Muhammad Zaka Fauzian Azkar. Nama itu tak asing di telinga para santri Pondok Pesantren Al-Hikmah. Gus Azkar, begitu ia akrab disapa, adalah sosok yang disegani, bahkan ditakuti. Pribadinya dingin, irit bicara, dan dikenal sangat galak, baik oleh santri putra maupun putri. Tegas dan disiplin adalah ciri khasnya, tak ada yang berani membantah.
Namun, dinding es yang menyelimuti hati Gus Azkar perlahan retak saat seorang santriwati baru hadir di pondok. Rina, gadis pendiam yang sering menyendiri, menarik perhatiannya. Berbeda dari santri putri lainnya, Rina memiliki dunianya sendiri. Suaranya yang lembut, seperti anak kecil, kontras dengan tingginya yang mungil. Cadar yang menutupi wajahnya menambah misteri pada sosoknya.
Gus Azkar sering mendapati Rina tertidur saat pelajaran fiqih yang ia ampu. Setiap kali ditegur karena tidak mendengarkan penjelasannya, Rina hanya diam, kepalanya menunduk. Jawaban yang selalu sama keluar dari bibirnya yang tertutup cadar, "Maaf Ustadz, saya kan sant
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Antara Ibadah dan Gairah
Suasana di dalam kamar itu seketika menjadi sangat panas dan menyesakkan. Rina perlahan menoleh ke arah cermin besar di depannya, melihat pantulan dirinya sendiri yang sedang didekap erat oleh Gus Azkar. Ia menelan ludah dengan susah payah, merasa ngeri sekaligus malu melihat betapa "terbukanya" pakaian yang ia kenakan sekarang. Lekuk tubuhnya yang padat dan berisi tercetak jelas, membuat Rina sendiri merasa asing dengan penampilannya yang sangat berani.
Gus Azkar pun tak jauh berbeda. Matanya yang biasa menatap tajam penuh disiplin, kini meredup, dipenuhi oleh gejolak gairah yang berusaha ia tekan sekuat tenaga. Pandangannya turun, menelusuri lekuk tubuh istrinya dari ujung kaki hingga berhenti di dada Rina yang membusung karena napas yang memburu. Sebagai laki-laki normal, apalagi melihat istrinya sendiri dalam keadaan seperti itu, pertahanan Gus Azkar benar-benar berada di ambang batas.
Tangan besar Gus Azkar masih melingkar kokoh di pinggang ramping Rina, menariknya hingga tak ada jarak di antara mereka. Rina bisa merasakan detak jantung Gus Azkar yang berdegup kencang, sama gilanya dengan detak jantungnya sendiri.
Gus Azkar menundukkan kepalanya, membisikkan kata-kata tepat di telinga Rina dengan suara yang sangat berat dan serak.
"Ini bukan mimpi, Sayang..." bisiknya sambil menatap lekat pantulan diri mereka di cermin. "Semua yang kamu rasakan sekarang, sentuhan ini, nyata. Kamu sudah jadi milikku sepenuhnya."
Gus Azkar kembali menelan ludahnya dengan berat saat pandangannya tak sengaja tertuju pada bagian dada Rina yang terlihat sangat menonjol di balik kain tipis itu. Ada dorongan kuat dalam dirinya untuk tidak melepaskan Rina malam ini, namun sisa-sisa kesadarannya mengingatkan bahwa waktu Maghrib hampir habis.
Rina hanya bisa mematung, tubuhnya gemetar hebat. Ia merasa sangat kecil di bawah kungkungan tubuh tegap suaminya. "Mas... ta-tapi... salat..." cicitnya pelan, berusaha mengingatkan Gus Azkar meskipun ia sendiri merasa lemas tak berdaya.
Gus Azkar menghela napas panjang, mencoba mengatur deru napasnya yang tidak beraturan. Ia memejamkan mata sejenak, mengumpulkan kembali kewarasannya yang hampir hilang terbawa suasana. Dengan sangat berat hati, ia melonggarkan pelukannya, namun sempat mendaratkan kecupan singkat dan tegas di bahu Rina yang terbuka.
"Ya, salat," ujar Gus Azkar sambil menjauhkan tubuhnya selangkah, meskipun matanya masih sulit untuk berpaling dari pemandangan di depannya.
"Segera pakai mukenamu, Rina. Sebelum saya benar-benar lupa kalau sekarang adalah waktu untuk menghadap Allah, bukan untuk 'memakanmu'."
Rina langsung tersadar. Dengan wajah yang merah padam menyerupai kepiting rebus, ia menyambar mukena di atas kasur dengan gerakan secepat kilat. Ia tidak berani menoleh lagi ke arah Gus Azkar.
Pikirannya benar-benar kacau—campuran antara rasa takut, malu, dan juga rasa "penasaran" yang selama ini hanya ia tonton di film kini benar-benar ada di depan matanya dalam wujud seorang Gus Azkar.
Gus Azkar kembali berdiri di depan sajadah, mencoba menenangkan hatinya dengan istigfar berkali-kali. Namun dalam hatinya, ia sudah membuat janji: setelah salat nanti, ia tidak akan membiarkan istrinya yang nakal itu bersembunyi lagi.
Salat Maghrib yang terasa sangat panjang bagi Rina akhirnya usai. Sepanjang salat, konsentrasinya buyar. Ia terus membayangkan bagaimana tatapan Gus Azkar tadi saat melihatnya tanpa busana yang layak.
Setelah salam, Rina bahkan tidak berani berzikir lama-lama. Dengan gerakan setipis mungkin, ia melipat mukenanya, mencoba tidak menimbulkan suara sedikit pun.