NovelToon NovelToon
A WINTER OF MY HEART

A WINTER OF MY HEART

Status: tamat
Genre:Karir / Angst / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Sinopsis
Aruna Rembulan Maharani
Gadis dengan kata-kata yang membelenggu.
Ia adalah editor handal yang hidup di balik tirai kata-kata puitis namun kosong. Di permukaan, Aruna terlihat tenang dan terkendali, seorang gadis yang pandai memoles keburukan dunia menjadi narasi yang indah.
Biru Laksmana Langit
Laki-laki dengan lensa yang memburu kebenaran.
Lahir di tengah gelimang harta keluarga Laksmana, Biru justru memilih menjadi anomali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cara berbicara dengan sunyi

Ternyata, dunia punya cara bercanda yang sangat menyebalkan.

Aku berdiri di ruang rapat utama dengan naskah tebal di pelukanku, mencoba mencerna kalimat yang baru saja diucapkan oleh Pemimpin Redaksi. Di depanku, berdiri seorang pria dengan kemeja flanel biru gelap dan lengan yang digulung hingga siku. Wajahnya tampak tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menghancurkan teritoriku.

"Aruna, perkenalkan, ini Biru. Dia fotografer lepas yang akan menangani proyek buku esai foto 'Wajah-Wajah Tersembunyi'. Karena kamu editor senior untuk tema melankolia, aku ingin kalian bekerja sama," ujar Pak Hendra tanpa dosa.

Aku terpaku. Dunia seolah berputar lebih lambat. Jadi, pria "pengganggu" di kafe itu bukan sekadar orang asing yang kebetulan lewat. Dia adalah mitra kerjaku untuk tiga bulan ke depan.

Biru mengulurkan tangan, sudut bibirnya terangkat tipis. "Halo lagi, Aruna. Sepertinya duniaku dan duniamu memang ditakdirkan untuk bersinggungan di luar jendela kafe."

Aku mengabaikan tangannya dan hanya mengangguk kaku. "Aku lebih suka bekerja sendiri, Pak Hendra."

"Proyek ini butuh harmoni antara visual dan narasi, Na. Kalian harus sering turun ke lapangan bersama. Biru punya mata yang tajam, dan kamu punya bahasa yang dalam. Kalian pasangan yang pas," sela Pak Hendra sebelum akhirnya keluar dari ruangan, meninggalkan kami dalam keheningan yang canggung.

Aku berbalik, mencoba menyibukkan diri dengan naskah. "Jangan berharap banyak, Biru. Aku hanya akan mengedit tulisanmu. Kita tidak perlu banyak bicara."

"Sayangnya, kameraku tidak bisa menulis, Aruna," Biru melangkah mendekat, aroma kayu manis dan hujan samar-samar tercium dari jaketnya. "Dan naskahmu... meskipun indah, rasanya seperti ditulis dari balik dinding kaca yang tebal. Dingin. Aku butuh kamu untuk ikut aku melihat subjek foto-fotoku secara langsung. Aku butuh kamu 'merasakan' mereka."

"Aku tidak dibayar untuk merasakan sesuatu," sahutku tajam. "Aku dibayar untuk memastikan tata bahasa dan alurnya benar."

Biru terdiam sejenak, menatapku dengan cara yang membuatku merasa tidak nyaman—seolah dia bisa melihat retakan-retakan kecil di balik es yang kubangun. "Kenapa kamu begitu takut untuk merasa, Aruna? Apa kamu pikir jika kamu membiarkan sedikit rasa masuk, seluruh duniamu akan mencair dan hanyut?"

Aku mematung. Pertanyaannya telak menghantam ulu hati.

"Kita mulai besok pagi jam tujuh," lanjutnya, tidak menunggu jawabanku. "Aku akan menjemputmu. Kita akan pergi ke pelabuhan. Ada fajar yang ingin kutunjukkan padamu—fajar yang nyata, bukan sekadar nama yang kamu bawa."

Keesokan paginya, aku mendapati diriku berdiri di pinggir dermaga yang berkabut. Udara pelabuhan yang asin dan menusuk kulit terasa jauh lebih jujur daripada udara pendingin di kantor. Biru sudah di sana, sibuk dengan lensa kameranya.

"Kamu datang," katanya tanpa menoleh. "Kira-kira aku harus membayar berapa untuk melihat senyuman di wajah fajar pagi ini?"

"Simpan uangmu. Itu tidak akan pernah terjadi," jawabku sambil merapatkan jaket.

Kami menghabiskan dua jam berikutnya dalam kesunyian. Biru memotret para nelayan yang baru pulang, kerutan di wajah-wajah tua yang legam oleh matahari, dan tangan-tangan yang kasar saat menarik jala. Aku memperhatikan dari jauh, mencatat beberapa hal di buku kecilku.

Tiba-tiba, Biru mengarahkan kameranya ke arahku.

Ceklek.

"Jangan!" aku protes, refleks menutupi wajah. "Aku bukan subjek fotomu."

Biru menurunkan kameranya, namun matanya tetap menatap layar digital. "Menarik. Di sini, di bawah cahaya lampu dermaga yang remang-remang, kamu tidak kelihatan seperti es yang dingin. Kamu kelihatan seperti seseorang yang sedang tersesat dan lupa jalan pulang."

"Berhenti menganalisisku, Biru."

"Aku tidak menganalisis. Aku hanya memotret apa yang kulihat," ia berjalan mendekat, lalu menunjukkan hasil fotonya padaku.

Di foto itu, aku tampak berdiri membelakangi laut yang biru gelap. Rambutku sedikit berantakan tertiup angin. Namun yang membuatku tertegun adalah mataku. Di sana, di balik tatapan datarku, Biru berhasil menangkap sesuatu yang sudah lama kusembunyikan: Kesepian yang amat sangat.

"Kadang, sunyi itu perlu dibicarakan, Aruna. Jika tidak, dia akan memakanmu dari dalam," bisiknya pelan.

Untuk pertama kalinya, aku tidak punya kata-kata untuk mendebatnya. Sunyi di pelabuhan itu tiba-tiba terasa berbeda. Bukan sunyi yang hampa, melainkan sunyi yang sedang menunggu untuk didengarkan.

Happy reading sayang semuanya...

Baca juga cerita bebu yang lain...

See you annyeong...

1
Wiwik Darwasih
bagus👍
deepey
bikin meleleh..
deepey
salam kenal kk.
Isti Mariella Ahmad: Salam kenal 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!