Seruni (20 tahun) adalah kembang desa cantik, lugu dan polos yang tinggal di wilayah terpencil daerah Tapal Batas.
Pernah bertunangan dengan salah satu pemuda dari kampung sebelah. Berujung putus dan gagal menikah karena ditikung adik tirinya bernama Rasti.
Suatu hari, Seruni dijodohkan dengan seorang pria dari kota. Musibah datang menerpa, di mana rombongan bus calon pengantin laki-laki mengalami kecelakaan, lalu terbakar hebat. Semua penumpang tewas di TKP termasuk calon suami Seruni.
Kepercayaan masyarakat setempat, jika sampai seorang gadis gagal menikah dua kali maka dianggap pembawa sial. Pastinya tak ada pemuda yang akan sudi menikahi Seruni.
Pak Tono selaku Kades yang berstatus sebagai ayah kandung Seruni, terpaksa menerima laki-laki asing bernama Bastian Fernando Malik yang mendadak bersedia menjadi suami Seruni. Tanpa diketahui semua orang bahwa Bastian tengah lari dan bersembunyi dari kasus pembunuhan yang menjeratnya.
Bagian dari Novel : Maafkan Mama, Pa🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 - Menjaga Jarak
"Jika kamu masih membahas masa lalu, lebih baik aku kembali bekerja. Masih banyak yang perlu ku lakukan. Aku tak mau ada spekulasi negatif atau iri antar pekerja di sini karena melihatku duduk diam di ruangan bos baru," tegas Bastian menjawabnya.
"Apa kabarmu?" tanya Maura dengan nada suara terdengar sendu berbalut rindu.
Bagaimana tidak rindu dengan Bastian ?
Hingga detik ini Maura masih mencintai Bastian dan tak bisa melupakan pria yang duduk di depannya saat ini. Hal tersebut terbukti setelah putus dari Bastian, Maura tak pernah terlihat menggandeng pria lain sebagai kekasihnya.
Jika hanya sekadar teman dekat, tentu pergaulan Maura cukup luas dan punya banyak teman baik pria maupun wanita. Pastinya ada banyak pria yang ingin mendekati Maura. Tapi sayangnya semua tak digubris oleh Maura.
Ia memilih menyibukkan diri untuk mengembangkan bisnis keluarganya demi melupakan Bastian. Namun ternyata, cinta itu tak semudah begitu saja untuk hilang dari hatinya.
"Tanpa ku jawab, pasti kamu tau kabarku sekarang seperti apa di depanmu." Jawab Bastian.
"Kamu tampak sehat dan baik-baik saja," ucap Maura seraya menatap lekat Bastian.
"Ya, aku baik. Apa aku bisa kembali bekerja?"
Bastian tampak ingin membuat jarak yang jelas dengan Maura. Tentu saja Bastian ingat bahwa saat ini dirinya sudah punya istri yakni Seruni yang harus dijaga dan dihargai.
"Apa kamu tak ingin memperkenalkan istrimu padaku?" pancing Maura.
"Aku rasa tak perlu," tolak Bastian.
"Kenapa? Apa kamu takut aku membuka hubungan kita di masa lalu padanya?"
"Aku hanya ingin tetap baik semuanya. Aku dan kamu tetap berteman baik hingga detik ini. Begitu pun hubunganku dengan istriku, Seruni. Jangan sampai semua hubungan baik itu berubah menjadi buruk,"
Sungguh saat ini Maura begitu kecewa mendengar jawaban Bastian. Walaupun secara normal tak ada yang salah dengan ucapan Bastian tersebut.
Sudah sewajarnya sebagai suami akan membela istrinya. Suami yang bertanggung jawab pasti akan menjaga sang istri dengan baik. Akan tetapi, tanpa menyadarinya hati Maura tengah marah pada takdir hidupnya karena Bastian menikah dengan wanita lain.
Dahulu Bastian sempat mengatakan sesuatu padanya sebelum mereka resmi putus.
Momen kala itu saat mereka masih berada di Australia. Maura kembali menanyakan arah dan tujuan pacaran mereka yang sudah menginjak lima tahun tersebut.
"Maafkan aku, Ra. Aku belum berpikiran untuk menikah. Apalagi saat ini,"
"Kenapa? Hubungan kita sudah cukup lama dan kamu sudah mengenalku, begitupun sebaliknya. Keluarga kita juga saling mengenal. Mereka memberi restu kapan pun jika kita hendak menikah,"
"Kamu pasti tau, orang tuaku bercerai. Aku tumbuh sebagai anak broken home sejak masih kecil. Aku masih trauma dengan yang namanya pernikahan apalagi sampai punya anak. Aku tak mau menyakitimu nantinya apalagi da_rah dagingku karena aku belum siap," tegas Bastian menolaknya.
"Kamu tak akan tau bagaimana rasanya, Ra. Karena kamu nggak pernah mengalami hal pahit itu," sambungnya.
"Lantas, di usia kapan kamu akan memutuskan untuk siap menikah?"
"Entahlah, Ra. Pernikahan tak ada dalam agenda hidupku. Mungkin nanti saat usiaku di atas 40 tahun, aku baru akan memikirkannya. Tapi belum tentu melakukannya,"
Maura patah hati atas keputusan Bastian tersebut. Akhirnya keduanya sepakat berpisah secara baik-baik. Walaupun sebenarnya di lubuk terdalam hati Maura, ia masih sangat mencintai Bastian.
Dan yang terjadi sekarang ini didepan Maura, di usia Bastian yang ke-30 tahun ternyata mantan kekasih alias mantan terindahnya itu memutuskan menikah dengan wanita lain, bukan dirinya.
Hening tercipta di antara dua anak manusia berlainan jenis tersebut yang duduk saling berhadapan. Tampak jelas kedua netra Maura berkaca-kaca. Menghadirkan kristal bening yang siap menetes.
Maura berusaha menengadahkan pandangannya ke atas agar air mata itu tak tumpah menetes saat ini. Bastian tentu jelas melihat itu semua. Ia pun menghela nafas beratnya.
"Aku minta maaf jika pernah mengecewakanmu, Ra. Tapi aku hanya manusia biasa yang tak bisa menolak takdir. Semoga kamu bisa mendapatkan jodoh yang lebih baik dariku," ucap Bastian seraya tulus minta maaf.
Maura hanya diam tanpa kata usai mendengar ucapan Bastian tersebut.
Bastian yang tak ingin ada salah paham atas kondisi dirinya saat ini yang hanya berdua dengan Maura di ruangan tersebut, memutuskan bangkit dari duduknya untuk kembali bekerja.
"Aku pamit dulu, Ra. Aku lanjutkan pekerjaanku," ucap Bastian seraya berpamitan.
Bastian membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju pintu. Baru dua langkah dari kursinya, mendadak Bastian menghentikan langkah kakinya setelah mendengar seruan Maura.
"Kamu sedang dicari pihak berwajib atas pembunuhan P S K bernama Rossa di sebuah kamar hotel. Apa kamu berada di daerah terpencil ini karena sedang melarikan diri dari kasus ini?"
Bastian sontak kembali membalikkan tubuhnya guna menghadap Maura yang masih duduk di kursi kebesarannya sebagai anak bos pabrik tersebut.
"Dari mana kamu tau hal itu?" desak Bastian dengan mi_mik wajah tajam dan intens ke arah Maura.
"Tak penting aku tau dari mana hal itu. Apa istrimu tau hal ini?"
Deg...
Bersambung...
🍁🍁🍁