Niat hati merayakan ulangtahun pernikahan kedua dengan kejutan manis, Cakra justru dihantam kenyataan pahit. Di dalam apartemen mereka, ia menemukan Hana terlelap dalam pelukan sepupunya sendiri. Tanpa tahu bahwa ini adalah jebakan licik sang ibu mertua yang tak pernah merestui mereka, Cakra terbakar api cemburu.
Malam itu juga, tanpa ruang untuk penjelasan, talak dijatuhkan. Hana hancur. Di balik kehancuran itu, ia menyimpan rahasia besar: sebuah kabar kehamilan yang baru saja ingin ia sampaikan sebagai hadiah anniversary mereka.
Tahun-tahun berlalu, Hana bangkit dan berjuang membesarkan putra mereka sendirian. Namun, waktu adalah saksi yang paling jujur. Akankah kebenaran tentang rencana jahat sang ibu mertua akhirnya terungkap? Dan saat penyesalan mulai menghujam Cakra, mampukah Hana memaafkan pria yang lebih memilih percaya pada amarah daripada cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan licik
Malam itu, apartemen mewah di pusat kota Jakarta dihiasi cahaya temaram. Hana menatap kalender digital di ponselnya dengan senyum merekah. Dua tahun. Bukan waktu yang sebentar untuk mempertahankan cinta di tengah badai ketidaksukaan ibu mertuanya.
Sebuah paket tiba di depan pintu. Tanpa curiga, Hana membawanya masuk. "Pasti dari Mas Cakra," gumamnya senang. Ia segera membukanya. Di dalam kotak beludru sedang itu, terdapat sebuah lilin aromaterapi dengan wadah kaca yang cantik. Begitu sumbunya dinyalakan, aroma lavender yang sangat kuat namun menyegarkan langsung memenuhi indra penciumannya.
Namun, hanya dalam hitungan menit, dunia Hana mulai berputar. Pandangannya mengabur, detak jantungnya melambat, dan rasa pening yang hebat menyerang kepalanya. Sebelum ia sempat mematikan api lilin itu, tubuhnya ambruk, tak sadarkan diri di atas lantai dingin sebelum kemudian semuanya menjadi gelap.
Tiga puluh menit kemudian, Cakra melangkah tegap di lorong apartemen. Di tangan kanannya ada sebuket mawar putih, bunga favorit Hana dan di saku jasnya tersimpan kotak perhiasan mahal. Ia ingin menebus rasa bersalahnya karena tidak mengangkat telepon Hana seharian.
Saat pintu terbuka, keheningan menyambutnya. "Hana? Sayang?"
Langkahnya terhenti. Matanya tertuju pada rak sepatu. Ada sepasang sepatu pria yang tertata rapi. Bukan miliknya. Amarah mulai membakar dadanya. Isu miring tentang kedekatan Hana dengan Riko, sepupunya, yang selama ini ia tepis, mendadak berputar di kepalanya seperti kaset yang rusak.
Cakra mempercepat langkah menuju kamar utama. Saat pintu terbuka, dunianya runtuh. Di atas ranjang mereka, Hana dan Riko terbaring diam di bawah satu selimut tebal yang sama.
"DASAR BRENGSEK KAU RIKO! KAU... BERANI BERSELINGKUH DENGAN ISTRIKU!"
Suara Cakra menggelegar. Ia menarik Riko dan menghajarnya membabi buta. Hana tersentak bangun, matanya mengerjap linglung melihat kekacauan di depannya. Ia menyadari dirinya hanya terbalut selimut, berdampingan dengan pria lain. Hana berteriak histeris, suaranya parau oleh ketakutan.
"Mas Cakra... Ini tidak seperti yang kamu lihat, aku... Aku dijebak, Mas!" Hana berusaha bangkit, namun tubuhnya masih lemas luar biasa.
Cakra menoleh, tatapannya penuh kebencian dan rasa jijik yang mendalam. "Enyahlah kau dari sini, dasar wanita jal*ng, wanita pel*cur...!"
"Mas, tolong dengarkan aku dulu!" Hana mencoba meraih tangan suaminya dengan sisa tenaga yang ada.
PLAK!
Cakra menepis tangan Hana dengan kasar hingga wanita itu tersungkur ke lantai.
Di tengah kemelut itu, pintu kamar terbuka lebar. Nyonya Inggit masuk bersama Jesika, wanita yang sejak dulu dijodohkan dengan Cakra.
"Ya ampun, ada apa ini?" ucap Nyonya Inggit dengan nada terkejut yang dibuat-buat, meski matanya berkilat puas. "Cakra, jadi ini alasan istrimu bersikeras pindah dari rumah Mama? Supaya bisa bebas berzina?"
Hana hanya bisa menunduk, air matanya tumpah membasahi lantai. Ia ingat ancaman ibu mertuanya setahun lalu: 'Aku akan menghancurkan mu sampai Cakra sendiri yang membuang mu ke tempat sampah.' Dan malam ini, sumpah itu menjadi nyata.
Hana meremas perutnya yang masih terasa mual. Di balik kehancuran ini, ada satu rahasia yang ia simpan rapat sebagai kado anniversary malam ini. Ia baru saja akan menunjukkan hasil tes kehamilan yang telah ia tunggu selama dua tahun. Namun kini, kado terindah itu terkubur di bawah puing-puing fitnah yang sempurna.
Nyonya Inggit melangkah mendekat, aroma parfum mahalnya seolah mencekik udara yang sudah terasa berat. Ia menatap Hana dengan sudut mata merendahkan, lalu beralih menyentuh bahu Cakra yang masih gemetar karena amarah.
"Lihatlah, Cakra. Inikah wanita yang kamu bela mati-matian di depan Mama?" suara Nyonya Inggit terdengar prihatin, namun penuh racun. "Wanita kalau sudah berani membawa pria lain ke atas ranjang suaminya, tidak akan pernah bisa berubah. Tidak ada maaf untuk pengkhianatan sekeji ini. Dia sudah menginjak-injak harga dirimu sebagai laki-laki!"
'Matilah kau Hana, wanita rendahan seperti mu tidak pantas menjadi menantu keluarga Ardiwinata, sekarang kau akan menjadi sampah, bersiaplah Putraku menendang mu dari kehidupannya.' batinnya puas
Jesika menimpali dengan nada lembut yang dibuat-buat, "Sabar, Tante. Mungkin Hana hanya... khilaf. Tapi memang sulit dipercaya, di hari anniversary kalian, dia justru bersama Riko."
Riko menyeringai licik, ia pun sangat puas karena rencananya telah berhasil.
'Coba kau dulu tidak menolak ku Hana, mungkin kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi, dan aku sengaja mendekati mu agar Cakra percaya kalau kita memiliki hubungan yang spesial.' ucapnya dalam hati.
Cakra, yang logikanya sudah lumpuh oleh ledakan emosi dan provokasi ibunya, menatap Hana dengan tatapan yang lebih dingin dari es. Rasa cinta yang selama dua tahun ia pupuk, mendadak layu dan membusuk menjadi kebencian yang amat sangat.
"Hana Zakiyah," suara Cakra rendah, namun bergetar hebat. "Mulai malam ini aku ceraikan kamu, dan sekarang kau bukan lagi istriku!"
"Mas! Jangan, Mas!" teriak Hana histeris, mencoba menggapai kaki Cakra.
Namun Cakra menepisnya dengan kasar. "Jangan sentuh aku dengan tangan kotor itu! Aku tak sudi melihat wajahmu lagi!"
Cakra berbalik, melangkah lebar meninggalkan kamar tanpa menoleh sedikit pun. Nyonya Inggit dan Jesika saling melempar senyum kemenangan yang tipis sebelum akhirnya mengikuti langkah Cakra keluar dari apartemen itu.
Apartemen yang tadinya disiapkan untuk perayaan cinta, kini menjadi saksi bisu hancurnya sebuah martabat. Hana jatuh terduduk di atas lantai, tubuhnya bergetar hebat karena tangis yang tak lagi bersuara. Ia menatap lilin aromaterapi yang kini sudah padam di atas meja nakas, bukti bisu yang mungkin tidak akan pernah dipercayai oleh siapa pun saat ini.
Ia teringat betapa keras usahanya membujuk Cakra pindah demi menghindari "neraka" di rumah mertuanya, namun ternyata iblis itu tetap bisa menjangkaunya di sini.
Perlahan, Hana menghapus air matanya dengan kasar. Rasa sakit di hatinya perlahan mengeras menjadi batu karang yang dingin. Ia mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kukunya memutih.
"Cukup..." bisiknya pada kesunyian.
Hana bangkit berdiri dengan sisa tenaga yang ada. Ia tidak akan lagi memohon. Jika pria yang ia sebut suami lebih memilih percaya pada sandiwara busuk ibunya daripada kesetiaan istrinya, maka pria itu tidak layak mendapatkan dirinya, apalagi masa depan mereka.
Hana mengusap perutnya yang masih rata, tempat di mana sebuah kehidupan baru, baru saja dimulai. Sebuah kado yang seharusnya membawa tawa, kini menjadi alasan baginya untuk menjadi kuat dan kejam.
"Mas Cakra, kau akan menyesali semua keputusanmu ini," desis Hana dengan tatapan mata yang kini berubah tajam dan penuh dendam. "Akan kubawa pergi buah cinta kita, seorang anak yang selama ini sangat kau dambakan. Jangan pernah berharap kau bisa melihatnya, bahkan untuk sedetik pun di sisa hidupmu."
Malam itu, Hana tidak meninggalkan apartemen sebagai wanita yang kalah. Ia pergi sebagai wanita yang telah mati rasa, siap untuk merancang pembalasannya sendiri.
Bersambung...
jgn krn ambisi dan balas dendam kamu mengorbankan org di sekeliling kamu Tama org sebaik itu jg kamu jadikan alat utk membalas Cakra,jgn Hana kasihan yg kain ....update tan lagi /Smug//Smug/
pdhl anak cerdas. lbih suka el anaknya jedar sih 👍 jd garda ibu nya.
kecewa bnget sih ma sikap el.