Deskripsi — MY DANGEROUS KENZO
📚✨ Naya Putri Ramadhani selalu hidup di bawah aturan Mommy yang super strict. Serba rapi, serba disiplin… sampai napasnya terasa terkekang.
Tapi ketika study tour sekolah datang, Naya menemukan sedikit kebebasan… dan Kenzo Alexander Hartanto.
Kenzo, teman kakaknya, santai, dewasa, tapi juga hyper affectionate. Suka peluk, suka ngegodain, dan… bikin jantung Naya deg-degan tiap kali dekat.
Bagaimana Naya bisa bertahan antara Mommy yang strict, Pappi yang hangat, dan Kenzo yang selalu bikin dia salah tingkah? 💖
💌 Happy Reading! Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Dinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 - My Dangerous Kenzo
...----------------...
...✨📚💌 HAPPY READING! 💌📚✨...
...Selamat datang di cerita ini, semoga kamu betah, nyaman, dan ketagihan baca 😆💫...
...Siapin hati ya… siapa tahu baper tanpa sadar 💖🥰...
...⚠️🚨 DISCLAIMER 🚨⚠️...
...Cerita ini fiksi yaa ✨...
...Kalau ada yang mirip, itu cuma kebetulan 😌...
...No plagiarism allowed ❌📝...
...----------------...
Kenzo melirik ke arah Naya.
Cewek itu lagi duduk agak menjauh, senyumnya dipaksain, tapi matanya sama sekali nggak bohong. Tatapannya beberapa kali ke arah Arumi yang sengaja ketawa lebih keras dari perlu.
Oh.
Kenzo akhirnya ngeh.
Cemburu.
Arumi makin berani. Sengaja berdiri lebih dekat, bahunya nyaris nyenggol lengan Kenzo.
“Ken, ikut aku yuk. Di sana lebih rame,” katanya manja.
Kenzo langsung melangkah mundur setengah langkah. Jarak yang jelas.
“Nggak,” jawabnya singkat, datar.
Arumi kaget, tapi masih maksa. “Lah kenapa? Tadi kamu nggak dingin ginj.”
Kenzo melirik sebentar ke arah Naya lagi.
Lalu balik menatap Arumi, ekspresinya berubah—tenang, tapi dingin.
“Gue dari tadi emang gini.”
Reno yang ngeliat dari jauh langsung nyengir kecil.
“Oke… fix. Dia sadar,” gumamnya ke Bian.
Sementara itu, Citra masih narik tangan Naya.
“Ayolah Nay, serius. Kita have fun. Ngapain mikirin Kenzo.”
Naya narik tangannya pelan.
“Gue nggak mikirin,” jawabnya pelan. Terlalu pelan untuk bohong.
Detik berikutnya, Kenzo udah berdiri di depan mereka.
“Nay.”
Naya mendongak. Kaget.
“Kenapa?”
Kenzo nggak banyak basa-basi. Nada suaranya lembut, tapi tegas.
“Temenin gue bentar.”
Citra otomatis mundur. Reno cuma angkat alis, told you.
Kenzo jalan di samping Naya, suaranya direndahin.
“Lo nggak apa apa nay?”
Naya berhenti.
“Nggak.”
Kenzo menarik nafas.
"Oke"
Dan dari situ, Arumi cuma bisa ngeliat dari jauh—
Kenzo yang biasanya ramah, sekarang dingin sepenuhnya,
sementara jaraknya ke Naya?
Nggak pernah sejauh itu lagi.
Arumi naik giliran berikutnya.
Harness udah terpasang, ekspresinya pede—bahkan sempat melirik ke arah Kenzo.
“Ken, liatin aku ya,” katanya manis.
Kenzo cuma angguk tipis. Fokusnya setengah ke dinding, setengah lagi… ke Naya yang duduk sambil nyilangkan tangan, muka datar tapi jelas kesel.
Arumi mulai manjat.
Gerakannya sebenarnya rapi—terlalu rapi untuk orang yang katanya “agak kaku”.
Sampai tiba-tiba—
“Ah!”
Tubuh Arumi sengaja lepas satu pegangan.
Bukan jatuh beneran.
Lebih ke… jatuh yang dihitung.
Kenzo refleks maju setengah langkah.
“Nay—”
Eh.
“Arum—”
Instruktur langsung sigap, tali nahan tubuh Arumi.
Tapi cewek itu udah keburu meringis berlebihan.
“Ken… sakit,” katanya lirih sambil pegang pergelangan tangannya.
Kenzo bengong.
Matanya bolak-balik.
Arumi yang duduk di lantai, wajahnya dibuat pucat.
Dan Naya… yang berdiri, tatapannya dingin. Tajam. Kecewa.
Citra langsung nengok ke Naya.
“Nay…”
Naya cuma senyum kecil. Senyum orang yang capek.
“Gue ke toilet,” katanya singkat.
Kenzo ngeliat Naya jalan menjauh.
Dadanya ketarik aneh.
“Ken?” Arumi manggil lagi, sengaja ninggiin nada.
“Tangan aku kayaknya keseleo…”
Kenzo jongkok di depan Arumi, tapi jaraknya dijaga.
“Beneran sakit?” tanyanya, bingung.
Sebelum Arumi jawab, Reno udah berdiri di samping Kenzo.
Nadanya rendah, tapi kena.
"Biar instruktur aja ken"
Kenzo nelen ludah.
Arumi masih duduk, nunggu.
Tapi Kenzo berdiri.
“Coach,” katanya ke instruktur,
“tolong dicekin ya.”
Terus tanpa nengok lagi ke Arumi,
Kenzo jalan cepat ke arah Naya.
Dan buat pertama kalinya…
Arumi kalah bukan karena jatuh,
tapi karena Kenzo gak lagi balik badan ke dia.
Kenzo nyusul cepat.
Lorong menuju toilet masih sepi, cuma suara langkah mereka yang kedengeran.
“Naya.”
Naya berhenti.
Tapi gak nengok.
“Apa?” nadanya dingin. Capek. Bukan marah yang meledak—lebih ke udah males ribut.
Kenzo berdiri di belakangnya. Jarak satu langkah.
“Lo kenapa sih?”
Naya ketawa kecil. Getir.
“Serius nanya?”
Kenzo ngelus tengkuk.
“Gue cuma—”
“—Cuma jagain, kan?” Naya potong.
Akhirnya nengok.
Matanya merah tipis. Bukan nangis. Nahan.
“Dari tadi itu kata favorit lo.”
Kenzo ke-diem.
“Udah deh, gue capek,” lanjut Naya, suaranya turun.
Kenzo refleks maju setengah langkah.
“Nay—”
“Jangan deket,” kata Naya cepat.
Bukan teriak. Tapi tegas.
Kenzo berhenti.
“Myprincess.”
Kenzo mendekat. Tangannya terangkat, hendak mengusap pipi Naya—
tap.
Naya menepisnya.
Padahal, begitu panggilan itu keluar, hati Naya sudah goyah duluan.
Luluh, walau dia berusaha keras menutupinya dengan rasa kesal.
Kesal karena tadi Kenzo diam saja. Ketawa, bercanda, seolah gak sadar ada hati yang lagi kepanasan.
Lorong itu sepi.
Hanya mereka berdua.
Yang lain masih sibuk mengurus Arumi.
“Nay—” suara Kenzo rendah.
Naya belum sempat menjauh, saat Kenzo tiba-tiba menunduk.
Bibir itu menyentuh bibirnya, ciuman yang berbeda dari biasanya, yang biasanya hanya kecupan, sekarang benar ciuman yang naya inginkan, lembut. Hangat. Spontan.
Jantung Naya seakan berhenti sedetik.
Dan di situlah—
semua pertahanan runtuh.
Ini yang selama ini cuma ada di kepala.
Hal yang dilarang, ditahan, disimpan rapat-rapat.
Rasa penasaran yang gak pernah punya ruang.
Naya gak mendorong.
Gak marah.
Gak lari.
Dia justru memejamkan mata.
Kenzo mundur perlahan, menatapnya, ragu.
“Nay… gue—”
Naya maju setengah langkah.
Tangannya mencengkeram jaket Kenzo.
“Peluk gue,” katanya pelan.
Kenzo langsung merangkulnya.
Erat. Protektif. Hangat.
Naya menyandarkan wajahnya di dada Kenzo.
Napasnya masih berantakan, tapi hatinya tenang dengan cara yang baru.
Untuk pertama kalinya,
dia merasa melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri.
Dan Kenzo, sambil mengusap punggung Naya pelan.
Di mobil, suasananya rame tapi menusuk.
Reno duduk di depan, santai banget.
Kenzo nyetir dengan rahang mengeras, jelas nahan emosi.
Di kursi tengah, Naya dan Citra diam—jadi penonton setia.
Sementara di kursi paling belakang, Bian udah siap jadi kompor berjalan.
“Segeran kayaknya ketemu mantan,” Bian nyeletuk, nada sok polos.
Reno langsung nyaut.
“Iyalah. Sekian purnama, Bro.”
“Berisik,” Kenzo dingin.
Bian ngakak kecil.
“Gimana lo pacaran sama dia, Ken? "Berondongku" kata si Arumi bohay.”
Reno ikutan ketawa.
“Kok bisa dia yang udah kuliah kepincut sama lo?”
Bian sama Reno ketawa barengan.
Kenzo langsung nengok dikit lewat spion.
“Gue turunin di sini nih,” ancam Kenzo.
“Ngapain aja lo sama dia?” Bian masih nekat.
“Diem,” Kenzo pendek.
“Yaelah, gue cuma nanya,” Bian nyengir.
“Ya nggak, Ren?”
“Sensi lo,” Reno nimpalin, masih ketawa kecil.
Sepanjang jalan, Naya dan Citra tetap diam.
Citra melirik Naya sebentar—ngerti banget suasananya.
Naya cuma menatap jendela, tangan saling menggenggam di pangkuan.
Dan Kenzo—
tetap nyetir lurus ke depan,
tapi jelas… omongan barusan kena.
Sampai rumah Reno, Bian langsung ke garasi.
Mengambil motor, mesin menyala.
“Cabut duluan,” Bian sambil pakai helm.
“Jangan lupa gosip hari ini dibawa tidur,” Reno nyengir.
“Tenang, bahan lucunya banyak,” Bian ngakak, lalu pulang ke rumah yang memang nggak jauh.
“Nay,”
Pappi yang baru keluar ruang tamu langsung disambut pelukan Naya.
“Pappi,” Naya memeluk erat, manja.
“Gimana wall climb?” tanya Pappi sambil mengusap kepala Naya.
“Naya nggak suka,” jawabnya jujur.
“Naya tetep tenis lantai aja.”
Pappi tersenyum kecil.
“Oke, up to you.”
“Udah gede masih aja manja sama Pappi,” Reno nyeletuk sambil nyengir.
Pappi menoleh ke Reno.
“Kakak juga mau peluk Pappi?”
Reno refleks menghindar.
“Malu ah.”
Citra ketawa kecil.
“Reno nganterin Citra dulu,” Reno ambil jaket.
“Ken, minjem mobil.”
Kenzo tanpa banyak komentar langsung melempar kunci mobil ke arah Reno.
“Nih.”
“Mandi dulu, sayang, biar segeran,” Pappi ke Naya.
Naya mengangguk cepat, lalu berlari kecil naik ke tangga menuju kamarnya.
Begitu Naya menghilang, Pappi menoleh ke Kenzo.
“Ken, Om mau bicara sebentar.”
“Oke, Om.”
“Duduk di taman belakang aja.”
Kenzo mengangguk dan mengikuti Pappi ke belakang rumah.
Di taman belakang, udara sore masih hangat.
Catur sudah tersedia di meja kecil, kopi hitam mengepul pelan.
Kenzo duduk berhadapan dengan Pappi.
Obrolan mereka ngalir—tentang kerjaan, kantor, proyek, kadang diselipin strategi catur.
“Kerja itu kayak main catur, Ken,” kata Pappi sambil menggeser bidak.
“Harus sabar, tapi tau kapan maju.”
Kenzo tersenyum kecil.
“Iya, Om. Salah langkah dikit bisa kacau.”
Pappi menatap Kenzo sebentar—tenang, tapi penuh arti.
Dan Kenzo tau…
obrolan sore ini bukan cuma soal kerja.
Pappi memang lebih nyambung kalau ngobrol soal kerjaan sama Kenzo.
Bukan cuma karena Kenzo dewasa cara bicaranya, tapi karena cowok itu nggak kosong.
Di balik sikap santainya, Kenzo punya clothing line sendiri.
Hoodie, jaket, kaos—semua dengan style cowok urban yang rapi tapi tetap street.
Produksinya kecil, tapi konsisten. Desainnya juga bukan asal ikut tren.
“Market nya jelas,” kata Pappi sambil menggerakkan bidak catur.
“Anak seusia kamu, tapi mikirnya jauh.”
Kenzo tersenyum tipis.
“Kenzo nggak mau cuma jual baju, Om. Mau bangun identitas.”
Pappi mengangguk, kelihatan puas.
“Bagus. Itu namanya visi.”
Makanya, setiap kali Kenzo datang, obrolan mereka selalu ngalir.
Tentang bisnis, target, cara ngatur tim, sampai risiko rugi.
Dan tanpa disadari Kenzo—
di mata Pappi, dia bukan lagi sekadar teman anaknya.
Tapi seseorang yang layak dipercaya buat jaga Naya.
...----------------...
...💥 Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾 biar nggak ketinggalan update selanjutnya!...
...🙏💛 TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA! 💛🙏...
...Dukung karya lokal, gratis tapi berasa 🫶📖...
...Biar penulisnya senyum terus 😆✨...
...----------------...