Nayla Safira Hanin adalah siswi jenius yang lebih suka tidur di atap sekolah daripada di kelas. Namun di balik hijabnya, ia adalah petarung jalanan tak terkalahkan yang sanggup melumpuhkan lawan dalam hitungan detik. Kebebasannya terenggut saat dosa masa lalu sang ayah terungkap: setahun lalu, ayahnya tak sengaja menabrak istri seorang konglomerat hingga tewas.
Keluarga Hasyim datang bukan untuk meminta ganti rugi uang, melainkan "hutang nyawa". Nayla dipaksa menikah dengan Adnan Hasyim, pria dingin yang membenci keluarga Nayla sedalam cintanya pada mendiang istrinya. Adnan hanya butuh pengasuh untuk putrinya, Adiva, yang berhenti bicara sejak kecelakaan tragis itu.
Kini, Nayla terjebak sebagai istri dari pria yang menganggapnya beban sekaligus musuh. Adnan tak menyadari bahwa istri "kecil" yang tengil ini adalah satu-satunya pelindung yang akan mempertaruhkan nyawa saat musuh bisnis mulai mengincar keluarganya. Mampukah kepalan tangan Nayla meruntuhkan tembok kebencian Adnan,?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MILIK NAYLA
Kamar VIP Rumah Sakit Medika Jakarta pagi itu tampak jauh dari kesan hening. Jika biasanya kamar pasien adalah tempat untuk beristirahat dengan tenang, kamar nomor 301 ini justru terdengar seperti arena pasar malam. Adnan Hasyim terbaring dengan kaki kanan yang digips dan digantung, sementara di ranjang sebelahnya, Nayla Safira duduk bersila dengan lengan yang dibebat perban baru.
Nayla sudah terjaga sejak pukul lima pagi. Dua jam pertama ia habiskan dengan memutar-mutar kursi roda di sekitar ranjang Adnan sampai pria itu pusing. Satu jam berikutnya, ia mencoba membedah menu sarapan bubur rumah sakit yang katanya rasanya seperti lem kertas. Kini, level kebosanannya sudah mencapai puncaknya.
"ByBy... Pak Es... Sayangku yang kaku..." panggil Nayla dengan nada yang sengaja diseret-seret agar terdengar menyebalkan.
Adnan yang sedang mencoba membaca laporan kerja di tabletnya hanya memejamkan mata rapat-rapat. "Nayla, tidur. Dokter bilang kamu butuh istirahat, bukan butuh konser mini."
"Istirahat itu buat orang yang capek, By! Saya ini baterainya masih seratus persen plus-plus! Saya bosan lihat dinding putih terus, lama-lama saya berasa jadi butiran micin di dalem bungkusnya tahu nggak!" Nayla mulai melompat turun dari ranjangnya, menyeret tiang infusnya dengan bunyi krak-krak yang memilukan.
Adnan menghela napas, ia meletakkan tabletnya. "Lalu kamu mau apa, Nayla? Saya tidak bisa mengajakmu jalan-jalan. Kaki saya sedang disandera oleh gips ini."
Nayla menyeringai lebar, ekspresi yang selalu membuat bulu kuduk Adnan merinding karena ia tahu sesuatu yang tengil akan terjadi. Ia merogoh laci nakas dan mengeluarkan sekotak kartu remi yang entah dari mana ia dapatkan.
"Main kartu yuk, By! Yang kalah mukanya dicoret pakai spidol permanen ini!" Nayla menunjukkan spidol hitam besar dengan bangga.
"Tidak. Kekanak-kanakan sekali," tolak Adnan tegas.
"Oh, takut kalah ya? Bilang aja kalau CEO besar Hasyim Group ini nggak punya bakat main kartu. Ternyata Pak Adnan cuma jago ngatur duit, tapi nggak jago ngatur strategi kartu. Payah!" ejek Nayla sambil membuang muka dan pura-pura menguap.
Adnan merasa harga dirinya tersentil. "Saya tidak takut. Saya hanya merasa itu tidak produktif."
"Halah, alasan! ByBy penakut! ByBy payah!" Nayla mulai bernyanyi kecil sambil menggoyang-goyangkan tiang infusnya seperti tiang stripper.
"Nayla! Berhenti menggoyangkan tiang itu atau saya panggil suster untuk menyuntikmu obat tidur!" bentak Adnan frustrasi.
"Ya sudah, ayo main! Satu set saja. Kalau saya kalah, saya janji bakal diam dan tidur sampai besok. Tapi kalau ByBy kalah... siapkan wajah Mas untuk mahakarya saya!" Nayla memberikan tatapan menantang yang sangat provokatif.
Adnan melihat jam di dinding. Ia butuh ketenangan untuk memulihkan kakinya. Pikirannya berkata ini adalah ide buruk, tapi melihat Nayla yang terus-menerus bertingkah seperti cacing kepanasan, ia akhirnya menyerah. "Baik. Satu set saja. Dan jangan curang, Nayla. Saya tahu tanganmu lebih cepat dari copet terminal."
Permainan pun dimulai. Nayla membagikan kartu dengan kecepatan luar biasa, sesekali ia bersenandung lagu "Kucing Garong" yang membuat konsentrasi Adnan buyar. Adnan mencoba fokus, ia menggunakan logika matematikanya yang tajam untuk menghitung kartu yang sudah keluar.
"Aha! Kena kau, ByBy!" teriak Nayla sambil membanting kartu Joker ke meja kecil di atas ranjang Adnan.
"Tunggu, bagaimana bisa? Saya sudah hitung sisa kartunya," Adnan terbelalak tidak percaya.
"Logika Bapak itu ketinggalan di helikopter kemarin! Di dunia Nayla, yang menang adalah yang punya insting detektif! Sini mukanya, By! Jangan lari!" Nayla sudah berdiri di atas kursi, siap dengan spidol di tangannya.
"Nayla, pelan-pelan! Jangan di dahi!" protes Adnan saat ujung spidol yang dingin menyentuh kulit wajahnya.
"Diam, By! Seniman lagi bekerja! Jangan banyak gerak nanti kumis kucingnya mencong!" Nayla dengan sangat telaten menggambar di wajah tampan suaminya.
Sepuluh menit kemudian, Nayla terduduk di lantai sambil tertawa sampai mengeluarkan air mata. Adnan meraih cermin kecil yang diberikan Nayla dan seketika itu juga wajahnya memerah padam. Di cermin itu, tampak wajah seorang CEO terpandang kini memiliki kumis kucing yang tebal, hidung yang dibulatkan hitam seperti badut, dan tulisan "MILIK NAYLA" yang sangat besar di pipi kanannya.
"Nayla Safira! Ini spidol permanen?!" teriak Adnan murka, namun ia tidak bisa berbuat banyak karena kakinya digantung.
"Hahaha! ByBy lucu banget! Persis kucing garong yang baru kalah rebutan wilayah di pasar! Sumpah, kalau difoto terus dikirim ke bursa saham, harga saham Hasyim Group bisa anjlok karena bosnya jadi maskot kucing!" Nayla guling-guling di lantai rumah sakit tanpa memedulikan rasa sakit di lengannya.
"Hapus sekarang! Atau saya potong uang jajanmu setahun!" ancam Adnan, meskipun ia sendiri tidak tega melihat Nayla tertawa sebahagia itu.
"Nggak bisa, By! Harus pakai alkohol, dan alkoholnya lagi saya umpetin! Bapak harus begini sampai dokter datang visit, biar dokternya nggak tegang-tegang amat!" balas Nayla sambil tertawa terpingkal-pingkal
Tepat saat Nayla sedang asyik menertawakan mahakaryanya, pintu kamar VIP itu terbuka dengan dentuman yang cukup keras. Suasana tawa Nayla langsung berhenti seketika.
Seorang pria tua dengan langkah tegap dan tatapan mata yang tajam seperti elang masuk ke dalam ruangan. Ia mengenakan setelan jas hitam yang sangat formal, didampingi oleh dua pengawal di belakangnya. Sosok itu tidak lain adalah Hendra Hasyim, ayah Adnan, sang penguasa tertinggi Hasyim Group yang sangat disegani.
Hendra terhenti di tengah ruangan. Ia menatap Nayla yang masih terduduk di lantai, lalu perlahan beralih menatap putra kebanggaannya, Adnan, yang saat ini sedang memiliki kumis kucing dan tulisan "MILIK NAYLA" di pipinya.
Hening. Sunyi senyap menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik.
"Adnan..." suara Hendra terdengar berat dan sangat dalam, membuat bulu kuduk siapapun merinding. "Apakah ini cara baru untuk memimpin perusahaan? Dengan menjadi maskot binatang?"
Adnan menutup wajahnya dengan tangan, suaranya terdengar pasrah. "Papa... ini tidak seperti yang Papa lihat. Ini hanya... sedikit kecelakaan kecil."
Nayla yang tadi sempat takut, tiba-tiba berdiri dan memberikan hormat seperti tentara. "Lapor, Papa Mertua! Ini bukan kecelakaan, ini adalah hukuman karena ByBy kalah main kartu! Papa mau ikut main juga? Masih ada tempat kosong di pipi Mas Adnan buat dicoret!"
Hendra menoleh ke arah Nayla. Matanya menyipit, menatap menantu "pilihan paksa,nya itu. "Nayla, kamu hampir kehilangan nyawa di jurang, dan sekarang kamu malah membuat putraku tampak seperti badut?"
"Habisnya di sini bosan, Pa! Kalau nggak diginiin, ByBy bakal terus-terusan cemberut kayak es balok kadaluarsa," jawab Nayla tanpa rasa takut sedikitpun.
Hendra terdiam sejenak, lalu secara mengejutkan, sudut bibirnya sedikit terangkat. Ia menarik napas panjang dan duduk di kursi yang tersedia. "Hanya kamu yang berani melakukan ini pada Adnan, Nayla. Bahkan aku pun tidak pernah berani mencoret wajahnya."
Suasana yang tadinya tegang mulai sedikit mencair, namun wajah Hendra kembali serius. Ia menatap Adnan dengan tatapan yang sangat dalam. "Aku datang bukan hanya untuk menjenguk. Farhan sudah tertangkap di perbatasan, tapi dia sempat mengatakan sesuatu sebelum diamankan polisi."
Adnan menurunkan tangannya, menatap ayahnya dengan serius meski kumis kucingnya masih menghiasi wajahnya. "Apa yang dia katakan, Pa?"
"Dia bilang, kecelakaan istrimu setahun lalu bukanlah rencananya sendirian. Ada seseorang di dalam rumah ini yang memberikan informasi tentang rute perjalanan mobil itu," ucap Hendra dengan nada dingin.
Nayla memegang tiang infusnya dengan erat. "Maksud Papa... ada pengkhianat di rumah kita?"
Hendra mengangguk. "Dan pengkhianat itu saat ini sedang menuju ke rumah singgah Ibram Hanin. Mereka mencari dokumen yang disimpan ayahmu, Nayla. Sesuatu yang melibatkan masa lalu aku dan Ibram yang selama ini kami rahasiakan darimu dan Adnan."
Adnan dan Nayla saling berpandangan. Rasa bosan Nayla hilang seketika, digantikan oleh rasa dingin yang menjalar di punggungnya. Ternyata, ancaman belum berakhir.
"Papa, siapa orang itu?" tanya Adnan mendesak.
Hendra menatap pintu kamar yang tertutup rapat, seolah-olah orang yang dimaksud sedang mendengarkan dari balik sana. "Orang yang selama ini memegang semua kunci akses keamanan kita. Orang yang kamu percaya sebagai tangan kananmu."
Mata Nayla membelalak. "Mas Dion?"
Tepat saat nama itu disebut, ponsel Adnan di atas meja bergetar. Sebuah pesan masuk dari Dion: "Maaf, Pak Adnan. Ada beberapa hal yang harus saya selesaikan di panti asuhan Nayla. Saya akan membawa 'kunci' itu kepada pemilik aslinya."
kuueeeereeeeennnnn..........🌹🔥🔥🔥🔥🔥