"Mencintai Pak Alkan itu ibarat looping tanpa break condition. Melelahkan, tapi nggak bisa berhenti"
Sasya tahu, secara statistik, peluang mahasiswi "random" sepertinya untuk bersanding dengan Alkan Malik Al-Azhar—dosen jenius dengan standar moral setinggi menara BTS—adalah mendekati nol. Aris adalah definisi green flag berjalan yang terbungkus kemeja rapi dan bahasa yang sangat formal. Bagi Aris, cinta itu harus logis; dan jatuh cinta pada mahasiswa sendiri sama sekali tidak logis.
Tapi, bagaimana jika "jalur langit" mulai mengintervensi logika?
Akankah hubungan ini berakhir di pelaminan, atau justru terhenti di meja sidang sebagai skandal kampus paling memilukan? Saat doa dua pertiga malam beradu dengan aturan dunia nyata, siapa yang akan menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatin fatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 10
Pagi itu, langit di atas kampus terasa begitu luas, namun bagi Sasya, oksigen seolah-olah menjadi barang langka. Ia berdiri di depan cermin besar di lobi gedung fakultas. Rok kain hitam, kemeja putih yang disetrika licin, dan jas almamater kebanggaan. Di tangannya, sebuah flashdisk berisi "seluruh hidupnya" selama empat tahun terakhir.
"Sya, tarik napas. Keluarin lewat doa," bisik Putri sambil merapikan jilbab Sasya yang sedikit miring.
"Put, gue ngerasa kayak mau masuk ke arena Gladiator. Bedanya, lawannya bukan singa, tapi dosen penguji yang punya dendam kesumat," Sasya mencoba melucu, meski tangannya dingin seperti es.
"Pak Alkan udah di dalem?"
"Udah. Dia masuk duluan buat set up ruangan. Dia nggak lihat gue sama sekali tadi, Put. Bener-bener kayak nggak kenal. Profesional banget sampai bikin ngeri."
Tiba-tiba, pintu ruang sidang terbuka. Sekretaris jurusan keluar dengan wajah bingung. Ia membawa secarik kertas pengumuman baru.
"Perhatian untuk Saudari Sasya Kirana, ada perubahan komposisi dewan penguji secara mendadak karena Prof. Handoko berhalangan hadir. Penguji utama Anda digantikan oleh... Ibu Sarah, S.E.M.T."
Sasya nyaris menjatuhkan laptopnya. "Hah? Bukannya Bu Sarah kemarin cuma jadi penguji anggota? Sekarang jadi Penguji Utama?"
"Dan penguji anggotanya diganti oleh Dr. Hamzah dari Universitas Andromeda," tambah sekretaris itu.
Ini adalah serangan balik. Sasya tahu, Prof. Handoko sengaja mundur agar tidak terlihat ada konflik kepentingan, namun ia menaruh putrinya, Sarah, di posisi paling strategis untuk "mengeksekusi" nilai Sasya.
Sasya melangkah masuk. Ruangan itu terasa seperti ruang interogasi. Di ujung meja, Alkan duduk sebagai pembimbing. Wajahnya tenang, namun matanya memberikan isyarat pada Sasya: “Tetap fokus pada data.”
Di sampingnya, Bu Sarah duduk dengan tumpukan berkas yang ditandai dengan banyak sticky notes merah.
"Silakan dimulai, Saudari Sasya," ujar Dr. Hamzah yang tampak netral.
Sasya memaparkan presentasinya. Kali ini, presentasinya bukan sekadar penjelasan teknis. Ini adalah pembuktian atas sabotase yang ia alami semalam. Ia sengaja memasukkan sebuah slide tentang "Integritas Sistem dan Keamanan Data" sebagai sindiran halus bagi siapa pun yang mencoba merusak karyanya.
"Selesai. Silakan dewan penguji mengajukan pertanyaan," ujar Dr. Hamzah.
Bu Sarah langsung menyambar. "Sasya, saya melihat algoritma yang Anda gunakan ini terlalu kompleks untuk level mahasiswa. Saya curiga, apakah ini benar-benar pekerjaan Anda? Mengingat kedekatan Anda dengan pembimbing, sangat mudah bagi Pak Alkan untuk 'menyumbangkan' beberapa ribu baris kode, bukan?"
Suasana mendadak tegang. Tuduhan plagiarisme atau bantuan ilegal adalah hukuman mati bagi seorang mahasiswa.
Alkan hendak bicara, namun Sasya mengangkat tangannya—sebuah isyarat sopan untuk membiarkan dirinya sendiri yang menjawab.
"Izin menjawab, Bu Sarah," suara Sasya tenang, namun tegas. "Logika algoritma ini dibangun berdasarkan riset saya sejak semester lima. Jika Ibu meragukan keaslian kode ini, saya mengundang Ibu untuk melakukan live coding sekarang juga. Ibu bisa berikan saya satu kasus acak, dan saya akan buatkan kodenya di depan Ibu dalam waktu lima menit."
Alkan sedikit terkejut dengan keberanian Sasya. Ia menahan senyum bangganya.
Bu Sarah tampak tersinggung. "Anda menantang saya?"
"Bukan menantang, Bu. Ini adalah bentuk validasi. Sebagai peneliti, saya harus bisa mempertanggungjawabkan setiap baris kode yang saya tulis."
Dr. Hamzah tertawa kecil. "Saya rasa itu tawaran yang adil. Sarah, silakan berikan variabel acak."
Sarah, yang sebenarnya tidak terlalu paham teknis pemrograman sedalam itu, hanya bisa memberikan pertanyaan teoritis yang sulit. Namun, Sasya menjawabnya dengan lancar, mengutip jurnal internasional, bahkan mengaitkannya dengan efisiensi ekonomi—bidang yang dikuasai Sarah.
"Cukup," potong Sarah dengan wajah merah padam. "Secara teknis mungkin oke. Tapi bagaimana dengan etika? Bagaimana Anda bisa menjamin bahwa hasil penelitian ini tidak dipengaruhi oleh... katakanlah, 'perlakuan istimewa' dari pembimbing?"
Alkan akhirnya angkat bicara. "Ibu Sarah, forum ini adalah ujian skripsi, bukan sidang komite etik. Jika Ibu punya bukti adanya perlakuan istimewa, silakan bawa ke rapat senat. Namun, di sini, Anda hanya diperbolehkan menguji kualitas akademik mahasiswa saya. Dan sejauh ini, pertanyaan Anda tidak ada yang menyentuh esensi dari Bab 4 dan Bab 5."
Dr. Hamzah mengangguk setuju. "Benar. Mari kita fokus pada hasil pengujian akurasi sistem."
Setelah dua jam "pertempuran" yang melelahkan, Sasya diminta keluar ruangan agar dewan penguji bisa berdiskusi.
Di koridor, Sasya lemas. Ia bersandar di bahu Putri. "Gue rasa gue bakal dikasih nilai C sama Bu Sarah, Put."
Sepuluh menit kemudian, Sasya dipanggil kembali ke dalam.
Alkan berdiri. Dr. Hamzah menyerahkan sebuah map kepada Alkan. Alkan menatap Sasya, lalu membacakan hasilnya dengan suara yang bergetar sedikit karena emosi.
"Berdasarkan hasil diskusi dewan penguji, dengan mempertimbangkan orisinalitas, penguasaan materi, dan integritas penelitian... Saudari Sasya Kirana dinyatakan... LULUS."
Sasya menutup mulutnya dengan tangan. Air mata mulai menggenang.
"Dengan nilai akhir: A (Sempurna)," lanjut Alkan. "Dan dewan penguji merekomendasikan penelitian ini untuk dipublikasikan di jurnal internasional."
Bu Sarah tampak terpaksa menandatangani berita acara, lalu segera keluar dari ruangan tanpa mengucapkan selamat. Namun, Dr. Hamzah menyalami Sasya dengan hangat.
"Kamu mahasiswi yang hebat, Sasya. Jangan biarkan politik kampus memadamkan api kamu," bisik Dr. Hamzah.
Kini tinggal Sasya dan Alkan di dalam ruangan.
Sasya menatap Alkan dengan mata berkaca-kaca. "Pak... makasih."
Alkan merapikan berkas-berkasnya. Ia berjalan mendekati Sasya, namun berhenti pada jarak satu meter.
"Selamat, Sasya. Kamu sudah melakukan bagian kamu dengan sangat baik. Kamu membuktikan bahwa kebenaran tidak bisa dihapus dengan tombol delete."
"Lalu... apa langkah selanjutnya, Pak?" tanya Sasya dengan suara serak.
Alkan menatap pintu yang sudah tertutup rapat. Ia kemudian merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah benda kecil. Bukan cincin, melainkan sebuah flashdisk berwarna emas.
"Di dalam ini ada draf rencana masa depan yang pernah saya bilang. Dan juga, ada alamat rumah saya. Berikan pada Pak Baskoro. Bilang pada beliau, bimbingan skripsi sudah selesai... dan sekarang saya ingin mendaftar sebagai bimbingan hidup bagi putrinya."
Sasya tertawa di balik tangisnya. "Pak Alkan... ini lamaran paling nerd yang pernah saya dengar."
"Memang," Alkan tersenyum tipis. "Karena cinta saya ke kamu itu nggak butuh interface yang mewah. Cukup backend yang kuat dan doa yang real-time."