lebih dekat.

“Kenapa Mama dulu pergi?”

Pertanyaan itu bikin Arka terdiam.

“Apa Om pernah tanya diri sendiri kenapa dia milih ninggalin semua?”

Sunyi.

Arka jawab pelan,

“Karena aku nggak cukup jaga dia.”

Arven nggak puas.

“Karena Om paksa dia?”

Arka langsung menatapnya.

“Tidak.”

“Tapi Mama trauma.”

Kalimat itu bikin Arka kaku.

“Trauma bukan selalu soal kekerasan,” lanjut Arven. “Kadang karena merasa sendirian.”

Arka menghela napas.

“Aku salah. Aku terlalu yakin semuanya bisa aku kontrol.”

“Dan Mama bukan proyek.”

“Iya.”

Arven terdiam beberapa detik.

Angin sore lewat pelan.

“Aku nggak peduli Om kaya atau punya perusahaan gede.”

“Aku tau.”

“Aku cuma mau satu hal.”

“Apa?”

“Kalau Mama suatu hari bilang dia nggak kuat lihat Om lagi… Om pergi tanpa bikin drama.”

Kalimat itu dewasa banget untuk anak lima tahun.

Arka menatap Arven lama.

“Kamu lebih protektif dari yang aku kira.”

Arven nggak senyum.

“Aku yang lihat Mama nangis tengah malam.”

Itu tamparan paling keras sejauh ini.

Arka menelan ludah.

“Kalau aku bikin dia nangis lagi, kamu boleh benci aku.”

“Bukan cuma benci,” jawab Arven datar. “Aku bakal pastiin Om nggak bisa deket lagi.”

Ancaman kecil. Tapi nyata.

Arka justru mengangguk.

“Fair.”

Arven menyipitkan mata.

“Om nggak marah?”

“Aku harusnya terima.”

Sunyi lagi.

Lalu Arven nanya pelan—

“Om masih cinta Mama?”

Pertanyaan itu nggak ada hubungannya sama anak.

Tapi sangat ada hubungannya.

Arka butuh beberapa detik.

“Iya.”

“Bukan cuma karena kita?”

“Bukan.”

Arven memperhatikan wajahnya.

Mencari kebohongan.

Nggak ada.

Akhirnya Arven bilang pelan,

“Jangan cuma sayang kita. Sayang Mama juga.”

Arka hampir tersenyum, tapi lebih mirip ekspresi tertekan.

“Aku datang bukan cuma buat kalian.”

Arven mengangguk kecil.

“Kalau gitu… buktiin.”

“Gimana caranya?”

“Jangan datang tiap hari.”

Arka kaget sedikit.

“Kenapa?”

“Karena kita belum biasa. Pelan aja. Jangan bikin Mama ngerasa hidupnya diambil alih lagi.”

Arka sadar.

Anak ini nggak cuma protektif.

Dia paham psikologis ibunya.

“Oke.”

“Dan satu lagi.”

“Apa lagi?”

“Kalau Om mau bantu… bantu tanpa bikin kita merasa berutang.”

Itu kalimat yang bikin Arka benar-benar melihat Arven sebagai individu, bukan cuma anak kecil.

“Aku ngerti.”

Arven akhirnya mundur selangkah.

“Belum diterima.”

“Aku tau.”

“Tapi juga belum ditolak.”

Itu sudah kemajuan.

Mereka balik ke dalam café.

Arsha langsung nyamperin.

“Ngapain lama banget?”

“Sidang,” jawab Arven santai.

Arkana ngelirik Arka.

“Lulus?”

Arven duduk lagi di kursinya.

“Masih probation.”

Arka hampir ketawa kecil.

Aruna memperhatikan dari dapur.

Dia tahu tadi bukan obrolan ringan.

Dan waktu Arven lewat dekat dia, Arven cuma bilang pelan—

“Ma… dia nggak kabur.”

Aruna membeku sebentar.

Lalu pelan banget dia jawab,

“Iya.”

Dan untuk pertama kalinya—

Anak yang paling keras itu

nggak lagi berdiri sebagai tembok.

Dia mulai berdiri sebagai jembatan.

Pelan.

Tapi nyata.

---

Arka duduk lagi di kursinya. Tangannya masih menggenggam plastik roti yang tadi dibawa.

Arsha langsung nyomot satu.

“Kalau ini gagal lagi, aku protes ya.”

“Tenang. Kali ini aku nggak ikut campur,” jawab Arka.

Arkana masih memperhatikan diam-diam. Anak itu nggak banyak ngomong, tapi matanya tajam.

Aruna keluar dari dapur sambil ngelap tangan pakai apron.

“Udah selesai sidangnya?”

Arven angkat bahu.

“Masih tahap penyelidikan.”

Aruna menatap Arka sebentar. Ada sesuatu di mata pria itu yang beda. Lebih tenang. Lebih… rendah.

“Mama,” Arsha tiba-tiba nyeletuk, “kalau Papa duduk sini tiap sore, kita harus bayar dia sewa kursi nggak?”

Aruna hampir tersedak.

Arka justru menjawab santai, “Aku bisa bayar.”

Arven langsung menyela, “Nah, itu yang nggak boleh.”

Arka menoleh.

“Kita nggak butuh duit Om,” lanjut Arven tegas. “Kita cuma butuh kejelasan.”

Café mendadak hening beberapa detik.

Aruna pelan-pelan duduk di kursi kosong.

“Ven…”

“Ma, aku cuma bilang.”

Arka mengangguk pelan.

“Dia bener.”

Arkana akhirnya buka suara.

“Kalau Om mau bantu café, bantu karena mau, bukan karena ngerasa bersalah.”

Arka menatap anak laki-laki yang wajahnya paling mirip dirinya itu.

“Aku bantu karena aku peduli.”

“Peduli itu lama atau sementara?” tanya Arkana datar.

Pertanyaan itu bikin Aruna menahan napas.

Arka nggak langsung jawab.

“Selama kalian izinin.”

Arsha menggigit roti.

“Kalau suatu hari Mama marah sama Om lagi, Om pergi?”

Arka melihat ke arah Aruna dulu sebelum menjawab.

“Kalau Mama kalian minta aku pergi, aku pergi.”

Aruna merasa dadanya sesak.

Arven langsung memotong,

“Dan nggak maksa balik?”

“Nggak.”

“Janji?”

“Janji.”

Arven menatapnya lama.

“Janji itu gampang.”

“Aku tau.”

“Om orang bisnis. Pasti biasa tanda tangan kontrak.”

Arka hampir tersenyum kecil.

“Jadi?”

“Kita bikin aturan.”

Aruna langsung angkat wajah.

“Ven, kamu nggak perlu—”

“Perlu, Ma.”

Arven menoleh ke Arka.

“Aturan pertama: jangan pernah bentak Mama.”

Arka menjawab tanpa ragu,

“Aku nggak pernah—”

“Dulu mungkin nggak. Tapi kalau suatu hari emosi, ingat kita ada.”

Arka mengangguk.

“Aturan kedua,” lanjut Arven, “kalau Mama kelihatan nggak nyaman, Om mundur.”

“Baik.”

“Aturan ketiga…”

Arven berhenti sebentar.

“Om harus sabar kalau kita nggak langsung manggil Om Papa.”

Itu yang paling jujur.

Arsha langsung menunduk sedikit.

Arkana pura-pura fokus ke laptop.

Arka menarik napas pelan.

“Aku nggak datang buat dipanggil Papa.”

Aruna menatapnya.

“Aku datang karena aku nggak mau jadi bayangan lagi.”

Kalimat itu bikin Aruna membeku.

Arven menyipitkan mata.

“Maksudnya?”

“Aku udah cukup lama hidup tanpa tau kalian ada. Sekarang aku tau. Aku nggak mau pura-pura nggak pernah tau.”

Arkana menatapnya lebih dalam.

“Kalau perusahaan Om tau?”

“Biar.”

“Media?”

“Biar.”

Arsha pelan bertanya,

“Kalau nama kita bikin Om rugi?”

Arka langsung jawab,

“Kalian bukan kerugian.”

Hening lagi.

Aruna bangkit berdiri.

“Udah cukup.”

Semua menoleh ke arahnya.

“Kalian bukan sidang hakim.”

“Tapi kita yang paling kena dampaknya, Ma,” jawab Arven lembut.

Aruna berjalan mendekat. Tangannya menyentuh bahu Arven.

“Iya. Dan Mama bangga kalian bisa mikir sejauh ini.”

Lalu dia menatap Arka.

“Tapi aku juga nggak mau kalian tumbuh cuma dengan rasa curiga.”

Arka dan Aruna bertatapan.

Lima tahun lalu, mereka asing.

Sekarang, mereka terhubung oleh tiga anak yang terlalu dewasa untuk usianya.

Aruna bicara pelan, hampir seperti bisikan,

“Aku nggak tau ini bakal kemana. Tapi kalau kamu mau tetap di sini… jangan cuma jadi tamu.”

Arka berdiri perlahan.

“Aku nggak mau jadi tamu.”

Arven menyela lagi,

“Jangan juga jadi bos.”

Arka tersenyum tipis.

“Aku belajar.”

Arkana akhirnya menutup laptopnya.

“Kalau gitu… mulai besok jangan datang tiap hari.”

Arka mengangguk.

“Seminggu tiga kali?”

Arsha langsung hitung jari.

“Senin, Rabu, Jumat?”

Arven berpikir sebentar.

“Liat situasi.”

Aruna hampir tertawa kecil melihat negosiasi ala mereka.

Untuk pertama kalinya—

Mereka nggak lagi cuma keluarga tanpa nama.

Mereka mulai membentuk aturan.

Dan Arka sadar…

Masuk ke hidup mereka bukan soal status.

Tapi soal bertahan.

Dan dia siap diuji.

---

1
Lisa
Kasihan y Mira..udh balik aj ke rmhnya Aruna..
Lisa
Bahagia selalu y Arka, Aruna & ketiga anaknya
Risal Fandi
rekomend banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!