Lydia tidak pernah menyangka, setelah dipecat dan membatalkan petunangan, ia dicintai ugal-ugalan oleh keponakan mantan bosnya.
Rico Arion Wijaya, keturunan dari dua keluarga kaya, yang mencintainya dengan cara istimewa.
Apakah mereka akan bersama, atau berpisah karena status di antara mereka? ikuti terus kisahnya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noorinor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
"Lagipula, aku sudah menghubungi Paman Calvin dan memastikan Kak Lydia baik-baik saja di sini. Aku mewakili Kakak menjaga Kak Lydia," Airin berusaha membela dirinya agar kakaknya tidak marah.
Ia tidak menghubungi Arion karena situasi yang tidak memungkinkan, bukan sengaja ingin menyembunyikan keadaan Lydia.
"Kak Lydia lebih penting dari apa pun buat Kakak. Seharusnya orang pertama yang kamu hubungi itu Kakak, bukan Paman Calvin," seru Arion. Tidak menerima penjelasan Airin.
"Kamu juga tidak bisa menyalahkan Airin, Kak," tegur Namira menegahi. Ia tidak ingin kedua anaknya bertengkar karena masalah ini.
"Tapi Airin salah. Dia seharusnya menghubungi aku saat tahu Kak Lydia kecelakaan," ujar Arion sambil menarik tangannya dari ibunya.
Ia merasa ibunya lebih membela adiknya, sehingga ia langsung menarik dirinya dan memberi jarak dari sang ibu.
"Mamah tidak usah membela Airin. Dia memang pantas disalahkan," tambahnya.
"Jangan keterlaluan, Kak. Papah tahu kamu mengkhawatirkan Lydia, tapi tidak perlu sampai menyalahkan adik kamu dan membentak Mamah," kali ini giliran Xavier yang bicara.
Ia merasa putranya keterlaluan karena melampiaskan amarah ke semua orang. Padahal Airin dengan jelas mengatakan bahwa dirinya menjaga Lydia dan memastikan Lydia baik-baik saja.
"Kakak tidak membentak Mamah," ujar Arion yang membuat emosi Xavier terpancing.
Tangannya nyaris terangkat, namun Calvin lebih dulu menahannya sebelum Xavier benar-benar melampiaskan emosinya pada Arion.
"Kita ada di rumah sakit," ucap Calvin mengingatkan Xavier.
Sebagai orang dewasa, Xavier seharusnya mampu meredakan ketegangan, bukan malah menambah suasana menjadi semakin tegang. Apalagi mereka sedang berada di rumah sakit.
"Jangan sampai lo menyesal menampar darah daging lo sendiri," seru Calvin mengingatkan Xavier tentang siapa yang ingin Xavier tampar.
Xavier tampak tidak peduli. Ia menepis tangan Calvin yang menahannya, lalu merangkul Namira dan Airin untuk menjauh dari Arion yang menurutnya mulai kehilangan kendali.
Calvin menghela napas pelan. Sejak dulu Xavier selalu menyebalkan saat marah. Padahal mereka sudah tua, tapi Xavier tidak berubah sama sekali.
"Ayo, kita lihat keadaan Lydia," ajak Calvin sambil merangkul bahu Arion.
Ia tidak ingin situasi semakin kacau jika Arion dan Xavier dibiarkan berada di ruangan yang sama. Namun, sebelum mereka sempat masuk ke dalam ruangan Lydia, sindiran Xavier lebih dulu terdengar.
"Kamu itu masih memakai uang Papah, berani sekali membentak Mamah di depan Papah," ujar Xavier menyindir Arion.
Calvin menoleh cepat ke arah Xavier saat mendengar apa yang baru saja laki-laki tua itu katakan. Ia tidak menyangka Xavier bisa mengatakan hal itu pada anaknya sendiri.
"Kalau Kakak tidak memakai uang dari kamu, lalu harus memakai uang siapa?" Bukan Calvin yang berbicara, melainkan Namira. Ia tidak terima suaminya bicara seperti itu pada putra mereka.
"Aku membela kamu lho, Sayang," protes Xavier karena istrinya malah memihak Arion.
"Bilang saja kalau kamu memang tidak ikhlas memberi Kakak uang. Kamu pikir aku tidak bisa memberinya uang?" ucap Namira tidak terlalu mendengarkan ucapan Xavier.
Ia tahu Xavier sedang membelanya, tapi ia tetap tidak terima suaminya menyinggung soal uang pada putra mereka. Arion darah daging mereka dan berhak menerima apa pun dari orang tuanya. Jika Xavier keberatan memberi uang, Namira bisa menggunakan uang pribadinya sendiri untuk Arion.
"Bukan begitu, Sayang," Xavier mencoba menjelaskan, namun Namira menyelanya.
"Terus apa maksud kamu mengungkit uang ke anak kamu sendiri?" tanya Namira yang membuat Xavier menundukkan kepalanya.
Airin hanya terdiam. Ia mendengar kedua orang tuanya bertengkar, tapi pikirannya dipenuhi hal lain yang membuatnya tidak mampu melakukan sesuatu yang dapat menghentikan perdebatan mereka.
Sementara itu, Arion akhirnya menyadari kesalahannya setelah mendengar perdebatan orang tuanya. Ia pun berbalik dan menghampiri ibunya.
"Maaf, Mah. Aku salah sudah membentak Mamah," ujar Arion tepat setelah berdiri di depan ibunya.
Namira tersenyum dan mengusap bahu Arion. Ia sama sekali tidak menyalahkan putranya atas apa yang sudah terjadi. Ia sempat menegur karena memang tidak seharusnya Arion menyalahkan Airin.
"Tidak apa-apa. Mamah mengerti. Kamu tidak perlu meminta maaf," ucap Namira yang membuat Arion langsung memeluknya.
Namira adalah ibu yang penyayang. Ia tidak pernah sekalipun membedakan anak-anaknya. Arion sadar bukan ibunya yang lebih memihak adiknya, tapi ia yang memang sudah kelewatan.
"Bukankah kamu ingin melihat keadaan Lydia? Lebih baik sekarang kamu masuk," ujar Namira mengalihkan supaya putranya berhenti merasa bersalah.
Arion mengangguk pelan, lalu melepaskan pelukannya.
"Sekali lagi aku minta maaf. Aku akan melihat keadaan Kak Lydia dulu," ujarnya.
Sebelum melangkah menuju ruangan Lydia, ia sempat melirik Airin. Namun adiknya itu langsung membuang muka, membuat egonya mengambil alih dan ia pun mengurungkan niat untuk meminta maaf.
"Ayo, sudah ada Bibi di dalam," ucap Calvin membimbing Arion masuk ke ruangan Lydia, dan bahkan membukakan pintu untuknya.
Namira menoleh ke arah Airin setelah melihat Arion dan Calvin memasuki ruangan tempat Lydia dirawat.
"Jangan diambil hati ucapan Kakak. Dia hanya sedang kacau sekarang," ujarnya.
"Iya, Mah," sahut Airin disertai senyuman kecil.
Xavier hanya menyimak karena tahu istrinya masih marah padanya. Sebenarnya, ia tidak bermaksud mengungkit soal uang. Ia hanya ingin mengingatkan bahwa Arion tidak pantas membentak ibunya, terlebih posisinya masih bergantung pada orang tua.
***
Arion merasa lututnya lemas melihat Lydia terbaring tidak sadarkan diri di ranjang rawat. Perban putih melingkar di kepalanya, infus menempel di punggung tangannya, kanula oksigen kecil tersemat di hidungnya, dan wajah yang tadi pagi masih cerah itu kini berubah pucat pasi.
Aletta terduduk di samping ranjang rawat Lydia. Wajahnya memerah, khas orang yang habis menangis. Ia mendengar keributan di depan ruangan, tapi memilih untuk tetap di tempatnya, setia menemani sahabatnya yang belum juga sadar.
"Tadi pagi Lydia sempat mengirim pesan. Katanya ban mobilnya tiba-tiba bocor," ujar Aletta, lalu menatap Arion.
"Bibi pikir itu hanya ban bocor biasa. Tapi ternyata semuanya sudah direncanakan. Ada orang yang sengaja membuat ban mobil Lydia bocor, dan orang itu juga yang sudah menabrak Lydia di depan kampus kamu," tambahnya.
Jika ada yang harus disalahkan, mungkin Aletta lah orangnya. Lydia mengeluh dalam pesannya tentang ban mobilnya yang tiba-tiba bocor. Aletta tidak menyadari ada keanehan di situ, padahal Lydia menjelaskan bahwa ban itu mendadak bocor setelah ia mengambil barang yang tertinggal di apartemennya.
"Bibi tidak salah," ucap Arion cepat. Ia tidak ingin ada orang yang kembali disalahkan atas kecelakaan yang menimpa Lydia. Sudah cukup tadi ia menyalahkan adiknya dan membentak ibunya.
"Bagaimana keadaan Kak Lydia? Apa kata dokter?" tanya Arion mengalihkan pembicaraan.
Aletta melirik Lydia sejenak sebelum menjawab pertanyaan Arion.
"Kondisinya sudah stabil. Dokter bilang, kita hanya tinggal menunggu Lydia sadar," jelasnya.
Arion mengangguk pelan. Ia berusaha untuk tegar dengan keadaan Lydia. Ia sudah tidak ingin menyalahkan siapa pun lagi saat ini.
"Baiklah. Terima kasih sudah menjaga Kak Lydia selama aku tidak ada," ujarnya tulus.
Seharusnya Arion bisa mengucapkan hal yang sama pada Airin, tapi ia malah marah dan menyalahkan adiknya karena tidak langsung mengabarinya saat mengetahui Lydia kecelakaan. Ia merasa bersalah, tapi egonya masih menguasai dirinya.
“Paman rasa kamu butuh waktu berdua bersama Lydia. Kami akan menunggu di luar,” ujar Calvin sebelum mengajak Aletta keluar dari ruangan Lydia.