NovelToon NovelToon
Putri Yang Terlupakan Telah Kembali

Putri Yang Terlupakan Telah Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Romansa / Fantasi Wanita
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Riichann

Terlahir sebagai putri yang disayangi raja, hidupnya runtuh ketika istana berubah menjadi sarang pengkhianatan. Namanya dihapus, kebenaran dibungkam, dan ia dipaksa memikul dosa yang bukan miliknya.
Dibuang dari tanah kelahiran dan dilempar ke dunia yang kejam, ia belajar satu hal: bertahan saja tidak cukup. Dunia yang menghancurkannya harus dibalas dengan kekuatan yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riichann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perpisahan dan Permulaan

Kakak, aku yakin saat membaca surat ini kakak diliputi kemarahan atau kekesalan. Yah aku yakin salah satu dari itu. Atau mungkin kekecewaan?

Keputusanku ini memang sudah kupikirkan sejak lama, aku hanya pengecut yang tak bisa menentukan keputusan besar dalam hidupku. Kukira aku hanya sendirian di dunia ini semenjak Ibunda menutup mata untuk selama. Aku merasa istana ini bukanlah tempatku berada. Maafkan aku kak, baru mengetahui fakta bahwa kakak sebenarnya peduli padaku. Sempat membuatku goyah untuk sesaat. Namun, setelah menemui Baginda Raja. Keputusan ku menjadi bulat. Untuk pertama kalinya, beliau memujiku. Walau pujian itu bukan karena prestasiku. Setidaknya aku mendapatkan pujian untuk pertama dan terakhir kalinya. Kakak, aku bahagia dengan pilihanku ini, jadi jangan mencariku dan kakak jangan merasa bersalah.

Dan terakhir, aku selalu menyayangimu kak! Jaga dirimu.

"Dasar adik bodoh, adik gak peka, benar jangan kembali sama sekali. Jangan pernah nunjukin diri sekalipun di depanku, atau kau akan menyesalinya." Victor meremas surat yang telah dibacanya itu dan bergegas kembali ke kediamannya.

Dia menguatkan diri sambil duduk sendirian di kegelapan malam tanpa cahaya lilin. Cahaya bulan perlahan menembus jendela sehingga memberikan pencahayaan di dalam kamarnya yang gelap itu. Tak ada satupun pelayan atau ajudan yang berani menganggunya. Dia benar-benar termenung sendirian, kilas balik masa lalu bermunculan saat-saat adiknya mulai bisa berjalan dengan lancar dan mengekori Victor kemanapun dia pergi. Saat itu Victor merasa terganggu, namun tak membencinya. Apalagi Theo sering terjatuh apabila Victor berjalan lebih cepat. Suara rengekan Theo saat masih kecil, suara ketawa, dan banyak hal lainnya benar-benar teringat dengan jelas. Apakah ini tanda kehilangan? Apakah ini rasa penyesalan? Ataukah ini rasa rindu mendalam? Dan dia hanya bisa tersenyum getir.Ia terlarut dalam asumsi-asumsinya itu hingga pagi menjelang. Victor tersadar karena silau cahaya matahari mengenai wajahnya. Lalu dia bangkit dan menyetel ulang dirinya jadi mode datar dan dingin kembali.

Dia beraktivitas seperti biasanya seolah tidak terjadi apa-apa. Dia kembali pada dokumen-dokumen, dia kembali pada kesibukannya. Atau sebenarnya dia sengaja membuat dirinya lebih sibuk lagi hingga bisa melupakan adiknya untuk sejenak.

Tokk.. tokk..tokkk. Suara ketukan pintu ruangan Victor berbunyi.

"Siapa?" Respon Victor yang singkat.

"Yang Mulia Raja meminta ada segera menemui beliau."

"Ya, sampaikan bahwa aku akan segera ke sana."

Sesampainya di kediaman Raja, Victor tidak langsung menuju kamar Raja. Dia berkeliling di area sayap kiri yaitu tempat tinggal mendiang Ratu. Disana tak ada yang berubah sama sekali, banyak terpajang lukisan tentangku dan Theo. Jumlahnya lebih banyak daripada lukisan mendiang Ratu dan Raja. Victor teringat kenangan saat Theo lahir dan sedang bersama mendiang Ratu, beliau berkata "Kalian berdua harta karunku yang paling berharga. Dan Victor, sekarang kamu sudah menjadi seorang kakak. Kamu harus melindungi adikmu ya." (Ucap mendiang Ratu sambil membelai lembut rambut Victor).

"Tentu saja, Ibunda. Victor adalah kakak paling kuat di dunia ini. Jadi adik akan merasa aman."(Jawab Victor kecil sambil menepuk-nepuk dadanya seolah menunjukkan bahwa dia memiliki kekuatan yang tak ada tandingannya).

Dia tersadar dari lamunannya, dan berjalan menuju arah kamar Raja. Sesampainya di depan pintu kamar Raja, Victor masuk tanpa basa basi dengan ajudan yang berjaga di luar pintu. Dia melihat Raja yang sedang terduduk sambil menyeruput secangkir teh. Mata mereka saling menatap, Victor pun berjalan dan duduk tanpa meminta ijin, "Inikah ekspresi bahagia karena aib dalam hidup anda sudah menghilang." (Ucap Victor sarkas).

"Jaga ucapanmu! Kau pikir siapa yang sedang ada di depanmu? Tunjukkan rasa hormat. Mana etika mu!" Kata Raja yang terlihat sedikit geram.

"Entah apa yang ayah ucapkan pada Theo, yang jelas hal itu pasti telah melukainya dengan sangat dalam. Memang benar ayah sukses menjadi seorang Raja, namun ayah gagal menjadi seorang ayah. Selama ini aku hanya diam melihat ayah memperlakukan kami secara tidak adil. Jika ayah tak bisa merangkul atau membela Theo, setidaknya jangan menyakitinya."

"Cukup! Kau adalah calon Raja, bersikaplah selayaknya calon Raja. Nunjukin sikap emosional gini akan merugikanmu. Ingat itu baik-baik!"

"Dalam hal ini, ayah masih memedulikan hal semacam ini? Ayah sungguh adalah ayah terburuk yang pernah kutahu!"

"Semua yang dilakukan bocah memalukan itu, dia lakukan dengan kesadaran penuh! Untuk apa menahannya? Dia bisa bertanggung jawab atas hidupnya sendiri! Obrolan tentang bocah itu cukup sampai di sini. Jika ada..."Raja belum selesai bicara, Victor memotongnya, "Tidak ada." Jawab Victor singkat dan berdiri lalu berjalan menuju pintu untuk keluar dengan rasa kesal dalam hati.

Sementara itu saat tepat dia keluar dari kamar Raja, dia melihat sosok Sylvaine yang sudah berdiri menunggu gilirannya untuk menemui Raja. Mata mereka saling menatap, namun Sylvaine terlebih dulu memalingkan wajahnya dengan ekspresi arogan. Lalu berjalan masuk ke kamar Raja. Sebelum pintu tertutup, Victor sedikit mendengar ucapan Sylvaine yang berkata,"Pamaaan.., saya..."(Pintu tertutup).

Victor sedikit penasaran tentang apa yang ingin disampaikan Sylvaine. Namun dia mencoba mengacuhkannya dan ingin mencari udara segar.

***

Theo menyembunyikan identitasnya, dia berencana pergi ke wilayah kerajaan Morva. Dia berencana ingin menghabiskan sisa hidupnya untuk berkelana, mengunjungi banyak tempat untuk melihat hal-hal baru. Meskipun dia merasa sedih karena tak akan bertemu dengan kakaknya lagi, tapi dia bertekad melangkah maju. Suasana di Morva sangat kontras dengan tempat asalnya. Penduduknya terlihat tak ramah dengan pendatang bahkan cenderung bersikap sinis. Theo pun berencana mencari penginapan, jadi dia menyusuri jalanan sambil melihat-lihat. Dan dia cukup terkesan karena untuk daerah perbatasan, ini sudah termasuk bagus. Akhirnya dia menemukan penginapan, segera dia mendorong pintu dan masuk. Theo bertanya tentang ketersediaan kamar untuk menginap ke salah satu pelayan yang ditemuinya. Pelayan tersebut mengarahkan Theo pada pemilik penginapan. Theo berjalan mengikuti arahan pelayan tersebut, setelah si pelayan itu menengadahkan salah satu tangannya ke arah Theo. Theo pun langsung paham apa maksudnya, lalu dia memberikan dua koin perunggu pada si pelayan itu.

"Permisi tuan pemilik, apakah masih ada kamar kosong?" Tanya Theo pada pemilik penginapan. Si pemilik menatap tajam ke arah Theo, "Sepertinya aku tak pernah melihatmu sebelumnya."

"Kurasa aku tak perlu memperkenalkan diri atau semacamnya." Jawab Theo dengan mencoba terlihat tegas.

"Yah kau benar. Siapa saja boleh menginap di sini, yang penting bisa membayar sewa kamarnya. Jadi untuk berapa malam?"

"Kurasa untuk satu malam saja, karena besok pagi aku akan pergi."

Theo diberi kunci kamar, lalu ia menanyakan apakah bisa meminta untuk diantarkan makanan ke kamarnya. Pemilik menyanggupinya, namun meminta tips sebagai imbalan. Dalam hati Theo,'Yah persis julukan tidak yang telah tersebar bahwa informasi harus ditukar dengan uang. Yasudahlah, toh aku gak akan menetap lama di sini.' Theo menyetujuinya. Lalu dia berjalan menuju kamarnya, benar saja baru saja dia masuk dan menutup pintunya. kamar di sebelahnya sangat gaduh dan berisik. Tapi ia mencoba mengabaikannya. Tak lama pelayan yang mengantarkan makanan mengetuk pintu, Theo membukakannya dan menyuruh pelayan itu meletakkan makanan di atas meja di dalam kamarnya. Setelahnya si pelayan masih berdiam diri di sana, lalu Theo berkata, "Oh iya tips. Ini untukmu..." Lalu tiba-tiba ada suara 'Duakkkk.... bugh.. gedebuk'. Theo pun mengeluh pada pelayan, "Bisakah kau meminta orang di kamar sebelah untuk sedikit mengurangi kegaduhan yang dibuatnya?"

Pelayan itu menengadahkan tangannya lagi, tanda meminta imbalan. Theo menghela napas panjang dan memberinya satu koin perunggu dan menggerutu,"Kurasa ini sudah cukup kan imbalan hanya untuk menegur kamar sebelah yang sebenarnya itu kewajiban pihak penginapan yang harus lakukan demi kenyamanan semua tamu."

"Orang di kamar sebelah gak ada yang bisa menegurnya. Lebih baik pura-pura tidak mendengar apapun." Ucap pelayan sambil berbisik pada Theo.

"Apa maksudnya itu?" Jawab Theo

Si pelayan mengulurkan tangan lagi, tanda meminta imbalan lagi. Lagi-lagi Theo menghela napas panjang dan dia mengeluarkan satu koin perak dan berkata, "Aku akan memberimu ini. Tapi kau harus menceritakan semua detail yang kau tau tentang orang di kamar sebelah."

"Duduklah... ini akan sedikit panjang untuk didengar." Kata si pelayan mengajak Theo untuk duduk sambil dia duduk di kursi juga. Theo dan pelayan itu duduk berseberangan di antara meja dan ada makanan yang mengepul asapnya karena masih hangat. Si pelayan pun memulai bicara, "Jadi..."

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!