Tak ada yang menyangka bahwa seorang jenius kepolisian seperti Song Lang akan lenyap dari dunia yang pernah ia kuasai. Namun setelah sebuah peristiwa kelam yang dipicu oleh musuh bebuyutannya, ia menghilang tanpa jejak—dan muncul kembali bertahun-tahun kemudian dengan nama baru: Chen Shi, seorang sopir biasa di kota yang tak pernah berhenti bergerak.
Chen Shi hanya ingin hidup tenang, jauh dari sorotan, jauh dari masa lalu. Namun takdir seolah menolak memberinya ketenangan. Suatu malam, sebuah kasus pembunuhan mengusik hidupnya, dan semua bukti justru mengarah kepada dirinya. Dalam sekejap, orang yang berusaha melupakan dunia kriminalitas kembali menjadi pusat perhatian.
Dipaksa membuktikan bahwa ia bukan pelaku, Chen Shi bekerja sama dengan seorang polisi muda yang gigih. Namun semakin dalam mereka menggali, semakin jelas bahwa kasus tersebut bukanlah kebetulan. Ada tangan-tangan gelap yang bergerak, dan jejaknya terasa terlalu familiar bagi Chen Shi. Terlalu mirip dengan seseorang ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26: Penyalahgunaan Dana
Suasana kantor cabang perusahaan asuransi itu tidak seramai siang hari. Beberapa karyawan masih berkutat dengan komputer, sebagian lagi tampak bersiap-siap untuk pulang. Di ruang tim kecil di sudut lantai, seorang wanita paruh baya—atasan langsung mendiang Kong Wende—menatap Lin Dongxue dan Xu Xiaodong dengan raut bingung.
Ia memiringkan kepala dan bertanya, “Kasus? Kasus apa?”
Lin Dongxue meremas buku catatannya. Ia tahu bahwa Xu Xiaodong, jika diberi kesempatan lima detik saja, bisa tanpa sengaja membongkar hal yang tidak boleh dibongkar. Dan benar saja—wajah Xu Xiaodong sudah tampak ingin bicara.
Lin Dongxue mencoba menahan situasi dengan kalimat paling diplomatis yang bisa ia susun dengan cepat. “Maaf, Bu. Kami tidak dapat mengungkapkan detail penyelidikan.”
Namun sang Wanita justru memelototkan mata. “Itu tidak bisa diterima. Xiao Kong itu bawahan saya selama bertahun-tahun. Tentu saya harus tahu! Apa yang terjadi padanya?”
Lin Dongxue membuka mulut, tetapi tak menemukan jawaban aman. Ia masih memutar otak ketika Xu Xiaodong, dengan kepolosan yang mengerikan, berkata santai:
“Dia dibunuh!”
Hening seketika.
Wanita itu membeku, menutup mulut dengan kedua tangan. “Apa!? Dibunuh!?”
Lin Dongxue menutup wajah dengan tangan. “Ya Tuhan… Dia benar-benar mengatakannya…”
Sang Wanita yang shock bertanya terburu-buru, “Siapa yang melakukannya?!”
Xu Xiaodong menjawab dengan senyum canggung, “Kalau kami tahu siapa pelakunya, kami tidak akan repot-repot ke sini.”
Lin Dongxue menutup mata erat-erat. Ia tak tahu harus menertawakan atau mencekik Xu Xiaodong.
Wanita itu mencondongkan tubuh, kini berganti nada curiga. “Kalian menyelidiki kantor kami? Apa kalian menduga pelakunya seseorang dari perusahaan?”
“B… bukan,” kata Lin Dongxue cepat. “Kami hanya menelusuri setiap kemungkinan. Oh, satu hal: mohon tidak menyebarkan informasi ini. Polisi belum mengumumkan kepada publik.”
Wanita itu mengangguk, tetapi Lin Dongxue tahu persis bahwa kalimat ‘jangan beritahu siapa pun’ biasanya berarti akan tersebar dalam lima menit.
Xu Xiaodong kembali menginterogasi, “Anda tahu apakah Kong Wende punya musuh? Orang yang tidak menyukainya?”
“Sejauh yang saya tahu, tidak ada,” jawab wanita itu. “Dia cukup disukai. Meski ada satu dua rekan yang tidak cocok dengannya, itu hal biasa di kantor. Tidak ada yang sampai membenci.”
Lin Dongxue mengalihkan topik ke hal yang lebih penting. “Anda tadi menyebut beliau membeli polis. Bisa jelaskan bagaimana situasinya?”
Wanita itu tertawa kecil. “Ibu ini bekerja di perusahaan asuransi. Membeli polis itu biasa saja. Kadang target bulanan turun, jadi kami membeli polis atas nama anggota keluarga sendiri. Itu sangat umum. Saya saja membeli untuk seluruh keluarga saya.”
Lin Dongxue menatap Xu Xiaodong dengan tatapan ‘lihat apa kataku’. Xu Xiaodong meringis dan menunduk malu.
Setelah itu, Lin Dongxue melanjutkan, “Kami juga perlu tahu mengapa beliau memiliki utang sangat besar.”
Wanita itu tiba-tiba tampak gugup. “Itu…”
Xu Xiaodong sudah berdiri. “Kalau tidak tahu, kami bisa tanya orang lain.”
“Eh tunggu!” Sang Wanita berteriak, lalu menarik napas panjang. “Dia… pernah menyalahgunakan dana perusahaan.”
Lin Dongxue dan Xu Xiaodong langsung duduk kembali. “Apa!? Kenapa tidak Anda katakan dari tadi?”
“Aku… baru ingat,” katanya sambil memaksakan senyum.
Namun, dari sorot matanya siapa pun tahu ada rahasia yang disembunyikannya. Responnya pun berlebihan, seolah hendak menutupi kebenaran.
Lin Dongxue mendekat, “Tolong ceritakan secara rinci.”
Wanita itu akhirnya menyerah. Ia mengambil secangkir teh, meneguknya, lalu memulai dengan suara rendah.
“Xiao Kong bertanggung jawab melatih karyawan baru. Di awal tahun, bagian keuangan menemukan puluhan kuitansi kosong. Ada daftar ratusan karyawan baru yang sebenarnya tidak pernah ada. Seseorang mengajukan klaim biaya pelatihan palsu. Totalnya sekitar… empat ratus ribu yuan.”
Xu Xiaodong langsung bersiul panjang. “Empat ratus ribu? Itu bukan jumlah kecil!”
Wanita itu meneruskan, “Ketika tim audit internal menyelidiki, bukti-buktinya mengarah ke Kong Wende. Ia mengakuinya saat saya panggil. Awalnya ia hanya mengambil sedikit demi sedikit, tetapi lama-lama membesar. Ia pikir rencananya sempurna. Tapi akhirnya ketahuan juga.”
“Apa yang Anda lakukan setelah itu?” tanya Lin Dongxue.
“Saya memilih tidak membawa masalah ini ke pengadilan. Kami sudah lama bekerja bersama. Saya memberi waktu untuk mengembalikan dana. Saya tidak peduli bagaimana caranya, tetapi ia harus mengganti semuanya. Dan… ia benar-benar mengembalikannya.”
“Bulan berapa kejadian ini?” tanya Lin Dongxue.
“April. Awal April.”
Lin Dongxue mengucapkan terima kasih, dan mereka pun keluar dari kantor asuransi.
Di halaman parkir, Lin Dongxue sambil berjalan mencoba menyusun potongan-potongan fakta.
“Sepertinya alurnya begini: Kong Wende menyalahgunakan dana perusahaan. Lalu ayah mertuanya sakit keras dan butuh biaya besar. Ia pakai uang itu. Ketahuan, lalu dipaksa mengembalikan. Karena itu, ia mengambil pinjaman pada rentenir.”
Xu Xiaodong mengangguk mantap. “Itu masuk akal. Jadi pelaku paling mungkin adalah rentenir.”
Lin Dongxue meliriknya. “Menurutmu rentenir akan membunuh seluruh keluarga?”
“Kenapa tidak? Kamu tidak tahu dunia bawah tanah itu bagaimana. Ada yang dulunya preman. Ada yang tidak peduli hukum. Mereka bisa saja melampiaskan amarah!”
Lin Dongxue tak menjawab. Kalau bukan karena penjelasan Chen Shi sebelumnya, mungkin ia akan menganggap hipotesis Xu Xiaodong benar. Tapi ada detail yang tidak masuk akal : seorang pembunuh yang tega menghabisi orang lanjut usia tidak mungkin tiba-tiba bersikap ‘baik hati’ membiarkan seorang anak kecil hidup. Itu bertolak belakang dengan profil rentenir brutal.
Masih banyak yang tidak sesuai.
Sore menjelang malam. Sinar senja menyapu langit dengan warna jingga redup. Xu Xiaodong menawarkan dengan semangat, “Dongxue, aku antar kamu pulang ya? Setelah kerja seharian, bagaimana kalau makan malam dulu? Aku traktir!”
“Tidak perlu. Aku naik taksi saja. Besok kita bertemu di kantor.”
Tanpa menunggu, Lin Dongxue melambaikan tangan dan memanggil taksi. Xu Xiaodong hanya bisa memandangnya pergi, tampak murung dan bingung.
Malam harinya, di rumah, Lin Dongxue menyalakan lampu meja dan mengetik ringkasan penyelidikan kepada Chen Shi melalui WeChat. Pesannya panjang dan lengkap. Namun balasan tak kunjung datang.
“Dia benar-benar tidur?” gumamnya kesal.
Tapi jauh di hati kecilnya, ia bertanya-tanya juga—apa sebenarnya yang dipikirkan pria itu? Mengapa ia selalu merasa Chen Shi seperti sudah tahu arah penyelidikan bahkan sebelum polisi bergerak?
Pagi berikutnya, Lin Dongxue tiba lebih cepat dari biasanya dan langsung menuju laboratorium forensik. Ruangan itu sepi, hanya terdengar dengung rendah komputer dan suara kipas angin kecil yang berputar.
Di tengah ruangan, Peng Sijue duduk dengan rambut kusut dan mata merah. Di atas mejanya berserakan berkas, foto TKP, dan—tentu saja—beberapa kaleng Red Bull kosong.
Begitu melihat Lin Dongxue, ia mengangkat wajah. “Kebetulan. Hasil tes DNA sudah selesai. Di meja sana.”
Lin Dongxue membuka map hasil analisis. Matanya langsung membelalak.
DNA darah yang ditemukan pada gagang pisau memiliki kecocokan 99% dengan DNA bocah laki-laki itu.
“Ini berarti… Chen Shi benar,” gumamnya.
Ia hampir berseru kegirangan ketika suara Peng Sijue memotong dingin, “Jangan terlalu cepat senang. Halaman tiga.”
Lin Dongxue membalik halaman. Hasil yang terpampang membuatnya terdiam, lalu berseru pelan, “Tapi… darah itu milik korban laki-laki!?”
“Begitulah,” kata Peng Sijue sambil memutar kursi dan membuka sebungkus permen mint. “Hasilnya jelas.”
Lin Dongxue memandangnya tidak percaya. “Tapi… gagangnya retak. Seharusnya jari pelaku kena. Darah pelaku seharusnya menetes.”
“Itu urusanmu untuk jelaskan bagaimana kejadiannya. Aku hanya memberikan hasil.”
“Terima kasih, Kapten Peng.”
“Bukan urusanku saat kamu berterima kasih,” gerutunya.
Saat Lin Dongxue hendak keluar, Peng Sijue bertanya tanpa menoleh, “Siapa pria yang bersamamu kemarin?”
“Hanya seorang sopir taksi,” jawab Lin Dongxue.
“Sopir? Sudahlah. Jangan ganggu aku lagi. Keluar.”
Lin Dongxue mendengus dalam hati. “Judes sekali…”
Namun ia tahu, jika Peng Sijue tidak bekerja semalaman, mereka tidak akan punya hasil ini. Ia memutuskan melakukan sesuatu.
Ia pergi ke kios dekat kantor, membeli satu set sarapan: bubur daging dan telur pindang, cakwe, dan susu kedelai panas. Kemudian kembali ke lab dan meletakkannya di meja.
“Kapten Peng, terima kasih atas kerja kerasnya. Sarapan untuk Anda. Jangan ditolak, ya.”
“Aku bilang aku tidak makan makanan dari luar,” katanya ketus tanpa menoleh. “Bawa pergi.”
“Baik, saya letakkan saja di sini.”
“Jangan tinggalkan—hei!”
Ketika Peng Sijue menoleh, Lin Dongxue sudah kabur keluar ruangan.
Peng Sijue menghela napas keras, berjalan ke pintu, menutupnya… lalu kembali ke meja. Ia membuka wadah bubur itu, meniup sedikit, mencicipi sendok pertama.
Dan bergumam, “Hmph. Enak juga.”
Dalam lima menit, seluruh sarapan tandas.