Tokoh utama nya adalah pria bernama Reza (30 tahun) .Dia bukan Pahlawan, dia bukan orang kaya ,dia cuma pria yang merasa hidupnya sudah tamat karena hutang, patah hati, Dan Rasa bosan.
dia memutuskan untuk pergi secara terencana .dia sudah menjual semua barang nya , menulis surat perpisahan yang puitis, dan sudah memilih Gedung paling tinggi. tapi setiap kali ia mencoba selalu ada hal konyol yang menggagal kan nya , misalnya pas mau lompat tiba tiba ada kurir paket salah alamat yang maksa dia tanda tangan. Pas mau minum obat, eh ternyata obatnya kedaluwarsa dan cuma bikin dia mulas-mulas di toilet seharian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Doa, Dan Debu jalanan
Reza kini bukan lagi sopir serep yang dipandang sebelah mata. Di Pasar Induk Bogor, ia dikenal sebagai "Si Tali Kuning". Nama itu melekat karena gelang tali plastik kuning yang kini ia ganti dengan lilitan benang serupa di tuas persneling truknya. Ia menjadi sopir andalan Bang Jago untuk rute-rute jauh: Bandung, Tasikmalaya, hingga pesisir Jawa Tengah.
Tubuh Reza berubah. Bahunya lebih tegap, kulitnya terbakar matahari hingga berwarna tembaga, dan matanya tidak lagi menunjukkan keraguan. Ia telah belajar bahwa cara terbaik untuk membunuh rasa sepi adalah dengan membiarkan tubuhnya remuk oleh kerja keras.
"Za , ini bayaran boronganmu untuk rute semalam," Bang Jago melemparkan amplop cokelat tebal ke atas meja warung kopi. "Kamu sudah mengumpulkan cukup banyak uang, Za. Mau buat apa? Beli truk sendiri?"
Reza menghitung uangnya dengan telaten. "Buat persalinan, Bang. Dan buat modal kalau nanti Anya pulang. Saya mau dia nggak perlu kerja keras lagi."
Bang Jago mengangguk, menyulut rokoknya. "Gery divonis dua belas tahun kemarin sore. Kamu sudah dengar?"
Reza tertegun. Gelas kopi di tangannya berhenti di udara. "Dua belas tahun?"
"Iya. Dan kabarnya, program perlindungan saksi untuk Anya akan segera berakhir setelah sidang aset minggu depan. Kamu harus siap-siap, Za. Dunia luar tidak akan semudah di pasar ini kalau kamu kembali ke Jakarta."
Reza tidak menjawab. Pikirannya langsung melesat ke sebuah rumah aman yang lokasinya pun ia tidak tahu. Dua belas tahun bagi Gery adalah kemenangan hukum, tapi bagi Reza, kebebasan Anya adalah satu-satunya kemenangan yang ia inginkan.
Malam itu, Reza melakukan perjalanan terakhirnya sebelum mengambil cuti panjang. Ia membawa muatan bawang merah menuju Bandung. Jalanan Nagreg yang berkelok dan berkabut biasanya membuatnya waspada, tapi kali ini ia merasa lebih tenang. Ia menyalakan radio tua di kabin truk, membiarkan lagu-lagu melayu lama menemaninya.
Tiba-tiba, di sebuah tikungan tajam yang minim penerangan, sebuah mobil sedan hitam melintang di tengah jalan. Reza menginjak rem sekuat tenaga. Ban truknya mencicit, mengeluarkan asap karet yang menyengat, berhenti hanya beberapa sentimeter dari badan mobil itu.
"Sial! Cari mati apa?!" teriak Reza sambil melongokkan kepalanya keluar jendela.
Seorang pria keluar dari mobil sedan itu. Bukan preman, bukan polisi. Pria itu memakai jas rapi, tapi wajahnya tampak pucat dan ketakutan. Ia mendekati pintu truk Reza dengan tergesa-gesa.
"Mas... tolong saya. Saya diikuti," bisik pria itu. "Saya pengacara yang mengurus aset Gery. Saya punya dokumen yang tidak seharusnya saya pegang. Mereka mau menghabisi saya sebelum saya sampai di pengadilan besok pagi."
Reza mengernyit. Masalah Gery lagi. Seolah pria itu adalah hantu yang menolak pergi dari hidupnya. "Kenapa ke saya? Saya cuma sopir bawang."
"Karena saya tahu siapa Anda! Budi bilang Anda satu-satunya sopir yang tidak bisa disogok dan punya rute yang tidak terduga!"
Reza menatap pria itu, lalu menatap jalanan di belakangnya. Benar saja, dua pasang lampu mobil muncul dari kejauhan, melaju dengan kecepatan tinggi. Insting bertahan hidup yang ia asah selama berbulan-bulan di jalanan langsung menyalak.
"Masuk! Cepat!" perintah Reza.
Pria pengacara itu melompat ke kabin truk. Reza memindahkan persneling ke gigi rendah, menginjak gas hingga mesin truknya meraung seperti singa yang terluka. Truk bermuatan tonase besar itu bergerak berat, tapi Reza tahu medan ini lebih baik daripada siapapun.
"Pegang pegangan pintu!" teriak Reza.
Ia tidak memacu truknya ke jalan raya utama. Ia justru membanting stir masuk ke sebuah jalan setapak berbatu yang biasa digunakan para petani sayur. Truk itu berguncang hebat, debu membumbung tinggi menutupi pandangan mobil di belakang mereka. Reza mematikan lampu utama, hanya mengandalkan insting dan cahaya bulan yang samar.
"Anda gila! Kita bisa masuk jurang!" teriak si pengacara.
"Kalau lewat jalan utama, kita sudah mati sepuluh menit yang lalu!" balas Reza.
Setelah tiga puluh menit aksi kejar-kejaran yang memacu jantung, Reza berhasil menyesatkan para pengejarnya di labirin kebun teh. Ia menghentikan truknya di sebuah gudang tua milik kenalannya.
Reza turun, napasnya memburu. Ia menatap si pengacara yang gemetar di samping truk. "Berikan dokumen itu. Saya yang akan bawa ke pengadilan besok."
"Anda? Bagaimana caranya?"
"Pakai motor. Truk ini terlalu mencolok," Reza mengambil ponselnya, menghubungi Budi. "Bud, siapkan motor tercepatmu. Kita ada pengantaran 'paket' paling besar dalam sejarah hidup kita."
Keesokan paginya, tepat saat hakim mengetukkan palu untuk memulai sidang aset terakhir Gery di Jakarta, sebuah motor ojek melesat masuk ke area pengadilan. Pengendaranya, yang memakai jaket kurir kumal dan helm penuh baret, berlari masuk menembus barisan petugas keamanan.
"PAKET UNTUK HAKIM!" teriak pria itu.
Itu adalah Reza. Ia menyerahkan tas berisi dokumen aset tersembunyi Gery aset yang tadinya akan digunakan Gery untuk membayar pembunuh bayaran guna menghabisi saksi-saksi kunci, termasuk Anya.
Di ruang sidang yang penuh sesak itu, mata Reza bertemu dengan mata seorang wanita yang duduk di barisan saksi. Anya.
Anya berdiri, tangannya memegang perutnya yang kini sudah sangat besar. Air matanya jatuh saat melihat pria yang berantakan, penuh debu, namun berdiri tegak di depannya. Reza tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengangkat pergelangan tangannya, menunjukkan gelang benang kuning yang masih melilit di sana.
Aku kembali, Anya. Dan kali ini, tidak ada lagi yang bisa mengusir kita, batin Reza.
Sidang itu berakhir dengan penyitaan
Seluruh aset Gery tanpa sisa. Dan yang lebih penting bagi Reza: status "Perlindungan Saksi" Anya dicabut karena ancaman telah dinetralisir sepenuhnya.
Sore itu, di tangga pengadilan yang megah, Reza menunggu Anya keluar. Saat pintu besar itu terbuka, Anya berjalan perlahan menuju ke arahnya. Ia tidak lagi memakai baju mewah, hanya gaun hamil sederhana, tapi bagi Reza, ia adalah pemandangan terindah setelah ribuan kilometer aspal yang ia lalui.
"Za..." Anya menyentuh pipi Reza yang kasar. "Kamu bau solar." Reza tertawa, air mata akhirnya jatuh juga di pipinya. "Dan kamu bau kebebasan, Anya."
Reza merangkul Anya, membiarkan kepala wanita itu bersandar di bahunya yang kini sudah cukup kuat untuk menopang beban apapun. Mereka berjalan menuju parkiran motor, bersiap kembali ke Bogor.
"Kita akan pulang, Za?"
"Iya, Anya. Kita pulang. Tapi kali ini, kita nggak akan sembunyi lagi."
Keluar dari gedung pengadilan bukan berarti mereka kembali ke kehidupan mewah masa lalu. Mereka kembali ke Bogor dengan satu unit motor tua dan sebuah tas berisi sisa dokumen hukum. Namun, kali ini, beban di pundak Reza tidak lagi terasa seperti batu kali, melainkan seperti otot yang siap bekerja.