NovelToon NovelToon
Santet Kelamin

Santet Kelamin

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Duniahiburan / Selingkuh / Dendam Kesumat / PSK / Playboy
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

Setiap kali Bimo berhasrat dan mencoba melakukan hubungan seks dengan wanita malam,maka belatung dan ulat grayak akan berusaha keluar dari lubang pori-pori kelaminya,dan akan merasa terbakar serta melepuh ...

Apa yang Bimo lakukan bisa sampai seperti itu?

Baca ceritanya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kecurigaan yang tumbuh

Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui jendela besar di ruang cuci rumah Bu Sofia terasa begitu menyengat, namun Ratih merasa kedinginan. Kepalanya berdenyut-denyut, dan berkali-kali ia harus berpegangan pada pinggiran bak cuci agar tidak jatuh tersungkur. Wajahnya yang dulu segar kini tampak seperti tengkorak yang dibalut kulit kusam; cekung, gelap, dan tanpa gairah.

Di sudut ruangan, Mbak Lastri memperhatikan teman sejawatnya itu dengan hati yang teriris. Ia melihat tangan Ratih yang gemetar hebat saat mencoba memeras sprei tebal. Tidak ada lagi binar di mata Ratih, yang ada hanyalah tatapan kosong seorang budak yang sedang menunggu ajalnya.

"Ratih, sudah... berhenti dulu," Mbak Lastri menghampiri, merebut paksa sprei basah itu. "Kamu lihat tanganmu? Sudah gemetar begitu. Kamu itu manusia, Ratih, bukan mesin cuci!"

Ratih hanya tersenyum lemah, senyum yang lebih mirip ringisan kesakitan. "Nggak apa-apa, Mbak. Sedikit lagi selesai. Aku harus kejar setoran minggu ini. Mas Bimo bilang..."

"Mas Bimo lagi! Mas Bimo lagi!" potong Lastri dengan nada jengkel yang tak lagi bisa disembunyikan. "Aku ini benar-benar penasaran, seperti apa sih rupa tunanganmu itu? Gantengnya kayak artis ibu kota sampai kamu mau mati-matian begini? Mana ada laki-laki baik yang membiarkan calon istrinya kerja rodi dari subuh sampai subuh lagi?"

Tepat saat itu, Bu Sofia lewat di koridor belakang. Ia berhenti sejenak, menatap pemandangan memilukan di depan matanya. Bu Sofia bukan tipe majikan yang dingin; ia adalah seorang wanita yang merintis usahanya dari bawah, dan ia tahu betul bau keringat orang yang sedang tertindas.

"Ratih, masuk ke ruang makan sekarang. Saya mau bicara," suara Bu Sofia terdengar tegas namun lembut.

Di ruang makan yang sejuk, Ratih duduk di ujung kursi dengan perasaan tidak enak. Mbak Lastri berdiri di sampingnya, memberikan dukungan moral. Di depan mereka, Bu Sofia menatap Ratih dalam-dalam.

"Ratih, saya sudah perhatikan kamu sebulan ini. Kamu makin kurus, baju kamu bau asap gorengan setiap pagi, dan kerja kamu mulai sering meleset karena kamu kelelahan. Jujur sama saya, apa yang sebenarnya terjadi?"

Ratih menunduk, air matanya tiba-tiba tumpah. Semua beban yang ia tanggung sendirian selama berbulan-bulan seolah meledak. Dengan suara terbata-bata, Ratih akhirnya bercerita. Ia menceritakan tentang tabungan pernikahan yang dikelola Bimo, tentang janji rumah impian, tentang target lima puluh juta yang harus segera dicapai, dan tentang instruksi Bimo agar ia kembali bekerja di warung pecel lele Cak Man sampai dini hari.

"Jadi... semua uang gajimu dari saya, ditambah bonus, ditambah uang dari warung lele itu, semuanya kamu serahkan ke dia?" tanya Bu Sofia dengan dahi berkerut.

"Iya, Bu. Mas Bimo bilang dia yang simpan di bank supaya aman. Katanya, dia juga lembur di kantor setiap malam buat tambah-tambah," jawab Ratih polos.

Mbak Lastri mendengus keras, "Lembur apanya! Laki-laki macam apa yang tega lihat perempuannya jadi mayat hidup demi gengsi pernikahan? Ratih, kamu itu disedot habis-habisan!"

Bu Sofia terdiam cukup lama, lalu ia bangkit dan mengambil dompetnya. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang merah yang jumlahnya cukup banyak—lebih banyak dari gaji bulanan Ratih.

"Ratih, dengar saya. Ini bonus untukmu, cuma-cuma. Tapi syaratnya satu: kamu harus berhenti kerja di warung pecel lele itu hari ini juga. Saya tidak mau melihat kamu jatuh pingsan di rumah saya. Tubuhmu itu titipan Tuhan, jangan kamu rusak demi laki-laki yang belum tentu bisa memuliakanmu."

Ratih gemetar menerima uang itu. "Tapi Bu... Mas Bimo pasti marah kalau aku berhenti kerja di sana. Tabungan kami..."

"Kalau dia marah karena kamu ingin sehat, berarti dia bukan laki-laki yang layak kamu perjuangkan," potong Bu Sofia tajam. "Sekarang kamu pulang, istirahat. Dan Lastri, besok pagi kalau tunangannya si Ratih itu datang menjemput atau apa, kamu panggil saya. Saya ingin lihat orangnya."

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, Ratih tidak berangkat ke warung Cak Man. Ia tidur di kontrakannya, mencoba memulihkan tenaganya. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Pukul sembilan malam, pintu kontrakannya digedor dengan kasar.

BRAK! BRAK! BRAK!

"Ratih! Buka!" suara Bimo menggelegar di luar.

Ratih dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya membuka pintu. Di sana berdiri Bimo dengan wajah merah padam. Ia baru saja lewat dari depan warung Cak Man dan melihat warung itu ramai, tapi Ratih tidak ada di sana.

"Kenapa kamu di rumah?! Kenapa nggak kerja di Cak Man? Kamu tahu kan malam ini malam Sabtu, lagi rame-ramenya!" bentak Bimo tanpa menyapa.

Ratih mundur ketakutan. "Mas... tadi Bu Sofia kasih aku bonus. Dia minta aku berhenti kerja di Cak Man karena aku sakit-sakitan. Bu Sofia kasihan lihat aku, Mas..."

"Kasihan? Kasihan nggak bisa beli rumah, Ratih! Kasihan nggak bisa bayar katering!" Bimo merangsek masuk, matanya liar mencari uang bonus yang disebutkan Ratih. "Mana uangnya? Mana bonus dari majikanmu itu?"

Ratih menyerahkan amplop dari Bu Sofia dengan tangan gemetar. Bimo menyambarnya, menghitung uang di dalamnya, dan seketika wajahnya sedikit melunak, namun tetap dingin.

"Cuma segini? Ini mah cuma nutup setoranmu seminggu di Cak Man. Besok-besok jangan malas lagi. Kalau majikanmu tanya, bilang saja kamu butuh uang lebih. Paham?"

Ratih hanya diam, menatap pria yang ia cintai itu. Untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu. Bimo sama sekali tidak bertanya, "Ratih, bagian mana yang sakit?" atau "Ratih, kamu sudah makan?". Yang ditanya hanyalah uang, uang, dan uang.

Keesokan harinya, sesuai janji, Mbak Lastri sengaja menunggu di depan gerbang kompleks saat jam pulang Ratih. Benar saja, Bimo datang dengan motornya. Ia tampak necis, rambutnya klimis dengan aroma minyak rambut yang tajam.

Mbak Lastri berdiri di balik tembok pos satpam, mengamati dari jauh. Matanya menyipit penuh selidik.

"Itu orangnya?" gumam Lastri saat melihat Ratih menghampiri pria bermotor itu.

Dari kejauhan, Lastri melihat cara Bimo menyambut Ratih. Tidak ada pelukan hangat, tidak ada sapaan lembut. Bimo justru terlihat memeriksa tas belanjaan yang dibawa Ratih, seolah sedang memeriksa apakah ada barang mewah yang disembunyikan. Saat Ratih tampak berbicara dengan nada memohon, Bimo justru membalas dengan gerakan tangan yang kasar, seolah sedang menghardik.

"Cih, gayanya selangit, tapi makan keringat perempuan," desis Lastri. Ia merasa ada yang sangat salah. Bimo terlihat terlalu bersih, terlalu "terawat" untuk ukuran orang yang katanya sedang bekerja keras lembur setiap malam.

Saat motor Bimo berlalu, Lastri segera menghampiri Ratih yang masih berdiri di pinggir jalan dengan wajah lesu.

"Ratih! Sini!" panggil Lastri.

Ratih menoleh. "Eh, Mbak Lastri."

"Itu tunanganmu? Si Bimo?" tanya Lastri tanpa basa-basi.

Ratih mengangguk pelan. "Iya, Mbak. Ganteng ya?"

Lastri mendengus geli, namun lebih ke arah sarkas. "Ganteng sih ganteng, Ratih. Tapi kamu lihat nggak sepatunya? Itu sepatu merk mahal, harganya bisa buat makan kita sebulan. Terus jam tangannya? Mengkilap begitu. Katanya dia lagi hemat buat nikah? Kok penampilannya kayak bos besar begitu?"

Ratih terdiam. Ia tidak pernah memperhatikan detail itu. Baginya, Bimo yang rapi adalah kebanggaannya.

"Ratih, dengar aku," Lastri memegang bahu Ratih dengan serius. "Besok, atau kapan pun dia mampir ke kontrakankmu dan ketiduran, kamu harus berani. Ambil dompetnya. Ambil kartu ATM-nya. Bawa ke mesin yang aku ajari kemarin. Kamu harus lihat dengan mata kepalamu sendiri berapa isi tabungan 'masa depan' kalian itu. Hatiku nggak enak, Ratih. Benar-benar nggak enak."

Ratih menggeleng cepat. "Nggak mungkin, Mbak. Mas Bimo jujur orangnya. Dia bilang sudah hampir lima belas puluh juta."

"Kalau memang benar ada lima belas juta, ya bagus! Kamu jadi tenang, kan? Tapi kalau nggak ada? Kamu mau terus-terusan jadi mayat hidup begini?" Lastri menatap Ratih dengan tajam. "Jangan jadi bodoh karena cinta, Ratih. Bodoh itu pilihan, dan kamu sedang memilih untuk hancur."

Kata-kata Lastri malam itu seperti duri yang tersangkut di tenggorokan Ratih. Ia tidak ingin percaya, tapi ia tidak bisa melupakan tatapan mata Bu Sofia dan Mbak Lastri yang penuh iba. Malam itu, di tengah kesunyian kontrakannya, Ratih duduk menatap kartu ATM emas miliknya yang masih kosong.

Ia mulai berpikir. Benarkah Mas Bimo setulus itu? Benarkah uang itu ada?

1
Bp. Juenk
Bagus kisah nya. cinta ya g tulis dari seorang gadis desa berubah menjadi pembunuh. karena dikhianati.
Halwah 4g
iya ka..ada lanjutannya kok
Rembulan menangis
gantung
Bp. Juenk
ooh masih dalam bentuk ghaib toh. belum sampe ke media
Bp. Juenk
pantesan. Ratih nya terlalu lugu
Halwah 4g: hehehehe..maklum dari kampung ka 🤭
total 1 replies
Bp. Juenk
sadis ya si ratih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!