Zahra tumbuh sebagai pribadi yang tenang dan tertutup.
Ia tidak terluka, hanya terbiasa menjaga jarak dan memilih diam.
Schevenko berbeda.
Di balik sikap dingin dan wibawanya, ada masa lalu yang membentuknya menjadi pria yang tidak mudah percaya, tidak mudah berharap.
Pertemuan mereka tidak pernah dibungkus dengan janji manis. Tidak ada cinta yang datang tiba-tiba, hanya kebersamaan yang pelan, percakapan seperlunya, dan perhatian yang tak terucapkan.
Zahra tidak datang untuk menyembuhkan.
Ia hanya hadir—dan entah bagaimana, kehadiran itu cukup.
Hingga akhirnya, dua orang yang sama-sama dingin, dengan alasan yang berbeda, ditakdirkan untuk saling menggenggam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menuju Gerbang Baru
Malam benar-benar berakhir dalam sunyi.
Jam dinding berdetak pelan hingga akhirnya aku terlelap, membawa serta sisa rasa malu, gugup, dan hangat yang belum sepenuhnya hilang. Nama itu—Schevenko—masih singgah di pikiranku bahkan saat mataku terpejam.
Tak lama kemudian, aku terbangun.
Masih gelap.
Suara adzan subuh menggema lirih dari kejauhan, merambat masuk melalui jendela kamar. Aku membuka mata perlahan, menatap langit-langit yang masih diselimuti bayang-bayang malam. Untuk sesaat, aku hanya diam, membiarkan kesadaranku kembali utuh.
Hari ini.
Aku bangkit dari ranjang, mengambil wudu dengan air dingin yang langsung menyadarkanku sepenuhnya. Di atas sajadah, aku berdiri tenang. Gerakan salat kulakukan perlahan, lebih khusyuk dari biasanya. Dalam sujud panjang, aku memejamkan mata.
Aku tidak meminta banyak.
Hanya ketenangan.
Hanya kelancaran.
Dan kekuatan untuk melangkah ke hari baru.
Selesai berdoa, aku duduk sejenak, membiarkan dadaku terasa lebih lapang. Ada rasa tenang yang menetap—bukan euforia, bukan juga ketakutan—melainkan keyakinan pelan bahwa apa yang akan terjadi hari ini adalah bagian dari takdir yang sedang dituntunku.
Langit mulai berubah warna ketika aku kembali ke kamar. Aku bersiap perlahan, memilih pakaian yang sederhana, merapikan jilbab dengan tangan yang kini tidak lagi gemetar seperti semalam.
Di luar kamar, rumah sudah mulai hidup.
Ibuku terdengar di dapur, ayahku duduk di ruang makan dengan secangkir teh hangat. Saat aku muncul, ibu menoleh dan tersenyum.
“Sudah salat?” tanyanya.
“Sudah, Bu.”
Ayahku menurunkan kacamatanya, menatapku sejenak.
“Hari ini hari penting,” katanya singkat.
Aku mengangguk.
“Iya, Yah.”
Sarapan pagi itu terasa berbeda. Bukan karena makanannya, melainkan karena suasananya. Tidak banyak candaan, tidak juga godaan seperti semalam. Yang ada hanya perhatian kecil—ibu yang memastikan aku makan cukup, ayah yang mengingatkanku untuk membawa semua berkas.
Sekitar pukul delapan, suara mobil terdengar berhenti di depan rumah.
Aku refleks menoleh ke jendela.
“Sudah datang,” ucap ayahku.
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu berdiri. Ibuku menghampiriku, merapikan sedikit jilbabku dengan gerakan lembut.
“Tenang saja,” katanya pelan. “Kamu tidak sendiri.”
Pintu depan terbuka.
Schevenko berdiri di sana, rapi dan tenang seperti biasa. Pagi itu, sikapnya terlihat lebih formal, lebih siap. Ia menyalami ayah dan ibuku dengan penuh hormat.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam,” jawab mereka bersamaan.
Ayah mempersilakannya masuk. Kami duduk di ruang tamu, aku di sebelah ayah dan ibuku. Suasananya mendadak berubah—lebih sunyi, lebih serius. Tidak ada senyum bercanda seperti kemarin malam.
Ayahku menatap Schevenko cukup lama sebelum akhirnya berbicara. Suaranya tenang, tapi jelas penuh pertimbangan.
“Maaf kalau saran ayah tidak enak didengar,” ucapnya perlahan. “Bagaimana kalau kalian menikah lebih dulu. Zahra bisa tinggal bersamamu, supaya kamu tidak perlu bolak-balik jauh ke sini.”
Aku terkejut.
Bukan hanya aku—Schevenko juga tampak terdiam. Matanya sedikit melebar, lalu kembali menunduk. Untuk pertama kalinya, ia terlihat gugup. Tidak banyak, tapi cukup terlihat.
Ia menarik napas.
“Saya… tergantung Zahra,” jawabnya akhirnya.
Semua tatapan beralih padaku.
Dadaku terasa sesak. Aku tidak menyangka pembicaraan akan sejauh ini, secepat ini. Namun anehnya, aku tidak merasa takut. Hanya kaget.
Aku menunduk sejenak, lalu berkata pelan,
“Aku ikut perkataan ayah.”
Ruangan kembali sunyi.
Schevenko mengangkat wajahnya, menatap ayahku, lalu menatapku. Ada jeda singkat sebelum akhirnya ia berkata dengan nada mantap,
“Baiklah. Kalau begitu… ayo kita menikah.”
Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa drama. Namun justru karena kesederhanaannya, jantungku berdetak lebih kencang.
Aku langsung menunduk.
“Aku…” suaraku sedikit ragu. “Aku masih ingin sekolah. Aku belum berniat memiliki anak.”
Kalimat itu keluar begitu saja, jujur, tanpa kupikirkan panjang.
Dan tiba-tiba—
Ibuku tertawa.
Ayahku ikut tertawa.
Aku mengangkat kepala dengan wajah bingung. Schevenko hanya tersenyum kecil, tidak tertawa, tapi jelas tidak keberatan.
“Kok malah ketawa?” tanyaku, sedikit kesal.
Ayahku mengusap dagunya, lalu berkata dengan nada santai,
“Dia tidak akan menyentuhmu sebelum kamu selesai masa belajarmu.”
Aku terdiam.
“Dan pernikahan ini,” lanjut ayah, “akan disembunyikan dulu.”
Aku menoleh ke ibu.
“Ibumu dan ayah sudah membicarakan ini dengan Schevenko kemarin malam,” kata ibu sambil tersenyum. “Waktu kamu lari ke kamar.”
Wajahku langsung panas.
“Kenapa nggak bilang ke aku?” protesku malu.
Ibu tertawa kecil.
“Karena kamu lagi malu-malu banget.”
Ayah menambahkan, “Kami ingin kamu tenang. Fokus sekolah. Yang lain biar kami yang urus.”
Aku menunduk lagi, kali ini bukan karena kaget, tapi karena perasaanku campur aduk—malu, lega, dan entah kenapa… hangat.
Schevenko akhirnya bicara lagi, suaranya rendah dan tenang.
“Aku tidak ingin Zahra merasa terburu-buru. Semua akan berjalan pelan.”
Aku menatapnya sekilas. Tidak lama. Tapi cukup untuk melihat kesungguhan di sana.
Tidak ada janji berlebihan.
Tidak ada kata manis yang berlebihan.
Hanya ketegasan yang membuatku merasa aman.
Lalu ia kembali bicara, suaranya lebih pelan, seolah sengaja menurunkannya agar hanya aku yang benar-benar menangkap maknanya.
“Bagaimana, Zahra. Aku tergantung pada keputusanmu.”
Kalimat itu sederhana, tapi berat.
Bukan karena ia menekanku, justru karena ia tidak melakukannya.
Aku menelan ludah. Jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya. Kepalaku terasa penuh, seperti ada terlalu banyak kemungkinan yang saling bertabrakan di dalamnya. Aku melirik ayah dan ibuku bergantian. Wajah mereka tenang—terlalu tenang—seakan keputusan ini sudah lama mereka terima, dan kini hanya menunggu aku menyusul.
“Iy… iyaa… aku…”
Suaraku nyaris tidak terdengar. Terbata. Ragu.
“…mau.”
Ruangan itu mendadak sunyi beberapa detik.
Sunyi yang bukan canggung, tapi seperti jeda panjang sebelum sesuatu yang besar benar-benar bergerak.
Ayah mengangguk kecil, lalu bersandar sedikit ke kursinya.
“Kalau begitu,” katanya mantap, “nikah dulu. Baru setelah itu urus pendaftaran kuliah.”
Aku langsung menoleh cepat.
“Sekarang, yah?”
Nada suaraku naik tanpa bisa kutahan.
Ayah tersenyum tipis, senyum yang sama seperti saat ia mencoba menenangkanku sejak kecil.
“Iya. Sekarang. Kita langsung siapin. Lagian ini pernikahan yang masih disembunyikan, kan? Nggak perlu ribet. Kita cari penghulu, urusan administrasi nanti menyusul.”
Ibuku ikut menimpali dengan suara lembut tapi tegas.
“Kita nggak mau menunda hal yang sudah jelas arahnya. Kadang, menunggu terlalu lama justru bikin hati makin takut.”
Aku terdiam.
Tanganku mencengkeram ujung bajuku tanpa sadar. Kepalaku mengangguk pelan, meski pikiranku masih tertinggal jauh di belakang, mencoba mengejar apa yang baru saja diputuskan.
Schevenko tersenyum ke arahku. Bukan senyum lebar, hanya lengkungan kecil di sudut bibirnya. Tapi cukup membuatku sadar—ini nyata.
Namun bukannya langsung berdiri atau bergerak menyiapkan apa pun, ayah justru kembali duduk lebih santai.
“Tapi sebelum itu,” katanya, “kita bicara pelan-pelan dulu.”
Ia menoleh ke Schevenko.
“Aku mau memastikan satu hal. Kau paham betul apa yang kau ambil hari ini?”
Schevenko mengangguk tanpa ragu.
“Saya paham, Pak. Ini bukan keputusan impulsif.”
Ayah menatapnya lama, seakan sedang menimbang sesuatu yang tak terlihat.
“Zahra masih sekolah. Masih punya mimpi. Aku nggak mau satu pun itu terhenti.”
Schevenko menjawab dengan nada yang sama tenangnya.
“Itu juga komitmen saya. Pendidikan Zahra prioritas. Pernikahan ini tidak mengubah jalannya.”
Aku mendengar ibuku menghela napas kecil, seperti menahan haru.
“Yang penting,” katanya pelan, “kalian jujur satu sama lain. Jangan ada yang merasa terpaksa.”
Aku akhirnya memberanikan diri bicara lagi.
“Kalau… kalau aku takut?”
Semua mata langsung tertuju padaku.
“Aku takut salah langkah.”
Ayah tersenyum lembut.
“Takut itu wajar. Yang nggak wajar kalau kamu melangkah tanpa berpikir.”
Schevenko menatapku, lalu berkata pelan, tidak menggurui.
“Kalau nanti kamu ragu lagi, katakan. Kita bisa berhenti, menunda, atau menata ulang. Keputusan hari ini bukan penjara.”
Kata-kata itu tidak membuatku langsung yakin.
Tapi cukup untuk membuat napasku terasa lebih ringan.
Jam dinding kembali terdengar berdetak, seolah mengingatkan bahwa waktu tidak menunggu siapa pun. Di luar, pagi semakin terang. Cahaya matahari masuk melalui jendela, jatuh tepat di lantai ruang tamu—seperti garis pembatas antara hidupku yang lama dan sesuatu yang belum sepenuhnya kupahami.
Ibuku berdiri lebih dulu.
“Aku siapkan teh dulu,” katanya, mencoba mencairkan suasana.
“Kita nggak bisa ambil keputusan besar dengan perut kosong.”
Ayah terkekeh kecil.
“Benar juga.”
Aku masih duduk di tempatku, menatap tanganku sendiri. Di kepalaku, semua terasa berjalan terlalu cepat, tapi anehnya… tidak sepenuhnya salah.
Ini bukan akhir.
Ini juga belum awal sepenuhnya.
Hanya sebuah gerbang—
dan aku baru saja berdiri tepat di depannya.