Raisa terpaksa tinggal sendirian di rumah tua warisan neneknya di sebuah kampung terpencil. Sejak malam pertama, rumah itu seperti mengenalinya—terlalu mengenalinya. Setiap pukul 02.17, ada langkah berhenti di depan pintu kamarnya. Ada bau tanah basah yang muncul tanpa hujan. Dan ada sandal merah kecil yang selalu kembali, meski sudah dibuang berkali-kali. Orang kampung berbisik bahwa dulu pernah ada anak bernama sama persis dengannya—anak yang hilang tanpa jejak dua puluh tahun lalu. Semakin Raisa mencari kebenaran, semakin rumah itu menunjukkan sisi aslinya: sentuhan dingin di tengah malam, luka yang muncul tanpa sebab, dan suara anak kecil yang memanggil namanya dari balik dinding. Jika masa lalu belum selesai, siapa yang sebenarnya sedang tinggal di rumah itu—Raisa, atau “dia”?
Jam yang Selalu Sama
Ayah cuma tinggal tiga hari di rumah itu.
Setelahnya, dia kembali ke kota. Katanya proyek tempatnya bekerja mendadak butuh orang tambahan. Aku tahu itu cuma alasan halus supaya aku tidak merasa ditinggalkan.
“Sebulan sekali Ayah pasti pulang,” janjinya sambil menaruh beberapa lembar uang di meja.
“Kamu bisa, kan, tinggal sendiri?”
Aku mengangguk, padahal tenggorokanku terasa sempit.
Sejak hari itu rumah terasa dua kali lebih besar.
Malam pertama setelah Ayah pergi, aku mengunci semua pintu dan jendela. Bahkan pintu kamar ku ganjal kursi. Tapi rasa aman tetap tidak datang.
Jam dinding di ruang tengah kembali berdetak seperti biasanya.
Dan tepat pukul 02.17, mataku terbuka.
Seolah ada yang membangunkanku dengan paksa.
Aku tidak langsung bergerak. Hanya berbaring menatap langit-langit yang mulai mengelupas. Lalu dari arah dapur terdengar suara piring bergeser.
Bukan jatuh.
Tapi digeser pelan, seperti ada yang sedang mencari sesuatu.
“Kucing… mungkin kucing,” gumamku mencoba menenangkan diri.
Tapi rumah ini tidak memelihara kucing.
Suara itu berhenti.
Lalu berganti dengan suara lain—lebih halus.
Seperti kuku menggaruk papan.
Dari bawah lantai.
Aku refleks menarik kaki dari kasur, takut sesuatu tiba-tiba muncul dan menyentuh mata kakiku. Jantungku berdegup sampai ke telinga.
Suara garukan itu membentuk irama aneh.
Tiga kali panjang. Dua kali pendek.
Diulang lagi.
Seperti… pesan.
Aku mengambil ponsel dan menyalakan senter. Cahaya putih menyapu lantai keramik kamarku. Tidak ada apa-apa.
Tapi bau tanah basah itu datang lagi.
Lebih pekat dari malam sebelumnya.
Aku masuk sekolah seminggu setelah pindah. SMK kecil di ujung kampung, bangunannya menghadap sawah. Anak-anak di sana cepat tahu aku “anak rumah kosong milik Bu Sari”—nenekku.
Beberapa memandangku biasa saja.
Beberapa lain memandang terlalu lama.
Di hari pertama itulah aku kenal Dini.
Dia duduk sebangku denganku, rambutnya pendek sebahu dan bicaranya ceplas-ceplos.
“Lo beneran tinggal di rumah itu sendirian?” tanyanya saat istirahat.
Aku mengangguk.
“Kenapa emang?”
Dini menatapku ragu, lalu mengecilkan suara.
“Kata emak gue… rumah itu agak lain. Dulu ada kejadian.”
“Kejadian apa?”
Dia mengangkat bahu.
“Nanti aja gue ceritain. Di sini banyak kuping.”
Sejak hari itu, Dini jadi satu-satunya orang yang sering main ke rumahku. Dia tidak terlihat takut seperti yang lain, hanya terlalu penasaran.
Dan rasa penasaran itu menular kepadaku.
Aku sedang mencuci piring ketika listrik tiba-tiba mati. Gelap total, hanya ada cahaya bulan masuk dari jendela dapur.
Tanganku masih memegang gelas saat kudengar langkah cepat di lorong.
Bukan langkah pelan seperti malam-malam sebelumnya.
Ini langkah tergesa, seperti orang berlari kecil.
“Ayah?” refleks aku memanggil, lupa kalau Ayah sedang di kota.
Langkah itu berhenti tepat di belakangku.
Aku bisa merasakan ada sesuatu berdiri sangat dekat.
Dingin di tengkukku seperti hembusan napas.
Belum sempat aku menoleh, gelas di tanganku tiba-tiba ditarik keras.
Bukan jatuh.
Bukan lepas.
Ditarik.
Pecahannya berhamburan di lantai, dan telapak tanganku perih. Ada goresan tipis mengeluarkan darah.
“Jangan ganggu aku!” teriakku panik.
Tidak ada jawaban.
Hanya suara jangkrik di luar.
Ketika listrik menyala kembali, aku melihat sesuatu di lantai—bukan cuma pecahan gelas.
Ada jejak kaki kecil.
Basah oleh darah dari tanganku.
Mengarah ke lorong belakang.
Besok sorenya aku memberanikan diri bertanya pada tetangga paling dekat, Bu Ranti—perempuan yang dulu berteriak saat aku menemukan foto itu.
Begitu melihat telapak tanganku diperban, wajahnya langsung berubah.
“Rumah itu sudah mulai lagi ya, Nduk?” katanya pelan.
Aku tercekat.
“Mulai apa, Bu?”
Beliau menghela napas panjang, lalu menyuruhku duduk di teras.
“Dulu… sebelum kamu lahir, ada anak tinggal di situ. Namanya sama kayak kamu.”
Kalimat itu membuat kulitku meremang.
“Anak itu hilang waktu umur delapan tahun. Katanya main di belakang rumah, terus nggak pernah balik. Orang kampung nyari berhari-hari, nggak ketemu.”
“Terus… ditemukan nggak?”
Bu Ranti diam lama.
Matanya melirik ke arah rumahku.
“Yang ditemukan cuma satu sandal. Sama bau tanah basah yang nggak hilang-hilang.”
Aku langsung teringat sandal merah di meja makan.
“Sejak itu,” lanjutnya, “rumahmu sering minta tumbal kecil. Makanya lama kosong. Nenekmu pindah ke kota, nggak berani balik.”
Aku ingin menyangkal. Ingin bilang itu cuma takhayul.
Tapi luka di tanganku masih terasa.
Malamnya Dini datang membawa martabak sebagai alasan main. Aku akhirnya menceritakan semuanya—langkah kaki, gelas ditarik, jejak darah.
Dia tidak menertawakan.
Justru wajahnya makin serius.
“Kita cek kamar belakang sekarang,” katanya mantap.
Di ruangan itu, lemari tua masih berdiri seperti penjaga bisu. Kami mendorongnya pelan, dan papan triplek di baliknya terbuka sedikit—seperti pintu rahasia.
Di dalam ada ruang sempit, hanya cukup untuk satu orang dewasa jongkok.
Di dindingnya penuh coretan kapur.
Tulisan anak-anak.
Satu kalimat paling jelas di tengah:
“Aku belum pulang.”
Tiba-tiba pintu kamar depan terbanting keras.
Angin dingin menyapu ruangan.
Dini menggenggam tanganku.
“Sa… tadi kita nggak nutup pintu kan?”
Belum sempat kujawab, dari ruang tengah terdengar suara anak kecil tertawa pelan.
Tepat pukul 02.17.