“Aku perintahkan kau untuk menjaga Lea dalam kondisi apapun.” — Martin De Gaulle
Begitulah awal mula semuanya.
Sebuah perintah yang mengikat Elios Leopold—tangan kanan sang Godfather. Pria dingin, berbahaya, dan setia tanpa syarat.
Elios selalu ada di sisi Lea—Eleanore Moreau. Menjaga, melindungi, dan memastikan gadis itu tak pernah sendirian. Dari kedekatan yang terus terjalin, perasaan pun tumbuh seiring berjalannya waktu.
Lea menyadari perasaannya lebih dulu. Tapi Elios… tidak.
“Aku akan menjadi apapun yang kau mau. Mama, Papa, saudara dan sahabat. Asal kau yang meminta, aku akan mewujudkannya.” — Elios Leopold
Ucapan itu membuat Lea berharap. Namun, di saat Lea mengucapkan permintaannya, akankah Elios mampu menepatinya?
Dari perlindungan lahir ketergantungan.
Dari kedekatan tumbuh hasrat yang terlarang.
Jika Elios mengabulkan permintaan itu, akankah Lea sanggup menghadapi kegilaan pria berbahaya yang telah menjadikannya satu-satunya tujuan hidup?
Terjerat Hasrat Monsieur Leopold
Yuk baca novel ini guys!
Seperti apa kisah protektif, posesif dan obsesi Monsieur Leopold terhadap bidikannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sheninna Shen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pencuri Hati
...“Iya. Kau serba bisa. Sampai hatiku pun bisa kau curi.” — Eleanore Moreau...
...🌸...
...“Justru kau lah yang mencuri hatiku.” — Elios Leopold...
Malam itu, tak ada cahaya rembulan karena hujan gerimis masih membasahi Kota Paris.
Lea terlihat sedang berdiri di balkon sambil menatap pemandangan kota tersebut di malam hari. Pemandangan yang indah dari lantai 37. Angin malam tak henti-hentinya mengajak rambut Lea menari-nari. Mereka seolah-olah sedang bergembira atas kebingungan Lea karena sikap Elios. Bahkan gaun tidur tipis di atas paha tanpa lengan yang ia kenakan ikut membentuk tubuhnya karena terpaan angin.
“Mademoiselle... jangan khawatir, ada aku.”
“Apa kau menginginkan sesuatu?”
“Selamat ulang tahun Mademoiselle, kuharap kau menyukai boneka beruang ini.”
“Satu hal yang pasti, aku akan selalu pulang mencarimu.”
Kenangan bersama Elios, kata-kata hangat Elios, bahkan semua perlakuan pria itu terus memenuhi isi kepalanya. Tak pernah sekalipun pria itu mengecewakannya. Bahkan dulu... pria itu hampir mati terbunuh demi menyelamatkannya. Ia masih tak bisa melupakan pemandangan mengerikan saat Elios dipapah oleh anak buah Robert dengan kondisi yang terluka parah. Tapi pria itu tetap berusaha hingga titik darah penghabisan.
“Apa kau benar-benar sudah melihatku sebagai seorang wanita, Eli?” gumam Lea pelan.
“Ya.” Tiba-tiba suara bariton dengan aroma yang sangat familiar terdengar dan tercium. Asalnya dari belakang tubuh Lea. Bahkan dua lengan kekar milik suara dan aroma itu sedang melingkar ke tubuh Lea dari belakang.
“El?” gumam Lea terkejut sambil menoleh ke belakang. Lagi-lagi pria itu bertelanjang dada.
“Kau bisa sakit kalau berlama-lama di sini,” bisik Elios ke telinga Lea. Entah sejak kapan ia mencondongkan tubuhnya ke arah Lea.
Lea berbalik arah secara spontan. Ia kembali menatap lurus ke depan—ke arah lautan cahaya di bawah mereka. Jantungnya berdetak dengan sangat kencang karena kelakuan Elios malam itu. Sejujurnya, ia masih belum terbiasa dengan sifat agresif pria itu.
Angin malam menyentuh kulit mereka bersamaan dengan tempias hujan gerimis tipis. Hembusan angin tersebut membawa rambut Lea mengikuti mata angin, sehingga tengkuknya yang indah terpampang dengan jelas di bawah lampu balkon itu.
Elios tak ingin melewatkan kesempatan itu. Ia mendaratkan bibirnya ke tengkuk Lea, lalu mengecup lembut tengkuk itu dengan penuh perasaan. Bahkan kecupan itu tak hanya sekedar kecupan. Bibir yang hangat itu terus membasahi tengkuk gadis yang diam-diam mencuri hatinya. Elios tahu, saat ia menatap tubuh gadis itu dari belakang sejak tadi, hasratnya mulai memberontak. Ia harus menahan dorongan yang semakin jelas terasa karena salah satu bagian tubuhnya sedang mengeras.
“El....” Lea melenguh tanpa sadar—untuk pertama kalinya ia mengeluarkan suara itu seumur hidupnya. Ia mencengkeram erat lengan kekar Elios yang sedang melingkar di perutnya yang datar. Ia memejamkan mata—menikmati hangat dan basahnya bibir pria itu menyentuh tengkuknya.
Beberapa saat kemudian, ia tersadar saat merasakan sesuatu yang sedang mengeras menyentuh tubuhnya dari belakang. Ia tahu apa itu. Tentu saja organ tubuh Elios yang satu itu sedang bangun karena aktifitas erotis mereka saat ini.
“El... a—aku mau ke kamar.”
Elios melepaskan pelukannya dari tubuh Lea. Tapi sesaat kemudian ia langsung menggendong tubuh Lea dengan sigap.
“Kyaaa!!!” pekik Lea terkejut. “A—apa yang kau lakukan?”
“Ke kamar? Hmm?” ucap Elios dengan wajah tanpa ekspresinya. Padahal dadanya saat ini sedang tidak baik-baik saja. Apalagi nafsunya?!
“Tapi aku bisa jalan sendiri,” Lea memelas—ekspresi yang tanpa ia sadari semakin menyulut api di dada Elios.
Alih-alih mendengarkan ucapan Lea, Elios malah melangkah masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintu balkon. Setelah itu ia melangkah menuju ke ranjang besar di kamar itu dan merebahkan tubuh Lea ke atasnya.
Tanpa suara, Elios merangkak ke atas tubuh Lea. Lalu bibirnya mendarat ke bibir gadis itu. Ciuman mereka malam itu begitu intens. Ciuman yang sarat akan makna ingin saling memiliki.
Beberapa detik berlalu, Lea bergegas menyudahi ciuman tersebut karena ia kesulitan bernapas. “Kau terlalu ahli,” ucap Lea terengah-engah.
“Apa aku bukan yang pertama?” imbuhnya dengan sedikit kekecewaan. “Aku kecewa kalau kau bohong.”
Elios menatap mata gadis yang sedang berada di bawah tubuhnya. Tangan yang sejak tadi sibuk menyapu bahu mulus Lea, kini beranjak menyibak helaian rambut yang mengganggu di wajah gadis itu.
“Kau yang pertama, Eleanore.”
“Tapi kau terlalu ahli,” rajuk Lea dengan bibir yang melengkung ke bawah. Mimik wajahnya berubah menjadi manja dan menggemaskan.
Elios tersenyum tipis—salah satu sudut bibirnya menukik ke atas. Mata elangnya menyapu wajah Lea dari dahi hingga ke dagu. Lalu mata elang itu terpaku di satu titik—mata almond milik Lea.
“Memangnya... ada yang tak bisa kulakukan?” ucap Elios dengan penuh kesombongan. Tapi ucapannya sepenuhnya benar. Apa yang tak bisa ia lakukan? Kegiatan fisik yang menyangkut dengan kekuatan, pekerjaan, memasak, dan lainnya? Kegiatan otak yang berhubungan dengan intelijen, ilmu dan bahasa? Ia bisa segalanya.
Lea mengerling manja. Ia memalingkan wajahnya karena merasa kesal dengan kesombongan pria itu. “Iya. Kau serba bisa. Sampai hatiku pun bisa kau curi.”
Kekehan pelan Elios terdengar. Lalu, ia pun menjatuhkan tubuhnya ke samping Lea. Ia menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. “Kau salah, Eleanore-ku.”
“Justru kau lah yang mencuri hatiku,” ucap Elios sambil mengelus pelan rambut Lea dengan penuh kasih sayang.
“Eleanore-ku?” Lea mengangkat wajahnya ke atas. “Sejak kapan Eleanore ini milikmu?”
Elios mengerutkan keningnya. Kemudian ia menempelkan dahinya ke dahi Lea. Saat kedua mata mereka saling bertatapan, Elios berbicara dengan suara yang pelan—namun penuh perasaan.
“Sejak aku melihat kau mengenakan pakaian dalam?”
“Eli!” geram Lea sambil menggigit bibirnya karena kesal dengan pernyataan pria itu. Ia mendorong pelan dada bidang pria itu.
Tapi Elios tidak menjauh. Ia malah menarik selimut menutupi setengah tubuh mereka, lalu berbaring dan memeluk tubuh Lea.
“Selamat malam, Madame Leopold,” ucap Elios sambil mengecup lembut dahi Lea. Lalu ia memejamkan matanya dengan sangat tenang dan nyaman.
“Madame Leopold?” Lea merengut manja. “Hiiiyyy... kita belum menikah.”
Elios membuka matanya dengan perlahan. “Kalau begitu... apa kita menikah saja? Secepatnya?”
“Huu... kau ini. Pacaran saja belum, tapi sudah mengajak menikah.”
“Tapi kita sudah serumah. Bahkan seranjang?”
Lea terdiam tanpa bisa berbicara. Pernyataan Elios benar. Kalau dilihat baik-baik, hubungan mereka saat ini sudah seperti pasangan suami istri. Sudah tinggal bersama, bahkan seranjang bersama.
“Hah? Seranjang bersama?” batin Lea dengan mata yang mendelik. Ia sedikit melotot ke arah Elios.
“Kau mau tidur di kamarku?” tanya Lea tanpa basa basi.
Elios mengangkat kedua alisnya—mengiyakan pertanyaan Lea.
“Jangan. Sebaiknya kau tidur di kamarmu.”
“Kenapa jangan?”
“Aku belum siap,” Lea menyilangkan tangannya ke dada dengan tubuh yang sedikit mundur.
Elios tersenyum tipis. Ia menarik Lea dan memeluk tubuh gadis itu kembali ke dalam pelukannya. “Kita akan melakukannya saat kau siap.”
“Jadi... tenanglah. Aku tak akan memaksamu,” imbuhnya pelan sambil memejamkan mata.
Lea terdiam sesaat. Untuk kesekian kalinya ia merasa aman saat bersama dengan pria itu. Karena Elios kembali mengajarkannya satu hal baru. ‘Cinta tak selalu harus terburu-buru’.
...****************...
Bersambung....
EL jika kamu bicara. baik2 dg Martin pastinya Martin akan mempertimbangkan niat baik kamu. jangan berpikir pendek dulu ok