Kiara Valeska Pratama, desainer muda berbakat lulusan terbaik Jakarta tak pernah menyangka hidup glamornya akan runtuh hanya karena satu kata, perjodohan. Dijodohkan dengan anak Pak Kades dari desa pelosok, Kiara memilih kabur ke Bali dan mengabaikan hari pernikahannya sendiri.
Baginya, menikah dengan pria kampungan yang hidup di desa kumuh adalah mimpi buruk terbesar. Namun, Kiara tak tahu satu hal. Pria desa yang ia remehkan itu adalah Alvar Pramesa, dokter obgyn lulusan terbaik luar negeri yang meninggalkan karier gemilang demi kembali ke desa, merawat orang tuanya dan mengabdi pada tanah kelahirannya. Pernikahan tanpa kehadiran pengantin wanita menjadi awal dari konflik, gengsi, dan benturan dua dunia yang bertolak belakang. Gadis kota yang keras kepala dan pria desa yang tenang namun tegas, dipaksa hidup dalam satu atap.
Akankah cinta tumbuh dari perjodohan yang penuh luka dan salah paham?
Atau justru ego Kiara akan menghancurkan ikatan yang terlanjur terjalin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Alvar melangkah maju satu langkah. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras.
“Maaf, Ma … maksud Mama apa?” tanyanya tenang, tapi jelas ada getar tertahan. “Kemarin Mama masih baik-baik saja pada saya. Kenapa hari ini tiba-tiba—”
“Apa?” potong Melati tajam. “Kamu masih berani bertanya?” Ia menarik napas dalam, lalu menunjuk Alvar tanpa ragu.
“Aku sudah tahu penyebab Mas Rahmat serangan jantung mendadak. Itu semua karena kamu!”
“Ma, tolong tenang,” Kiara cepat meraih lengan ibunya, mencoba menahan. “Jangan bicara keras di depan Papa.”
Namun, Melati mengibaskan tangan Kiara, lalu mengangkat ponsel suaminya. Dengan tangan gemetar karena emosi, ia menekan layar dan menghadapkannya tepat ke arah Alvar.
“Lihat ini.”
Alvar menatap layar itu dan seketika wajahnya memucat. Terpampang foto Alvar momen ketika Hesti tiba-tiba menarik wajahnya dan mencium bibirnya, diambil dari sudut yang membuatnya terlihat seolah ia membalas.
Di bawah foto itu, ada pesan singkat yang dingin dan menusuk,
[Suami anakmu berselingkuh di belakang kalian.]
Dada Alvar terasa dihantam keras.
“Itu … itu tidak benar, Ma,” ucapnya cepat, nyaris refleks.
“Saya tidak pernah berselingkuh. Itu salah paham. Saya menolak dia, saya langsung pergi setelah itu.”
Melati tertawa sinis.
“Salah paham? Foto tidak bisa bohong, Alvar.”
Rahmat menutup mata, napasnya terlihat berat. Jelas foto itu sudah ia lihat berkali-kali sebelum akhirnya dadanya tak kuat menahan. Alvar beralih menatap Kiara, tatapannya penuh panik dan harap sekaligus.
“Kiara,” suaranya melembut, nyaris memohon. “Kamu percaya aku, kan? Aku sudah jelaskan semuanya kemarin. Aku tidak pernah membalas ciuman itu. Aku bahkan mendorong dia.”
Kiara menatap layar ponsel itu lama. Tangannya gemetar saat menurunkan ponsel dari genggaman ibunya. Wajahnya tenang namun matanya berkaca-kaca.
“Aku tahu, Mas,” jawabnya akhirnya pelan. “Aku tahu kamu bilang itu salah paham.” Ia mengangkat pandangannya ke Alvar.
Melati kembali membuka mulut, ingin menyela, tetapi Rahmat lebih dulu berbicara dengan suara lelah.
“Melati … cukup. Jangan tambah beban di sini.” Melati menggigit bibirnya, air mata akhirnya jatuh juga.
“Aku hanya tidak mau anakku hancur, Mas…”
Kiara menghela napas panjang. Ia berdiri di antara ibunya dan Alvar posisi yang terasa seperti simbol dari semua yang terjadi.
“Ma,” ucapnya lirih tapi tegas, “aku dan Mas Alvar akan menyelesaikan ini. Tapi bukan dengan teriak-teriak di depan papa,"
Hening kembali turun di ruangan itu.
Kiara menelan ludah, dia menatap layar ponsel papanya sekali lagi, lalu mengangkat wajahnya ke arah ibunya dan Alvar.
“Ma…,” suaranya pelan tapi penuh tanda tanya, “siapa yang mengirim foto ini ke Papa?”
Melati terdiam sejenak.
“Karena setahu Kiara,” lanjutnya, kini menatap Rahmat, “malam itu nggak ada orang lain selain kami. Dan satu lagi … nomor Papa itu nomor pribadi. Hampir nggak ada yang punya. Bahkan, banyak relasi Papa pun nggak tahu.” Ucapan itu membuat suasana semakin hening.
Rahmat membuka mata perlahan, menatap Kiara dengan tatapan letih tapi tenang. Ia menghela napas panjang sebelum berbicara.
“Papa juga berpikir begitu,” katanya lirih. “Makanya Papa tidak langsung menyalahkan Alvar.”
Ia mengalihkan pandangan ke menantunya.
“Papa percaya foto itu diambil untuk menimbulkan salah paham. Papa percaya Alvar anak yang baik. Dari caramu menjaga Papa sejak di rumah sakit sampai sekarang … Papa tahu kamu tidak seperti yang dituduhkan.”
Alvar menunduk dalam, dadanya terasa sesak.
“Terima kasih, Pa,” ucapnya tulus. “Saya bersumpah tidak pernah berniat mengkhianati Kiara.”
Rahmat tersenyum tipis.
“Papa tahu, justru yang Papa khawatirkan … orang yang sengaja mengirim foto ini punya niat tidak baik. Dia tahu nomor Papa, tahu kondisi Papa, dan tahu cara memukul dari titik paling lemah.”
Kiara mengepalkan jemarinya.
“Dan orang itu,” ucapnya dingin, “ingin rumah tangga kami hancur.”
Melati menatap putrinya, wajahnya mulai goyah.
“Kalau begitu…,” suaranya melemah, “Mama mungkin terlalu cepat marah.”
Kiara menggeleng pelan.
“Ma, wajar Mama marah. Tapi sekarang yang lebih penting … kita cari tahu siapa yang bermain di belakang.”
Tatapan Kiara dan Alvar bertemu sejenak.
Sementara itu di desa, angin berembus pelan di teras rumah juragan. Bahrul menyesap kopi hitamnya sambil menatap anaknya tajam.
“Ngomong-ngomong, Prad,” ucapnya pelan tapi menusuk, “buat apa kamu tanya nomor Tuan Rahmat kemarin?”
Supradi yang sejak tadi bersandar di tiang kayu langsung menegakkan tubuh. Wajahnya tetap tenang, seolah pertanyaan itu sepele.
“Ada kepentingan, Yah.”
“Kepentingan apa?” Bahrul meletakkan cangkirnya.
“Aku tahu kamu tahu ayah simpan nomornya. Sawah yang kita kelola itu masih atas nama dia.”
Supradi mengangguk singkat.
“Iya, aku tahu.”
Bahrul mendengus kesal.
“Tapi ingat baik-baik. Sudah hampir sepuluh tahun ayah belum bayar sewa tanah ke dia. Kalau sampai kamu macam-macam, bikin dia curiga, lalu dia nuntut bayar sewa dan narik semua sawah dari tangan kita…”
tatapan Bahrul mengeras,
“awas saja kamu.”
Supradi menunduk, mengangguk patuh.
“Iya, Yah.”
Namun, begitu Bahrul beranjak masuk ke rumah, sorot mata Supradi berubah. Tidak ada lagi sikap tunduk yang tersisa hanya kebencian yang lama terpendam.
Di dalam hatinya, Supradi tersenyum tipis.
'Tenang saja, Yah,' batinnya dingin.
'Aku tahu batasnya. Aku cuma mau Alvar ngerasain sedikit saja … betapa berantakannya hidup kalau orang yang kamu cintai dipermainkan.'
Supradi menggenggam ponselnya dengan layar foto Alvar dan Hesti.
outhor nih selalu aja g suka liat alvar seneng