"Datang sebagai tamu tak diundang, pulang membawa calon suami yang harganya miliaran."
Bagi seorang wanita, tidak ada yang lebih menghancurkan harga diri selain datang ke pernikahan mantan yang sudah menghamili wanita lain. Niat hati hanya ingin menunjukkan bahwa dia baik-baik saja, ia justru terjebak dalam situasi memalukan di depan pelaminan.
Namun, saat dunia seolah menertawakannya, seorang pria dengan aura kekuasaan yang menyesakkan napas tiba-tiba merangkul pinggangnya. Pria itu—seorang miliarder yang seharusnya berada di jet pribadi menuju London—malah berdiri di sana, di sebuah gedung kondangan sederhana, menatap tajam sang mantan.
"Kenalkan, saya tunangannya. Dan terima kasih sudah melepaskannya, karena saya tidak suka berbagi permata dengan sampah."
Satu kalimat itu mengubah hidupnya dalam semalam. Pria asing itu tidak hanya menyelamatkan wajahnya, tapi juga menyodorkan sebuah kontrak gila: Menjadi istri sandiwara untuk membalas dendam pada keluarga sang miliarder.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Kamar Utama dan Rahasia di Balik Phoenix
Malam ini, apartemen Arkan terasa lebih sunyi dari biasanya, tapi udara di dalamnya seolah bermuatan listrik. Alana berdiri di ambang pintu kamar utama dengan perasaan campur aduk. Ruangan ini sangat luas, didominasi warna gelap dan aroma kayu cendana yang maskulin. Kasurnya? Mungkin bisa menampung lima orang sekaligus tanpa harus bersenggolan.
"Mas, serius ya, saya nggak mau ada adegan 'ehem-ehem' di sini. Kontrak kita kan cuma buat sandiwara di depan kakek Mas," ujar Alana, berusaha menutupi kegugupannya sambil memeluk bantal guling yang ia ambil dari kamar tamu.
Arkan, yang sedang melepas jam tangannya di depan meja rias, melirik dari pantulan cermin. "Lana, saya punya banyak pekerjaan daripada sekadar memaksa wanita yang mulutnya lebih tajam dari pisau dapur. Kamu aman di sisi kasur sebelah sana. Saya tidak akan menyentuhmu, kecuali kamu yang minta."
Alana mendengus keras. "Dih, pede banget! Mending saya meluk kucing oren daripada meluk kulkas berjalan kayak Mas!"
Arkan hanya menanggapi dengan senyum tipis yang menyebalkan. Ia kemudian masuk ke kamar mandi, meninggalkan Alana sendirian.
Inilah kesempatannya.
Alana meraba belahan gaunnya dan mengambil kunci kecil berbentuk burung Phoenix itu. Jantungnya berdebar kencang. Ia mulai mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kamar. Di mana pintu yang dimaksud? Lemari pakaian? Bukan. Di balik lukisan? Klise banget.
Matanya tertuju pada sebuah panel kayu di samping rak buku besar. Ada lubang kecil yang tersembunyi di balik ukiran minimalis. Alana mendekat, tangannya gemetar. Ia memasukkan kunci itu.
Klik.
Panel itu bergeser tanpa suara, mengungkap sebuah ruangan kecil yang berisi deretan layar monitor pengawas dan satu brankas besi tua. Alana masuk dengan langkah berjinjit. Di salah satu layar, ia melihat rekaman CCTV rumah besar keluarga Arkan. Tapi yang menarik perhatiannya adalah sebuah buku catatan usang yang tergeletak di atas meja monitor.
Ia membukanya. Isinya bukan soal saham atau bisnis, melainkan foto-foto seorang wanita cantik yang wajahnya sangat mirip dengan Alana. Di bawah foto itu tertulis: "Project Phoenix: Menemukan Kembali yang Hilang."
"Apa-apaan ini?" bisik Alana. "Wanita ini... siapa?"
"Dia ibuku."
Alana tersentak sampai hampir menjatuhkan buku itu. Arkan sudah berdiri di pintu rahasia, hanya memakai celana kain hitam dan kaus dalam putih yang memperlihatkan otot lengannya yang kokoh. Rambutnya masih basah, menambah kesan intim yang membuat Alana salah tingkah.
"Mas... saya bisa jelasin," gagap Alana.
Arkan melangkah masuk, suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya. "Pesan misterius itu benar, kan? Kamu dikasih kunci ini untuk memata-matai saya."
Alana menunduk, merasa seperti pencuri yang tertangkap basah. "Iya. Saya cuma mau tahu siapa Mas sebenarnya. Kenapa namaku ada di daftar 'Biaya Kerugian'?"
Arkan mengambil buku itu dari tangan Alana. "Ibuku meninggal dalam kecelakaan yang diatur oleh keluarga itu sendiri. Mereka menyebutnya 'kerugian yang diperlukan' untuk mengamankan kekayaan. Project Phoenix adalah cara saya untuk memastikan sejarah itu tidak berulang pada wanita yang saya bawa masuk ke dunia ini."
Alana menatap Arkan, mencari setitik kebohongan. "Jadi... daftar 'Biaya Kerugian' itu..."
"Itu adalah anggaran yang saya siapkan untuk menyuap orang-orang dalam agar mereka melindungimu, Lana. Bukan untuk membunuhmu. Saya harus menulisnya dengan istilah kotor agar direksi tidak curiga," Arkan menutup buku itu. "Wanita di foto itu meninggal karena dia terlalu lemah untuk melawan mereka. Tapi kamu... kamu punya mulut yang bisa membakar satu ruangan. Itu kenapa saya memilihmu."
Alana terdiam. Rasa bersalah mulai menyelinap di hatinya. Ternyata selama ini Arkan justru sedang membangun benteng untuknya.
"Maaf, Mas. Saya udah suuzon," gumam Alana tulus.
Arkan mendekat, tangannya terangkat untuk menyentuh pipi Alana, tapi ia berhenti di tengah jalan. "Jangan minta maaf. Di dunia ini, kecurigaan adalah cara terbaik untuk bertahan hidup. Sekarang, keluar dari sini. Kita harus tidur. Besok adalah hari pertama kamu sebagai 'Nyonya Arkananta' di depan publik."
Mereka kembali ke kamar utama. Alana berbaring di sisi paling pinggir, membelakangi Arkan. Meskipun kasur itu sangat empuk, matanya sulit terpejam.
"Mas Arkan?" panggil Alana pelan.
"Hmm?"
"Makasih ya. Udah jujur."
"Tidurlah, Lana. Dan berhenti memeluk bantal itu kuat-kuat, saya tidak akan menerkammu."
Alana merengut, tapi diam-diam ia tersenyum. Namun, tepat saat ia mulai terlelap, suara notifikasi ponsel Arkan yang tertinggal di nakas berbunyi nyaring. Alana refleks melirik karena posisinya paling dekat dengan nakas.
Ada foto yang masuk dari nomor tak dikenal.
Alana membeku. Foto itu memperlihatkan rumah kontrakan Alana yang sederhana... terbakar hebat. Dan di depan rumah itu, ada seseorang yang berdiri memegang jerigen bensin.
Orang itu... Bayu.
Tapi ada satu hal yang lebih mengerikan. Di samping Bayu, berdiri Dion, sepupu Arkan, yang sedang merangkul pundak Bayu seolah mereka adalah teman lama.
Di bawah foto itu ada pesan: "Ini baru permulaan, Alana. Kamu pikir Arkan pelindungmu? Tanya dia, siapa yang membayar Bayu untuk mendekatimu sejak awal."
Alana merasa dunia di sekitarnya mendadak runtuh. Ia menoleh ke arah Arkan yang sudah memejamkan mata. Napas Alana memburu. Apakah semua orang di hidupnya hanyalah aktor dalam sandiwara besar ini?
Alana merogoh ponselnya sendiri dan mengetik sesuatu. Bukan kepada Arkan, bukan kepada pengirim pesan misterius, tapi kepada seseorang dari masa lalunya yang paling ia benci. "Bayu, aku tahu kamu di mana. Jangan berani-berani sentuh kucingku, atau aku akan hancurkan kamu dan tuan barumu malam ini juga."
Apakah Alana akan nekat keluar apartemen sendirian untuk menghadapi Bayu dan Dion? Atau ia akan membangunkan singa di sampingnya untuk meminta bantuan sekali lagi?