"Donor dari Masa Lalu" adalah kisah tentang pengorbanan seorang ibu, luka cinta yang belum sembuh, dan pilihan paling berat antara menyelamatkan nyawa atau menjaga rahasia. Akankah sebuah ginjal menjadi jalan untuk memaafkan, atau justru pemutus terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DDML 20: DAMAI YANG RAPUH
Enam bulan pasca penangkapan tim Pembalas, kehidupan perlahan menemukan iramanya yang baru. Yayasan Arkana Harapan berkembang pesat, menjadi titik terang bagi puluhan keluarga anak penderita gagal ginjal. Mereka bukan hanya memberi bantuan finansial, tapi juga dukungan psikologis pelajaran berharga dari pengalaman mereka sendiri bahwa luka emosional bisa lebih berbahaya daripada penyakit fisik.
Rumah Rafa kini tidak lagi terasa seperti benteng. Beberapa kamera keamanan dicopot, sistem alarm disederhanakan. Anak-anak mulai bisa bermain di halaman tanpa pengawasan ketat. Normalitas kata yang dulu asing, kini perlahan merayap masuk.
Suatu pagi Sabtu yang cerah, Aisha dan Laras sedang menyiapkan sarapan bersama di dapur ritual baru yang menjadi favorit mereka. Aisha membuat pancake, Laras memotong buah. Nadia dan Arkana duduk di high chair, Arka membantu mengaduk adonan.
“Mama, Bunda,” panggil Arka sebutan yang sekarang sudah lancar. “Besok kita ke kebun binatang, ya? Janji lho waktu Arka ulang tahun.”
“Iya, sayang,” jawab Laras sambil mencolek hidungnya. “Ayah sudah beli tiket online.”
Rafa yang sedang membaca koran di ruang tamu, tersenyum mendengar itu. Kebun binatang. Aktivitas biasa untuk keluarga biasa. Bagi mereka, itu pencapaian besar.
Tapi di koran yang dia baca, ada artikel kecil di halaman belakang: “Mantan Peneliti Transplantasi Divonis 15 Tahun Penjara.” Foto Dr. Farid Pembalas01 tersenyum sinis di foto lama. Rafa membalik halaman dengan cepat, tidak ingin mengingatkan yang lain. Beberapa hantu mungkin sudah tertangkap, tapi bayangannya masih panjang.
---
Perjalanan ke kebun binatang hari Minggu berjalan lancar. Matahari bersinar, taman ramai tetapi tidak terlalu padat. Arka antusias melihat jerapah, Nadia takut-takut tapi penasaran dengan singa, Arkana tertawa setiap kali melihat monyet.
Di depan kandang orangutan, seorang wanita paruh baya mendekati mereka. “Permisi, ini keluarga Arka, kan?”
Mereka saling pandang, waspada. Tapi wanita itu tersenyum ramah. “Saya ibu dari Dito anak yang dibantu yayasan kalian. Transplantasi bulan lalu berhasil. Saya cuma mau bilang terima kasih.”
Lega. Bukan ancaman, tapi ucapan terima kasih. Mereka berbincang singkat. Wanita itu bercerita tentang perjuangan anaknya, mirip dengan perjalanan Arka dulu. “Kami dapat kekuatan dari cerita kalian,” katanya.
Saat wanita itu pergi, Aisha merasakan kehangatan yang berbeda bukan dari matahari, tapi dari arti bahwa penderitaan mereka tidak sia-sia.
---
Namun, di tengah kebahagiaan itu, sesuatu yang kecil namun mengganggu terjadi.
Saat mereka sedang makan es krim di bangku taman, seorang fotografer amatir dengan kamera besar dan lensa panjang terlihat mengambil foto dari kejauhan. Bukan sekali, tapi beberapa kali, mengikuti pergerakan mereka dari satu kandang ke kandang lain.
Rafa memperhatikan. “Dia lagi foto kita.”
“Mungkin fans?” usul Laras. “Kita lumayan sering di media akhir-akhir ini.”
“Tapi caranya… seperti memata-matai.”
Rafa mendekati fotografer itu. “Maaf, apakah Anda mengambil foto keluarga kami?”
Fotografer itu pria sekitar 30 tahun, berkacamata tersenyum ramah. “Oh, iya. Maaf kalau mengganggu. Saya fotografer freelance, sedang mengerjakan proyek ‘Keluarga Indonesia’. Kebetulan melihat kalian, cocok dengan tema. Boleh saya pakai?”
“Lebih baik tidak,” kata Rafa tegas. “Kami menghargai privasi.”
“Tentu, maaf.” Pria itu mengangguk, lalu pergi.
Tapi Aisha melihat dia tidak menghapus foto dari kameranya. Dan sebelum pergi, dia mengambil satu lagi foto close-up Arkana di gendongan Laras.
“Aneh,” gumam Aisha.
“Mungkin benar-benar fotografer,” kata Laras mencoba menenangkan. “Kita jadi terlalu paranoid.”
Tapi firasat Aisha mengatakan lain. Matanya terlalu tajam untuk sekadar fotografer tema keluarga.
---
Malam itu, saat anak-anak sudah tidur, Aisha tidak bisa berhenti memikirkan fotografer itu. Dia membuka laptop, mencoba mencari wajahnya di internet tapi tentu saja tidak menemukan apa-apa.
“Kamu masih memikirkannya?” tanya Rafa, masuk ke kamarnya dengan dua cangkir teh.
“Iya. Ada sesuatu… cara dia memandang Arkana. Bukan seperti memandang objek foto. Tapi seperti… memeriksa.”
“Memeriksa?”
“Seperti dokter memeriksa pasien. Atau seperti… kolektor memeriksa barang.”
Kata “kolektor” itu membuat mereka diam. Penculikan anak? Tapi untuk apa? Mereka bukan keluarga super kaya. Atau… apakah masih ada sisa dendam dari jaringan Pembalas yang belum tertangkap?
“Kita laporkan ke polisi besok,” usul Rafa. “Biarkan mereka periksa.”
---
Keesokan harinya di kantor polisi, mereka menunjukkan deskripsi fotografer itu. Polisi mencatat, tapi berkata: “Tanpa identitas jelas, sulit dilacak. Tapi kami akan tambahkan patroli di sekitar rumah kalian.”
Itu tidak cukup meyakinkan. Tapi apa lagi yang bisa mereka lakukan? Hidup dalam kewaspadaan konstan adalah neraka. Tapi lengah bisa berakibat fatal.
Mereka memutuskan untuk memperketat keamanan lagi tapi kali ini, tanpa memberitahu anak-anak. Mereka tidak ingin ketakutan kembali menghantui Arka dan Nadia.
---
Tiga hari berlalu tanpa insiden.
Mereka mulai berpikir mungkin memang hanya kekhawatiran berlebihan. Tapi kemudian, paket misterius datang.
Bukan ke rumah, tapi ke kantor yayasan. Alamat lengkap, nama penerima: “Keluarga Arka”.
Staf yayasan yang membuka seorang relawan muda langsung pingsan. Isi paket: boneka bayi dengan kepala terpisah, dan surat yang ditulis dari guntingan majalah:
“Keadilan belum selesai. Bayar dengan yang paling berharga.”
Polisi datang, mengamankan paket. Tidak ada sidik jari. Tidak ada jejak pengirim. Tapi pesannya jelas: ancaman belum berakhir.
“Siapa lagi?!” Laras hampir histeris di kantor polisi. “Kita sudah tangkap semua! Dr. Farid, Maya, Andika, semuanya!”
“Mungkin ada yang terlewat,” kata penyidik. “Atau… mungkin ini dari pihak lain yang tidak terhubung dengan Pembalas.”
“Pihak lain seperti apa?” tanya Rafa.
“Keluarga kalian sekarang cukup terkenal. Ada yang mungkin iri dengan kesuksesan yayasan. Atau… mantan relawan yang dipecat. Atau bahkan orang yang merasa tidak puas dengan bantuan yayasan.”
Dunia penuh dengan orang yang bisa membenci tanpa alasan jelas.
---
Mereka audit semua relawan yayasan.
Ditemukan satu nama: Roni, mantan akuntan yayasan, dipecat sebulan lalu karena dugaan penggelapan dana kecil. Dia marah saat dipecat, mengancam akan “balas dendam”.
Polisi menjemput Roni di kos-kosannya. Tapi dia punya alibi kuat sedang di luar kota saat paket dikirim. Dan setelah diperiksa, dia hanya mengakui mengambil uang untuk bayar utang judi, tidak ada hubungan dengan ancaman.
Jalur buntu lagi.
---
Arka yang mendengar pembicaraan diam-diam, mulai menunjukkan gejala stres lagi.
Dia terbangun malam hari, berkeringat dingin. “Ada yang ngintip lewat jendela,” katanya pada Aisha suatu malam.
Aisha memeriksa tidak ada siapa-siapa. Tapi kamera keamanan menangkap bayangan cepat lewat di luar pagar pukul 02.17. Terlalu cepat untuk dikenali, tapi cukup untuk membuktikan bahwa Arka tidak berhalusinasi.
Seseorang memang mengawasi rumah mereka.
Polisi memasang kamera tersembunyi di luar. Dan dua malam kemudian, mereka mendapatkan wajah jelas: pria berkacamata, sama dengan fotografer di kebun binatang.
“Dia mengikuti kita,” simpul Rafa.
Polisi melacak plat motor yang terlihat di video motor rental. Dan nama penyewa: “Ferdi” dengan KTP palsu.
Profesional. Bukan amatiran.
---
dr. Arman menghubungi mereka dengan informasi mengejutkan.
“Saya dapat telepon anonim. Suara diubah, tapi pesannya jelas: ‘Katakan pada keluarga itu bahwa bayi itu akan jadi yang berikutnya jika mereka tidak menghentikan yayasan’.”
“Menghentikan yayasan? Kenapa?”
“Kata si penelpon: ‘Karena yayasan itu hanya pencucian dosa. Mereka pamer kebaikan untuk menutupi ketidakadilan yang mereka nikmati’.”
Logika yang sama dengan Pembalas, tapi dengan pendekatan berbeda. Jika Pembalas ingin reformasi sistem, yang ini ingin menghancurkan simbol yaitu keluarga mereka.
“Ada kelompok baru,” kata penyidik. “Mungkin terinspirasi oleh kasus Pembalas, tapi dengan agenda sendiri.”
Virus kebencian menyebar. Mereka menjadi simbol yang dibenci oleh berbagai kelompok untuk alasan berbeda-beda.
---
Aisha merasa lelah luar biasa.
Delapan tahun berjuang sendirian. Lalu pertempuran dengan masa lalu. Lalu ancaman Pembalas. Dan sekarang, musuh baru. Kapan berakhir?
Malam itu, dia menangis di kamarnya tangisan sunyi yang terpendam sejak lama. Laras yang mendengar, masuk tanpa mengetuk, duduk di sampingnya.
“Kita tidak bisa terus begini,” bisik Laras. “Kita harus putuskan: terus bertarung, atau…”
“Atau apa? Lari lagi? Sembunyi?”
“Atau… hadapi dengan cara berbeda. Kita terlalu fokus pada pertahanan. Mungkin kita perlu menyerang.”
“Menyerang bagaimana? Kita bukan polisi.”
“Tapi kita punya suara. Dan kita punya kebenaran.”
---
Mereka mengadakan konferensi pers lagi.
Tapi kali ini, bukan untuk membela diri. Mereka mengundang media, mengakui bahwa mereka masih diancam, bahwa ada orang yang ingin menyakiti anak-anak mereka, dan mereka meminta perlindungan negara secara terbuka.
“Kami bukan selebritas. Kami bukan politisi. Kami hanya keluarga yang mencoba bertahan dan membantu orang lain,” kata Rafa di depan puluhan kamera. “Tapi ada yang mengancam kami karena itu. Jika ada yang punya masalah dengan kami, datanglah pada kami, orang dewasa. Jangan libatkan anak-anak.”
Pidato itu menjadi viral lagi. Tapi kali ini, dukungan datang lebih masif. Banyak orang yang tidak terkait dengan isu transplantasi ikut membela mereka. “Jangan ganggu keluarga yang sedang berusaha baik,” menjadi tagar.
Tekanan publik membuat kepolisian menugaskan tim khusus untuk kasus ini. Dan dalam seminggu, pria berkacamata Ferdi palsu tertangkap.
---
Di ruang interogasi, pria itu membongkar semuanya.
Dia bukan anggota kelompok apa pun. Dia dibayar oleh seseorang untuk mengintai dan mengirim ancaman. “Saya cuma disuruh bikin mereka ketakutan. Tidak disuruh celakai.”
“Siapa yang bayar kamu?” tanya penyidik.
“Saya tidak tahu nama asli. Bayaran lewat bitcoin. Komunikasi lewat aplikasi encrypted. Tapi… saya pernah dengar suaranya. Perempuan. Tua. Dan dia bilang… ‘Aisha harus membayar untuk anak saya’.”
Perempuan tua. Anaknya? Siapa lagi?
Aisha mencoba mengingat-ingat apakah ada wanita tua yang pernah dia sakiti? Ibu Rangga? Tapi dia sudah meninggal. Ibu Farid? Tidak tahu.
dr. Arman tiba-tiba teringat sesuatu. “Ada satu kasus… beberapa tahun lalu, sebelum Arka sakit. Seorang pasien transplantasi anak meninggal karena komplikasi pasca operasi. Keluarganya marah, menuduh rumah sakit lalai. Dan… kamu ingat, Aisha? Waktu itu kamu sedang magang di bagian administrasi. Kamu yang menangani dokumen asuransi keluarga itu.”
Aisha membeku. Ingatan samar. Seorang ibu tua yang berteriak padanya di koridor rumah sakit: “Kamu yang memperlambat proses! Anakku mati karena birokrasi!”
“Tapi itu bukan salahku! Proses asuransi memang butuh waktu!”
“Dia menyalahkanmu,” kata dr. Arman. “Dan dia mungkin menyimpan dendam sejak itu.”
---
Polisi menyelidiki.
Ibu tua itu bernama Ibu Surti. Anaknya seorang gadis 9 tahun bernama Dina meninggal 7 tahun lalu. Dan Ibu Surti memang dikenal sering mengirim surat keluhan ke berbagai instansi, menyebut nama Aisha sebagai “biang keladi”.
Tapi Ibu Surti sendiri sudah uzur, tinggal di panti jompo. Kemungkinan besar dia tidak bisa merencanakan aksi pengintaian dan ancaman yang terorganisir.
“Kecuali… dia punya anak lain,” kata penyidik.
Dan benar: Ibu Surti punya anak laki-laki Anton, 35 tahun, bekerja sebagai konsultan IT. Dan Anton memang dikenal sangat protektif pada ibunya.
Polisi menemui Anton. Dia tidak menyangkal. “Ibu saya depresi sejak adik saya meninggal. Dan dia selalu bilang nama ‘Aisha’ sebagai penyebabnya. Saya hanya ingin membuat Aisha merasakan ketakutan yang sama takut kehilangan anak.”
“Jadi kamu yang menyewa Ferdi?”
“Saya hanya menyuruhnya mengirim paket dan mengintai. Saya tidak pernah mau menyakiti anak-anak. Saya hanya… ingin mereka merasakan sedikit ketakutan yang ibu saya rasakan setiap hari.”
Dendam turun-temurun. Kesalahan yang diwariskan.
---
Anton ditahan. Ancaman akhirnya terungkap. Bukan jaringan besar. Bukan ideologi. Hanya seorang laki-laki yang mencoba membela ibu yang terluka dengan cara yang salah.
---
Setelah kasus itu ditutup, keluarga ini duduk bersama di ruang keluarga. Keheningan yang berbeda bukan karena takut, tapi karena kelelahan yang mendalam.
“Ayah,” kata Arka tiba-tiba. “Apakah akan selalu begini? Selalu ada orang yang mau sakiti kita?”
Rafa memandangi anaknya, lalu pada Aisha dan Laras. “Tidak, sayang. Tapi… mungkin kita harus menerima bahwa kita tidak bisa membuat semua orang menyukai kita. Dan itu tidak apa.”
“Tapi Arka mau semua orang senang.”
“Kamu tidak bisa membuat semua orang senang, Nak,” kata Aisha, merangkulnya. “Tapi kamu bisa memilih untuk tetap baik, meski ada yang tidak menyukaimu.”
Laras menambahkan: “Dan kita punya satu sama lain. Itu yang penting.”
Mereka berpelukan kelima orang dewasa dan tiga anak dalam lingkaran hangat. Mungkin dunia di luar masih bermusuhan. Mungkin masih ada yang membenci mereka. Tapi di dalam lingkaran ini, ada cinta yang cukup untuk bertahan.
---
Mereka memutuskan untuk mengambil cuti panjang.
Meninggalkan kota. Menyewa rumah kecil di pegunungan tempat yang sepi, jauh dari keramaian, di mana tidak ada yang mengenali mereka.
Selama dua minggu, mereka hanya jadi keluarga biasa: jalan-jalan di hutan, memasak bersama, bercerita di depan perapian. Tidak ada yayasan. Tidak ada media. Tidak ada ancaman. Hanya mereka.
Di sanalah, di tengah keheningan pegunungan, mereka akhirnya menemukan damai yang rapuh—tapi nyata.
Dan mereka berjanji: tidak peduli apa yang terjadi di luar, mereka akan melindungi damai ini. Bersama.
---
(Saat mereka pulang dari pegunungan, sebuah surat menunggu di kotak pos tanpa prangko, dikirim langsung. Isinya hanya satu kalimat: “Kalian beruntung kali ini. Tapi aku masih mengawasi.” Tidak ada tanda tangan. Dan kamera keamanan tidak menangkap siapa yang mengantarkannya. Damai itu rapuh. Tapi cukup kuat untuk hari ini.)