罪から生まれ、 遺産を求める血に追われる。 Tsumi kara umare, isan o motomeru chi ni owareru. (Born from sin. Hunted by blood that demands legacy) Nakamura Noa, gadis miskin yang bekerja serabutan sekaligus merawat ibunya yang sakit parah. Noa dan ibunya yang sedang dalam persembunyian, tidak sadar bahwa klan besar Yamaguchi-gumi telah mengawasi mereka sejak lama. Mereka beranggapan bahwa Noa adalah pewaris roh leluhur Yamaguchi: 'Kuraokami' yang bangkit saat berada diambang batas. Sampai akhirnya Noa dijemput paksa dan dibawa kembali ke dunia kelam para algojo. Ia harus memilih: tunduk pada mereka atau hancurkan warisan yang telah merenggut hidupnya. ⛔️"DILARANG KERAS menyalin atau mengambil ide, alur, plot twist, tokoh, dialog, maupun bagian cerita, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa izin penulis."⛔️ Copyright© 12/07/2025 - SAMSARA. Technical Advisor : Aimarstories Cover : pinterest Dark psychological thriller Dengan gaya sinematic noir - slow burn
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samSara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7 - Yamaguchi part III
...**...
...呼ばれなかった血の相続者...
...-Yobarenakatta Chi no Isansha-...
...'Pewaris Darah yang Tak Diundang'...
...⛩️🏮⛩️...
Aula Utama.
Kaito mendorong Noa semakin ke dalam. Memposisikannya untuk berlutut. Lalu ia mengambil posisi dipinggir.
Sedangkan Hane berjalan keluar ruangan. Menunggu.
Napas Noa tak beraturan. Hingga ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri lebih jelas dari suara siapa pun.
Sembilan pasang mata menatapnya.
Dan satu suara akhirnya terdengar.
Bukan lantang. Tapi tenang, dalam, dan menusuk seperti belati yang tidak butuh diangkat tinggi untuk membuat luka.
"Nakamura Noa," kata Oyabun.
Pria tua itu tak perlu bergerak untuk menguasai ruangan. Ia hanya duduk di sana, tubuhnya tegap. Kimono hitam polos membalut tubuhnya tanpa cela, dengan rambut yang memutih disisir rapi ke belakang. Aura di sekelilingnya seperti gravitasi yang menenggelamkan.
"Omae wa ima doko ni iru ka, wakatte inai kamoshiren na," (Kau mungkin tidak tahu di mana kau berada) katanya, mata tidak berkedip. "Daga, omae ga dare ka wa wakatte iru. Sore de jūbun da." (Tapi kami tahu siapa kau. Dan itu cukup)
Noa mengerti bahasa Tokyo. Bahasa standar itu menembus telinganya dengan presisi yang menusuk. Remaja sepertinya memang terbiasa, mampu membaca setiap kata, memahami maksudnya. Noa menggigit bibirnya. Udara terasa dingin meski ruangan tertutup.
"Di depanku berdiri sembilan pria. Mereka bukan hanya darahku. Mereka bukan hanya suaraku. Mereka adalah pisau dan pelindung dari klan ini."
Ia mengangkat dagunya sedikit, dan pandangannya jatuh pertama pada pria tinggi dengan jas kelabu gelap, berambut panjang terikat tinggi di belakang, dan sorot mata seperti peluru dingin yang belum ditembakkan.
"Sakaki Jin. Wakagashira*."
"Ia adalah bayanganku. Jika aku diam, ia yang bicara. Jika aku lenyap, ia yang bertindak."
"Jangan pernah berlutut di depanku jika kau tidak bisa menunduk padanya."
Jin menunduk sedikit, tapi tidak bicara. Matanya tidak bergerak. Seperti patung kuil yang tahu semua dosa pengunjungnya.
Oyabun lalu menggerakkan mata ke arah pria dengan rambut buzz-cut disisir ke belakang, yang bersandar dengan malas di tiang kayu. Di pinggangnya tergantung tantō tua, dan di matanya tidak ada keinginan untuk hidup... tapi juga tidak ada rasa takut akan mati.
"Mikami Torao. Shateigashira** dan sebagai Toryo***."
"Ia adalah kuku hitam keluarga ini. Yang menyentuh darah musuh maupun penghianat agar darah itu tidak menyentuh kami."
Torao hanya menyeringai tipis. Tak ada sikap hormat. Tapi juga tak ada yang berani menyebutnya kurang ajar. Karena semua orang tahu: dialah yang terakhir kali bicara dengan orang-orang yang kini tinggal nama.
Lalu perlahan, Oyabun memberi isyarat ke sisi ruangan lain, tempat tiga pria lainnya berdiri tak jauh dari para pewaris utama. Sorot mata mereka tidak liar, tidak tajam, tapi dalam dan berbahaya seperti bara api di balik arang.
"Dan dia..."
Ia menunjuk pria bersetelan hitam rapi dengan kepala sedikit menunduk dan tangan di depan perut, seolah tubuhnya sendiri adalah bagian dari protokol.
"Kurosawa Tadashi. Honbucho****."
Tadashi tidak mengangkat kepala. Tapi matanya... sudah mengamati Noa jauh sebelum Noa menyadari keberadaannya.
Kemudian pandangan Oyabun beralih ke pria berjas mahal, dengan dasi kain tenun langka dan mata setajam akuntan yang tahu harga setiap napas manusia.
"Daigo Kagemaru. Ginchō*****."
Kagemaru tersenyum kecil. Ramah. Tapi senyum itu terasa seperti faktur kematian.
Dan terakhir, pria berperawakan besar yang berdiri tegak seperti penjaga gerbang neraka. Dialah yang, bersama Hane, menahan Noa sejak ia menginjakkan kaki di markas utama—dan menyeretnya tanpa ampun hingga ke sini. Di pinggangnya tergantung tongkat kayu hitam, dililit jimat merah tua yang usang. Di matanya, hanya sunyi.
"Arakawa Kaito. Jigoku no Sōchō******."
Oyabun meliriknya sejenak, lalu berbicara lebih pelan, hampir seperti memberi peringatan kepada seluruh ruangan.
"Selama disini, Noa akan berada di bawah pengawasan langsung Kaito."
Kaito menggerakkan bahunya sedikit, seperti baru mendengar konfirmasi dari tugas yang sudah ia terima sebelumnya. Ia memandang lurus pada Noa dengan tatapan yang tak seperti penjaga, tapi seperti penjilat bayanganmu sendiri.
Kemudian Oyabun menunjuk ke tiga pria lebih muda dari yang lain berdiri sedikit berjajar.
"Putra-putraku, Akiro, Reiji dan Kaede" katanya pelan.
Yang pertama maju adalah Akiro. Langkahnya mantap, wajahnya seperti diukir dari batu. Ia membungkuk ringan, lalu menatap Noa seperti ingin menembus lapisan pikirannya.
"Kau terlihat...lemah," katanya.
Yang kedua, Reiji, melangkah seperti penari. Senyum tipis menghiasi wajahnya.
"Aku sudah lama menunggu sesuatu yang bisa membuat markas ini... menarik," katanya, sinis. "Dan kau, ano ko, terlihat seperti teka-teki yang menyenangkan."
Yang terakhir, Kaede, tak berkata apa pun. Hanya menatap dari ujung mata, seolah sudah tahu akhir cerita ini bahkan sebelum dimulai.
Kemudian, Terakhir, pandangan Oyabun jatuh pada pria yang berdiri sedikit lebih jauh dari sosok sosok lainnya. Sorot matanya tenang. Tapi ada bayangan di sana, seperti seseorang yang terlalu lama berjalan di batas antara setia dan binasa.
"Kuroda," panggilnya. "Ia adalah adikku. Kyodai*******."
Pria itu maju setengah langkah. Noa menatapnya: wajah itu asing, tapi ada sesuatu dalam matanya yang membuatnya terasa dekat. Seperti... penyesalan. Atau mungkin urusan yang belum selesai.
"Kuroda mungkin sudah tahu lama siapa kau," sindir Oyabun pelan. Tersenyum samar hampir tak terlihat. "Lebih dari yang ia akui."
Kuroda tidak menjawab. Hanya mengangguk singkat. Rahangnya mengeras. Tatapannya menusuk tanah, seolah menyalahkan dirinya sendiri karena sesuatu yang tak bisa diperbaiki.
Noa menatap pria itu dan samar, samar sekali, ada rasa asing yang mendebarkan. Seperti déjà vu dari mimpi buruk yang belum selesai. Lalu matanya jatuh ke tangan kanan pria itu. Dua jarinya terbungkus kain putih masih membalut lukanya, belum kering sepenuhnya. Di lantai dekatnya, masih terlihat jejak darah yang dibersihkan setengah hati, seperti bekas persembahan yang tak jadi dikremasi.
Ia terluka. Baru saja dihukum.
Baru saja.
Kuroda menunduk dalam diam. Wajahnya datar. Tapi matanya sempat bergerak ke arah Noa—hanya sepersekian detik seolah berkata:
'Kau sudah terlalu jauh dari kata bebas, Noa.'
Noa membalas dengan berbicara bahasa yang sama meski dengan dialek yang masih samar, terselip di antara nada bicaranya.
"Koko wa... na, nande watashi ga... iru no...?" (Apa ini... kenapa aku disini?) tanya Noa lirih. Suaranya pecah.
"Ini adalah tempat di mana kebenaran memutuskan sendiri apakah kau memang layak hidup." jawab Oyabun, tenang.
Ia melipat tangan di pangkuannya.
"Dan darahmu.. mungkin bagian dari klan ini."
Noa mulai gemetar. Tapi matanya tak berpaling.
"Kami tidak membawa sembarang orang ke ruangan ini," jelas Jin. "Kau di sini karena satu hal."
Jin mencondongkan tubuh ke depan. Tatapannya menusuk.
Hening.
Lalu suaranya terdengar.
"Bahkan jika kau menolak..kau akan tetap tinggal. Tapi tidak sebagai tamu."
Noa masih merasa bingung tapi akhirnya ia menunduk lemah. Dunia terasa runtuh di sekelilingnya. Tapi ia punya satu tekad—teringat akan kata-kata terakhir ibunya: ia harus bertahan. Apa pun yang terjadi.
Karena dari tatapan mereka... ini bukan awal. Ini adalah ujian.
Noa sendirian. Di tengah ruangan.
Dikelilingi para algojo yang tak berkedip.
Tak ada yang tahu apa yang sedang berputar dalam benak mereka masing-masing.
—つづく—
____________________
*wakil Oyabun resmi
**pemimpin para shatei dan operator garis depan
***kepala operasional/markas bagian.
**** pemimpin bayangan, hane merupakan bawahan kagecho.
*****bendahara klan
******penjaga bawah tanah markas. Penjaga tahanan
*******saudara selevel
disisi lain, noa bener² berjuang bertahan hidup bersama bibi yang memang sebenarnya ibu kandungnya. kondisi yang cukup memprihatinkan untuk mereka berdua yang sebatang kara
sungguh alur cerita ini membuat penasaran untuk terus membacanya
kuat banget udahan, pengambilan konfliknya juga menarik. Geisha, si penghibur yang dihargai di Jepang. pasti si Rin ini cantik banget sampai kayaknya jadi pusat. Btw kakak Author kamu risetnya jalur film apa pernah kesana, bisa buat setting yang jepang banget 👍