fiksi sejarah Kisah Para Pemimpin sebuah Pulau bernama The Horn Land. cerita dalam rentang waktu 110 tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sutrisno Ungko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Petarung
Dan pertarungan dua kesatria ini dimulai. Sengit dengan dua pedang yang beradu, dikombinasikan dengan pukulan dan tendangan. Terlihat mereka seimbang dalam olah pedang masing-masing, satu sabetan kecil Regen melukai pundak Baleth yang semakin menaikan semangatnya untuk menghabisi lawannya itu dengan cepat.
Setelah lebih dari 30 menit tak ada tanda-tanda dua kesatria ini mengakhiri pertarungan. Tiba-tiba muncul sekelompok prajurit lain datang mengganggu pertarungan ini.
“Maaf Ser Baleth. Kami mengganggu pertarunganmu. Ada perintah Earl Adawulf untuk menghadap, situasi sedang gawat di Kastel.” kata perwira itu.
Sejenak pertarungan terhenti. Namun tatapan kedua kesatria itu belum lagi lepas satu sama lain. Peluh membasahi wajah masing-masing. Dan bercak darah di seragam Lord Baleth.
“Kamu menggangguku..” Kata Baleth dengan geram, emosinya sepertinya tak terbendung. bercampur ketegangan pertarungan.
“Maafkan aku Ser. Namun ini perintah, anda harus segera Kembali.” kata perwira itu lagi.
“Aku katakan siapapun yang mengganggu harus mati!.” katanya. Sambil melayangkan pisaunya ke dada sang perwira yang seketika jatuh dari kudanya. ia tewas.
Lord Baleth melempar pisau tanpa menatap korbannya. prajurit lain tak bergerak melihat kejadian ini. Begitupun Regen yang tetap waspada, genggaman pedang dimantapkannya.
Sesaat Baleth masih dalam posisi tempur, namun kemudian ia memperbaiki kuda-kudanya. Tak menatap Regen lagi. Membersihkan pedangnya dan memasukan ke dalam sarungnya.
“Kita akan bertemu lagi Regen.. aku masih ada keperluan lain. Namun kamu tentu tak akan pergi meninggalkan para pengawalku ini. Aku tahu kau kesatria. Tak akan ada kata lari darimu. ” kata Baleth tersenyum sinis.
“Sam gantikan aku memimpin yang lain untuk menangkapnya. Aku rasa kau punya urusan lain dengan dia. bawa dia ke kastil.” Kata Baleth sambil berbalik dan menaiki kudanya. Ia pergi ditemani para penjemput.
Regen hanya bisa menatap lawannya itu pergi, kini fokusnya teralihkan pada para prajurit di depannya.
***
Sam Gigg. Adalah suami baru dari mantan istri Regen. Ia tentu siap mengantikan komandannya untuk menangkap Regen.
“Regen Manollion, aku tau kau baru menemui istriku, ada keperluan apakah? Apakah kau ingin merebutnya lagi dariku. ” kata Sam.
Ia Bersiap menghadapi Regen, begitupun 11 prajuirit lain. Semua sudah mempersiapkan senjata masing-masing. mereka mengepungnya.
“Aku tak ingin ada masalah denganmu, bagaimanapun kau adalah ayah sambung anak-anakku… menyingkirlah, aku akan selesaikan urusan dengan mereka ini.” kata Regen dengan posisi siap tempur tanpa takut. matanya awas memandang kepungan itu.
“Kau yakin bisa mengalahkan kami.” tanya Sam.
“Aku minta kau menyingkir.” kata Regen tegas. Menambah kekuatan genggaman pedangnya.
“Mari kita mulai!” teriak Sam. namun tanpa disadari oleh Regen, Sam punya niat lain, ia balik menyerang para prajurit disekitarnya. 3 orang langsung roboh sekali tebas olehnya, yang lain menghindar menjauh dari Sam yang menyerang membabi-buta.
Melihat itu, Regen yang awalnya keget, menyadari bahwa Sam ingin membantunya, ia kini juga menyerang para prajurit yang mundur itu. Sesaat para prajurit itu kaget namun menyadari penghianatan itu kini berbalik memberikan perlawanan. Dan terjadilah pertarungan tak seimbang. Namun ternyata Sam punya kemampuan pedang yang tak kalah bagusnya dari Regen ,namun menghadapi pengeroyokan itu. Ia tak cukup kuat. Sehingga dalam satu kesempatan satu sabetan pedang mengenai tubuhnya yang limbung. ia jatuh ke tanah dan langsung disusul satu tusukan pedang dari seorang prajurit.
“Sam!” teriak Regen.
Namun prajurit itu telah tewas, Regen akhirnya menyelesaikan yang lain… lebih dari dua jam pertarungan ini terjadi. 12 mayat tergeletak dilokasi itu. Kelak akan menjadi cerita tentang Regen Manollion sang petarung. Orang-orang mengira ia mampu menghadapi 12 orang itu termasuk dengan perwira Baleth yang melarikan diri, namun yang tidak diketahui oleh orang lain adalah 4 orang prajurit justru dibunuh oleh Sam yang membantu Regen. Sementara 1 korban adalah korban dari Baleth sendiri. Sementara 5 yang lain itulah korban dari ganasnya Regen.
Cerita itu menyebar karena akhir dari pertarungan itu disaksikan oleh 2 orang lain yang tak sengaja lewat ditempat itu, dan menyebarkan cerita. Mereka hanya melihat, Regen yang duduk karena kelelahan diantara 12 mayat di tempat itu.
***
Susah payah, Regen Manollion kembali ke rumah Master Sorush. Ia tentu terluka namun tak parah, ia hanya lelah. Sehingga butuh perawatan dari Master Sorush.
“Apa yang terjadi padamu?” tanya Master sambil membasuh beberapa luka Regen dengan kain basah.. namun tak ada jawaban dari Regen.
Ia hanya menatap langit-langit ruangan itu. kemudian berbaring. seperti hanya ingin melepas lelah dan ketegangan.
“Ia seperti melalui pertarungan sengit.” kata Lauren Lamalurra.