NovelToon NovelToon
Warisan Saudara Kembar

Warisan Saudara Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Janda
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Hero dan Awan adalah dua sisi mata uang yang berbeda. Hero begitu hangat dan penuh kasih, sementara Awan sedingin es dan tak tersentuh. Namun, maut merenggut Hero terlalu cepat, meninggalkan Jasmine yang sedang hamil muda dalam kehancuran.
Sebelum napas terakhirnya, Hero menitipkan "warisan" yang paling berharga kepada Awan: istri dan calon anaknya.
Kini, Jasmine harus terjebak satu atap dengan pria yang paling ia hindari. Awan yang ketus, kaku, dan sudah memiliki kekasih matre bernama Celine. Bagi Awan, menjaga Jasmine adalah beban wasiat yang menyebalkan. Bagi Jasmine, melihat wajah Awan adalah luka yang terus terbuka.
Di tengah duka dan tuntutan harta, mampukah Awan menjalankan wasiat kembarannya? Ataukah kebencian di antara mereka justru berubah menjadi benih cinta yang tak seharusnya ada?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19

Pagi itu, kediaman keluarga Pramoedya terasa lebih hidup. Setelah drama persalinan yang menegangkan dan beberapa hari masa pemulihan di rumah sakit, Jasmine akhirnya diperbolehkan pulang. Suster Lastri sibuk menata botol susu dan pakaian bayi di kamar baru yang terletak tepat di samping kamar Awan—persis seperti perintah mutlak sang pemilik rumah.

Jasmine berjalan perlahan menelusuri selasar lantai bawah sambil menimang Shaka yang sedang terlelap dalam bedongan kain kasmir lembut. Meskipun jahitan operasinya masih sesekali terasa nyeri, Jasmine merasa bahagia bisa kembali ke rumah.

Di lantai atas, suasana sangat sunyi. Awan masih tertidur lelap. Pria itu benar-benar tumbang setelah tiga malam berturut-turut terjaga hanya untuk memastikan Shaka tidak gumoh atau memastikan Jasmine tidak kesulitan saat akan ke kamar mandi. Kelelahan akhirnya mengalahkan ego sang gunung es; ia tidur tanpa sempat mengganti kemejanya, hanya melepaskan dasi dan sepatunya saja.

Baru saja Jasmine menginjakkan kaki di anak tangga pertama, suara bel rumah berbunyi dengan nada yang mendesak—pendek dan berkali-kali, menunjukkan ketidaksabaran sang tamu.

Jasmine mengernyit. Para penjaga di depan biasanya memberi tahu lewat interkom jika ada tamu. Namun, sepertinya tamu ini bukan orang asing. Suster Lastri bergegas membukakan pintu, dan seketika itu juga, dua sosok paruh baya masuk dengan langkah angkuh yang seolah memiliki tempat itu.

Mereka adalah Paman Wijaya dan Tante Martha, adik dari mendiang ayah Awan dan Hero. Selama setahun terakhir mereka menetap di Paris untuk mengurus cabang perusahaan keluarga, bahkan saat pemakaman Hero pun mereka hanya mengirimkan karangan bunga besar tanpa menampakkan batang hidung karena alasan "bisnis yang tak bisa ditinggalkan".

"Oalah, jadi ini bayinya?" suara melengking Tante Martha memecah kesunyian rumah. Ia meletakkan tas Hermes-nya di meja ruang tamu tanpa permisi.

Jasmine berbalik, mencoba tetap sopan meski jantungnya berdegup kencang. "Paman, Tante... selamat pagi. Mari silakan duduk."

Paman Wijaya, pria dengan setelan jas formal dan tatapan yang selalu menghitung laba-rugi, tidak membalas sapaan itu. Ia justru menatap Jasmine dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Mana Awan? Jam segini belum bangun? Tidak disiplin sekali," gumamnya ketus.

Jasmine mendekat dengan hati-hati. "Kak Awan baru saja tidur, Paman. Dia begadang menjaga Shaka semalaman."

Tante Martha mendengus, ia mendekati Jasmine dan melongok ke arah bayi di pelukannya. "Wajahnya memang mirip Hero. Tapi dengar ya, Jasmine. Kami baru sempat ke sini karena urusan di Paris sangat menyita waktu. Tapi mendengar kabar dari media soal skandal kamu dengan Awan... itu benar-benar merusak nama baik Pramoedya."

Jasmine tertegun. "Skandal apa, Tante? Kak Awan hanya membantu saya karena—"

"Membantu atau ada 'main'?" potong Tante Martha tajam. Ia duduk di sofa, menyilangkan kakinya dengan angkuh. "Kamu itu janda Hero. Dan Awan itu laki-laki lajang. Tinggal satu rumah, apalagi kalian sempat digosipkan di media soal asal-usul bayi ini. Kamu tahu kan betapa kejamnya dunia bisnis kalau mendengar gosip murah begini?"

Paman Wijaya mengangguk setuju. Ia menatap Jasmine dengan dingin. "Kamu sama Awan itu nggak ada hubungan apapun, kan? Mending nggak satu rumah biar nggak fitnah. Sebagai paman, saya tidak setuju kalau kalian terus-menerus begini. Nama baik keluarga lebih penting daripada rasa kasihan Awan ke kamu."

Jasmine merasa matanya mulai panas. Di saat ia baru saja merasakan ketenangan, ia kembali dihujani tuduhan yang menyakitkan. "Tapi saya tidak punya tempat lain, Paman. Dan Kak Awan yang meminta saya tinggal di sini agar Shaka aman."

"Aman atau supaya dia bisa memiliki kamu?" sindir Tante Martha. "Lebih baik kamu pindah ke apartemen kecil milik keluarga di pinggiran kota. Biar Shaka kami yang urus atau ada perawat khusus di sana. Kamu tidak pantas berada di rumah utama ini jika hanya akan menjadi beban dan sumber gosip."

Jasmine meremas kain bedongan Shaka. Rasa lelahnya mendadak berganti menjadi kemarahan yang tertahan. "Shaka butuh ibunya, Tante. Dan saya tidak akan membiarkan anak saya dibawa ke mana-mana."

"Oh, kamu sudah berani melawan?" Paman Wijaya berdiri, suaranya naik satu oktav. "Kamu itu cuma orang luar yang masuk ke keluarga ini karena Hero! Jangan merasa punya hak—"

"Siapa yang lo bilang orang luar?"

Suara itu rendah, serak, namun penuh dengan ancaman yang sangat nyata. Semua orang di ruang tamu menoleh ke arah tangga.

Awan berdiri di sana. Rambutnya berantakan, matanya masih tampak merah karena kurang tidur, dan kemejanya lecek. Namun, sorot matanya yang tajam menembus langsung ke arah Paman Wijaya. Ia menuruni tangga dengan langkah lebar, auranya seolah membawa hawa dingin yang mencekam.

Ia berjalan melewati Jasmine, namun sempat menyentuh bahu perempuan itu sekilas seolah memberi kode bahwa semuanya akan baik-baik saja. Awan berdiri tepat di depan Paman Wijaya, tubuhnya yang lebih tinggi membuat sang paman harus mendongak.

"Baru pulang dari Paris bukannya bawa oleh-oleh, malah bawa sampah ke rumah gue?" ketus Awan. Suaranya tidak keras, tapi cukup untuk membuat Tante Martha terlonjak dari duduknya.

"Awan! Jaga bicara kamu! Kami ini paman dan tantemu!" seru Martha dengan wajah merah padam.

"Paman? Tante?" Awan tertawa sinis. "Ke mana kalian pas Hero dikubur? Ke mana kalian pas Jasmine hampir mati diserang Celine? Oh, gue lupa... kalian sibuk belanja di Champs-Élysées kan?"

Paman Wijaya mencoba mengembalikan wibawanya. "Awan, kami hanya memikirkan nama baik keluarga. Kamu tinggal dengan janda saudaramu sendiri. Ini fitnah!"

Awan melipat tangan di dada, senyum miring tersungging di bibirnya. "Fitnah itu kalau gue nggak ngapa-ngapa tapi dibilang ngapa-ngapa. Tapi kalau rumah ini milik gue, perusahaan ini atas nama gue, dan bayi ini adalah keponakan gue... apa urusannya sama kalian?"

"Awan, jangan gila! Dia harus pindah!" teriak Martha.

"Nggak ada yang pindah dari rumah ini kecuali kalian berdua kalau masih berani buka mulut kotor di depan Jasmine," ucap Awan dengan nada mutlak. Ia melirik ke arah Jasmine yang masih gemetar. "Suster Lastri! Bawa Jasmine sama Shaka ke atas. Sekarang."

Jasmine segera beranjak, tidak ingin Shaka terbangun karena keributan itu. Setelah Jasmine menghilang di balik koridor lantai atas, Awan kembali menatap kedua kerabatnya itu dengan tatapan membunuh.

"Dengerin gue baik-baik, Paman, Tante. Gue bukan Hero yang bisa kalian setir dengan alasan 'nama baik keluarga'. Gue nggak peduli sama gosip. Tapi gue peduli sama ketenangan di rumah ini."

Awan melangkah mendekati Paman Wijaya, membisikkan sesuatu yang membuat pria tua itu pucat pasi. "Gue tau soal manipulasi dana di Paris yang lo lakuin buat nutupin hutang judi lo. Mau gue buka ke publik biar nama baik Pramoedya bener-bener hancur karena lo?"

Paman Wijaya membeku. Tangannya gemetar. "Kamu... kamu mengancam pamanmu sendiri?"

"Gue melindungi keluarga gue," tegas Awan. "Jasmine dan Shaka adalah keluarga gue sekarang. Sekali lagi kalian injakkan kaki di sini tanpa izin gue, atau kalian berani ngomong hal-hal aneh ke Jasmine lagi... gue pastikan kalian bakal tinggal di jalanan Paris tanpa sepeser pun uang. Keluar dari rumah gue!"

Tanpa kata lagi, Wijaya dan Martha menyambar tas mereka dan pergi terburu-buru dengan wajah malu sekaligus takut.

Setelah suasana tenang, Awan menarik napas panjang. Kepalanya masih berdenyut karena bangun tidur secara mendadak. Ia menaiki tangga dan menemukan Jasmine sedang duduk di kursi depan kamar bayi, wajahnya tertunduk.

Awan berdiri di depan Jasmine. Ia tidak berkata manis, ia justru mendengus pelan.

"Kenapa lo dengerin omongan mereka? Lo kan punya mulut, kenapa nggak lo lawan?" tanya Awan, judesnya kembali keluar.

Jasmine mendongak, matanya berkaca-kaca. "Aku nggak enak, Kak... mereka kan keluarga Kakak."

"Keluarga itu yang ada pas lo susah, bukan yang dateng cuma buat bikin pusing," ketus Awan. Ia kemudian berjongkok di depan kursi Jasmine, menatap perempuan itu dengan sorot mata yang sedikit lebih lembut. "Gue udah bilang kan, Jas? Selama lo ada di sini, nggak ada yang bisa ngusir lo. Mau paman, tante, atau malaikat sekalipun kalau mereka bikin lo nangis, mereka harus urusan sama gue."

Jasmine tersenyum tipis, rasa hangat kembali menyelimuti hatinya. "Makasih, Kak Awan. Kakak tidur lagi aja, wajah Kakak pucat banget."

"Gimana mau tidur kalau rumah gue isinya drama terus?" gerutu Awan sambil berdiri. "Gue mau kopi. Bikinin gue kopi item, nggak pakai gula. Gue tunggu di bawah."

Awan berjalan pergi, namun Jasmine tahu itu adalah caranya untuk meminta ditemani tanpa harus terlihat "lemah". Di balik sifat kakunya, Awan baru saja mendeklarasikan perang pada siapa pun demi menjaga tempat Jasmine di sisinya.

1
pdm
semangat lanjutkan💪
Reni Anjarwani
lanjutt thorrr
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
lanjut trs thor makin seru ceritanya
Reni Anjarwani
lanjut thorr
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up thor
Siti Dede
Ungkapin aja atuh Waaan...daripada senewen nggak keruan
pdm
aduh ini potongan bwg merahny bikin mata berair/Cry//Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!