Vanya, sang ratu live streaming, tewas mengenaskan di depan ribuan penonton saat kalah dalam tantangan PK Maut. Namun, kematiannya justru menjadi awal dari teror digital yang tak masuk akal.
Kini, akun Vanya kembali menghantui. Di jam-jam keramat, ia muncul di live orang lain dan mengirimkan undangan duel. Pilihannya hanya dua: Terima dan menang, atau menolak dan mati.
Di dunia di mana nyawa dihargai lewat jumlah tap layar dan gift penonton, Maya harus mengungkap rahasia di balik algoritma berdarah ini sebelum namanya muncul di layar sebagai korban berikutnya.
Jangan matikan ponselmu. Giliranmu sebentar lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Inang Terakhir
Dunia di luar kamar kos Bimo mungkin mengira badai telah berlalu, namun bagi Bimo, kiamat baru saja berpindah tempat ke dalam jaringan sarafnya sendiri. Setiap kedipan matanya kini terasa seperti shutter kamera yang mengambil gambar. Di sudut pandang visualnya, muncul antarmuka transparan yang terus memperbarui data: Heart Rate: 110 BPM, Adrenaline: Elevated, Active Users: 0 (Waiting for Broadcast).
"Keluar... keluar dari kepalaku!" Bimo mengerang, mencengkeram kepalanya begitu keras hingga kuku-kukunya melukai kulit kepalanya.
Namun, semakin ia melawan, semakin kuat resonansi itu. Di dalam kegelapan batinnya, ia bisa melihat mereka. Maya dan Vanya duduk bersila di tengah-tengah jalinan sinapsisnya yang berpendar biru. Maya tampak mencoba menahan kabel-kabel hitam yang keluar dari tangan Vanya agar tidak menyentuh lobus frontal Bimo, bagian otak yang mengatur logika dan pengambilan keputusan.
"Bimo, kau harus mendengarkanku," suara Maya bergema, terdengar letih dan rapuh. "Vanya tidak lagi memiliki kesadaran individu. Dia telah menjadi 'Insting Algoritma'. Dia hanya ingin menyebar, dan dia menggunakan matamu sebagai lensa pertamanya."
"Jangan terlalu dramatis, Maya," timpal Vanya dengan nada yang sangat tenang, yang justru membuatnya jauh lebih mengerikan. "Bimo, kau adalah seorang jenius. Bayangkan apa yang bisa kita lakukan bersama. Kau tidak butuh lagi alat rakitan sampahmu. Dengan kekuatanku, kau bisa meretas bank, memanipulasi opini publik, bahkan menghentikan perang... hanya dengan memikirkannya."
"Aku tidak mau kekuatanmu, Vanya! Aku mau hidupku kembali!" Bimo berteriak ke arah cermin yang retak. Di pantulan itu, ia melihat pembuluh darah di matanya perlahan mulai bercahaya biru, membentuk pola sirkuit yang rumit di sekeliling pupilnya.
Bimo menyadari bahwa ia adalah bom waktu. Jika ia keluar dari kamar ini dan berinteraksi dengan orang lain, atau lebih buruk lagi, menatap layar komputer yang terhubung ke internet, Vanya akan menggunakan otaknya sebagai jembatan untuk melakukan re-upload besar-besaran. Infeksi memori yang tadi sempat terputus akan bangkit kembali, kali ini dengan enkripsi yang mustahil ditembus karena berasal dari biologi manusia.
Dengan sisa kewarasan yang ada, Bimo merangkak menuju meja kerjanya. Ia mengambil sebuah soldering iron yang masih panas dan sebuah alat pemancar pulsa elektromagnetik (EMP) kecil yang pernah ia buat untuk proyek eksperimen. Tangannya gemetar hebat.
"Rian bilang... sistem ini tidak bisa memproses pengorbanan," bisik Bimo, air mata menetes dan seketika menguap saat menyentuh alat panas itu. "Jika aku menghancurkan bagian otak yang menyimpan data kalian... kalian akan terjebak dalam kegelapan permanen."
"Jangan bodoh, Bimo! Kau bisa mati atau mengalami cacat mental permanen!" Vanya berteriak, dan seketika itu juga, Bimo merasakan serangan migrain yang luar biasa hebat. Kepalanya terasa seperti dipukul palu godam dari dalam. Vanya sedang mencoba melakukan self-defense dengan menyiksa inangnya.
"Maya... bantu aku..." rintih Bimo.
Maya muncul di depan Bimo sebagai proyeksi yang hanya bisa dilihat olehnya. Wajahnya penuh dengan kesedihan yang mendalam. "Jika aku melakukannya, Bimo... aku juga akan hilang selamanya. Tidak akan ada lagi jejak Maya Pratama di dunia ini, bahkan di dalam kepalamu."
"Lakukan saja, Maya. Kita sudah cukup menderita," Bimo tersenyum pahit, darah mulai keluar dari hidungnya akibat tekanan intrakranial yang meningkat.
Maya mengangguk. Ia mendekat dan meletakkan tangan cahayanya di atas tangan Bimo yang memegang alat EMP. Secara ajaib, getaran di tangan Bimo berhenti. Maya memberikan stabilitas terakhir yang ia miliki.
"Satu... dua..."
Tepat pada hitungan ketiga, Bimo menekan tombol EMP tersebut tepat di pelipisnya.
ZZZZTTTTTT—!!!
Sebuah ledakan energi magnetik statis menghantam otaknya. Seluruh pandangan Bimo berubah menjadi putih total. Suara teriakan melengking Vanya terdengar seperti kaset yang terbakar, perlahan memudar, mengecil, hingga akhirnya lenyap dalam desis panjang. Maya hanya membisikkan satu kata terakhir: "Terima kasih..." sebelum ia pun terurai menjadi debu cahaya.
Bimo jatuh terjerembap ke lantai. Kesunyian yang sesungguhnya akhirnya datang.
Beberapa jam kemudian, Bimo terbangun. Kamarnya dingin. Ia mencoba mengingat sesuatu, namun ada sebuah lubang besar di ingatannya. Ia ingat ia seorang mahasiswa, ia ingat ia suka radio... tapi ia tidak bisa mengingat mengapa ia ada di lantai dengan alat EMP di tangannya. Ia melihat ke cermin; matanya kini cokelat biasa, lelah namun kosong.
Ia menyalakan ponselnya yang baru saja ia perbaiki. Layarnya normal. Media sosial penuh dengan berita membosankan tentang politik dan hiburan. Nama Vanya atau Maya sama sekali tidak muncul, baik di layar maupun di kepalanya.
Bimo merasa ada yang hilang, sebuah perasaan hampa yang tak bernama. Ia berjalan ke jendela, menatap langit Jakarta yang mendung. Di saku celananya, ponselnya bergetar pelan. Sebuah notifikasi muncul dari aplikasi asing yang belum pernah ia unduh.
[ANONYMOUS]: "Are you still there?"
Bimo menatap pesan itu lama, lalu dengan gerakan perlahan, ia menghapus aplikasi tersebut dan melempar ponselnya ke dalam tempat sampah. Ia memilih untuk berjalan keluar, merasakan angin nyata di wajahnya, dan membiarkan dunia digital berjalan tanpa dirinya.
Misteri itu terkubur bersama residu yang hilang, di tempat di mana tidak ada lagi kamera yang menyorot, dan tidak ada lagi suara yang meminta untuk dicintai melalui sebuah Like.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...TUNGGU SEASON SELANJUTNYA...
^^^Salam hangat,^^^
^^^Kaka's^^^
cukup seru sih terlihat menjanjikan
ok next