Satu malam di bawah langit Jakarta yang kelam, Alisha hanya ingin melupakan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Di sebuah lounge mewah, ia bertemu dengan pria asing yang memiliki tatapan sedalam samudra. Damian Sagara. Tanpa nama, tanpa janji, hanya sebuah pelarian sesaat yang mereka kira akan berakhir saat fajar menyingsing. Namun, fajar itu membawa pergi Alisha bersama rahasia yang mulai tumbuh di rahimnya.
Lima tahun Alisha bersembunyi di kota kecil, membangun tembok tinggi demi melindungi Arka, putra kecilnya yang memiliki kecerdasan tajam dan garis wajah yang terlalu identik dengan sang konglomerat Sagara.
“Seorang Sagara tidak pernah meninggalkan darah dagingnya, Alisha. Dan kau... kau tidak akan pernah bisa lari dariku untuk kedua kalinya.”
Saat masa lalu menuntut pengakuan, apakah Alisha akan menjadi bagian dari keluarga Sagara, atau hanya sekedar ibu dari pewaris yang ingin Damian ambil alih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erma _roviko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
“Selamat datang di penjara barumu, Alisha. Aku harap kau menyukai dekorasinya.” Suara Damian memecah keheningan di dalam mobil sedan hitam yang kedap suara.
Alisha tidak menyahut. Ia menatap keluar jendela saat gerbang besi raksasa setinggi tiga meter terbuka secara otomatis. Mobil melaju perlahan menyusuri jalan aspal yang diapit pohon-pohon palem yang tertata simetris.
Di ujung jalan itu, sebuah bangunan minimalis modern berdiri angkuh dengan dominasi kaca dan beton ekspos.
“Ini bukan rumah. Ini pameran kesombongan,” gumam Alisha pelan.
“Ini tempat teraman di Jakarta untuk putraku,” balas Damian tanpa menoleh.
Mobil berhenti tepat di depan pintu utama yang terbuat dari kayu jati solid. Dua orang pria berjas hitam segera membukakan pintu mobil. Alisha turun sambil menggandeng erat tangan Arka.
Bocah itu tidak tampak terintimidasi. Arka justru mendongak, menyipitkan mata, dan mulai memindai setiap sudut bangunan di depannya.
“Ibu, kenapa rumah ini memiliki terlalu banyak kaca?” tanya Arka dengan nada analitis.
“Agar pemiliknya bisa melihat musuh dari jauh, Sayang,” jawab Alisha getir.
Arka melepaskan pegangan tangan ibunya. Ia berjalan beberapa langkah menuju pilar beton raksasa yang menopang atap teras. Ia mengetuk beton itu dengan buku jarinya, lalu beralih menatap Damian yang sedang memperhatikan gerak-geriknya.
“Struktur ini terlalu boros ruang, Tuan Damian,” ujar Arka datar.
“Langit-langit yang terlalu tinggi menyebabkan pemborosan energi untuk pendingin ruangan. Secara arsitektur, ini sangat tidak efisien.”
Damian tertegun sejenak. Ia menatap asistennya yang juga tampak terkejut mendengar komentar seorang anak berusia lima tahun.
Damian berjongkok di depan Arka. Ia mencoba mencari jejak ketakutan di mata bocah itu, namun ia hanya menemukan rasa ingin tahu yang dingin.
“Rumah ini dirancang oleh arsitek terbaik dari Singapura, Arka,” kata Damian.
“Arsitek itu sepertinya lebih suka menggambar daripada menghitung fungsi,” balas Arka sambil melangkah masuk ke dalam lobi rumah yang luasnya hampir separuh lapangan bola.
Alisha mengikuti dari belakang dengan perasaan was-was. Lantai marmer putih yang begitu mengkilap membuat langkah kakinya terasa canggung.
Di dalam ruangan itu, hampir tidak ada perabotan yang memberikan kesan hangat. Semuanya tampak dingin, mahal, dan tak tersentuh.
“Pelayan akan membawakan barang-barangmu ke atas,” ujar
Damian sambil menunjuk ke arah tangga melingkar.
“Kamar kalian ada di sayap kanan. Itu area yang paling privat.”
“Kalian?” Alisha mengerutkan kening. “Maksudmu aku dan Arka akan tidur di kamar yang berbeda?”
“Arka sudah besar. Dia butuh kemandirian,” jawab Damian tegas.
“Tapi kamarmu terhubung langsung dengan kamarnya melalui pintu penghubung.”
Alisha merasa sesak. Ia melangkah mendekati Damian hingga mereka berdiri sangat dekat. “Sampai kapan kau akan melakukan ini? Kau membawaku kesini seperti rampasan perang.”
“Sampai aku yakin kau tidak akan mencoba menghilang lagi di tengah malam,” desis Damian.
“Aku punya pekerjaan. Aku punya kehidupan di pesisir!” seru Alisha.
Damian tersenyum tipis, jenis senyuman yang tidak mencapai matanya.
“Kehidupanmu yang lama sudah berakhir saat kau menginjakkan kaki di mobilku. Jika kau butuh sesuatu, katakan saja. Pakaian, perhiasan, atau alat jahit paling mahal di dunia sekalipun. Aku akan membelikannya. Tapi kau tidak akan keluar dari gerbang itu tanpa izinku.”
“Kau memenjarakanku,” bisik Alisha dengan suara bergetar.
“Aku melindungimu dari konsekuensi kesalahanmu sendiri,” balas Damian dingin.
Damian berbalik dan meninggalkan Alisha yang masih terpaku di tengah lobi. Sementara itu, Arka sudah sibuk menjelajahi ruang tengah. Bocah itu berdiri di depan sebuah lukisan abstrak raksasa yang tergantung di dinding utama.
“Ibu, apakah orang yang menggambar ini sedang marah saat mengerjakannya?” tanya Arka.
Alisha menghampiri putranya dan mencoba tersenyum meskipun hatinya hancur.
“Mungkin dia hanya sedang bingung, Arka. Sama seperti kita sekarang.”
“Aku tidak bingung,” sahut Arka pelan. “Aku hanya sedang menghitung berapa banyak kamera pengawas di ruangan ini. Ada empat di sudut atas dan satu di balik lampu hias.”
Alisha tersentak. Ia bahkan tidak menyadari keberadaan kamera-kamera itu. Kecerdasan Arka yang melampaui usianya terkadang terasa menakutkan bagi Alisha. Ia menyadari bahwa Damian tidak hanya mewariskan wajah, tapi juga insting predator yang tajam pada anaknya.
Sore harinya, Alisha mencoba membuka salah satu pintu besar yang menuju ke taman belakang. Namun, pintu itu terkunci secara elektronik. Seorang pelayan wanita dengan seragam rapi tiba-tiba muncul di belakangnya.
“Maaf, Nona Alisha. Bapak Damian berpesan agar Nona tetap di dalam rumah untuk sementara waktu,” ujar pelayan itu dengan sopan namun tegas.
“Aku hanya ingin menghirup udara segar,” protes Alisha.
“Taman belakang sedang disterilkan oleh tim keamanan, Nona. Mohon pengertiannya.”
Alisha menghempaskan tubuhnya ke sofa kulit yang terasa dingin di kulitnya. Ia merasa seperti burung dalam sangkar emas. Fasilitas di rumah ini memang luar biasa. Ada kolam renang dalam ruangan, bioskop pribadi, dan dapur yang lebih lengkap daripada restoran bintang lima. Namun, tanpa kebebasan, semua itu hanyalah hiasan yang tak bermakna.
“Ibu, lihat ini!” seru Arka dari arah perpustakaan.
Alisha masuk ke dalam ruangan yang dindingnya dipenuhi ribuan buku. Arka sedang duduk di kursi putar besar milik Damian. Di depannya terdapat sebuah maket bangunan yang belum selesai.
“Ini adalah proyek pelabuhan yang Tuan Damian bicarakan di balai kota,” ujar Arka sambil menunjuk ke arah miniatur dermaga.
“Dia salah meletakkan posisi gudang logistiknya. Jika air pasang setinggi dua meter, area ini akan tergenang.”
“Arka, jangan menyentuh barang-barang di meja itu,” tegur Alisha cemas.
“Aku tidak merusaknya, Ibu. Aku hanya memperbaiki logika tata letaknya,” jawab Arka tenang.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang teratur terdengar dari arah koridor utama. Itu bukan langkah kaki Damian yang berat dan cepat. Ini adalah langkah kaki yang lebih ringan namun sangat berwibawa.
Suara ketukan sepatu hak tinggi di atas marmer terdengar seperti detak jam kematian bagi Alisha.
Seorang wanita paruh baya muncul di ambang pintu perpustakaan. Ia mengenakan kebaya modern berwarna ungu tua dengan selendang sutra yang tersampir anggun di bahunya. Rambutnya disanggul rapi tanpa cela. Wajahnya cantik, namun memancarkan keangkuhan yang bisa membekukan ruangan.
Wanita itu adalah Nyonya Raina Sagara, ibu kandung Damian. Orang-orang di kalangan elit menyebutnya sebagai Ibu Suri Sagara.
Raina berhenti melangkah. Matanya yang tajam langsung tertuju pada Arka yang masih duduk di kursi kerja Damian. Arka mendongak, menatap wanita tua itu dengan ekspresi datar yang sama dengan yang ia berikan pada Damian.
“Siapa yang mengizinkan anak kecil bermain di ruangan ini?” suara Raina terdengar dingin dan tajam.
Alisha segera berdiri dan menarik Arka dari kursi. “Maaf, Nyonya. Kami baru saja tiba.”
Raina tidak mendengarkan Alisha. Ia terus menatap Arka dengan pandangan yang tidak berkedip. Ia memperhatikan garis rambut Arka, bentuk hidungnya, dan cara bocah itu menatapnya balik tanpa rasa takut sedikitpun.
“Kau…” suara Raina tercekat.
Pelayan di belakang Raina segera menyajikan nampan berisi cangkir teh porselen terbaik.
Raina meraih cangkir itu dengan tangan yang tiba-tiba bergetar hebat. Ia seolah sedang melihat hantu dari masa lalu putranya yang paling ia rahasiakan.
“Nyonya? Anda baik-baik saja?” tanya sang pelayan cemas.
Raina tidak menjawab. Matanya tetap terkunci pada wajah Arka. Di matanya, Arka bukan lagi sekadar anak kecil asing. Bocah itu adalah duplikat sempurna dari Damian saat masih berusia lima tahun. Semua ingatan tentang masa kecil putranya membanjiri benak Raina dalam sekejap.
Prang!
Cangkir porselen mahal itu terlepas dari tangan Raina. Cairan teh panas tumpah membasahi lantai marmer yang putih. Pecahan keramik berserakan di dekat kakinya, namun ia tidak peduli. Ia menutup mulutnya dengan tangan, sementara nafasnya mulai tersengal.
“Damian…” bisik Victoria dengan suara parau.
“Itu bukan Tuan Damian, Nyonya. Itu anak dari Nona Alisha.” Asisten rumah tangga mencoba menjelaskan.
Raina menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia melangkah maju ke arah Arka dengan tatapan yang dipenuhi kengerian sekaligus ketakjuban. Ia tahu pasti bahwa darah yang mengalir di tubuh bocah itu adalah darah Sagara.
“Siapa sebenarnya kau, Alisha?” tanya Raina sambil menatap Alisha dengan kemarahan yang meluap-luap.
“Dan kenapa kau membawa monster kecil ini ke rumahku?”
Alisha menarik Arka ke belakang punggungnya. Ia bisa merasakan keringat dingin membasahi lehernya.
Badai di pesisir mungkin sudah berakhir, namun badai di keluarga Sagara baru saja dimulai. Di dalam ruangan yang dingin itu, Alisha menyadari bahwa musuh sejatinya bukan hanya Damian, melainkan seluruh silsilah keluarga yang berdiri di belakang pria itu.
Arka menyembul dari balik pinggang ibunya. Ia menatap pecahan cangkir di lantai, lalu menatap neneknya dengan tenang.
“Anda menjatuhkan barang karena sistem saraf Anda terkejut, Nyonya,” ujar Arka dengan nada bicara yang jernih.
“Secara medis, itu reaksi refleks yang wajar, tapi secara estetika, itu membuat lantai ini jadi kotor.”
Raina terperangah. Ia tidak pernah menyangka akan mendengar kalimat seperti itu dari seorang anak kecil. Di saat itu juga, ia tahu bahwa keberadaan Arka akan menghancurkan semua rencana yang telah ia susun untuk masa depan Sagara Group.