NovelToon NovelToon
Yang Hamil Aku, Yang Kau Nikahi Dia

Yang Hamil Aku, Yang Kau Nikahi Dia

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:12.7k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Akselia Kinanti terbangun dalam genangan darahnya sendiri. Tangannya meremas perut yang kram hebat.

"Kamu... harus bertahan," bisiknya pada perut yang mulai terasa dingin.

Ponselnya berdering. Notifikasi siaran langsung : Kevin Pratama & Karina Adelia - Live Engagement Party.

Jemarinya gemetar membuka video itu. Di layar, Kevin tersenyum lebar, merangkul pinggang Karina Adelia model terkenal dengan gaun putih yang berkilau. "Aku sudah lama menunggu momen ini," kata Kevin di depan ratusan tamu.

Akselia tertawa pahit. Darah masih mengalir dari tubuhnya.

"Ini pasti salah paham," gumamnya lemah. Tapi matanya yang mulai sayu menatap cincin murah di jarinya, cincin yang Kevin bilang 'sementara'.

Gelap.

Ketika matanya terbuka lagi, Akselia bukan lagi pelayan restoran lemah yang mencintai pria salah. Dia adalah mantan pelatih bela diri yang pernah bikin lawan-lawannya menangis minta ampun.

"Kevin Pratama... Karina Adelia..."

Senyumnya tajam. Berbahaya.

"Permainan baru saja dimulai."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 - GUNCANGAN EMOSI

RUANG KERJA KEVIN - LANJUTAN

Akselia menghapus air matanya kasar, marah pada dirinya sendiri karena menunjukkan kelemahan di depan Kevin.

"Jangan..." dia menarik napas dalam, memaksakan suara tetap stabil, "...jangan pikir air mataku ini karena aku lemah, atau karena aku masih peduli padamu."

Kevin tidak bergerak dari tempatnya berdiri. "Lalu kenapa?"

"Karena aku marah!" Akselia menatapnya tajam. "Marah pada diriku sendiri yang sempat ragu! Marah karena melihatmu seperti ini justru bikin aku bingung!"

"Bingung kenapa?"

"Karena..." Akselia mengepalkan tangan, "...karena seharusnya aku senang melihatmu hancur! Seharusnya aku puas! Tapi malah..." suaranya bergetar, "...malah aku merasa... kosong."

Kevin melangkah lebih dekat perlahan, seperti mendekati hewan terluka. "Akselia, dengarkan aku..."

"Jangan dekat-dekat!" Akselia mengangkat tangan, menghentikan Kevin. "Jangan sentuh aku! Jangan coba buat aku percaya lagi dengan kata-kata manismu."

"Aku tidak coba manipulasi lagi, aku bersumpah." Kevin berhenti, tapi tatapannya tidak lepas dari Akselia. "Aku tahu aku tidak punya hak minta maaf, Aku tahu kata-kata saja tidak akan cukup untuk menembalikan apa yang sudah hilang darimu. Tapi aku harus bilang... Bahwa aku benar-benar menyesal."

"Menyesal karena ketahuan? Atau menyesal karena benar-benar sadar apa yang kamu lakukan?"

"Keduanya," jawab Kevin jujur. "Tapi lebih karena yang kedua." Dia duduk di sofa, wajahnya terlihat sepuluh tahun lebih tua dalam hitungan menit. "Setahun ini aku coba lupakan kamu, coba yakinkan diri sendiri bahwa aku buat keputusan yang benar. Tapi setiap malam, aku ingat wajahmu. Senyummu... Cara kamu ketawa."

Akselia menatapnya dengan rahang mengepal. "Jangan..."

"Dan saat bertemu Selia, tanpa tahu kamu Akselia aku jatuh cinta lagi. Lebih dalam dari sebelumnya." Kevin menatap tangannya sendiri. "Karena Selia itu kamu yang sebenarnya. Kuat, tidak takut, tidak butuh siapa-siapa. Kamu yang bebas dari bayanganku."

"Aku buat Selia untuk menghancurkanmu, Kevin. Bukan untuk buat kamu jatuh cinta."

"Aku tahu, tapi perasaanku tetap nyata." Kevin mengangkat kepala, menatap Akselia dengan mata berkaca-kaca. "Dan kalau menghancurkan aku bisa buat kamu puas, lakukan. Aku rela."

Akselia merasakan dadanya sesak, ini tidak seharusnya seperti ini. Kevin seharusnya membela diri, menyangkal, atau marah. Bukan menyerah seperti ini.

Ponselnya bergetar, pesan dari Diana.

[Kenapa belum ada kabar? Sudah kirim bukti ke media belum? Karina akan tahu identitasmu dalam beberapa jam!]

Akselia menatap pesan itu, lalu menatap Kevin yang duduk terkulai di sofa.

Satu keputusan, sekarang... Hancurkan Kevin dan selesaikan semua ini.

Atau...

"Aku butuh waktu," kata Akselia akhirnya, suaranya parau. "Aku tidak bisa putuskan sekarang. Aku... aku perlu pikir jernih."

Kevin mengangguk. "Ambil waktu sebanyak yang kamu butuhkan, aku akan tunggu."

"Dan jangan coba hubungi aku, jangan dekati aku. Kalau kamu muncul di depanku sebelum aku siap..." Akselia menatapnya tajam, "...aku akan langsung kirim semua bukti ke media tanpa pikir dua kali."

"Aku mengerti."

Akselia berjalan ke pintu, tangannya sudah menyentuh gagang ketika Kevin berkata pelan, "Akselia."

Dia tidak menoleh. "Apa?"

"Aku tahu ini tidak ada artinya sekarang. Tapi, aku mencintaimu waktu itu dan sekarang. Aku cuma terlalu bodoh untuk menyadari sebelum terlambat."

Akselia menutup mata, menelan benjolan di tenggorokannya. "Kalau kamu benar-benar mencintaiku, Kevin... kamu tidak akan pernah membuangku seperti itu."

Dia keluar tanpa menoleh lagi.

***

DI LUAR GEDUNG PRATAMA CORPORATION

Akselia berjalan cepat keluar gedung, napas tercekat, mata berkaca-kaca. Dia tidak mau menangis lagi, tidak mau terlihat lemah.

Tapi begitu sampai di sudut jalan yang sepi, dia bersandar di dinding dan menangis.

Menangis untuk semua kebingungan yang menderanya, untuk semua amarah yang tidak lagi terasa hitam putih, untuk semua rasa sakit yang tidak tahu harus dikemanakan.

Ponselnya berdering, Arjuna.

Dia menarik napas, menghapus air mata, lalu mengangkat.

"Selia? Kamu baik-baik saja? Sudah hampir satu jam..."

"Aku..." suaranya serak, "...aku baik, Pak. Tapi aku perlu izin tidak masuk hari ini. Aku... aku butuh waktu sendiri."

Hening sebentar. "Kevin tahu siapa kamu?"

"Ya."

"Dan?"

"Dan... aku tidak tahu, Pak. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana." Akselia tertawa pahit. "Aku yang seharusnya menang, tapi kenapa rasanya aku yang kalah?"

"Karena balas dendam tidak pernah seindah yang kita bayangkan," kata Arjuna pelan. "Pulanglah, Istirahat. Kita bicarakan nanti."

Setelah menutup telepon, Akselia berjalan tanpa tujuan. Kakinya membawanya ke... Dojo Pak Dharma.

***

DOJO PAK DHARMA - SORE HARI

Pak Dharma sedang melatih murid ketika melihat Akselia masuk dengan wajah hancur. Dia langsung menghentikan latihan.

"Sari, lanjutkan latihan. Aku ada urusan."

Dia membawa Akselia ke ruang belakang, kamar kecil yang dulu jadi kamar Akselia.

"Ceritakan," katanya sambil menuangkan air putih ke gelas.

Dan Akselia cerita, Semua. Tentang rencana balas dendamnya, tentang bagaimana Kevin akhirnya tahu siapa dia, tentang kebingungannya sekarang.

Pak Dharma mendengarkan tanpa menyela. Ketika Akselia selesai, dia terdiam lama.

"Kamu tahu apa masalahmu?" tanyanya akhirnya.

"Apa?"

"Kamu pikir balas dendam akan buat kamu merasa lebih baik. Tapi yang sebenarnya terjadi, kamu jadi seperti orang yang kamu benci."

Akselia tersentak. "Aku tidak seperti Kevin..."

"Kamu manipulasi dia, kamu main dengan perasaannya, kamu rencanakan kehancurannya dengan dingin." Pak Dharma menatapnya tajam. "Bedanya apa dengan yang Kevin lakukan padamu satu tahun lalu?"

Kata-kata itu menohok seperti pukulan ke ulu hati.

"Tapi dia yang mulai duluan..."

"Itu bukan pembenaran, Akselia. Balas kejahatan dengan kejahatan tidak buat kamu lebih baik. Cuma buat kamu jadi sama jahatnya."

Akselia menatap tangannya... tangan yang dulu membanting lawan di ring, sekarang gemetar karena kebingungan.

"Lalu aku harus bagaimana, Pak? Lupakan semuanya? Pura-pura tidak sakit? Maafkan Kevin begitu saja?"

"Aku tidak bilang kamu harus maafkan dia. Memaafkan itu pilihanmu." Pak Dharma meletakkan tangan di bahu Akselia. "Tapi kamu harus lepaskan amarah ini, karena amarah cuma akan bunuh kamu dari dalam. Pelan-pelan, sampai tidak ada lagi Akselia yang asli."

Akselia menutup mata. "Aku tidak tahu lagi siapa Akselia yang asli, Pak. Setahun ini aku jadi Selia, aku main peran. Dan sekarang... aku tidak tahu mana yang nyata dan mana yang palsu."

"Maka berhenti main peran." Pak Dharma memaksanya menatap matanya. "Putuskan, kamu mau jadi orang seperti apa. Orang yang hidup dengan dendam? Atau orang yang bangkit dari sakit dan jadi lebih kuat?"

"Aku... aku tidak tahu..."

"Kamu tahu, kamu cuma takut mengakui." Pak Dharma melepas tangannya. "Kevin sudah dapat hukumannya, dia kehilangan kamu dua kali. Dia kehilangan bayi yang bahkan tidak dia tahu ada. Dia hidup dengan penyesalan. Itu sudah cukup?"

Akselia tidak menjawab.

"Hanya kamu yang bisa jawab itu, Nak. Bukan aku, bukan Diana, bukan Arjuna. Cuma kamu."

***

MALAM HARI - KAMAR KOS BELAKANG DOJO

Akselia berbaring di kasur, menatap langit-langit dengan pikiran berputar.

Ponselnya penuh pesan dari Diana, menanyakan kenapa belum ada tindakan, menyuruh segera sebarkan bukti sebelum terlambat.

Tapi Akselia tidak membalas.

Dia menatap folder di laptopnya, folder berisi semua bukti kejahatan Kevin. Rekaman, foto, dokumen, semua siap dikirim ke media.

Satu klik, dan Kevin akan hancur. Jari Akselia melayang di atas touchpad, tapi tidak bergerak.

"Siapa aku sekarang?" bisiknya pada kegelapan.

Akselia Kinanti yang dulu, perempuan lembut yang percaya cinta?

Selia Ananta yang sekarang, perempuan kuat yang tidak takut apa pun?

Atau...

Seseorang di antaranya, seseorang yang masih mencari tahu siapa dirinya sebenarnya.

Akselia menutup laptop. Besok... Dia akan putuskan besok. Malam ini, dia cuma ingin istirahat dari semua kebohongan.

Termasuk kebohongan pada dirinya sendiri.

1
Asyatun 1
lanjut
Lienaa Likethisyow
ikhlas itu latihannya seumur hidup dg bersabar dg airmata..hasilnya luarbiasa👍👍👍 goodjob akselia..💪💪💪 thor😍😍
Lienaa Likethisyow
goodjob👍👍 akselia..memaafkan membuat hati lega dan juga damai💪💪💪
Asyatun 1
lanjut
Dew666
👍👍👍👍
Nada She Embun
maafkan dirimu sendiri.... cintai dirimu sendiri... jangan beratkan dirimu dengan hal yg bahkan di luar kendali mu... kamu cukup untuk dirimu... 💜... mencintai diri sendiri bukan egois... itu pertahanan untuk mental yg lebih sehat... banggalah pada dirimu... kamu yg terbaik...
author terbaik.. 😍
Lienaa Likethisyow
semangat selia jadi diri sendiri,hargai,cintai dirimu sendiri👍👍👍💪💪💪
Soraya
mampir thor
Dew666
🌹🌹🌹🌹🌹
Erni Noviyanti
tuh dengerin,ada yg gampang ngapain nyari yg sulit.
Lee Mbaa Young
🤣🤣🤣 syukurin kalah kan. balas dendam kok naggung. lek ijek bucin rasah koar koar balas dendam memalukan.
ayo karina hancurkan sekalian saja akselia kn bodoh dia biar tamat.
Erchapram: Jangan... ceritanya masih panjang, kita lihat dulu bagaimana perjuangan Akselia. 🙏
total 1 replies
vj'z tri
jurus buat ngalahin musuh ,malah dipakai musuh duluan 😅😅😅🤧🤧🤧🤧
Lee Mbaa Young: la dia bucin mkne gk tega kn menghancurkan lawan.
ngunu koar koar balas dendam.
wanita gk punya kemampuan kok bls dendam 🤣 apa nya yg di balas. yo mnding pergi jauh cari laki lain lah.drpd memalukan.
total 1 replies
Erni Noviyanti
kalau lemah ngga usah mikir bales dendam.mending pergi jauh mulai kehidupan yg baru.kasian orang yg udh banyak berkorban.
Lee Mbaa Young: laiya wong lemah kok balas dendam. yo mnding move on lah. cari laki lain. 🤣🤣🤣.
total 1 replies
Sunaryati
Setiap nongol langsung disikat, mana ada tabungannya🤣🤣🤭💪 Thoor
Sunaryati
Sudah berhasil menjerat Kevin, tapi tetap ragu ambil keputusan
Lienaa Likethisyow
lanjuuuuuuuuutttttttt....💪💪💪💪👍👍👍
Erchapram
Besok Novel ini libur update, jadi yang masih ditabung yukkk... bongkar dulu tabungannya, baca dulu sampai di bab akhir. Biar aku semangat lanjut...

Apalagi sudah bab 19 ya, akan ada perhitungan retensi di bab 20. Tolong dengan sangat ya... sahabat pembaca untuk segera dilanjut bacanya.

Terima kasih.
Asyatun 1
lanjut
N Wage
maaf nih ya Thor,serius nanya...(apa ada bagian yg terlupa aku baca) kan Kevin dan selia cukup lama berhubungan,SMP selia hamil juga.
kok Kevin gak mengenali selia sekarang?
N Wage: iya KK,maaf...😅
total 2 replies
Nada She Embun
nahan nafas aq bacaa.... 😮‍💨.. pengen banget liat kevin babak belur d tangan akselia...
Erchapram: Gak ada Kak, akan ada plot twist yang gak terduga
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!