"Di dunia yang dibangun di atas emas dan darah, cinta adalah kelemahan yang mematikan."
Kenzo Matsuda adalah kesempurnaan yang dingin—seorang diktator korporat yang tidak mengenal ampun. Namun, satu malam penuh kegilaan di bawah pengaruh alkohol dan bayang-bayang masa lalu mengubah segalanya. Ia melakukan dosa tak termaafkan kepada Hana Sato, putri dari wanita yang pernah menghancurkan hatinya.
Hana, yang selama ini hidup dalam kehampaan emosi keluarga Aishi, kini membawa pewaris takhta Matsuda di rahimnya. Ia terjebak dalam sangkar emas milik pria yang paling ia benci. Namun, saat dinasti lama mencoba meruntuhkan mereka, Hana menyadari bahwa ia bukan sekadar tawanan. Ia adalah pemangsa yang sedang menunggu waktu untuk merebut mahkota.
Antara dendam yang membara dan hasrat yang terlarang, mampukah mereka bersatu demi bayi yang akan mengguncang dunia? Ataukah mahkota duri ini akan menghancurkan mereka sebelum fajar dinasti baru menyingsing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: MAHKOTA DURI
Kyoto, 27 Januari 2026. Setahun penuh telah berlalu sejak malam yang menghancurkan segalanya. Di sebuah vila tradisional milik keluarga Saikou yang dikelilingi oleh hutan bambu yang berbisik, salju tipis mulai turun, menyelimuti bebatuan taman Zen dengan warna putih yang suci.
Kenzo Matsuda berdiri di beranda kayu, menatap butiran salju. Ia mengenakan kimono sutra berwarna biru tua, terlihat lebih tenang daripada sebelumnya. Di tangannya, ia memegang sebuah kotak beludru kecil. Tidak ada lagi ambisi gila di matanya; yang tersisa hanyalah refleksi dari seorang pria yang telah menemukan kedamaian dalam kekalahannya.
Hana Sato keluar dari dalam ruangan, melangkah pelan dengan tabi putihnya. Ia mengenakan kimono bermotif bunga krisan pemberian Kenzo. Kehadirannya tidak lagi membawa aura ketakutan, melainkan keanggunan yang matang.
"Salju ini mengingatkanku pada malam itu," suara Hana memecah kesunyian, lembut namun tetap memiliki kekuatan. "Tapi kali ini, dinginnya tidak terasa menyakitkan."
Kenzo berbalik, senyum tipis yang tulus menghiasi wajahnya. "Karena kali ini, salju tidak jatuh untuk menutupi darah, Hana. Ia jatuh untuk menyucikan masa depan kita."
❤️❤️❤️
Kenzo melangkah mendekati Hana. Ia tidak lagi menyentuh Hana dengan paksaan. Dengan gerakan yang sangat sopan dan lembut, ia meraih tangan Hana dan mengecup jemarinya.
"Hana, selama berbulan-bulan aku bertanya-tanya bagaimana cara menunjukkan bahwa aku bukan lagi pria yang merampas kebahagiaanmu," bisik Kenzo. Ia membuka kotak beludru itu, memperlihatkan sebuah cincin perak dengan berlian hitam yang dikelilingi oleh ukiran duri kecil dari emas putih. "Ini adalah Mahkota Duri. Simbol bahwa cinta kita lahir dari luka, namun tetap berharga. Aku ingin kau memakainya bukan sebagai ikatanku padamu, tapi sebagai janjiku bahwa kau adalah ratu dari setiap napas yang kuambil."
Hana menatap cincin itu, lalu menatap mata Kenzo. Ia melihat kejujuran yang melampaui logika Saikou yang dingin. "Kau tahu, Kenzo... aku pernah sangat membencimu. Aku ingin melihatmu hancur. Tapi melihatmu merawat Renji, melihatmu menyerahkan segalanya untukku... kebencian itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa kujelaskan."
Kenzo menyematkan cincin itu di jari manis Hana. "Jangan jelaskan dengan kata-kata. Biarkan waktu yang membuktikannya. Aku akan mencintaimu dalam sisa hidupku sebagai penebusan atas setiap air mata yang kau jatuhkan."
❤️❤️❤️
Di dalam ruangan tatami yang hangat, Rena Sato telah menunggu. Ia duduk di depan meja rendah dengan teko teh yang mengepul. Di sampingnya, Renji kecil sedang bermain dengan mainan kayu tradisional. Suasana yang dulu penuh dengan niat membunuh kini terasa seperti pertemuan keluarga yang canggung namun damai.
Kenzo dan Hana masuk dan duduk di hadapan Rena. Keheningan sempat menyergap ruangan itu, hanya suara detak jam dinding kuno yang terdengar.
Kenzo adalah yang pertama memecah keheningan. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam di depan Rena—sebuah posisi dogeza yang sangat rendah bagi seorang pria dari kedudukannya.
"Rena Sato," suara Kenzo bergetar oleh emosi. "Aku berdiri di sini bukan sebagai pemimpin Saikou Corp, tapi sebagai pria yang telah menghina martabat keluargamu. Aku meminta maaf atas obsesiku yang buta, atas luka yang kuberikan pada putrimu, dan atas setiap dosa yang kulakukan terhadap namamu. Jika kau masih menginginkan kepalaku, aku tidak akan melawan. Tapi aku mohon... maafkan aku demi masa depan Renji."
❤️❤️❤️
Rena menatap Kenzo dalam diam untuk waktu yang lama. Matanya yang tajam seolah sedang membedah setiap inci kejujuran di hati Kenzo. Ia melirik Hana, yang menggenggam tangan Kenzo dengan protektif. Rena menyadari bahwa kebencian yang terus dipelihara hanya akan meracuni Renji.
Rena menuangkan teh ke dalam cangkir Kenzo. "Angkat kepalamu, Kenzo-kun," ujar Rena tenang. "Aku adalah seorang Aishi. Kami mengenal rasa sakit lebih baik dari siapa pun. Namun, aku juga seorang ibu. Dan aku melihat bagaimana putriku menatapmu sekarang. Dia tidak lagi menatap seorang monster, tapi seorang pria yang sedang berusaha mencari jiwanya kembali."
Rena menyesap tehnya. "Aku juga meminta maaf kepadamu, Kenzo. Maaf karena aku sempat ingin melenyapkan setiap jejakmu dari dunia ini tanpa menyadari bahwa kau adalah bagian dari darah daging cucuku. Permusuhan ini berakhir malam ini. Bukan karena aku melupakan apa yang kau lakukan, tapi karena aku memilih untuk memberi Renji sebuah dunia yang tidak hancur oleh dendam orang tuanya."
Kenzo mengangkat kepalanya, matanya berkaca-kaca. "Terima kasih, Rena. Aku bersumpah, namamu akan selalu dihormati di dalam tembok Saikou selama aku masih bernapas."
❤️❤️❤️
Malam itu, mereka makan malam bersama untuk pertama kalinya sebagai sebuah unit yang utuh. Kenzo bersikap sangat perhatian pada Hana, menyajikan makanan dengan gerakan yang penuh kasih, dan tertawa pelan saat Renji mencoba meraih sumpitnya.
Hana merasakan kehangatan yang asing namun menyenangkan merayap di hatinya. Kelembutan Kenzo yang tulus mulai meruntuhkan sisa-sisa tembok pertahanannya. Di tengah makan malam, Kenzo membisikkan sesuatu di telinga Hana yang membuatnya tersipu.
"Kau cantik sekali malam ini, Hana. Jauh lebih cantik dari semua permata yang pernah kumiliki."
"Kau cantik sekali malam ini, Hana. Jauh lebih cantik dari semua permata yang pernah kumiliki."
Hana tersenyum, senyum yang benar-benar mencapai matanya. "Dan kau... kau mulai belajar bagaimana menjadi manusia, Kenzo."
❤️❤️❤️
Setelah makan malam, Rena membawa Renji untuk tidur, memberikan ruang bagi Kenzo dan Hana di balkon. Mereka berdiri bersisian, menatap bulan purnama yang bersinar terang di atas hutan bambu.
Kenzo memeluk Hana dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu Hana. "Mahkota duri ini mungkin akan selalu ada, Hana. Sejarah kita akan selalu memiliki duri. Tapi selama kita memakainya bersama, duri itu tidak akan bisa melukai kita lagi."
Hana menyandarkan kepalanya pada dada Kenzo, mendengarkan detak jantung pria itu yang tenang. "Kita akan membangun sesuatu yang baru dari sisa-sisa kehancuran ini, Kenzo. Sebuah dinasti yang tidak dibangun atas dasar kontrol, tapi atas dasar... cinta yang kita temukan dalam kegelapan."
Salju terus turun di Kyoto, namun di dalam Vila Saikou, api cinta dan rekonsiliasi membara dengan terang. Warisan yang terluka kini mulai sembuh, dan di bawah cahaya bulan, sebuah babak baru dimulai—babak di mana sang predator akhirnya menemukan rumahnya, dan sang mangsa akhirnya menemukan kekuatannya untuk mencintai kembali.
BERSAMBUNG...