Shen Yi, tabib desa yang bajunya penuh tambalan, berlutut di sampingnya.
Tanpa ragu, ia pegang pergelangan tangan itu
dan racun dingin yang seharusnya membunuh siapa pun... tak menyentuhnya sama sekali.
Wanita itu membuka mata indahnya, suaranya dingin bagai embun pagi
"Beraninya kau menyentuh Dewi Teratai?"
Shen Yi garuk kepala, polos seperti biasa.
"Maaf, Nona Lian'er. Kalau nggak dicek nadi, bisa mati kedinginan.
Ini ramuan penghangat dulu, ya? Gratis kok."
Dia tak tahu...
sentuhannya adalah satu-satunya harapan Lian'er untuk mencairkan kutukan abadi yang menggerogoti tubuhnya.
Dan juga satu-satunya yang bisa menghancurkannya selamanya.
Dari gubuk reyot di lereng gunung terpencil, hingga dunia jianghu penuh darah dan rahasia,
seorang tabib miskin dan dewi teratai terikat oleh takdir yang tak terucap.
Apa yang terjadi ketika manusia biasa jatuh cinta pada dewi yang terlarang disentuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan yang Tak Pernah Pergi
Kapal Kapten Liu sudah jauh meninggalkan kabut abadi ketika Shen Yi akhirnya bangkit dari dek. Tubuhnya terasa lebih ringan, tapi pikirannya masih penuh dengan cahaya emas dari Air Teratai Abadi yang baru saja mereka ambil. Di sampingnya, Lian'er duduk memeluk lutut, matanya memandang laut yang mulai tenang. Kulitnya tak lagi memancarkan dingin; napasnya hangat saat menyentuh udara pagi.
“Shen Yi,” panggil Lian'er pelan, “kau yakin kita bisa pulang begitu saja? Pulau itu seolah memberi kita sesuatu yang lebih dari sekadar obat.”
Shen Yi duduk kembali di sampingnya, tangannya menyentuh punggung tangan Lian'er secara tak sadar. “Mungkin. Tapi yang penting sekarang, kau sudah bebas. Kutukan itu hilang. Sisanya… kita hadapi bareng.”
Xiao Feng, yang sedang mengunyah ikan kering terakhir dari bekal kapten, ikut nimbrung sambil menyeringai. “Bebas dari kutukan, tapi belum bebas dari masalah. Lihat itu.”
Dia menunjuk ke arah belakang kapal. Di kejauhan, di batas kabut yang masih samar, terlihat siluet perahu hitam kecil, bukan nelayan biasa. Jubah gelap berkibar, dan cahaya es hitam samar-samar terpantul di air.
Shi Jun berdiri di haluan, matanya menyipit. “Sekte Es Hitam! Mereka tak mau menyerah. Xue Han pasti sudah tahu kita berhasil ambil Air Teratai Abadi.”
Kapten Liu, dari belakang kemudi, menggeleng pelan. “Mereka tak berani masuk kabut, tapi di laut terbuka ini, mereka bisa aja kejar. Kalau mereka dekat, kapal kecil ini nggak tahan serangan es hitam.”
Shen Yi bangkit. “Kita harus percepat. Kapten, bisakah ke pantai terdekat yang aman?”
Kapten Liu mengangguk. “Ada teluk kecil di utara, tersembunyi di antara tebing. Dari sana kalian bisa jalan kaki ke daratan utama tanpa ketahuan. Tapi cepat, angin lagi berubah suasananya.”
Lian'er memegang lengan Shen Yi. “Aku bisa bantu. Sekarang kutukanku hilang, aku bisa pakai teratai tanpa takut membeku sendiri.”
Shen Yi menggeleng. “Jangan paksa diri dulu. Tubuhmu baru saja beradaptasi. Biar aku dan yang lain yang tangani!”
Xiao Feng menarik pedangnya. “Kalau mereka naik kapal, aku yang sambut duluan. Shi Jun, kau cover dari belakang?”
Shi Jun mengangguk, pedang teratai birunya sudah menyala samar. “Aku tak akan biarkan mereka sentuh kalian lagi.”
Kapal berbelok tajam menuju teluk yang disebutkan Kapten Liu. Angin semakin kencang, ombak mulai naik. Perahu hitam di belakang semakin dekat. tiga perahu kecil, masing-masing membawa lima pemburu berjubah hitam.
Tiba-tiba, es hitam melesat dari perahu terdepan seperti tombak panjang yang mengarah langsung ke layar kapal mereka.
Lian'er bereaksi cepat. Meski masih lemah, dia mengangkat tangan. Kelopak teratai putih muncul di udara, berputar membentuk perisai kecil yang menangkis tombak es itu. Es retak dan jatuh ke laut, tapi Lian'er terhuyung, wajahnya pucat.
Shen Yi langsung memeluk pinggangnya dari belakang. “Nona Lian'er! Jangan paksa!”
Hangat dari tubuh Shen Yi mengalir lagi, membantu Lian'er stabil. Dia tersenyum lemah.
“Aku baik-baik saja. Sekarang kutukanku hilang, aku hanya capek karena energi teratai masih menyesuaikan diri.”
Xiao Feng melompat ke buritan. “Mereka makin dekat! Kapten, percepat!”
Kapten Liu menarik tali layar penuh. Kapal meluncur lebih cepat, tapi salah satu perahu hitam sudah hampir sejajar. Pemburu di depan melompat. tubuhnya ditopang es hitam seperti papan, menuju dek kapal mereka.
Shi Jun menyambutnya. Pedang teratai birunya menebas cepat, memotong es di bawah kaki pemburu itu. Pemburu jatuh ke laut, tapi dua lagi ikut melompat naik.
Xiao Feng bergerak seperti angin, pedangnya menari menangkis serangan pertama. “Dua lawan satu? Kalian underestimate aku!”
Shen Yi tetap memegang Lian'er, tapi matanya tak lepas dari pertarungan. “Nona, istirahat dulu. Biar mereka tangani.”
Lian'er menggeleng. “Tidak. Aku tak mau hanya diam.”
Dia melepaskan diri pelan, lalu mengangkat tangan lagi. Kali ini, kelopak teratai muncul lebih banyak—bukan perisai, tapi seperti panah putih yang melesat ke perahu hitam di belakang. Satu perahu terbelah, tenggelam dalam sekejap. Yang lain mundur sedikit, tapi tetap mengejar.
Shi Jun menebas pemburu terakhir yang naik kapal. Tubuh pemburu itu jatuh ke dek, tapi sebelum mati, dia berbisik dingin.
“Xue Han, tahu segalanya. Darah teratai ganda akan jadi miliknya.”
Shen Yi mengerutkan kening. “Apa maksudnya?”
Pemburu itu tersenyum tipis sebelum napasnya habis. “Dia sudah menyiapkan ritual. Di Danau Teratai Kuno, di daratan utama. Kalian takkan bisa lari selamanya.”
Kapal akhirnya masuk ke teluk kecil yang tersembunyi. Tebing tinggi menutupi pandangan dari laut terbuka. Kapten Liu menurunkan jangkar.
“Ini tempat aman sementara. Dari sini kalian bisa naik ke daratan lewat jalur gunung kecil. Hati-hati, Sekte Es Hitam pasti sudah punya mata-mata di kota terdekat.”
Shen Yi membungkuk hormat. “Terima kasih lagi, Kapten. Kalau suatu hari lewat lagi, kami traktir makan besar.”
Kapten Liu tertawa. “Janji ya. Sekarang pergi sebelum mereka temukan teluk ini.”
Mereka turun dari kapal, melompat ke pantai berbatu kecil. Kapten Liu melambai dari dek, lalu kapalnya bergerak pelan meninggalkan teluk.
Rombongan berempat berjalan menyusuri jalur sempit di antara tebing. Udara semakin dingin saat mereka naik ke daratan tinggi.
Xiao Feng memecah keheningan. “Ritual di Danau Teratai Kuno? Itu tempat legendaris. Katanya danau itu sumber energi teratai pertama di dunia fana. Kalau Xue Han berhasil lakukan ritual di sana pakai darah kalian berdua”
Shi Jun mengangguk gelap. “Dia bisa jadi abadi sepenuhnya. Dan mungkin bisa hancurkan keseimbangan teratai di dunia ini.”
Lian'er memandang Shen Yi. “Kita tak bisa biarkan itu terjadi.”
Shen Yi mengangguk tegas. “Kita nggak perlu lari lagi. Kalau dia mau ritual itu, kita hadapi di sana. Tapi kali ini, kita harus siapkan diri lebih baik.”
Shi Jun berhenti sejenak. “Aku… harus kembali ke sekte dulu. Ayahku pasti sudah tahu tentang Air Teratai Abadi. Kalau dia tahu Xue Han mau ritual, dia mungkin kirim pasukan. Tapi aku tak yakin dia akan bantu tanpa syarat.”
Shen Yi memegang bahu saudaranya. “Pergi. Bilang ke Elder Mei Ling apa yang terjadi. Kami akan tunggu kabar di desa terdekat. Jangan lama.”
Shi Jun mengangguk. “Aku akan kembali secepat mungkin. Jaga Lian'er.”
Dia berbalik, berlari ke arah barat menuju jalur cepat ke Sekte Langit Teratai.
Xiao Feng menghela napas. “Sekarang tinggal kita bertiga. Mau ke mana dulu? Desa terdekat ada di kaki gunung ini—ada penginapan kecil dan pasar obat. Mungkin bisa istirahat dan kumpul info.”
Lian'er mengangguk. “Aku juga setuju. Tubuhku masih perlu adaptasi penuh. Dan aku ingin belajar lebih banyak tentang dunia ini. Sebagai manusia biasa tentunya.”
Shen Yi tersenyum.
“Oke. Kita ke desa itu dulu. Istirahat, makan enak, dan bikin rencana langkah selanjutnya.”
Mereka melanjutkan perjalanan. Di belakang, laut mulai bergelombang lagi tanda badai kecil atau mungkin sisa energi es hitam.
Di kejauhan, di atas tebing yang mereka tinggalkan, seorang pemburu berjubah hitam memandang mereka pergi. Matanya dingin.
“Lapor ke Xue Han. Mereka menuju daratan. Ritual bisa dilanjutkan. Darah teratai ganda… akan segera jadi milik kita.”
Angin membawa bisikannya hilang ke laut.
Di depan, Shen Yi, Lian'er, dan Xiao Feng berjalan berdampingan. Mereka tahu perjalanan belum selesai. Malah, baru saja memasuki babak yang lebih berbahaya.
Tapi di antara mereka, ada kehangatan yang tak lagi bisa dipadamkan es mana pun.