Lastri menjadi janda paling dibicarakan di desa setelah membongkar aib suaminya, seorang Kepala Desa ke internet.
Kejujurannya membuatnya diceraikan dan dikucilkan, namun ia memilih tetap tinggal, mengolah ladang milik orang tuanya dengan kepala tegak.
Kehadiran Malvin, pria pendiam yang sering datang ke desa perlahan mengubah hidup Lastri. Tak banyak yang tahu, Malvin adalah seorang Presiden Direktur perusahaan besar yang sedang menyamar untuk proyek desa.
Di antara hamparan sawah, dan gosip warga, tumbuh perasaan yang pelan tapi dalam. Tentang perempuan yang dilukai, dan pria yang jatuh cinta pada ketegaran sang janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter³⁰ — Jebakan.
Lorong rumah sakit terasa dingin, tapi Lastri tidak lagi merasa takut. Malvin menyelipkan surat panggilan klarifikasi itu ke dalam map.
“Mulai sekarang, mereka akan menyerangmu dari segala arah.”
Lastri menegakkan punggung. “Aku siap, dan yang lebih penting... Sinta dan anaknya harus selamat. Kita harus mengamankan mereka, untuk bukti nanti atas dakwaan pada Surya dan Pak Hadi.”
Malvin menatap Lastri beberapa detik. Tatapan yang seolah berkata, tidak salah aku memilihmu.
Malvin tidak menunggu lagi, dalam hitungan menit ia sudah mengurus semuanya.
Sinta akan langsung dipindahkan saat itu juga dari ICU ke rumah sakit besar dengan jalur pribadi agar tak ada data pemindahan yang bisa diakses oleh siapapun. Nama Sinta diganti sementara di data internal, begitupun bayi Sinta.
“Pak Denis,” Lastri menahan napas sejenak, menatap Sinta dan bayi kecil itu yang sudah lebih dulu dibaringkan rapi di dalam ambulans khusus dari kota. “Saya titip Sinta dan anaknya. Sayangnya… saya harus tetap di sini. Saya harus mendapatkan keadilan, juga harus membuktikan kalau saya sanggup melawan mereka.”
Denis mengangguk dengan wajah serius. “Percayakan pada saya.”
Malvin kemudian melangkah mendekat. Ia menepuk pundak asistennya dengan gestur santai, tapi nada suaranya dingin dan tegas. “Kerjaanmu bakal bertambah banyak, nanti ada bonus. Kali ini, jaga Sinta dan bayinya… dengan nyawamu.”
Denis langsung menegakkan tubuh. “Baik, Tuan.”
Tak lama setelah ambulans itu pergi, disusul beberapa mobil yang membawa orang-orang pengamanan atas perintah Malvin, sebuah mobil hitam berhenti perlahan.
Mesinnya dimatikan, pintunya terbuka, Dan seorang pria turun dari dalamnya. Dengan Jas rapi, tatapan tajam seperti pisau. Pak Rendra—Dia bukan tipe pengacara yang banyak tersenyum. Dia tipe pengacara yang membuat orang takut sebelum sidang dimulai.
Malvin menyambutnya. “Pak Rendra.”
Rendra menatap Lastri.
“Bu Lastri?”
Lastri mengangguk.
Rendra langsung bicara lugas.
“Saya sudah baca surat panggilan DPRD itu. Ini bukan untuk Anda klarifikasi, ini jebakan.”
Lastri mengangguk pelan. “Saya tahu.”
Rendra menatapnya makin serius.
“Kalau begitu, mulai sekarang... Ibu jangan bicara ke siapa pun tanpa saya. Jangan tanda tangan apa pun, jangan meladeni panggilan apa pun tanpa saya.”
Lastri menjawab tenang. “Baik.”
Malvin menatap Rendra. “Pak Hadi ingin menjadikan Lastri tumbal dalam perkara ini.”
Rendra mengangguk. “Tenang saja, saya pastikan dia akan kalah. Tapi kita harus bermain cerdik. Karena dia orang politik, mereka biasanya sangat licin untuk ditangkap.”
Lastri menghela nafas panjang, dia harus bersiap.
Tak butuh waktu lama, berita itu menyebar. Tanpa sumber yang jelas, tapi cukup untuk memojokkan Lastri. Nama Lastri muncul di grup WhatsApp desa, bahkan sampai Facebook.
“LASTRI DIDUGA TERLIBAT PENYALAHGUNAAN DANA PROYEK!”
Foto Lastri dipajang, narasinya kejam. Seolah Lastri perempuan licik yang selama ini pura-pura jadi korban.
Lastri membaca semua itu tanpa gemetar. Ia hanya menutup ponsel, lalu menatap Malvin. “Mereka pikir aku bakal takut.”
Malvin menggeleng pelan, lalu tersenyum. Senyuman yang justru terasa menenangkan di tengah situasi setegang itu.
“Tentu saja, aku tahu kamu bukan tipe yang gampang takut. Karena itu lah… aku jatuh cinta padamu.”
Lastri hanya membalas dengan senyum kecil. Di tengah keadaan yang serba genting seperti ini, pria itu masih sempat-sempatnya melontarkan gombalan. Tapi justru... membuat dada Lastri terasa hangat sesaat.
Rendra, pengacara berpengalaman yang selalu dingin dalam menangani kasus langsung bergerak cepat. Sore itu juga, ia membuat surat balasan resmi.
Isinya, Lastri menolak hadir tanpa pendamping hukum. Lastri akan melaporkan intimidasi dan fitnah. Dan juga, Lastri mengajukan permintaan perlindungan saksi karena ada dugaan ancaman nyawa.
Tidak hanya itu, Rendra juga mengirimkan surat ke Inspektorat, Kepolisian, Kejaksaan, Komnas Perempuan dan juga ke LPSK (permohonan perlindungan saksi).
Malvin membaca semua itu, lalu menatap Rendra. “Semoga berjalan lancar.“
“Tuan Malvin tenang saja, saya dibayar untuk membuat lawan tidak bisa tidur.”
Malvin menatap Rendra beberapa detik, lalu mengangguk pelan. “Bagus.”
Lastri menghela napas. Dadanya masih sesak, tapi kepalanya mulai dingin.
Malvin membawa Lastri ke rumah sewanya, untuk pengamanan. Dua orang anak buah Malvin berjaga di luar.
Belum sampai tengah malam, ponsel Lastri bergetar—nomor tak dikenal.
Lastri menatap Malvin.
Malvin mengangguk pelan. “Angkat, tapi speaker.”
Lastri mengangkat panggilan itu. “Halo?”
Suara laki-laki terdengar formal, tapi dingin. “Bu Lastri, besok pagi jam sembilan... Ibu wajib hadir di kantor DPRD untuk klarifikasi. Kalau tidak hadir, kami akan keluarkan surat panggilan kedua dan membawa kasus ini ke ranah hukum.”
Lastri menahan napas.
Rendra langsung mendekat, mengambil alih.
“Selamat malam, saya Rendra Prihandono, M.H. Saya kuasa hukum Bu Lastri, mohon kirim surat resmi melalui jalur hukum. Dan saya tegaskan sekali lagi, klien saya tidak akan hadir tanpa perlindungan saksi dan prosedur yang jelas.”
Di seberang terdengar jeda. Lalu suara itu berubah, lebih tajam. “Pak Rendra… kami juga ingin mengingatkan, disini wilayah kami.”
Rendra tersenyum tipis, tapi suaranya tetap dingin. “Betul, ini wilayah kalian. Makanya, kalian berani bermain kotor. Tapi sayangnya, kalian salah pilih lawan.”
Telepon ditutup sepihak dari seberang.
Lastri menatap Rendra. “Apa itu berarti… mereka panik?”
Rendra mengangguk. “Kalau mereka tenang, mereka akan menunggu. Orang yang terburu-buru biasanya orang yang takut.”
Ia menaruh beberapa berkas di atas meja. “Masalahnya sekarang begini, Bu. Kita belum punya bukti tertulis hubungan Pak Hadi dengan Sinta, yang kita punya hanya pengakuan korban. Pengakuan seperti itu, bisa saja dibantah kapan pun oleh pihak lawan.”
Lastri berdiri, ia berjalan pelan lalu berhenti di depan Malvin. “Bang.”
Malvin menatapnya.
“Kita nggak bisa cuma bertahan dan menunggu laporan diproses, bukti yang kita punya juga belum cukup.”
Malvin mengangkat alis.
“Kamu punya rencana?”
Lastri mengangguk. “Aku akan membuat Pak Hadi mengaku.”
Malvin menatap Lastri beberapa detik, lalu bicara dengan serius. “Kalau kita menyentuh Hadi, kita menyentuh sarangnya.”
Lastri menjawab tegas. “Memang itu tujuannya, kita cari bukti yang dia nggak bisa dia bantah.”
Rendra mengangguk. “Kita butuh dia bicara.”
Lastri menyahut cepat. “Kita pancing, dengan menjebaknya.”
Malvin menatap Lastri. “Jebakan?”
Lastri mengangguk. “Pak Hadi itu orang politik. Dia nggak takut hukum… tapi dia takut opini publik.”
Malvin tersenyum tipis. “Kamu cepat belajar.”
Lastri menatap keduanya bergantian.
“Kita pancing dia datang, kita buat dia percaya Sinta masih ada disini. Dan kita buat dia percaya... kalau Sinta siap bicara tentang identitas anaknya.”
Rendra menyipitkan mata. “Idemu berbahaya, tapi memang bagus.”
Lastri melanjutkan dengan wajah tegas. “Sinta sudah berada di tempat aman, ini hanya pancingan. Dan saat Pak Hadi datang… kita siarkan langsung.”
Malvin menatap Lastri lama, ada kebanggaan yang tidak ia sembunyikan. “Kamu yakin?”
Lastri menjawab tanpa ragu. “Aku yakin.”