罪から生まれ、 遺産を求める血に追われる。 Tsumi kara umare, isan o motomeru chi ni owareru. (Born from sin. Hunted by blood that demands legacy) Nakamura Noa, gadis miskin yang bekerja serabutan sekaligus merawat ibunya yang sakit parah. Noa dan ibunya yang sedang dalam persembunyian, tidak sadar bahwa klan besar Yamaguchi-gumi telah mengawasi mereka sejak lama. Mereka beranggapan bahwa Noa adalah pewaris roh leluhur Yamaguchi: 'Kuraokami' yang bangkit saat berada diambang batas. Sampai akhirnya Noa dijemput paksa dan dibawa kembali ke dunia kelam para algojo. Ia harus memilih: tunduk pada mereka atau hancurkan warisan yang telah merenggut hidupnya. ⛔️"DILARANG KERAS menyalin atau mengambil ide, alur, plot twist, tokoh, dialog, maupun bagian cerita, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa izin penulis."⛔️ Copyright© 12/07/2025 - SAMSARA. Technical Advisor : Aimarstories Cover : pinterest Dark psychological thriller Dengan gaya sinematic noir - slow burn
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samSara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7 - Yamaguchi part III
**
呼ばれなかった血の相続者
-Yobarenakatta Chi no Isansha-
'Pewaris Darah yang Tak Diundang'
⛩️🏮⛩️
Kaito menuntun Noa hingga tepat ke tengah tatami. Tekanan tangannya di bahu gadis itu tidak keras—hanya cukup untuk memastikan ia berhenti di posisi yang ditentukan.
Noa berlutut.
Gerakannya kaku, tidak terbiasa dengan posisi seiza. Lututnya menyentuh serat tatami yang terasa sedikit lebih kasar di satu titik—bekas yang telah dibersihkan, tapi belum sepenuhnya hilang.
Kaito mundur dengan langkah terukur, lalu berlutut di sisi pinggir ruangan. Punggungnya lurus. Tangan di atas paha. Tatapannya kembali ke depan, seolah tak pernah bergerak.
Sedangkan Hane membungkuk hormat ke arah kamiza sebelum keluar ruangan. Menunggu.
Napas Noa tak beraturan. Hingga ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri lebih jelas dari suara siapa pun.
Tak ada satu pun pria yang menatapnya terang-terangan.
Namun ia tahu. Ia sedang dinilai.
Di kamiza, sang Oyabun duduk dalam seiza sempurna. Kimono hitam polos. Rambut putih tersisir rapi ke belakang. Ia tak perlu bergerak untuk menjadi pusat gravitasi ruangan.
Sakaki Jin, yang duduk sedikit di bawah posisi kamiza, membuka suara.
“Anata no mae ni iru wa, Yamaguchi Raizen-sama.” (Di hadapanmu adalah Yamaguchi Raizen.)
“Yamaguchi-gumi no oyabun de aru.. Koko no subete wa, sono ishi no moto ni ugoku.” (Beliau adalah Oyabun klan Yamaguchi-gumi. Semua yang ada di sini bergerak atas kehendaknya.)
Kalimat itu berbahasa Tokyo yang terdengar bersih dan presisi, namun menusuk tanpa emosi berlebih. Remaja seperti Noa memahami setiap katanya, walaupun selama ini, ia menggunakan lebih banyak dialek Kyoto.
Oyabun duduk tegap di kamiza, kimono hitam rapi, pandangan tak bergeser dari Noa. Tubuhnya tegap dalam kimono hitam polos. Rambut putihnya disisir rapi ke belakang. Ia tidak perlu bergerak untuk menjadi pusat gravitasi ruangan.
Jin kemudian melanjutkan, kini dengan nada formal yang terstruktur—seperti pembacaan hierarki.
“Di ruangan ini berlutut sembilan pria. Mereka adalah pilar yang menopang nama keluarga ini.”
Jin sedikit menegakkan tubuhnya. Walaupun sedang duduk, posturnya tetap terlihat tinggi dengan jas kelabu gelap. Berambut panjang terikat tinggi di belakang, dan sorot mata dingin dan tak terduga. Lalu ia kembali bersuara, memperkenalkan diri.
“Watashi, Sakaki Jin. Wakagashira de gozaimasu." (Aku, Sakaki Jin. Wakagashira)
Ia tidak membungkuk. Sama sekali tak bergerak dari posisi seizanya yang sempurna.
“Aku bertindak atas nama Oyabun ketika beliau memilih diam.”
Jin kemudian menggerakkan mata ke arah pria dengan rambut buzz-cut disisir ke belakang, yang duduk nyaris tegak.
Noa mengikuti arah pandang Jin. Pria dengan punggung nyaris tegak. Di pinggangnya tergantung tantō tua, dan di matanya tidak ada keinginan untuk hidup... tapi juga tidak ada rasa takut akan mati.
"Mikami Torao. Shateigashira** sekaligus Toryo***."
"Ia adalah tangan hitam keluarga ini. Yang menyentuh darah musuh maupun penghianat agar darah itu tidak menyentuh kami."
Torao hanya menyeringai tipis. Tak ada sikap hormat. Tapi juga tak ada yang berani menyebutnya kurang ajar. Karena semua orang tahu, dialah yang terakhir kali bicara dengan orang-orang yang hanya tinggal nama.
Lalu perlahan, Jin memberi isyarat ke sisi lain.
"Dan dia..."
Ia menunjuk pria bersetelan hitam rapi dengan kepala sedikit menunduk dan tangan di depan perut, seolah tubuhnya sendiri adalah bagian dari protokol.
"Kurosawa Tadashi. Honbucho****."
Tadashi tidak mengangkat kepala. Ia tetap tenang dalam posisi seiza, tangan terlipat rapi di pangkuan. Tapi matanya... sudah mengamati Noa jauh sebelum gadis itu tiba dan menyadari keberadaannya.
Kemudian pandangan Jin beralih ke pria berjas mahal, dengan dasi kain tenun langka dan mata setajam akuntan yang tahu harga setiap napas manusia.
"Daigo Kagemaru. Ginchō*****."
Kagemaru sedikit memiringkan kepala, tersenyum tipis. Namun terasa seperti pengingat batas.
Jin sedikit memutar tubuhnya, pria disisi pinggir ruangan. Berpostur besar dengan punggung tegak seperti patung penjaga. Ialah yang bersama Hane, menahan Noa sejak menginjakkan kaki di markas utama—dan menyeretnya tanpa ampun hingga ke sini. Di pinggangnya tergantung tongkat kayu hitam, dililit jimat merah tua yang usang. Di matanya, hanya kesunyian.
"Arakawa Kaito. Jigoku no Sōchō******."
Tiba-tiba dari sisi kamiza, Oyabun mengangkat pandangannya sedikit.
Ia sempat melirik Kaito sejenak, lalu berbicara lebih pelan, hampir seperti memberi peringatan kepada seluruh ruangan.
"Selama disini, Nakamura akan berada di bawah pengawasan langsung Arakawa."
Tak ada nada ancaman. Justru itu yang membuatnya terdengar mutlak.
Kaito menundukkan kepala—singkat. Diikuti Jin dan semua yang hadir.
Kemudian Jin kembali melanjutkan. Ia menggeser pandangan ke tiga pria yang berlutut sedikit lebih dekat dari posisi kamiza.
“Yamaguchi Akiro. Yamaguchi Reiji. Dan Yamaguchi Kaede," Jin menghela napas sebentar, lalu bersuara lagi. "Mereka adalah putra Oyabun. Pewaris klan di masa depan."
Yang pertama bergerak adalah Akiro. Postur mantap, wajahnya seperti diukir dari batu. Ia membungkuk singkat, lalu menatap Noa seperti ingin menembus lapisan pikirannya.
"Kau terlihat...lemah," katanya.
Yang kedua, Reiji dengan postur lebih santai. Senyum tipis menghiasi wajahnya.
"Aku sudah lama menunggu sesuatu yang bisa membuat markas ini... menarik," katanya, sinis. "Dan kau, ano ko, terlihat seperti teka-teki yang menyenangkan."
Yang terakhir, Kaede, tak berkata apa pun. Hanya menatap dari ujung matanya, seakan sudah tahu akhir cerita ini bahkan sebelum dimulai.
Kemudian terakhir, pandangan Jin jatuh pada pria yang berlutut di sisi kiri kamiza. Seketika beberapa anggota sedikit menegang, namun gesture mereka tetap tenang. Noa bisa merasakan udara berubah—ketegangan meningkat, bahkan tanpa kata.
“Yamaguchi Kuroda. Ototo-bun dan Kyodai.”
Kuroda membungkuk tanpa berkata apa-apa. Tangan kanannya yang terbalut kain putih diletakkan tetap di atas pahanya. Balutan itu rapi. Tidak ada darah yang menetes lagi.
“Beliau mengetahui keberadaanmu lebih lama dari yang kau kira,” tambah Jin, nada suaranya tetap rata. “Dan telah membayar harga atas sebagian keputusan itu.”
Kuroda tetap dalam seiza, tatapannya menusuk lantai—satu gerakan cukup untuk menyampaikan ketegangan dan hukuman yang baru saja diterima.
Noa menatap pria itu. Ada rasa asing yang mendebarkan. Seperti déjà vu dari mimpi buruk yang belum selesai. Lalu matanya jatuh ke tangan kanan pria itu. Dua jarinya terbungkus kain putih masih membalut lukanya, belum kering sepenuhnya. Di lantai dekatnya, masih terlihat jejak darah yang dibersihkan setengah hati, seperti bekas persembahan yang tak jadi dikremasi.
Ia terluka. Baru saja dihukum.
Kuroda menunduk dalam diam. Wajahnya datar. Tapi matanya sempat bergerak ke arah Noa—hanya sepersekian detik seolah berkata:
'Kau sudah terlalu jauh dari kata bebas, Noa.'
Noa mengangkat pandangan ketika Oyabun kembali berbicara, suaranya tenang dan terukur. Tak ada gerakan yang berarti. Ia hanya memandang lurus ke arah Noa, tanpa ekspresi yang bisa dibaca.
"Nakamura Noa," kata Oyabun. Suaranya tenang. Dalam. Tak perlu keras untuk memaksa seluruh ruangan mendengar..
"Omae wa ima doko ni iru ka, wakatte inai kamoshiren na," (Kau mungkin tidak tahu di mana kau berada) katanya, mata tidak berkedip. "Daga, omae ga dare ka wa wakatte iru. Sore de jūbun da." (Tapi kami tahu siapa kau. Dan itu cukup)
Noa menggigit bibirnya. Udara terasa lebih dingin dari seharusnya.
Ia memberanikan diri untuk bersuara. Berbicara bahasa yang sama meski dengan dialek Kyoto yang masih samar, terselip di antara nada bicaranya.
"Koko wa... na, nande watashi ga... iru no...?" (Apa ini... kenapa aku disini?) tanya Noa lirih. Suaranya pecah.
"Kebenaran akan menentukan prosisimu di sini." jawab Oyabun, tenang. Tangan kirinya merapikan lengan kanan Kimononya yang sedikit terlipat.
"Dan darahmu.. mungkin bagian dari klan ini."
Noa mulai gemetar. Tapi matanya tak berpaling.
"Kami tidak membawa sembarang orang ke ruangan ini," timpal Jin. "Kau di sini karena suatu hal." Ia berbicara tanpa mengubah postur. Namun, tatapannya menusuk.
Hening menekan.
Lalu suaranya kembali terdengar.
"Bahkan jika kau menolak..kau akan tetap tinggal. Tapi tidak sebagai tamu."
Noa masih belum sepenuhnya memahami apa yang terjadi. Pikirannya tertinggal beberapa langkah di belakang percakapan yang baru saja menelanjangi hidupnya.
Ia ingin bertanya lagi—ingin menolak, atau sekadar memastikan ini bukan kesalahan. Namun udara di ruangan itu terasa terlalu padat. Setiap kata terasa harus menembus dinding tak kasatmata sebelum mencapai siapa pun. Dan ia tahu, suaranya tidak akan cukup kuat.
Akhirnya ia hanya menunduk.
Dunia di sekelilingnya terasa bergeser. Lebih tepatnya runtuh berganti bentuk tanpa meminta izin. Namun di balik gemetar yang menjalar dari lutut hingga ke ujung jarinya, ada satu hal yang tidak ikut goyah.
Kata-kata terakhir ibunya.
Bertahan.
Apa pun yang terjadi.
Ia mengangkat wajahnya sedikit. Tatapan-tatapan itu masih ada—tenang, mengukur, tanpa emosi yang bisa ia baca.
Noa sendirian. Di tengah ruangan.
Dikelilingi para algojo yang tak berkedip.
Tak ada yang tahu apa yang sedang berputar dalam benak mereka masing-masing.
...—つづく—...
...____________________...
Wakagashira: wakil Oyabun resmi
Shateigashira: pemimpin para shatei dan operator garis depan
Toryo: pemimpin kelompok
Honbucho: kepala operasional/ intelijen, Hane merupakan bawahan Honbucho.
Gincho: bendahara klan
Jigoku no socho: penjaga bawah tanah markas. Penjaga tahanan
Ototobun: adik kandung Oyabun
Kyodai: adik seperguruan