NovelToon NovelToon
Sabar Berujung Bahagia

Sabar Berujung Bahagia

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna / Wanita Karir / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh / Janda
Popularitas:822
Nilai: 5
Nama Author: Sherly

Setiap luka punya masa jeda, dan setiap kesabaran punya batas indah yang telah dijanjikan.

Ini adalah kisah tentang perjalanan panjang yang penuh air mata, tentang bagaimana hati dipaksa bertahan di tengah badai yang memilukan. Kadang, hidup terasa begitu tidak adil saat kehilangan dan rasa sakit datang bertubi-tubi tanpa permisi. Namun, Yani dan Ratih membuktikan bahwa ketabahan bukan sekadar menunggu badai berlalu, melainkan tentang bagaimana tetap melangkah meski kaki terasa berat.

Di balik setiap tawa canggung dan momen manis di persimpangan jalan, tersimpan kenangan pahit yang pernah menguji logika dan perasaan. Namun, bagi mereka yang bersedia mendekap luka dengan keikhlasan, semesta selalu punya cara untuk menyembuhkannya. Sebuah narasi tentang perjuangan, keluarga, dan keajaiban yang tumbuh dari benih kesabaran yang paling pedih.

Ternyata, bahagia tidak pernah datang terlambat; ia hanya datang di waktu yang paling tepat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sherly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Hari – Di Depan Ruko Rianti

terbangun setelah sampai di tujuan (rumah atau salon),

"Eh... sudah sampai? Bangun, Mbak Puji," ucapku sambil menggoyang pelan bahu Mbak Puji. Aku sendiri masih mengumpulkan nyawa setelah tertidur pulas di sepanjang jalan.

Mbak Puji mengerjap-ngerjap, tampak kaget karena ternyata dia pun ikut terlelap. "Oh, sudah sampai toh?" gumamnya sambil membetulkan posisi duduk.

Rianti menoleh dari kursi depan sambil tersenyum lebar. "Iya, sudah sampai ini. Ini rukoku, ayo pada turun dulu. Langsung masuk, istirahat di dalam saja."

Tanpa berlama-lama, aku segera turun dari pintu kiri, disusul Mbak Puji dari pintu sebelah kanan. Udara malam Pekanbaru terasa lebih lembap di sini. Kami bergegas ke bagasi untuk mengambil koper masing-masing. Begitu koper sudah di tangan, Mbak Puji berdiri mematung sambil mendongakkan kepalanya, menatap bangunan di depan kami.

"Wah, Ri... ini ruko kamu? Tinggi banget menjulang begini!" seru Mbak Puji dengan nada kagum yang tidak bisa disembunyikan.

Rianti tertawa sambil mengeluarkan kunci dari tasnya. "Iya, Ji. Tapi ini isinya cuma empat lantai kok. Nggak setinggi yang kamu bayangkan kalau sudah masuk ke dalam."

"Cuma empat lantai kamu bilang? Di Ambarawa mah ini sudah termasuk mewah, Ri!" balas Mbak Puji sambil terus menatap ke atas. "Lantai bawah buat salon semua, atau gimana?"

"Lantai satu sama dua buat salon dan perawatan, Ji. Lantai tiga buat gudang sama ruang santai, nah lantai empat itu tempat kalian istirahat. Jadi kalian nggak perlu capek-capek cari kos lagi, tinggal naik tangga saja kalau habis kerja," jelas Rianti sambil membuka pintu harmonika ruko yang mengeluarkan suara menderu pelan.

Mbak Puji geleng-geleng kepala. "Luar biasa kamu sekarang ya. Aku nggak nyangka salon kecil kamu dulu sekarang sudah punya ruko setinggi ini."

"Semua butuh proses, Ji. Ayo masuk, jangan bengong di luar. Bawa kopernya, pelan-pelan ya tangganya agak curam," ajak Rianti.

Kami melangkah masuk melewati gerbang yang masih terbuka. Ternyata, meski sudah malam, aktivitas di lantai dasar masih terlihat. Begitu kami masuk, aku bisa merasakan pasang mata tertuju pada kami.

Para wanita yang bekerja di sana menghentikan sejenak kegiatan mereka, menatap penuh rasa ingin tahu ke arahku dan Mbak Puji yang datang membawa koper besar.

Mbak Rianti bertepuk tangan pelan untuk menarik perhatian. "Teman-teman, kumpul sebentar ya," serunya dengan nada tegas namun ramah.

Empat orang kariyawan segera mendekat dan berdiri berjejer. Mbak Rianti pun mulai memperkenalkan mereka satu per satu kepada kami.

"Kenalin, ini Jesika, Emi, dan Lala. Mereka yang pegang bagian salon dan perawatan," ucap Mbak Rianti sambil menunjuk tiga wanita yang tampak cekatan itu. "Dan satu lagi, ini Mawar, sama ada satu lagi ratih dia sedang libur."

Aku mengangguk kecil ke arah mereka, mencoba memberikan senyum ramah meski wajahku pasti terlihat sangat kuyu karena kelelahan.

Mereka menyambut kami dengan sopan, meski ada sorot mata yang masih tampak penasaran, dengan kehadiranku sebagai anggota baru di tim mereka.

"Nah, karena ini sudah malam dan kalian baru saja menempuh perjalanan jauh dari Jawa, perkenalannya cukup sampai di sini dulu ya," kata Mbak Rianti menengahi. "Jes, Mi, kalian lanjut beresin lantai bawah. Untuk kalian berdua, silakan langsung naik ke lantai empat. Di sana mes kalian, sudah disiapkan tempatnya untuk beristirahat."

"Terima kasih, Mbak Rianti," jawabku lirih.

"Ayo, langsung ke atas saja," ajak Mbak Puji sambil mulai mengangkat kopernya lagi.

Kami melewati lantai dua yang dipenuhi meja-meja untuk eyelash, dan perlengkapan salon lainnya, lalu terus mendaki hingga mencapai lantai empat. Begitu sampai di mes, aku langsung meletakkan koper di pojok ruangan. Rasanya luar biasa bisa sampai di titik ini. Tanpa banyak bicara lagi, aku hanya ingin segera membersihkan diri seadanya, dan memejamkan mata di atas kasur yang sudah menunggu.

****

Sesampainya di lantai empat yang menjadi mes kami, aku dan Mbak Puji meletakkan koper dengan napas terengah-engah. Kondisi lantai ini cukup tenang dibandingkan lantai bawah, namun ada satu hal yang membuat kami berdua bingung.

Aku mengitari ruangan, menoleh ke kiri dan ke kanan, tapi tidak menemukan tanda-tanda pintu kamar mandi.

"Mbak... ini kamar mandinya diumpetin ke mana ya? Kok nggak ada?" tanyaku dengan wajah linglung sambil memegangi perlengkapan mandi.

Mbak Puji terkekeh pelan melihat ekspresiku yang kebingungan. "Nggak tahu, Dek. Entah paling dibawa pulang kali sama pegawainya sini," jawabnya asal, membuat kami sempat tertawa kecil di tengah rasa lelah yang luar biasa.

Di saat kami sedang asyik mengobrol dan mencari-cari, tiba-tiba muncul seorang wanita dari arah tangga. Sosoknya cantik, dengan badan yang tampak berisi dan dermawan yang sangat anggun serta terlihat baik hati. Ia menatap kami dengan sorot mata yang ramah.

"Kalian anak baru ya?" tanyanya lembut sambil menghampiri kami. Karna ia tidak ada dibawah pas kami datang. Sepertinya beliau sedang istirahat atau sedang libur.

Aku segera mengangguk sopan. "Iya, Mbak. Namaku Yani dan ini Mbak Puji," ucapku sambil memperkenalkan diri.

Wanita itu tersenyum manis dan menyambut uluran tanganku. "Aku Ratih," jawabnya hangat. "Terus kalian mau ngapain di sini kok kayak orang bingung gitu?"

"Ini Mbak Ratih, kami mau cari kamar mandi tapi dari tadi muter-muter nggak ketemu. Di mana ya?" jawabku terus terang.

Mbak Ratih tertawa kecil, lalu dengan baik hati ia mengantar kami menuju area dapur kecil yang ada di lantai itu. Ia menunjuk ke sebuah pintu yang letaknya agak tersembunyi di bagian belakang dapur.

"Kalau mau ke kamar mandi, ada di luar sana," tunjuknya ke arah pintu yang menuju area terbuka atau balkon lantai empat. "Posisi pintunya memang di belakang dapur, jadi kalau dari depan memang nggak langsung kelihatan."

"Oalah... di situ toh. Terima kasih banyak ya Mbak Ratih. Sudah dibantu, kalau nggak, mungkin kami bakal muter-muter di sini sampai pagi," ucap Mbak Puji sambil tertawa lega.

Mbak Ratih hanya mengangguk sopan dan mempersilakan kami. Setelah menemukan keberadaan kamar mandi itu, aku segera bersiap. Rasanya sudah tidak sabar ingin mengguyur badan dengan air supaya sisa-sisa debu dari perjalanan Ambarawa-Jakarta-Pekanbaru ini hilang sepenuhnya.

Setelah mandi dengan air dingin yang segar, rasa penat yang menempel sejak dari Ambarawa rasanya luruh seketika. Aku keluar dari kamar mandi dengan perasaan yang jauh lebih ringan, meskipun rasa kantuk kini menyerang lebih hebat dari sebelumnya.

Mbak Puji sudah menunggu gilirannya dengan handuk tersampir di bahu. Begitu aku keluar, ia langsung masuk untuk membersihkan diri. Aku melangkah kembali ke area mes, berniat langsung merebahkan diri, namun langkahku terhenti saat melihat Mbak Ratih masih ada di sana, sedang duduk santai di dekat dapur kecil.

"Gimana? Segar ya habis mandi?" sapa Mbak Ratih ramah saat melihatku lewat.

"Iya, Mbak. Rasanya nyawa baru terkumpul lagi habis kena air," jawabku sambil tersenyum tipis.

"Sini duduk sebentar kalau belum mau langsung tidur. Biasanya anak-anak kalau baru sampai sini suka susah tidur karena masih kaget sama suasananya," ajak Mbak Ratih sambil menggeser sedikit posisi duduknya.

Aku pun duduk sebentar di hadapannya, merasakan hembusan angin malam dari jendela lantai empat. "Di sini kalau malam memang tenang begini ya, Mbak?" tanyaku.

"Iya, kalau sudah jam segini area ruko memang sepi. Tapi kalau besok pagi sudah buka salon, wah... jangan ditanya. Lantai dua bakal ramai banget sama yang mau eyelash atau facial," Mbak Ratih bercerita dengan nada yang tenang. "Kamu besok istirahat dulu atau langsung mau diajarin Mbak Rianti?"

"Belum tahu, Mbak. Tergantung Mbak Rianti besok instruksinya gimana," jawabku lirih. Mataku mulai terasa sangat berat.

Tak lama kemudian, Mbak Puji keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sama segarnya. Ia bergabung sebentar dengan kami, namun kami berdua tidak bisa menyembunyikan sisa-sisa kelelahan di wajah kami.

"Sudah, mending kalian langsung masuk kamar saja," Mbak Ratih menyadari kondisi kami. "Koper-kopernya besok saja dirapikan. Yang penting tidur dulu, biar besok badannya nggak sakit semua."

Kami berdua mengiyakan saran Mbak Ratih. Aku melangkah menuju kasur busa yang sudah disiapkan untukku di lantai empat ini. Begitu tubuhku menyentuh bantal, aku bahkan tidak sempat memikirkan apa yang akan terjadi besok. Hanya dalam hitungan detik, aku sudah tertidur pulas, hanyut dalam mimpi pertama di tanah Sumatera

Bersambung...

1
WinnyLiam
👍🏻
Melsha: terimakasih
total 1 replies
Efan Taga
aku mampirrrr
Melsha: terimakasih udah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!